Senin, 22 April 2013

Madrasah Hadhramaut: Taubat

Bila hal itu terjadi, hendaklah ia kembalikan urusannya kepada Allah SWT, karena Allah akan memintakan maaf kepada mereka untuk dirinya jika Allah melihat adanya kesungguhan dalam hati kita kelak di hari Kiamat.

Pelajaran ini akan membahas langkah pertama yang harus dijalani seorang hamba dalam perjalanan­nya menuju Allah SWT setelah muncul­nya al-baits dan kerinduan yang kuat di dalam hati untuk datang kepada-Nya. Langkah pertama untuk menuju Allah adalah tash-hih at-taubah, memperbaiki taubat dan sungguh-sungguh bertaubat kepada Allah SWT.

Taubat sebagai kata diambil dari kata ar-ruju‘ dan al-awbah, yang berarti “kem­bali”. Taubat sendiri pada hakikatnya meliputi tiga makna, yang, apabila ke­tiganya terpenuhi dan tercakup, terwu­judlah taubat yang sesungguhnya. Tiga hal tersebut adalah ‘ilm, hal, fi‘l.

‘Ilm

‘Ilm, atau ilmu, yang dimaksud di sini adalah ilmu yang mengetahui bahwa dirinya adalah seorang hamba, yang ke­lak akan berdiri di hadapan Allah SWT pada hari Kiamat, yang hidupnya hanya sementara untuk kemudian menemui ke­matian, dan akan dimintai pertanggung­jawaban atas segala perbuatan yang te­lah dilakukannya dalam hidupnya yang teramat singkat itu.

Sang hamba mengetahui bahwa hi­dup yang teramat singkat ini akan ber­ujung pada satu masa ketika ia akan ber­diri seorang diri di hadapan Raja dari se­gala raja, Yang akan menanyainya se­orang diri dengan tanpa ada seorang pem­bela pun dan tidak pula seorang pe­rantara yang dapat membantunya untuk menjawab segala pertanyaan yang di­ajukan. Maharaja itu akan berkata ke­pa­danya, “Wahai hamba-Ku, ingatkah eng­kau di hari ini, di waktu ini... engkau me­nutup rapat semua pintu agar tidak terlihat oleh pandangan seorang pun dari makh­luk-Ku karena engkau malu bila mereka melihat perbuatanmu kala itu... sedang­kan engkau terang-terangan mem­per­tunjukkan kepada-Ku satu per­buatan yang tidak Aku ridhai. Di mana­kah eng­kau taruh pandangan-Ku saat itu? Ham­ba-Ku, mengapa engkau jadi­kan Aku pemandang yang paling remeh dalam penilaianmu? Hambaku, engkau malu terhadap hamba-hamba-Ku, tetapi sama sekali tidak merasa malu kepada-Ku?”

Di saat berada di hadapan-Nya, Dia akan berkata, “Wahai hamba-Ku, Aku telah menciptakanmu dari ketiadaan, Aku limpahi engkau dengan berbagai karunia, Aku muliakan engkau dengan ‘La ilaha illallah.’ Engkau tumbuh dengan karunia-karunia yang Aku berikan, ibu­mu menyusui dan mengasuhmu dengan karunia itu, pengetahuanmu pun ber­kembang dengan karunia itu, lalu eng­kau tumbuh besar dan menjadi perkasa dengan segala karunia yang telah Aku berikan dari berbagai kebaikan, namun kemudian engkau pergunakan untuk mendurhakai-Ku? Bagaimana engkau pergunakan nikmat-Ku? Apakah engkau menggunakannya untuk hal-hal yang Aku ridhai? Apakah engkau mencari kedekatan dengan-Ku selama hari-hari yang telah Aku berikan kepadamu?”

Saat-saat kelak kita dimintai pertang­gungjawaban itu tidak seorang mukmin pun kecuali ia meyakini dengan sepenuh hati bahwa pasti akan dilaluinya.

Seorang hamba pun mengetahui bah­wa tidaklah setiap kata yang terucap dari lidahnya kecuali akan dicatat, tidak­lah setiap tatapan di saat memandang sesuatu kecuali akan dituliskan, dan ti­dak pula setiap diam, gerak, dan lengah kita kecuali akan dicatat untuk dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.

Di saat memperhatikan semua pen­jelasan itu, mungkin sebagian orang akan merasa sempit dadanya untuk da­pat memahami makna-makna mulaha­qah (pencarian jati diri), mutaba‘ah (me­neladani), hisab (penghitungan amal), ataupun kitab ‘alaih (pencatatan amal perbuatan).

Maka, coba kita perhatikan dari segi yang lain, yakni memahami makna dari makna-makna kemurahan yang Allah SWT karuniakan kepada kita, kemuliaan yang diberikan-Nya kepada kita, dan penghormatan yang diberikan Allah kepada kita.

Coba perhatikan seseorang yang memiliki kedudukan atau popularitas yang tinggi di tengah-tengah masyara­kat. Orang-orang berkumpul di sekitar­nya. Wartawan yang satu menulis setiap kata yang diucapkannya, sedang yang lainnya mengambil gambar dari setiap gerak-geriknya. Namun, puncak dari se­mua perhatian yang diberikan itu tidaklah lebih dari satu atau dua jam saja, setelah itu mereka kembali ke rumahnya ma­sing-masing.

Ketahuilah, seorang hamba memiliki kedudukan yang penting di sisi Allah. Karena penting dan tingginya keduduk­an seorang hamba di sisi Allah, Dia, bah­kan, mewakilkan dua malaikat mulia, yang tercipta dari cahaya yang tidak per­nah durhaka kepada-Nya, sebagai pen­dampingnya setiap saat.

Dua malaikat yang Allah wakilkan ini mencatat setiap ucapan sang hamba dari semenjak ia baligh hingga akhir ha­yatnya. Dalam gurau, sungguh-sungguh, marah, ridha, sedih, atau gembira, “Tiada suatu ucapan pun yang diucap­kannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Raqib dan ‘Atid (yang selalu hadir meng­awasi).” — QS Qaf (50): 18.

Seorang hamba adalah pemilik ke­dudukan di sisi Allah. Seseorang yang telah mengetahui bahwa semua per­buat­annya akan dicatat, dihitung, ke­mudian akan dilaporkan dan dibuka di hadapan Allah SWT. Setelah itu ditentu­kan tempat kembalinya, apakah menuju negeri keridhaan atau negeri kemurka­an, menuju surga atau dijerumuskan ke jurang neraka.

Waktunya di dunia akan berakhir di saat ruh sampai di ujung kerongkongan. Tidak ada jaminan tentang kapan sam­painya ruh ke ujung kerongkongan. Ti­dak dapat direncanakan dan tidak pula dapat disiasati agar ia datang pada wak­tu yang tepat, dan tidak diketahui kapan malaikat maut datang menjemput. Se­mua­nya datang dengan tiba-tiba dan se­kejap mata. Tidak dibedakan antara anak muda ataupun orang tua, dan tidak pula dibedakan atara yang sakit ataupun yang sehat. Jika malaikat maut datang menjemput, pada saat itulah diberitahu­kan bahwa waktunya telah berakhir untuk selamanya.

Seseorang yang mengetahui semua kemestian itu, akankah di hatinya tidak ada sesuatu yang terlahir dan muncul dari pengetahuannya itu? Yakni keada­an menyesal, merasa malu, hina, dan rendah di hadapan Allah SWT. “Kemarin aku mendurhakai Allah padahal Allah melihatku. Aku akan berdiri di hadapan-Nya dan Allah akan menanyaiku semua itu.”

Salah seorang shalihin dari negeri Habasyah datang kepada seorang waliyullah dari kalangan salaf. Orang itu bertanya, “Wahai Syaikh, apakah Allah akan mengampuniku atas dosa yang telah aku perbuat?”

“Benar, Allah akan mengampunimu bila engkau bertaubat dengan sungguh-sungguh,” jawab sang waliyullah.

Orang itu pun bersyukur dan memuji Allah, dan tampak dari raut wajahnya kegembiraan yang luar biasa. Namun, setelah beberapa langkah meninggalkan sang waliyullah, orang itu kembali lagi de­ngan raut muka yang tidak lagi me­nunjukkan kegembiraan.

Wali tadi bertanya, “Apa yang terjadi denganmu?”

Orang itu menjawab, “Apakah Allah melihatku di saat aku mendurhakai-Nya?”

Maka dijawab, “Ya, Allah melihatmu.”

Tiba-tiba orang itu berteriak histeris dan langsung tersungkur ke tanah dalam keadaan sudah tidak bernyawa.

Tahukah apa yang terjadi dengan orang ini?

Awal mula, pikirannya sibuk dengan urusan, “Apakah aku akan masuk ke da­lam surga atau neraka?” Setelah kekha­watirannya terhadap urusan surga dan neraka hilang dengan jawaban sang wali tadi bahwa Allah akan mengampuninya atas segala dosanya, muncullah di da­lam hatinya makna yang lebih dalam, lebih tinggi, lebih besar, dan lebih halus lagi dari apa yang menyibukkan pikir­an­nya selama itu tentang surga dan ne­raka. Yakni makna hubungan seorang ham­ba dengan Allah, makna bahwa Allah melihat dirinya melakukan kedur­hakaan ini dan itu, makna bahwa Allah me­nutupi semua keburukannya dari pan­dangan makhluk-Nya, padahal Allah Mahakuasa untuk mempertunjukkan se­mua keburukan itu kepada mereka, makna bahwa Allah tak pernah berhenti memberikan berbagai karunia, nikmat, dan limpahan rizqi padahal ia tak henti pula mendurhakai-Nya.

Semua perasaan itu melahirkan pe­nye­salan terhadap semua keteledoran, ke­durhakaan, dan keberanian yang se­lama ini ia lakukan terhadap Allah SWT. Perasaan semacam ini yang hadir di dalam hati seorang hamba disebut pe­nyesalan, salah satu unsur yang sangat penting dalam taubat.

Hal

Hal dalam konteks ini adalah penye­salan atas segala perbuatan buruk yang telah lalu. Terkadang sebagian salaf me­megang jenggotnya sambil berkata, “Alangkah buruknya perbuatanku meski­pun seandainya akan dimaafkan!”

Penyesalan semacam ini akan me­nimbulkan keteguhan yang kuat dalam diri seseorang untuk berkata dalam hati­nya, “Aku akan berhenti dari berbuat dosa... aku tidak akan pernah melaku­kannya lagi untuk selama-lamanya... aku tidak akan pernah lagi mendurhakai Allah....”

Fi‘l

Fi’il, atau perbuatan, dalam konteks ini adalah melepaskan diri dari maksiat dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.

Bila telah lahir penyesalan semacam ini, yang dilandasi dengan ilmu, penye­salan dan ilmu itu akan membuahkan ke­teguhan dalam hati untuk meninggalkan maksiat, dan tidak mengulanginya lagi, sehingga darinya terwujudlah hakikat sesuatu yang disebut taubat.

Adapun apabila kesalahan atau mak­siat itu berkaitan dengan hak-hak ma­nusia, misalnya mengambil harta si Fulan atau menghina dan mencacinya, ada per­kara keempat yang harus dilaku­kan, yak­ni mengembalikan hak-hak itu kepada pe­miliknya. Jika seseorang telah memakan harta orang lain, ia harus mengembalikan harta itu kepada pe­milik­nya.

Namun bukan hanya itu, karena apa yang telah dikembalikan itu belum ter­hitung sebagai taubat sebelum ia pun meminta maaf kepada mereka.

Lalu bagaimana seandainya mereka tidak memaafkannya?

Bila hal itu terjadi, hendaklah ia kem­balikan urusannya kepada Allah SWT, karena Allah akan memintakan maaf ke­pada mereka untuk dirinya jika Allah me­lihat adanya kesungguhan dalam hati kita kelak di hari Kiamat. Dengan demi­kian berarti ia telah menunaikan kewajib­annya dalam taubat. Allah akan memu­lia­kannya dengan memberinya anu­ge­rah berupa kerelaan dari orang-orang yang didzalimi haknya. Dan bila ia tidak kuasa untuk mengembalikan hak itu ke­pada mereka, Allah akan memuliakan­nya dengan memberinya sesuatu yang setimpal dengan kerelaan orang-orang yang terzhalimi itu. Karena hak-hak orang lain atas dirinya tetap tidak gugur sebagai tanggunggannya.

Lembaran-lembaran Dosa

Lembaran-lembaran dosa manusia dapat digolongkan menjadi tiga bagian.

Pertama, lembaran dosa yang pe­laku­nya dapat diampuni. Yakni semua kedurhakaan dan dosa yang ada antara sang hamba dan Tuhannya bila pada diri hamba terdapat penyesalan yang benar dan hakiki yang dihasilkan dari ilmu. Sehingga, penyesalan itu melahirkan keteguhan dan tekad yang kuat untuk meninggalkan dosa-dosa itu semua. Itulah taubat nasuha. Maka Allah pun akan mengampuninya atas dosa-dosa­nya seluruhnya.

Kedua, lembaran dosa yang pelaku­nya tidak akan diampuni. Yakni dosa syi­rik akbar, syirik besar. Syirik akbar ada­lah meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT. Namun, dosa ini tidak terjadi pada umat Rasulullah SAW. Tidak akan ada syirik besar pada umat Nabi SAW, se­bagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari, Nabi SAW bersabda, “Sesung­guhnya aku, demi Allah, tidaklah takut ka­lian akan berbuat syirik (akbar) sete­lahku, akan tetapi yang aku takutkan ada­lah akan dibukakannya dunia atas kalian.”

Ketiga, lembaran dosa yang tidak tergugurkan. Yakni dosa yang dilakukan berkaitan dengan hak-hak manusia, hak-hak yang berkaitan dengan makhluk. Inilah yang semestinya membuat sese­orang yang sedang berjalan menuju Allah besungguh-sungguh dalam me­nunai­kan hak-hak itu.

Dosa Besar dan Kecil

Para ulama mengatakan, dosa besar itu ada empat macam. Sebagian saha­bat mengatakan, dosa besar ada tujuh macam, dan sebagian yang lain menga­ta­kan ada sebelas macam. Ibnu Abbas RA berkata, “Semoga Allah merahmati Ibnu Umar, yang membagi dosa kepada tujuh macam, karena yang tujuh itu lebih dekat kepada tujuh puluh.”

Adapun yang disepakati oleh jumhur ulama Ahlussunnah wal Jama’ah adalah bahwa semua perkara yang dikenai had (hukuman tertentu) termasuk dosa be­sar, semua yang dinashkan oleh Al-Qur’an atas keharamannya itu pun ter­masuk dosa besar, dan semua perbuat­an keji termasuk dosa besar.

Perhatikan juga terhadap makna lain, yaitu keadaan hati terhadap maksiat sesudah melakukan maksiat. Ulama berkata, “Terus-menerus dalam maksiat ter­golong dosa besar.” Dan meremeh­kan maksiat adalah termasuk dosa besar, meskipun maksiat itu kecil.

Itulah sebabnya, sebagian shalihin memohon ampun kepada Allah terhadap hal-hal mubah sekalipun. Mereka selalu memandang bahwa hal (interaksi)-nya dengan Allah adalah senantiasa menun­tut ketinggian dan kedekatan dengan-Nya dalam segala hal. Karenanya bila melakukan sesuatu yang mubah tidak berniat untuk mencari kedekatan dengan Allah, mereka pun memohon ampun ke­pada-Nya.

Bukan hanya itu, sebagian mereka pun bertaubat kepada Allah pada bebe­rapa perbuatan taat. Mereka bertaubat dari makna yang hadir di hati pada saat berbuat taat, yakni tidak merasa dan menyadari adanya kemurahan Allah pada saat berdiri mengerjakan suatu ketaatan.

Lebih tinggi lagi, Rabiatul Adawiyah pernah berkata, “Istighfar kita butuh kepada istighfar.” Mungkin kita memang sudah beristighfar, tapi istighfar kita belum sungguh-sungguh karena Allah.

Itulah taubat. Mulailah taubat sejak saat ini juga, dan tidak ada ujung dari taubat. Setiap kali seseorang meningkat derajat kede­katannya kepada Allah secara maknawi, dituntut taubat dari makna-makna se­belumnya.

Seorang shalihin berkata kepada Rabiatul Adawiyah, “Doakanlah aku su­paya aku bertaubat kepada Allah agar Allah memberiku taubat.”

Rabiah menjawab, “Melainkan aku akan mendoakanmu semoga Allah mem­berimu taubat agar engkau bertaubat.”

Shalatlah dua rakaat shalat sunnah Taubat dan jadikan sebagai wiridannya istighfar Astaghfirullaha wa atubu ilayh (100 kali) atau Rabbighfirli warhamni wa tub ‘alayya (100 kali). Apabila ini se­nantiasa dilakukan pada tiap-tiap malam, buahnya akan memperoleh satu tingkat­an yang dikatakan ulama sebagai ting­katan mahbubiyah (dicintai – oleh Allah). “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang selalu bertaubat.” — QS Al-Baqarah (2): 222.

Sumber :www.majalah-alkisah.com

Tawasin (5): Thasin Al Nuqtah (Titik)

1. Ada yang lebih halus dari itu, yakni penyebutan tentang Titik „AzaliyAda yang lebih halus dari itu, yakni penyebutan tentang Titik „Azaliy yang berupa Asal, dan yang (keberadaannya) tidak bertambah ataupun berkurang, tidak juga habis sirna dirinya.

2. Orang yang mengangkal keadaan (hal) batinku telah menyangkalnya, karena tidakmengetahui aku, malah menyebutku bid‟ah. Dituduhnya aku dengan sebutan Iblis, serta dianggapnya kekeramatanku sebagai praktik perdukunan, juga demikian terhadaplingkaran suci yang berada di luarnya-luar jangkauan, yang dicemoohkannya.

3. Orang yang menjangkau lingkaran kedua membayangkan aku menjadi sang Pemangku Ilham. 4. Orang yang menjangkau lingkaran ketiga mengira aku berada di bawah pengaruh nafsu.

5. Dan, orang yang menjangkau lingkaran Kebenaran melupakan aku, bahkan perhatiannya beralih dariku.

6. “Tentu saja tidak! Tidak ada seorang pelindung pun. Pada hari itu hanya Tuhan penolongmu untuk kembali. Juga pada hari itu setiap manusia akan diberi tahu tentang perbuatan yang didahulukannya dan yang dilalaikannya.” (QS. 75: 11 -13)

7. Namun, umumnya manusia berpaling pada pernyataan semu, melarikan diri pada sang pelindung, mengkhawatiri pertanda-pertanda, tujuan hidupnya terpedaya, dan akibatnya tersesat.

8. Aku terisap ke kedalaman samudera kelanggengan (baqa‟). Dan, orang yang menjangkau lingkaran Kebenaran itu sibuk di pantai samudera pengetahuan dengan pengetahuannya sendiri, luput pandangan (bashirah) batinnya dariku.

9. Aku melihat sejenis burung khasysy dari pribadi Shufi yang terbang dengan dua sayap Tashawuf. Ia menyangkal kekeramatanku, sebagaimana ia terus membumbung dalam penerbangannya.

10. Ia menanyai aku tentang kesucian-batin, dan aku menjawabnya: “Pangkaslah sayapmu dengan gunting penyirnaan-diri (fana‟). Kalau tidak, kau tidak dapat mengikuti aku.”

11. Ia berkata kepadaku: “Aku terbang dengan sayapku menuju Kekasihku.” Aku katakan kepadanya: “Hati -hati buat kau! Sebab, tidak ada yang menyerupai-Nya. Hanya Dia sang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Maka, seketika itu ia jatuh ke samudera kearifan dan hilang tenggelam.

12. Orang dapat menggambarkan samudera kearifan sebagai berikut:



Aku „melihat‟ Tuhanku dengan mata hatiku, aku menyapa: “Siapakah Engkau?” Dia menjawab: “Kau!” Namun, bagi-Mu, „di mana‟ tidak memiliki tempat. Dan, tidak ada „di mana‟ ketika perhatian hanya menyangkut-Mu. Akal pun tidak punya bayangan tentang keberadaan-Mu dalam (dimensi) waktu, yang memungkinkan akal mengetahui „di mana‟ adanya Engkau. Engkau adalah Sesuatu yang meliputi setiap „di mana‟, mengatasi „titik‟ yang tak di mana-mana. Jadi, „di mana‟ Engkau adanya?

13. Sebuah titik-tunggal yang unik dari lingkaran (titik-titik), menandakan beragamnya anggapan tentang kearifan. Adalah sebuah titik-tunggal saja yang dirinya berupa Kebenaran, sedangkan sisanya merupakan kekeliruan.

14. Ia begitu dekat” saat kenaikannya (mi‟raj) – “ia tampak kembali” saat kemuncakannya (transenden). Karena pencarian, ia begitu dekat. Karena kegairahan, ia tampak kembali.Ia menanggalkan hatinya „di sana‟, dan begitu dekat kepada -Nya. Ia sirna (fana‟) ketika „melihat‟ Allah, kendati demikian ia tidak sampai tuntas sirna (fana‟ ul- fana‟). Bagaimana mungkin ia hadir sekaligus tak-hadir? Bagaimana mungkin pula ia tampak dan sekaligus tak-tampak?

15. Dari ketakjuban ia melintas ke pencerahan, dan dari pencerahan ke ketakjuban. Dengan kesaksian Allah, ia „menyaksikan‟ Allah. Ia sampai dan sekaligus pisah. Ia mencapai Pujaan-Nya, dan terputus dari hatinya. “Hatinya tidak berdusta tentang apa yang dilihatnya.” (QS. 53: 11)

16. Allah menyembunyikannya ketika membuatnya begitu dekat. Dia mengangkatnya dan menyucikannya. Dia membuatnya dahaga dan menyegarkannya. Dia menyucikannya danmemilihnya. Dia menyerunya dan memerintahkannya. Dia menimpainya Cobaan dan menjenguknya untuk membantunya. Dia mempersenjatainya dan mendudukkannya di atas pelana.

17. Ada sebuah jarak dari “satu rentangan busur”, dan ketika ia kembali, ia pun mencapai sasarannya. Ketika diseru, ia menjawabnya – merasa dilihat, ia rendahkan dirinya.Karena minum, ia merasa puas. Karena mendekat, ia dicekam keterpesonaan. Dan,karena keterpisahan dirinya dari Kota serta para pembantunya, ia pun terpisah dari bisikan nurani, dari pandangan, juga dari lamunan makhluk.

18. “Sahabatmu tidak tersesat,” (QS. 53: 2) ia tidak lemah atau bertambah sedih. Matanya tidak goyah atau lelah oleh suatu „Saat‟ dari sejatinya masa.

19. “Sahabatmu tidak tersesat” dalam tafakurnya mengenai Kami. Ia tidak menyeberang dalam kunjungannya kepada Kami, tidak juga melanggar terhadap Risalah Kami. Ia tidak membandingkan Kami dengan yang lain kalau membicarakan Kami. Ia tidakmenyimpang di taman zikir dalam tafakurnya mengenai Kami, tidak juga tersesat dalam pengembaraan di alam fikir.

20. Cukuplah ia mengingat Allah (zikru‟llah) dalam tarikan nafasnya, dan kerdipan matanya. Bertawakkal kepada-Nya dalam kesusahan, dan bersyukur atas nikmat-Nya.

21. “Ini tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan,” (QS. 53: 4) dari Cahaya ke „Cahaya‟.

22. Ubahlah bicaramu! Kosongkan dirimu dari khayalan, angkatlah kakimu tinggi-tinggi dari manusia serta makhluk lainnya. Bicaralah tentang Dia dengan selaras dan sekadarnya! Jadilah berghairah, dan tenggelamlah dalam keghairahanmu. Ketahuilah – bahwa kau akan terbang melampaui gunung dan lembah, gunung kesadaran dan lembah perlindungan,agar „melihat‟ Dia yang kau puja-puja. Dan, puasa wajib pun berakhir dengan datang ke Rumah Suci (Ka‟bah).

23. Maka, ia begitu dekatnya kepada Allah, seperti seorang ‟asyiq yang memasuki Ma‟syuq. Selanjutnya ia memaklumkan bahwa itu terlarang. Itu seperti sebuah rintangan yang lebih dari cukup untuk melemahlunglaikan. Ia melintas dari Maqam Pembersihan ke Maqam Pencelaan, dan dari Maqam Pencelaan ke Maqam Kedekatan. Ia begitu dekat sebagai pencari, dan ia kembali secara berlari. Ia begitu dekat sebagai pendoa, dan ia kembali sebagai „Abdi. Ia begitu dekatnya sebagai penyeru, dan kembali dengan bai‟at sebagai Qarib-Nya Ilahi. Ia begitu dekatnya sebagai seorang saksi, dan kembalinya sebagai ahli tafakur

24. Jarak di antara keduanya adalah “dua rentangan busur”. Ia membidik tanda „di mana‟ [„ayna] dengan panah „di antara‟ [bayna]. Ia menyatakan bahwa ada dua rentangan busur untuk menetapkan ketepatan tempat-nya, baik karena tiada terlukiskannya sifat Zat, atau karena serasa lebih akrab pada Zatnya-Zat.

25. Sang Faqir yang Luar dari Biasa (Khariq ul- „Addah) Al-Husain ibn Manshur Al- Hallaj, berkata:

26. Aku tidak percaya bahwa ungkapan kita di sini dapat dipahami, kecuali untuk orang yang sampai pada rentangan busur kedua, yang adanya melampaui Lembaran yang Terjaga [Lawh ul-Mahfudz].

27. Itulah suratan yang tidak mempergunakan huruf Arab ataupun Persia.

28. Kecuali satu huruf saja, yaitu huruf „mim‟ ( ), yang merupakan huruf pertanda “apa yang ia pancarkan.”

29. „Mim‟ ( ) yang menandakan “Yang Terakhir”.

30. „Mim‟ ( ) yang juga merupakan untaian “Yang Terawal”. Rentangan busur pertamanya adalah „Alam Kegagahan (Jabarut), dan yang keduanya adalah „Alam Kerajaan (Malakut). Sedangkan Sifat-Nya adalah untaian dua „Alam itu.Serta Zat-Nya yang Khusus Beriluminasi (tajalliy khasysy) adalah panah yang Mutlak, panahnya dua rentangan.

31. Panahnya itu dari Seseorang yang menyalakan api Iluminasi (tajalliy).

32. Dia berfirman bahwa kepantasan dari pembicaraan adalah yang pengertiannya merupakan gambaran kedekatan. Adapun sang Firman dari pemaknaan ini adalah Kebenaran Allah,bukan metode ciptaan-Nya. Dan, kedekatan ini juga hanya berlaku dalam lingkaran ketepatan yang amat sangat tepat.

33. Kebenaran dan Kebenarannya-Kebenaran (Allah) ini terdapat dalam halusnya perbedaan,lewat pengalaman sebelumnya, dengan memakai penangkal yang dibuat oleh sang pecinta,untuk membalas keterputusannya dengan segenap kecintaan (makhluk), di pelananya yang sampai secara berbarengan, karena bahaya terus mengancam, serta tajamnya perbedaan, yang diatasinya dengan ayat pembebasan. Inilah jalan (shufi) yang terpilih dalammemperhatikan Diri pribadi. Dan, kedekatannya terlihat sebagai areal luas, agar sang arif („irfan) yang taat mengikuti jalannya tradisi nubuwah ini dapat dipahami adanya.

34. Sang Junjungan Yatsrib (Muhammad), shalawat dan salam atasnya, memaklumkan keagungan yang kerasukan jiwa anggun ini, yang tak- tergugat, yang terawat dalam “Kitab Tersembunyi” (QS. 56: 78), sebagaimana Dia menyatakannya dalam Kitab (alam)Terbuka, dalam “Kitab Tertulis” yang menerangkan makna bahasa burung, ketika Dia mengangkatnya „ke sana‟.

35. Apabila kau memahami ini, hai pecinta, pahamilah bahwa Tuhan tidak berbicara kecuali dengan Diri-Nya, atau dengan Sahabat-Nya (waly).

36. Untuk menjadi Sahabat-Nya, janganlah punya Guru ataupun Murid. Jadilah tanpa pilihan, tanpa perbedaan, tanpa kepura-puraan atau sok-nasihat, jangan mengakui sesuatu itu “miliknya” atau “darinya”. Tapi, apa yang ada padanya cukuplah sebagai “apa yang ada padanya”, tanpa merasa adanya itu “padanya”, sebagaimana gurun tanpa air di suatu “gurun tanpa air”, juga sebagaimana pertanda di suatu “pertanda”.

37. Wacana umum mengalihartikan maknanya. Makna pun mengalihartikan maksudnya,sedangkan maksudnya terlihat dari kejauhan. Jalannya sulit, namanya agung, tampilannya unik. Pengetahuannya adalah ketidaktahuan, ketidaktahuannya adalah kebenaran tunggal, keawamannya adalah sumber rahasianya. Namanya adalah Jalannya, karakter- lahirnya adalah kehangatannya, dan perlambang-batinnya adalah kegairahannya.

38. Hukum syari‟at [syar‟iy] adalah ciri-khasnya, kebenaran [haqa‟iq] adalah gelanggangnya dan keagungannya. Jiwanya adalah serambinya, Syaitan adalah pengajarnya, dan setiapmusafir yang ada dijadikannya sebagai kerabatnya. Keinsanan adalah nuraninya,kerendahhatian adalah kemuliaannya, kefanaan adalah subyek zikir-nya, istri adalah tamansarinya, dan fananya-fana adalah singgasananya.39. Pelindungnya adalah perlindunganku, prinsipnya adalah peringatanku, syafa‟atnya adalah permohonanku, karunianya adalah persinggahanku, dan duka-citanya adalah kesedihanku.

40. Pewarisannya adalah kedai tempat minum-(ku), lengan bajunya bukan apa-apa kecuali sekadar pengelap debu-(ku). Ajarannya adalah dasar pijakan keadaan (hal) batinnya,sedangkan keadaan batinnya adalah kefanaan. Kendati demikian, sembarang keadaan (ahwal) lainnya dapat menjadi obyek kemurkaan Allah. Makanya cukuplah ini,semoga rahmat Allah besertamu.

Diterjemahkan oleh AM Santrie dari “THAWASIN” edisi Arab, terbitan Beirut dan edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arhman At-Tarjumana

Tawasin (6): Thasin Al Azal wa al Iltibas (Kebahagiaan dan Derita Keabadian /Kekeliruan Pemahaman)

[: Untuk ia yang 'arif, dalam ke'arifannya-ke'arif saat berhubungan dengan wacana publiktentang apa yang logis dalam memperhatikan tujuan...]

1. Sang Faqir, Abu Mughits (Al-Hallaj), semoga Allah merahmatinya, berkata: "Tidak ada misi yang tangguh kecuali yang diemban Iblis dan Muhammad,shalawat dan salam atasnya. Hanya, Iblis terjatuh dari Zat, dan Muhammad merasakan Zatnya-Zat."

2. Telah dikatakan kepada Iblis: "Sujudlah!" (QS. 2: 34) dan kepada Muhammad: "Tengoklah!" (QS. 53: 13) Namun, Iblis tidak bersujud, dan Muhammad pun tidakmenengok. Ia tidak berpaling ke kanan atau ke kiri, "Matanya tidak celingukan, tidak juga jelalatan." (QS. 53: 17)

3. Sementara Iblis, setelah menyatakan misinya, ia tidak kembali ke kemampuan awalnya.

4. Sedangkan Muhammad, ketika menyatakan misinya, ia kembali ke kemampuannya.

5. Dengan pernyataan ini: "Bersama Engkau semata aku merasa bahagia, dan kepada Engkau semata aku mengabdikan diriku." Dan: "Wahai Engkau yang membolak-balikhati." Serta: "Aku tidak tahu bagaimana memuji-Mu sebagaimana mestinya Engkau dipuji."

6. Di antara penghuni surga tidak ada pemuja sekaligus peng-Esa (Tawhid) yang seperti Iblis.

7. Karena Iblis 'di situ' telah 'melihat' penampakan Zat Ilahi. Ia pun tercegah bahkan dari mengedipkan mata kesadarannya, dan mulailah ia memuja Sang Esa Pujaan dalam pengasingan khusyuknya.

8. Ia dikutuk ketika menjangkau pengasingan ganda, dan ia didakwa ketika menuntut kesendirian (Allah) mutlak

9. Allah berfirman kepadanya: "Sujudlah (kepada Adam as)!" Ia menjawab: "Tidak,kepada yang selain Engkau." Dia berfirman lagi kepadanya: "Bahkan, apabila kutuk-Ku jatuh menimpamu?" Ia menjawab lagi: "Itu tidak akan mengazabku!"

10. "Pengingkaranku adalah untuk menegaskan Kesucian-Mu, dan alasanku (ingkar) niscaya melanggar bagi-Mu. Tetapi, apalah Adam dibandingkan dengan-Mu, dan siapalah aku -- Iblis, hingga dibedakan dari-Mu!"

11. Ia jatuh ke Samudera Keluasan, ia menjadi 'buta', dan berkata: "Tidak ada jalan bagiku kepada yang lain selain dari-Mu. Aku pecinta yang 'buta'!" Dia berfirman kepadanya: "Kau telah takabur!" Ia menjawab: "Apabila ada satu saja kilasan pandang di antara kita, itu cukup membuatku sombong dan takabur. Kendati begitu, aku adalah 'ia' yang mengenal-Mu sejak ke-baqa'-an masa Terdahulu, dan "aku lebih baik daripadanya" (QS.7: 12), sebab aku lebih lama mengabdi kepada-Mu. Tidak ada satu pun, di antara dua jenis makhluk (Adam dan Iblis) ini, yang mengenal-Mu secara lebih baik daripadaku!" "Ada Kehendak-Mu bersamaku, dan ada kehendakku bersama-Mu, sedangkan keduanya mendahului Adam. Apabila aku bersujud kepada yang selain Engkau, ataupun tidakbersujud, niscaya harus bagiku untuk kembali ke asalku. Karena Engkau menciptakan aku dari api, dan api kembali ke 'api', menuruti keseimbangan (sunnah) dan pilihan yang adanya milik-Mu."

12. "Tidak ada jarak dari-Mu padaku, karena aku yakin bahwa jarak dan kedekatan itu 'satu'!" "Bagiku, apabila aku dibiarkan, pengabaian-Mu justru menjadi mitraku. Jadi, seberapa pun jauhnya lagi, pengabaian dan cinta tetap 'menyatu'!" "Terpujilah Engkau, dalam taufiq-Mu dan Zat-Mu yang tiada terjangkau, bagi sang pemuja setia ini, yang tiada bersujud ke yang selain Engkau!"

13. Musa (as) bertemu Iblis di lereng Bukit Sinai, dan bertanya kepadanya: "Hai Iblis, apa yang mencegahmu dari bersujud?" Ia (Iblis) menjawab: "Yang mencegahku adalah pernyataan ikrarku mengenai Sang Pujaan yang Unik. Dan, jika aku bersujud, aku akan menjadi sepertimu. Karena kau hanya perlu dipanggil sekali, "Tengoklah ke gunung," kau langsung menengok. Sementara aku, aku telah dipanggil ribuan kali untuk menyujudkan diriku kepada Adam, aku tidak bersujud, karena aku bersiteguh dengan 'Tujuan' Ikrarku."

14. Musa (as) bertanya: "Kau membangkangi perintah?" Iblis pun menjawab: "Itu sebuah ujian, bukannya perintah." Musa bertanya lagi: "Tanpa dosa? Kendati wajahmu berubah begitu?" Iblis menyahut: "Hai Musa, keadaanku ini sekadar kemenduaan dari penampilan-lahir, sementara keadaan (hal) spiritualku tidak bergantung atasnya, bahkantidak berubah. Ma'rifat tetaplah benar sebagaimana pada awalnya, dan itu tidak berubah kendatipun pribadinya berubah."

15. Musa (as) bertanya: "Adakah kau mengingat-Nya (zikir) sekarang?" "Hai Musa, pikiran yang murni tidak membutuhkan daya-ingat, -- dengan itu aku mengingat (Dia) dan Dia mengingat (aku). Ingatan-Nya adalah ingatanku, dan ingatanku adalah ingatan-Nya.Bagaimana mungkin, ketika kami saling mengingat, kami berdua berlainan satu sama lain?" "Pengabdianku sekarang lebih murni, waktuku lebih lapang, ingatanku lebih agung,sebab aku mengabdi kepada-Nya secara mutlak demi keberuntunganku, bahkan sekarang aku mengabdi kepada-Nya demi Diri-Nya."

16. "Aku mencabut keserakahan dari segenap apa pun yang mencegahku atau menahanku,baik demi kerugian ataupun keuntungan. Dia mengasingkanku, membuatku mabuk- kepayang, melinglungkanku, mengeluarkanku, sehingga aku tidak dapat berpadu dengan para ruh suci. Dia menjauhkanku dari yang lain, sebab kecemburuanku (kepada-Nya)supaya Dia Sendiri saja. Dia mengubahku, sebab Dia mengagumiku. Dia mengagumiku,sebab Dia membuangku. Dia membuangku, sebab aku pengabdi. Dan, menempatkanku dalam ahwal terlarang disebabkan kemitraanku. Dia mempertunjukkan kekurangan nilaiku disebabkan aku memuji Keagungan-Nya. Dia menyederhanakanku dengan sehelai kain ihram disebabkan kehajianku [hijya]. Dia membiarkanku disebabkan 'penemuan'- ku atas-Nya dalam zikir. Dia menyingkapkan (kasyf) hijabku disebabkaan penyatuanku.Dia mempenyatukanku disebabkan Dia memencilkanku. Dan, Dia memencilkanku disebabkan Dia mencegah hasratku."

17. "Dengan Kebenaran-Nya, maka aku tidak salah dalam memperhatikan titah-Nya,bukannya aku menolak takdir. Aku tidak peduli sama sekali tentang perubahan wajahku. Aku hanya menjaga keseimbanganku (sunnah) melalui hukuman ini."

18. "Kendatipun Dia mengazabku dengan api-Nya sepanjang masa, aku tetap tidak akan bersujud kepada sesuatu (selain-Nya). Aku tidak akan merundukkan diriku kepada pribadi atau jasad (Adam as), sebab aku tidak mengaku berlawanan dengan-Nya! Ikrarku khusyuk, dan aku memang seorang yang khusyuk dalam 'cinta'!"

19. Al-Hallaj berkata: "Ada beragam teori yang berkenaan dengan keadaan (hal)spiritualnya 'Azazyl () [sebutan Iblis sebelum kejatuhannya]. Seseorang mengatakan bahwa ia ditugaskan dengan misi di surga, serta dengan suatu misi (lainnya) di bumi. Di surga ia berkhutbah kepada malaikat, menunjukinya tentang amalan yang baik.Dan, di bumi ia berkhutbah kepada manusia dan jin, menunjukinya tentang perbuatan yang jahat."

20. "Sebab, seseorang tidak akan mengenali sesuatu kecuali dengan (mengenali) yang sebaliknya. Sebagaimana dengan sutera putih halus, yang hanya dapat ditenun dengan menggunakan lakan hitam di belakangnya -- makanya, malaikat mempertunjukkan amalan baiknya, dan berkata simbolis, "Jika kau beramal, kau akan mandapat pahala." Namun, ia yang tidak mengenal kejahatan sebelumnya, niscaya tidakdapat mengenali kebaikan."

21. Sang Faqir, Abu Umar Al-Hallaj, berkata: "Aku bersoal dengan Iblis dan Fir'aun tentang kehormatan Sang Pemurah." Kata Iblis: "Jika aku bersujud, aku niscaya kehilangan gelar kehormatanku." Dan, kata Fir'aun: "Jika aku beriman kepada Rasul (Musa as) itu, aku niscaya terjatuh dari harkat kehormatanku."

22. Al-Hallaj pun berkata: "Jika aku memungkiri pengajaranku dan pernyataanku,aku juga niscaya jatuh dari altar kehormatanku."

23. Tatkala Iblis berkata: "Aku lebih baik daripada ia (Adam as)," maka ia tidak melihat sesuatu pun selain dirinya. Tatkala Fir'aun berkata: "Aku tahu pun tidak bahwa kau (Musa as) mempunyai Tuhan yang selain aku," ia tidak mengetahui bahwa sembarang rakyatnya dapat membedakan antara kebenaran dan kepalsuan.

24. Jadi, aku (Al-Hallaj) berkata: "Andaipun kau tidak mengenal-Nya, maka kenalilah pertanda-Nya. Akulah pertanda-Nya [tajally], dan akulah Sang Kebenaran (anal'-Haqq)! Hal ini disebabkan aku tiada henti menyadari 'ada'-Nya Sang Kebenaran!"

25. Temanku adalah Iblis, dan guruku adalah Fir'aun. Iblis diancam dengan api dan tidakmencabut pernyataannya. Fir'aun ditenggelamkan di Laut Merah tanpa mencabut pernyataannya ataupun mengakui sembarang perantara (rasul). kendatipun begitu ia berkata: "Aku beriman bahwa tiada Tuhan kecuali Dia yang diimani oleh Bani Isra'il." (QS. 10: 90) Dan, bukankah kau melihat bahwa Allah pun menentang Jibril dalam Keagungan-Nya? Dia berfirman: "Mengapa kau penuhi mulutmu dengan 'pasir'?"

26. Jadi, aku (akhirnya) dibunuh, digantung, tangan dan kakiku dipotong, tanpa aku mencabut pernyataan tegasku!

27. Istilah Iblis diperoleh dari 'mutasi' nama pertamanya, 'Azazyl ().'Ain'-nya () menunjukkan keluasan ikhtiarnya,'zay'-nya () adalah bertambah kerapnya kunjungan (kepada-Nya),'alif'-nya () sebagai jalan hidupnya dalam harkat-Nya,'zay'-nya () yang kedua keasketisannya dalam derajat-Nya,'ya'-nya () langkah pengembaraannya ke penderitaannya, dan 'lam'-nya () ketegarannya dalam kesakitannya.

28. Dia (Allah) berfirman kepadanya: "Kau tidak bersujud, hai yang nista!" Ia menjawab: "Sebutlah lebih baik -- 'pecinta'!" Karena pecinta dianggap rendah, maka Engkau menyebutku nista. Aku telah membaca dalam Kitab yang Nyata, wahai Sang Kuasa dan Setia, bahwa hal ini akan terjadi padaku. Jadi, bagaimana mungkin aku menistakan diriku kepada Adam, padahal Engkau menciptakannya dari tanah, sedangkan aku dari api? Dua hal yang berlawanan tidak dapat diakurkan. Dan, aku telah mengabdi-Mu lebih lama, juga memiliki kebajikan yang lebih luhur, pengetahuan yang lebih luas, serta aktivitas yang lebih sempurna."

29. Allah, yang senantiasa terpujilah Dia, berfirman kepadanya: "Pilihan adalah milik-Ku,bukannya milikmu." Ia menjawab: "Segenap pilihan, bahkan pilihan diriku, adalah milik- Mu. Karena Engkau telah terpilih untukku, wahai Sang Khaliq. Jika Engkau mencegahku dari bersujud kepadaanya (Adam as), Engkau adalah 'Sebab' pencegahan itu. Jika aku khilaf berbicara, Engkau tidak membiarkanku, karena Engkau Sang Maha Mendengar. Jika Engkau berkehendak aku bersujud kepadanya, aku niscaya taat. Aku tidak mengetahui seorang pun di antara (makhluk) yang 'Arif, yang mengenal-Mu secara lebih baik daripada aku."

30. Jangan persalahkan aku, ide kecaman jauh dariku, anugerahilah aku, wahai Penguasaku,demi aku sendiri. Kalaupun dalam hal janji, janji-Mu itu sejatinya Kebenaran prinsip,tentunya prinsip ikhtiarku juga kuat. Ia yang berhasrat menulis ikrarku ini, atau membacanya, akan mengetahui bahwa aku (akhirnya) menjadi seorang Syahid!

31. Hai saudaraku! Ia (Iblis) disebut 'Azazyl karena ia dibebastugaskan ('uzyla),dibebastugaskan dari kesucian purbanya. Ia tidak kembali dari asalnya ke akhirnya, sebab ia tidak keluar dari akhirnya. Ia dibiarkan, dikutuk dari asalnya.

32. Upayanya untuk keluar pun gagal, disebabkan perasaan iba-dirinya. Ia mendapatkan dirinya antara api tempat peristirahatannya dan cahaya posisi ketinggiannya.

33. Sumber air di darat adalah telaga yang rendah. Ia (Iblis) terazab kehausan di tempat yang (airnya) berlimpah-ruah. Ia menangisi kesakitannya, karena api telah membakarnya.Kekhawatirannya tidak lain hanyalah kepura-puraan, dan ke-'buta'-annya adalah kesia- siaan -- itulah ia adanya!

34. Hai saudaraku! Andaikan kau mengerti, kau telah mempertimbangkan jalan sempit di kesempitannya yang teramat sangat. Kau telah menunjukkan khayalan itu kepadamu dalam kemusykilannya yang teramat sangat. Dan, kau akan menderita serta penuh kegelisahan.

35. Kaum shufi yang paling terjaga pun tetap bungkam tentang Iblis, dan para 'arifin tidakmemiliki kemampuan untuk menjelaskan apa yang telah dipelajarinya (tentang Iblis).Iblis lebih kuat daripada mereka dalam hal pemujaan, dan lebih dekat daripada mereka kepada Sang Zat Wujud. Ia (Iblis) mengerahkan dirinya lebih dan 'lebih' setia pada perjanjian, serta lebih dekat daripada mereka kepada Sang Pujaan.

36. Malaikat lain bersujud kepada Adam (as) karena dukungan (Allah), sedangkan Iblis menolak (bersujud) karena ia telah 'tafakur' sekian lamanya.

37. Kendati begitu, keadaannya menjadi membingungkan, dan pikirannya kesasar, sehingga ia berkata: "Aku lebih baik daripada ia (Adam as)." (QS. 7: 12) Ia tetap di balik tabir,tidak menghargai 'debu' (asal kejadian Adam as), dan mengusung kutukan di atas pundaknya hingga Akhir Ke-'baqa'-an Masanya-Masa Ke-'baqa'-an nanti.

Diterjemahkan oleh AM Santrie dari “THAWASIN” edisi Arab, terbitan Beirut dan edisi Inggris, terjemahan Aisha Abd Arhman At-Tarjumana

Sabtu, 20 April 2013

Rumi : Pagelaran Hal-hal yang Berlawanan

Rumi: Matsnawi

Sudah menjadi Kehendak dan Keputusan Dia,
sang Maha Pengampun, untuk
memperkenalkan dan menyingkapkan Diri-Nya.

Tetapi takkan sesuatu dikenali
kecuali jika ada lawannya,
dan Raja tak-Tertandingi itu tak terbandingkan.

Maka diangkatnya seorang khalifah,
seorang insan pemilik qalb,
agar menjadi cermin yang menampikan kedaulatan-Nya.

Lalu dilimpahkan padanya kemurnian tak-terhingga,
dan dari kebalikannya ditampilkan lawannya,
yang berasal dari kegelapan.

Berkibar dua panji berlawanan, putih dan hitam:
Yang pertama Adam;
dan lainya Syaithan, sang penghalang jalan
menuju kepada-Nya. [1]

Diantara ke dua kubu ini,
berlangsung pertentangan dan perang;
dan melalui hal-hal itu terjadilah
apa-apa yang harus terjadi.

Demikianlah, pada generasi berikutnya
tampil lah Habil, sedangkan saudaranya Khabil
menentang cahaya murninya. [2]

Lalu , pertentangan ke dua panji itu:
keadilan melawan ke-tidak-murni-an,
memasuki masa kekuasaan Namrud.

Dia menentang dan memusuhi Ibrahim,
dan tentara ke duanya berperang
dan bertempur satu sama lain.

Sampai akhirnya,
Dia berkehendak mengakhiri sengketa itu,
api-Nya menjadi alat penentu diantara mereka.

Lalu dia mengangkat hamba-Nya, sang Api,
menjadi pemutus perkara ini: sehingga persoalan
diantara mereka dapat ditentukan. [3]

Generasi demi generasi berlalu,
sampai pertentangan ke dua kubu itu
memasuki masa Fir'aun dan Musa yang bertakwa.

Pertentangan diantara ke duanya
berlangsung bertahun-tahun.
Terjadi bermacam pelanggaran berat
yang melampaui batas,
dan menyebabkan banyak penderitaan.

Saat itu, Dia menjadikan Air sebagai utusan-Nya,
Laut lah yang menentukan siapa yang benar
diantara mereka yang bersengketa. [4]

Pada masa ketika Mushtafa hadir bertugas,
dia berhadapan dengan Abu Jahl,
pemimpin ke-tidak-adilan.

Di masa kaum Tsamud,
Dia mengutus Suara sebagai abdi-Nya,
gelegar Suara dahsyat mematikan mereka. [5]

Di dalam penghancuran kaum 'Ad,
hamba-Nya yang bertugas adalah Angin, [6]
yang bergemuruh, bergerak naik, dengan cepat.

Ketika Dia mengutus hamba-Nya yang teliti, Bumi,
sebagai utusan kepada Qarun:
dihias-Nya sifat lembut bumi dengan permusuhan.

Saat itu, kelembutan Bumi berubah
menjadi kemurkaan, sehingga
ditelannya Qarun beserta harta-bendanya. [7]

Perhatikanlah fungsi makanan bagi tegaknya tubuhmu,
roti itu ibarat baju zirah yang menahan tombak lapar.

Tapi ketika Dia menaruh kemurkaan dalam rotimu,
roti akan melekat pada kerongkonganmu,
dan membuatmu tersedak sampai terasa tercekik.

Atau ketika pakaianmu
--yang seharusnya melindungimu dari hawa dingin-- dibuat-Nya dingin, setajam es.

Maka segera kau tanggalkan baju-bulu hangat,
dan beralih berlindung kepada hawa dingin.

Pengetahuanmu belum memadai;
ibarat air, jumlah dan kemurniannya
masih tak mencukupi untuk bersuci:
kau lupakan azab yang menimpa
pada hari ketika awan menaungi. [8]

Di kota dan desa,
kepada setiap rumah dan dinding,
turunlah perintah -Nya: "Jangan beri naungan,

Jangan tepis hujan maupun cahaya matahari;"
sehingga kaum itu semua bergegas
menemui Syu'aib, Sang Utusan,

Sambil menjerit, Kasihanilah kami,
wahai Pangeran! Kami seperti telah mati.
Baca lah kisah selanjutnya dalam Al Qur'an.

Kenanglah bagaimana Dia yang Maha Terampil
mengubah tongkat Musa menjadi seekor ular-naga,
itu saja cukup sebagai contoh bagimu,
seandainya kau cukup cerdas. [9]

Kau miliki perangkat akal,
tapi tak cukup dalam kau merenung:
bagai musim dingin membeku,
tak kunjung mengalir ke musim semi.

Karenanya, sang Maha Perancang,
yang membentuk pikiran berkata,
Wahai hambaku, renungkan lah dalam-dalam.

Dia tak berkata, tempa lah besi yang dingin, [10]
tapi maksudnya, wahai engkau yang sekeras besi,
dedikasikanlah dirimu bagi Dawud. [11]

Jika tubuhmu seperti mati,
cari lah pertolongan Israfil; [12]
jika hatimu membeku,
cari lah kehangatan Ruh al-Quds.

Jika berlama-lama kau kungkung dirimu
dalam selimut pakaian khayalan,
segera kau dapati pikiranmu berubah jahat.

Sehingga Akal Sejati tanggal:
tak didapati persepsi yang sejati
tak pula diperoleh pengalaman kesejatian.

Disini aku harus menahan lisanku,
jika kukatakan yang sebenarnya,
akan banyak penyingkapan yang mempermalukan.

Apakah sebenarnya arti iman?
Maknanya: yang menyebabkan mata-air-sumber mengalir.
Ketika janin keluar dari rahim,
ia disebut rawan. [13]

Filsuf yang sejati itu
orang yang jiwanya telah dimerdekakan
dari kungkungan penjara tubuh,
lalu berkelana (rawan) di taman Kesejatian.

Ke dua hal pokok di atas itu didapat melalui anugerah,
maka perhatikan lah dengan cermat;
Semoga engkau terberkati.

Catatan:
[1] "... Dan syaithan jadikan mereka memandang baik perbuatan mereka, dan menghalangi mereka dari jalan (Allah) ..." QS [Al 'Ankabuut [29]: 38)
[2] Ketika ke dua putera Adam a.s, Qabil dan Habil diperintahkan berkurban, maka kurban Qabil ditolak. Adiknya, Habil, berkata, "... Sesungguhnya Allah hanya mengabulkan dari (orang-orang) al-Mutaqiin." (QS Al Maa-idah [5]: 27)
[3] "Kami berfirman, 'Wahai api, menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatan bagi Ibrahim.'" (QS Al Anbiyaa [21]: 69)
[4] "... maka Kami tenggelamkan dia serta mereka yang bersamanya, seluruhnya." (QS Al Israa [17]: 103)
[5] Kaum Tsamud yang tinggal di daerah Hijr akhirnya "... dibinasakan oleh suara yang menggelegar di waktu subuh." (QS Al Hijr [15]: 83)
[6] "Adapun kaum 'Aad, mereka telah dibinasakan oleh angin yang sangat dingin lagi kencang." (QS Al Haaqqah [69]: 6)
[7] "Maka Kami benamkan ia beserta rumahnya kedalam bumi. Maka tiada baginya suatu golonganpun yang menolong dari adzab Allah, dan tiada pula ia yang dapat membela diri." (QS Al Qashash [28]: 81)
[8] "Kemudian mereka mendustakannya (Syu'aib), lalu mereka ditimpa 'adzab, pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya 'adzab itu hari yang agung ('adziim)." (QS Asy Syu'araa [26]: 189)
[9] "Kemudian Musa melemparkan tongkatnya, maka tongkat itu menelan apa yang mereka ada-adakan" (QS [Asy Syu'ara [26]: 45)
[10] Maksudnya, menghabiskan daya dan waktu dalam pemikiran spekulatif. [11] Nabi Dawud a.s, Insan Kamil yang bertugas ketika Bani Israil diboikot habis sehingga tak memiliki kekuatan apa pun; "Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud, membuat baju besi untukmu, guna melindungimu dalam peperanganmu. Maka hendaklah kau bersyukur." (QS Al Anbiyaa [21]: 80) Maksudnya, agar orang-orang kuat, cerdik-cendekia atau berkuasa, tidak sekedar tenggelam asyik dalam pagelaran kecerdasan atau kekuasaan mereka tapi mendaya-gunakannya untuk mencari amal-shaleh dalam bimbingan insan kamil, yang yang dihadirkan hidup pada zaman mereka.
[12] Sang malaikat Pemegang Sangsakala Hari Kiamat.
[13] Yang bergerak, mengalir
.

Sumber: Rumi: Matsnavi VI:2151 - 2189. Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson. Ngrumi.blogspot.com

Kumpulan Hizib Syazili (5) Hizib Al Hujb

Berikut sy lampirkan Hizib Al Hujb dah Syeikh abu Hasan As Syazili. silahkan mencari ijazah untuk mengamalkan hizib ini. Semoga Allah memberikan kita keberkahan atas kemulian hizib ini

Why Sufis are not Jihadists- Habib Ali al Jifri

Rabu, 17 April 2013

Habib Zein : Pahala Bacaan untuk Orang Mati

Bolehkah menghadiahkan pahala bacaan Al-Quran dan dzikir kepada orang yang telah mati?

Ya, itu dibolehkan. Madzhab yang benar dan terpilih menyatakan sampai­nya pahala bacaan dan amal-amal jas­mani lainnya kepada mereka, dan bah­wasanya karena itu pula mereka bisa men­dapatkan pengampunan atas dosa atau peningkatan derajat, cahaya, ke­gembiraan, dan pahala lainnya lantaran karunia Allah SWT.

Apa dalilnya?

Dalilnya, Nabi SAW bersabda, “Ba­calah surah Yasin kepada orang-orang mati di antara kalian.” – Hadits ini di­sampaikan oleh Abu Daud (3121), Ibnu Majah (1448), dan lainnya, dari hadits Ma’qil bin Yasar RA.

Rasulullah SAW juga bersabda, “Ya-Sin adalah jantung Al-Quran. Tidaklah seseorang membacanya dengan niat kepada Allah SWT dan menghendaki ne­geri akhirat melainkan Allah mengam­puninya. Dan bacakanlah ia kepada orang-orang mati di antara kalian.” – Disampaikan oleh Ahmad (5: 26), An-Nasa’i dalam Al-Kubra (10914), dan lainnya.

Ulama ahli tahqiq menyatakan, ha­dits ini bersifat umum, mencakup bacaan kepada orang sekarat yang akan mati dan bacaan kepada orang yang sudah mati. Inilah pengertian yang jelas dari hadits di atas.

Hadits ini menjadi dalil bahwa baca­an tersebut sampai kepada orang-orang yang sudah mati dan adanya manfaat padanya sebagaimana yang disepakati para ulama. Perbedaan pendapat hanya berkaitan jika pembaca tidak berdoa setelahnya dengan doa semacam ini, misalnya, “Ya Allah, jadikanlah pahala bacaan kami kepada Fulan.”

Jika seesorang membaca doa ini se­bagaimana yang diamalkan kaum mus­limin, yang memberikan pahala bacaan mereka kepada orang-orang mati di an­tara mereka, tidak ada perbedaan pen­da­pat di antara ulama terkait sampai­nya bacaan itu, karena ia dikategorikan seba­gai doa yang disepakati tersampai­nya.

Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka ber­doa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami’.” – QS Al-Hasyr (59): 10.

Jika dia tidak berdoa demikian de­ngan bacaannya itu, menurut pendapat yang termasyhur dalam Madzhab Syafi’i, pahalanya tidak sampai. Namun ulama Madzhab Syafi’i generasi akhir menyata­kan, pahala bacaan dan dzikir sampai kepada mayit, seperti mazhab tiga imam yang lain, dan inilah yang diamalkan umat pada umumnya. “Apa yang menu­rut kaum muslimin baik, itu baik di sisi Allah.” Ini adalah perkataan Ibnu Mas’ud RA.

Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, semoga Allah melimpahkan manfaat kepada kita lantarannya, mengatakan, “Di antara yang paling besar keberkah­annya dan paling banyak manfaatnya untuk dihadiahkan kepada orang-orang mati adalah bacaan Al-Quran dan meng­hadiahkan pahalanya kepada mereka. Kaum muslimin pun telah mengamalkan ini di berbagai negeri dan masa. Mayo­ritas ulama dan orang-orang shalih, salaf maupun khalaf, pun berpendapat demi­kian.” Silakan simak perkataan Al-Haddad RA selengkapnya dalam Sabil al-Iddikar.

Dari Ibnu Umar RA, ia mengatakan, “Jika salah seorang di antara kalian mati, janganlah kalian menahannya. Segera­kanlah ia ke kuburnya, dan hendaknya di­bacakan permulaan Al-Baqarah di dekat kepalanya, dan di dekat kedua kaki­nya dengan penutup Al-Baqarah.” – Disampaikan secara marfu’ (perkataan sahabat yang dinisbahkan sebagai per­kataan Nabi SAW) oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (12: 444) dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (7: 16) dari hadits Ibnu Umar RA. Al-Baihaqi mengatakan, yang benar adalah bahwasanya itu adalah perkataan Ibnu Umar RA.

Dalam kitabnya, Ar-Ruh, Ibnu Qayyim mengungkapkan adanya penyampaian pelajaran di atas kubur. Ia berhujjah, se­jumlah ulama salah berwasiat agar di­adakan bacaan pada kubur mereka, di antaranya adalah Ibnu Umar, yang ber­wasiat agar dibacakan surah Al-Baqarah pada kuburnya, dan bahwasanya kaum Anshar mengamalkan jika ada orang yang mati, maka mereka silih berganti ke kuburnya untuk membaca Al-Quran padanya (Ar-Ruh hlm. 10).

Ulama menyatakan, seseorang di­bolehkan menghadiahkan pahala amal­nya kepada orang lain, baik itu berupa bacaan maupun yang lainnya. Dalilnya, hadits yang diriwayatkan Amru bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, Nabi SAW, yang bersabda, “Dibolehkan bagi salah seorang di antara kalian, jika hendak bersedekah dengan sukarela, memberikannya kepada kedua orang­tuanya. Dengan demikian, kedua orang­tuanya mendapatkan pahala sedekah­nya dan ia pun mendapatkan seperti pa­hala kedua orangtuanya tanpa mengu­rangi pahala kedua orangtuanya sedikit pun.” – Disampaikan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Ausath (7: 92) dan Abu Syaikh Ibnu Hayyan dalam Thabaqat Al-Muhad­ditsin bi Ashbahan (3: 610).

Di antara hadits-hadits yang diriwa­yat­kan terkait hal ini, meskipun dhaif, telah ditetapkan di antara ulama hadits bahwasanya hadits dhaif dapat diamal­kan terkait fadhail al-a’mal, keutamaan-keutamaan amal.

Apa hukum bacaan Al-Quran kepada mayit dan di atas kubur?


Imam Syafi’i R.H.M. menyatakan, dianjurkan membaca ayat apa pun dari Al-Quran di dekat kubur. Jika mereka mengkhatamkan Al-Quran seluruhnya, itu baik. Ini disebutkan oleh An-Nawawi dalam Riyadh Ash-Shalihin dan dalam Al-Adzkar.

Apa dalil yang membolehkannya?


Dalilnya, sebagaimana yang baru saja disampaikan di atas, perkataan Ibnu Umar R.A., “Jika salah seorang di antara kalian mati, janganlah kalian menahan­nya. Segerakanlah ia ke kuburnya, dan hendaknya dibacakan permulaan Al-Ba­qarah di dekat kepalanya, dan di dekat kedua kakinya dengan penutup Al-Baqarah.”

Hadits marfu’ juga telah disampaikan sebelum ini, “Bacalah Ya-Sin kepada orang-orang yang mati di antara kalian.” Sebagian ulama hadits menafsirkannya pada makna sebenarnya, sebagaimana ini cukup jelas dari lafal hadits. Semen­tara sebagian yang lain menafsirkannya pada makna kiasan. Maksudnya, orang yang sudah mendekati kematiannya. Namun masing-masing makna dimung­kinkan. Dan seandainya kedua makna ini sama-sama diamalkan, itu lebih baik.

Al-Khallal meriwayatkan dari Sya’bi, ia mengatakan: Jika di antara kaum Anshar ada orang yang mati, mereka silih berganti ke kuburnya untuk mem­baca Al-Quran. Demikian. Kaum muslim­in pun masih tetap membaca Al-Quran kepada orang-orang mati sejak masa kaum Anshar.

Dari semua penjelasan di atas dapat diketahui bahwasanya bacaan Al-Quran di atas kubur merupakan anjuran syari’at. Allah lebih mengetahui.

Apa makna firman Allah SWT “Dan tidaklah manusia mendapatkan kecuali apa yang diusahakannya.” – QS An-Najm (53): 39, dan sabda Nabi SAW “Jika manusia mati, terputuslah amalnya”?

Dalam kitab Ar-Ruh, Ibnu Qayyim mengatakan, Al-Quran tidak menafikan seseorang mendapatkan manfaat dari usaha orang lain, tetapi Al-Quran hanya memberitahukan bahwasanya ia tidak memiliki kecuali usahanya. Adapun usaha orang lain, itu adalah milik orang yang melakukannya. Orang lain itu dapat menghendaki memberikannya kepada orang lain atau menghendaki menahan­nya untuk dirinya sendiri. Dalam hal ini, Allah SWT tidak menyatakan “Sesung­guhnya dia tidak boleh menerima man­faat kecuali lantaran apa yang diusaha­kannya sendiri.”

Sabda Nabi SAW, “Terputuslah amal­nya.” Beliau tidak menyatakan “Peman­faatannya”, tetapi beliau hanya memberi­tahukan ihwal keterputusan amalnya. Ada­pun amal orang lain, itu menjadi hak orang yang melakukannya. Jika ia mem­berikannya kepadanya, pahala amal orang yang melakukannya sampai ke­padanya, bukan pahala amalnya sendiri. Dengan demikian, yang terputus adalah satu hal, dan yang sampai adalah hal lainnya. Demikian yang disampaikannya secara ringkas (Ar-Ruh hlm. 129).

Ulama tafsir menyebutkan dari Ibnu Abbas RA, firman Allah SWT “Dan se­sungguhnya manusia tidak mendapat­kan kecuali apa yang diusahakannya” – QS An-Najm (53): 39, telah dihapus hu­kumnya dalam syari’at ini dengan firman Allah SWT “Dan orang-orang yang ber­iman, beserta anak-cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak-cucu mereka.” – Ath-Thur (52): 21. Allah memasukkan anak-cucu ke dalam surga lantaran kebajikan leluhur mereka. Lihat Tafsîr Al-Qurthubi (17: 114).

Ikrimah mengatakan, itu terjadi pada kaum Musa AS. Adapun umat ini menda­patkan apa yang mereka usahakan dan mendapatkan pula apa yang diusahakan oleh yang lain. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan bahwa seorang wa­nita mengangkat bayinya dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah anak ini men­dapatkan pahala haji?”

Beliau menjawab, “Benar, dan bagi­mu pahala.” – Hadits ini disampaikan oleh Muslim (1336) dan lainnya, dari hadits Ibnu Abbas RA.

Yang lainnya bertanya kepada Nabi SAW, “Ibuku terluputkan dirinya (mati tanpa wasiat), apakah ia mendapatkan pahala jika aku bersedekah atas nama dia?”

Beliau menjawab, “Benar.” – Hadits ini disampaikan oleh Al-Bukhari (1322) dan Muslim (1004) dari hadits Aisyah RA.

Perkataan penanya, “terluputkan”, kata ini diucapkan terkait orang yang mati secara tiba-tiba, dan diucapkan pula terkait orang yang tewas oleh jin dan gangguan. “Dirinya,” menurut Imam Na­wawi, “kami menulisnya dengan harakat fathah dan dhammah nafsaha dan naf­suha, dengan nashab dan rafa’. Bacaan rafa’ dengan maksud sebagai obyek yang tidak disebutkan subyeknya. Nashab dengan maksud sebagai obyek kedua.” – Syarh Muslim (7: 89-90).

Demikian, Allah lebih mengetahui.

Apa hukum bacaan Al-Fatihah dan bacaan kepada mayit serta tawasul dengannya untuk penerimaan doa?


Ketahuilah, di antara yang terbesar keberkahannya dan terbanyak manfaat­nya untuk dihadiahkan kepada orang-orang mati adalah bacaan Al-Quran Al-Azhim dan menghadiahkan pahalanya kepada mereka. Mayoritas ulama dan orang-orang shalih, baik salaf maupun khalaf, berpendapat demikian, dan kaum muslimin di berbagai masa dan negeri pun mengamalkannya. Dalam hadis marfu’ yang telah disampaikan terdahulu dinyatakan, “Jantung Al-Quran adalah Ya-Sin. Tidaklah seseorang membaca­nya dengan niat kepada Allah dan meng­hendaki negeri akhirat melainkan ia di­ampuni. Hendaknya kalian membaca­nya kepada orang-orang mati di antara kalian.”

Diriwayatkan dalam hadits dhaif, “Siapa yang masuk pemakaman dan mem­baca ‘Katakanlah: Dialah Allah Yang Esa’ sebelas kali, kemudian mem­berikan pahalanya kepada orang-orang mati, ia diberi pahala sesuai dengan jum­lah orang-orang yang mati.” Diriwayat­kan oleh Ar-Rafi’i dalam kitabnya At-Tarikh dan Ad-Daraquthni dalam kitab­nya As-Sunan.

Adapun tawasul dengan surah Al-Fatihah terkait penerimaan doa, ini se­baik-baik wasilah. Pada hakikatnya, itu hanyalah tawasul dengan Allah SWT. Dalam hadits qudsi dikatakan, “Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.” Disampaikan oleh Muslim dalam kitabnya Shahîh Muslim (598) dari hadits Abu Hurairah RA.

Sumber: Majalah-alkisah.com