Tampilkan postingan dengan label Madrasah Hadramaut-Alkisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Madrasah Hadramaut-Alkisah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juli 2013

Madrasah Hadhramaut : Riya’

Segala puji bagi Allah SWT dengan pujian yang dengannya kami dapat mewujudkan ikhlas yang sesuangguhnya dalam penghambaan dan yang dengan­nya kami menjadi bagian dari orang-orang yang hatinya terpenuhi oleh ca­haya Allah SWT SWT, yang tidak ada lagi tersisa celah sedikit pun bagi syirik di saat-saat melakukan segala perbuatan.

Shalawat serta salam semoga se­nan­tiasa tercurahkan atas penghulu kami, Nabi Muhammad, pemimpin sege­nap ahli hakikat ikhlas, dan atas keluar­ganya, para sahabatnya, serta orang-orang yang meniti di atas jalannya hing­ga hari Kiamat.

Mudah-mudahan, dari pelajaran ter­dahulu sampai pelajaran kali ini, engkau telah merenungkannya dengan sek­sama. Sudahkah engkau renungkan bagaimana menyelamatkan hatimu dari takabur? Sudahkah engkau renungkan hakikat asal penciptaanmu? Sudahkah engkau renungkan bahwa tempat kem­balimu hanyalah sebuah lubang yang di­timbuni tanah? Sudahkah engkau re­nung­kan bahwa di antara itu tidak ada sesuatu pun yang engkau miliki selain apa yang Allah berikan kepadamu?

Sudah pulakah kita memberikan per­hatian kepada perbuatan-perbuatan yang dapat membantu kita untuk mewu­judkan tawadhu dan kerendahan hati?

Berapa banyak orang yang engkau jumpai kemudian engkau terlebih dahulu mengucapkan salam kepadanya? Ada­kah rekan yang berseteru denganmu lalu engkau menjumpainya dan mengucap­kan salam terlebih dahulu kepadanya? Apakah engkau telah datang kepada se­seorang yang telah berbuat buruk ke­padamu lalu engkau luluh lantahkan naf­sumu untuk terlebih dahulu meminta per­sahabatan dengannya?

Ini semua adalah perbuatan-per­buat­an yang dapat membantu untuk mewu­judkan sikap rendah hati dan menghi­langkan takabur. Apakah engkau memi­liki keberanian yang lebih tinggi untuk me­lakukannya? Apakah engkau memi­liki kekuatan yang lebih besar sehingga engkau dapat memperbuatnya?

Apakah engkau memiliki semangat yang sama dengan sekalian murid yang meniti jalan menuju Allah SWT?

Pikirkan masjid yang ada di samping rumahmu. Pikirkan bahwa engkau dapat membersihkan kamar mandi masjid mes­kipun hanya sekali dalam seminggu.

Sulit? Sungguh ini adalah perjalanan menuju Allah SWT. Demi Allah, di da­lamnya terdapat pembersihan terhadap hatimu. Perkara yang dituntut sesung­guhnya bukanlah tempat yang engkau bersihkan, melainkan penyucian terha­dap dirimu.

Sulit? Cobalah yang lebih ringan di rumahmu. Ringankan pekerjaan pem­bantu yang ada di rumahmu bila engkau memiliki pembantu. Atau ringankan pe­kerjaan istrimu. Berdiri, bantu, dan to­longlahlah istrimu bersih-bersih rumah.

Masih sulit juga! Sungguh ada ma­salah besar dalam dirimu, bila sampai untuk melakukan bersih-bersih di salah satu ruangan di rumahmu saja, atau ka­mar mandi di rumahmu, atau perabot yang ada di dapur, masih terasa sukar dan berat bagimu.

Jangan sampai setan tertawa di saat menyaksikan engkau berkata, “Tidak, aku seorang suami... semua itu tidak pan­tas dilakukan seorang suami!

Hati-hati, jangan sampai engkau salah dan keliru.

“Aku adalah seorang Hamba”

Sungguh penghulu sekalian suami, Baginda Rasulullah SAW, mengerjakan pekerjaan rumah. Beliau SAW menyapu halaman rumah, mengemas baju dan men­cucinya, menambal sendal, memi­kul tanah liat di atas pundaknya, dan gemar membantu pekerjaan istri-istri­nya. Ini adalah pelatihan dan pendidikan bagi jiwa.

Nabi SAW pernah bersabda tentang dirinya, “Sungguh aku adalah seorang ham­ba sahaya yang makan sebagai­mana seorang hamba sahaya makan, dan duduk sebagaimana seorang ham­ba sahaya duduk.”

Tahukah engkau apa yang menjadi latar belakang dari hadits Nabi SAW ini?

Suatu ketika, seorang wanita melihat Nabi SAW tengah duduk bersama-sama dengan beberapa hamba sahaya dan para dhu‘afa. Lalu wanita itu berkata, “Apa-apaan ini? Seorang nabi duduk se­perti duduknya seorang hamba sahaya, dan makan seperti makannya seorang budak.” Wanita ini bermaksud meng­hi­nakan kelakuan Nabi SAW seperti itu.

Maka Nabi SAW pun bersabda, “Eng­kau benar. Sungguh aku hanyalah seorang hamba sahaya. Aku makan sebagaimana seorang hamba sahaya makan, dan duduk sebagaimana se­orang budak duduk.” Makna sesung­guh­nya dari ungkapan beliau SAW, “Aku adalah hamba Allah SWT.”

Pada suatu hari seorang budak pe­rem­puan datang menemui Nabi SAW di saat beliau tengah sibuk dengan urusan umat. Urusan yang sangat pen­ting.

Budak itu memiliki hajat yang hendak ia adukan kepada Nabi SAW. Ia datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Ya Ra­sulullah, ada hal yang ingin aku sam­pai­kan kepadamu.”

Nabi SAW berkata, “Silakan.”

“Tidak, ya Rasulullah, aku hanya ingin berbicara denganmu seorang diri.”

“Baiklah, silakan engkau tunjuk di an­tara jalan-jalan di Madinah ini, biar aku mendatangimu di sana.”

Budak perempuan itu menunjuk tem­pat yang diinginkannya, dan Nabi SAW pun segera menuju tempat yang diingin­kan oleh perempuan terse­but.

Nabi SAW menyimak dengan sek­sama apa yang diadukan oleh budak perempuan hingga terpenuhi semua yang diharapkannya, barulah setelah itu beliau kembali ke tengah-tengah para sa­habat yang tengah menunggu.

Perhatikan, demikianlah nabimu, suri teladanmu, Nabi Muhammad SAW.

Bukan terhadap Dzatnya

Suatu ketika datang seekor kucing ke kamar Nabi SAW. Kucing itu meman­dang ke arah wadah air di sisi Rasulullah.

Menyaksikan itu beliau tahu bahwa kucing tersebut haus dan beliau pun me­miringkan wadah itu agar si kucing dapat memimum airnya. Setelah kucing itu puas, Nabi SAW pun bergantian mimum dari wadah itu.

Ketika Sayyidah Aisyah RA menyak­sikan hal itu, Nabi SAW berkata kepada­nya, “Wahai Aisyah, sesungguhnya ku­cing ini adalah dari hamba-hamba yang thawaf (berkeliling). Ia thawaf kepada kita, datang dan pergi, dan bukanlah ia termasuk binatang yang najis.”

Jijiklah terhadap sesuatu yang di­hu­kumi najis oleh syari’at. Tetapi hen­dak­lah kita jijik terhadap kenajisannya, bu­kan terhadap dzatnya. Bahkan sam­pai terhadap anjing sekalipun yang di­hukumi najis. Meskipun para ulama meng­hu­kumi anjing dengan najis mughallazhah (najis berat), tidak dibolehkan bagi kita untuk menghinakan anjing.

Bila engkau melihat anjing dengan pandangan kehinaan, siapakah yang sesungguhnya engkau hinakan? Rupa ciptaan anjingkah yang engkau hinakan, atau Penciptanya?

Demikianlah senantiasa keadaan seorang peniti jalan menuju Allah SWT. Masalah yang dihadapi senantiasa te­rasa sukar dan berat. Karenanya, lawan terus nafsumu. Ini adalah maqam muja­hadah (kesungguhan dan perjuangan melawan nafsu).

Ini merupakan lapangan penyucian hati. Yakni dengan melakukan semua pekerjaan itu, dari yang paling mudah meningkat kepada yang paling sukar dan berat. Setelah itu niscaya hatimu bersih tercuci. Dirimu telah keluar dari titik ke­lemahan yang ada dalam dirimu menuju kekuatan penyandaran kepada Allah SWT. Jangan me­nyerah di hadap­an kelemahan diri dalam masalah taka­bur, sombong, me­rasa lebih baik dari yang lainnya. Lawanlah, dan ­latihlah dia.

Perhatikan baik-baik! Dalam muja­hadahmu terhadap nafsumu dalam me­ngeluarkan kegelapan takabur sesung­guhnya terdapat penyucian lain bagi hati­mu dari titik kelemahan yang lainnya, selain takabur itu sendiri.

Orang yang takabur memandang bah­wa dirinya lebih baik dan lebih mulia dari orang lain. Dalam hidupnya ia selalu membanding-bandingkan dirinya de­ngan orang lain. “Aku lebih baik dari si Fulan....”



Diri yang Tergadaikan

Hidupnya menjadi sibuk. Sibuk de­ngan apa? Sibuk dengan membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Dan kesibukannya dengan orang lain itu, meskipun bentuknya adalah takabur dan pandangan ketinggian terhadap diri sen­diri di atas orang lain, sesungguhnya itu hakikatnya adalah kelemahan dan ke­tundukan terhadap orang lain.

Tahukah engkau mengapa demiki­an? Karena sesunguhnya dirinya terga­daikan kepada orang lain. Bila mereka menghormati dirinya, memuliakannya, dan memberinya kedudukan yang di­inginkannya, ia merasa lapang dan se­nang karenanya. Jika ia masuk ke satu majelis, orang-orang berdiri menghor­matinya. Jika ia meminta sesuatu, se­gera orang memenuhi tuntutannya. Dan bila ia berbicara, orang lain pun dengan seksama mendengarkannya. Ia menjadi individu yang teramat butuh dan tergan­tung kepada manusia. Itulah sebabnya, bila ia masuk ke suatu tempat dan orang tidak menghormatinya dengan penghor­matan yang ia kehendaki, ia pun akan marah. Ia marah sebesar orang lain tidak menghormatinya.

“Mereka tidak menghormatiku! Aku tidak akan membiarkan hal itu.” Karena engkau merasa bahwa mereka telah menghinakanmu.

Bila keadaanmu demikian adanya, sesungguhnya engkau tengah membiar­kan orang lain merendahkan dan meng­hinakanmu.

Engkau tahu kenapa?

Karena engkau menjadikan nilai dan kemuliaanmu tergantung dan terikat pada sikap dan tingkah laku manusia. Engkau menghinakan dirimu sendiri. Bila saja engkau menjadikan kemuliaan dan kehormatanmu pada keadaan dan ke­teguhanmu kepada Allah SWT, bukan dengan perlakuan manusia terhadapmu, sungguh engkau telah memelihara diri­mu. Akan tetapi engkau justru rela de­ngan kesombonganmu, perasaan tinggi­mu, dan keinginanmu mencari kemulia­an dan kedudukan di antara manusia.



Engkau rela membiarkan dirimu ber­ada di tangan manusia. Bila mereka menghormati dan memuliakanmu, eng­kau bahagia karenanya. Tapi bila me­reka tidak menoleh kepadamu dan tidak memuliakanmu, engkau pun marah dan gusar. Sehingga keadaanmu menjadi keadaan seseorang yang teramat perlu dikasihani oleh orang lain. Siapa pun orangnya itu, konglomerat, raja, hakim, menteri, ulama, reformis, akademisi, guru, siapa pun itu, yang menjadikan ni­lai­nya, kebahagiaannya, ridhanya, ke­tenteramannya, dan kesenangannya, ter­gantung pada apa yang diberikan dan dipersembahkan oleh manusia lain ke­padanya, ia telah menghinakan dirinya dengan keadaan seperti itu, keadaan yang perlu belas kasihan orang lain.

Perhatikanlah, di atas masalah yang telah kita bahas pada pelajaran yang lalu ini, yakni penyakit takabur, terdapat pula masalah yang kedua, yakni penyakit riya’ dan sum‘ah, yang akan kita bahas pada edisi berikutnya.

Selama engkau menginginkan manusia menghormatimu, mengelu-elukanmu, mengagungkanmu, dan memuliakan kedudukanmu, engkau sibuk dengan pandangan manusia terhadapmu, sesungguhnya engkau akan membayarnya dengan harga yang mahal...

Kata ar-riya’ berasal dari kata ar-ru’yah (pandangan), sedangkan as-sum‘ah berasal dari kata as-sima‘ (pendengaran). Dari mana da­tangnya kerinduan seseorang terhadap riya’? Yakni sibuknya seseorang untuk men­dapatkan pandangan manusia ke­padanya dan pendengaran orang lain tperihal pujian-pujian orang tentang diri­nya.

Engkau mencari-cari pandangan orang terhadapmu dalam segala ihwal­mu. Dalam ihwal semacam ini, sesung­guhnya engkau kembali menuju titik ke­lemahan, yang baru saja kita bicarakan (pada edisi yang lalu).

Sudah kita katakan, seorang yang som­bong sesungguhnya telah memper­lemah dirinya untuk orang lain dan me­nyiapkan dirinya untuk titik kelemahan yang kedua, yakni penyakit hati yang ke­dua, maksiat hati yang sangat berba­haya, yakni riya’, yang disebut asy-syirkul ashghar (syirik kecil).

Syirik ini tidak mengeluarkan sese­orang dari agama Islam. Ia tetap menjadi seorang muslim. Akan tetapi mengapa penyakit ini disebut syirik kecil? Karena seorang yang riya’ telah memalingkan iba­dah dari yang semestinya karena Allah SWT, ia palingkan untuk manusia dan ia jadikan tujuan dari ibadahnya un­tuk mendapatkan pujian manusia terha­dapnya, penghormatan orang lain ke­padanya, kecenderungan mereka terha­dap dirinya, dan penilaian mereka terha­dap dirinya bahwa ia adalah “sesuatu”.

Ia menjadikan adanya sekutu bagi Allah dalam niat ibadahnya. Ia hamba Allah akan tetapi dalam ibadahnya meng­inginkan ridha Allah SWT dan ridha manusia. Ia menyekutukan antara men­cari ridha Allah SWT dan mencari ridha makhluk. Itulah sebabnya, penyekutuan semacam ini disebut asy-syirkul khafi (syirik tersembunyi).

Disebut syirik ashghar karena syirik ini tidak mengeluarkan seseorang dari agama. Adapun disebut syirik khafi ka­rena syirik ini memiliki beberapa tingkat­an yang akan dijelaskan pada akhir pel­ajaran kita kali ini.

Riya’ berkaitan dengan masalah arah pandanganmu kepada manusia. Selama engkau menginginkan manusia menghormatimu, mengelu-elukanmu, mengagungkanmu, dan memuliakan ke­dudukanmu, engkau sibuk dengan pan­dangan manusia terhadapmu, sesung­guhnya engkau akan membayarnya de­ngan harga yang mahal... harga-harga yang teramat mahal. Salah satunya ada­lah bahwa sesuatu yang paling mahal yang engkau miliki di dunia ini dan yang paling berharga yang akan engkau ba­yarkan untuk itu semua adalah ibadah­mu kepada Allah SWT. Ibadahmu, eng­kau palingkan untuk manusia.

Mengapa demikian? Seseorang yang riya’, bila ingin bersedekah, ia ingin orang-orang berkata tentangnya bahwa ia dermawan dan pemurah. Bila duduk di satu majelis dan menguraikan suatu pembahasan, ia menghendaki orang-orang memuji penyampaiannya dan kemampuannya dalam memberikan na­sihat dan pelajaran. Bila shalat atau me­lakukan suatu ibadah, ia menghendaki pujian orang terhadap kekhusyu’annya dan kadar kekhuyu’annya dalam dzikir kepada Allah SWT. Bila membaca Al-Qur’an, ia menunggu pujian orang-orang terhadap kemampuan dan keindahan bacaannya. Demikianlah halnya dalam ibadah, saat ia bertaqarrub kepada Allah SWT.

Sepakatkah kalian denganku bahwa harga yang harus dibayar untuk riya’ sa­ngatlah mahal, sehingga tidak semesti­nya dilakukan? Oleh sebab itu marilah kita berlepas diri dari penyakit cinta terhadap kedudukan di hati manusia.

Cintailah manusia, cintailah kebaikan bagi manusia, dan cintailah cinta manu­sia kepadamu karena Allah SWT. Akan tetapi janganlah engkau mencari ke­dudukan di sisi makhluk. Sesungguhnya kedua hal itu memiliki perbedaan yang sangat besar, sekalipun teramat tipis dan halus perbedaan antara keduanya.

“Benar, aku mencintai manusia ka­rena Allah dan aku pun cinta saudara-saudaraku yang mencintaiku karena Allah. Akan tetapi tidaklah sepatutnya aku mencari dan hidup dengan meno­lehkan pandanganku kepada keduduk­anku di dalam hati mereka. Mengamat-amati dan memperhatikan dengan sek­sama, apakah kedudukanku jatuh di mata mereka atau semakin tinggi dan se­makin tinggi lagi? Apakah keduduk­anku diperhitungkan di sisi mereka, atau­kah sama sekali tidak diperhitungkan?”

Cinta kedudukan di hati manusia, hal itulah yang menyebabkan lahirnya riya’, menyebabkan berpaling kepada selain Allah SWT – na’udzu billah min dzalik. Dan menolehnya hati kepada cinta ke­dudukan di tengah-tengah makhluk akan menyebabkan runtuhnya kedudukan di sisi Allah SWT.

Arah pandangan hatimu kepada makhluk untuk mencari kedudukan di sisi mereka di saat beribadah kepada Allah SWT akan merendahkan kedudukanmu di sisi-Nya.

Manakah sesungguhnya yang eng­kau inginkan: kedudukan di sisi makhluk atau kedudukan di sisi Allah SWT?

Engkau adalah murid menuju Allah, peniti jalan menuju akhirat. Ambillah kabar gembira yang akan membuatmu mudah untuk mendapatkan dua pilihan itu. Luruskanlah niatmu untuk mencari kedudukan di sisi Allah SWT, niscaya Dia akan memberikan kedudukan bagi­mu di sisi makhluk. Akan tetapi hal ini berbeda dengan permasalahan “Aku akan ikhlas karena Allah dan Allah akan menjadikan manusia mencintaiku”, se­perti yang telah dijelaskan pada pelajar­an yang lalu.

Sunnatullah telah berlaku bahwa, di saat engkau benar dan tulus dalam mu‘amalahmu kepada Allah SWT dan tidak mencari dan menginginkan selain Allah SWT, semua urusanmu akan kem­bali kepada-Nya. Bila Allah menghen­daki, Dia akan menghimpunkan hati ma­nusia kepadamu; dan bila Dia tidak menghendaki, Dia pun akan mencerai­kan hati manusia darimu.

Sebagian shalihin dicintai oleh ma­nusia, mereka bersatu padu berhimpun men­dekatinya, memuliakannya, dan mengenali keutamaannya; tapi sebagian lagi dikucilkan oleh manusia, diperlaku­kan buruk oleh mereka, dan bahkan me­reka ramai-ramai menghardik dan me­lemparinya.

Baginda Nabi Muhammad SAW dilempari dengan batu dan bahkan se­bagian nabi dibunuh. Di masjid ini, Mas­jid Jami‘ Bani Umayyah, terdapat kepala mulia Nabi Yahya bin Zakariya’ AS. Beliau dipenggal karena kejahatan ke­lompok keji dari Bani Israil.

Akan tetapi, tentu bukan itu yang men­jadi maksud dan harapan. Namun tuluslah kepada Allah SWT, maka Dia akan memberikan kepadamu kebaikan dunia dan akhirat.

Apakah nilainya semua makhluk me­mujimu dan memandangmu dengan pan­dangan pengagungan, mengagung­kan­mu dan memuliakanmu, dan mereka memuji-mujimu dengan kebaikan... si Fulan datang dan si Fulan baru pergi... se­dangkan engkau tidak memiliki ke­dudukan apa pun di sisi Allah SWT.

Sungguh merupakan keadaan yang paling buruk, seseorang hidup di dalam­nya dan dia menduga bahwa dirinya da­lam mu‘amalah yang sebaik-baiknya ke­pada Allah SWT sedangkan dia tidur da­lam keadaan senang dan gembira de­ngan sebab pujian manusia kepada diri­nya dan perhatian mereka kepadanya, sementara dia tidak mengetahui apakah kelak akan menutup matanya dalam ke­adaan Allah ridha kepadanya atau tidak meridhainya.

Kesimpulannya, sumber dan asal mula riya’ adalah menolehkan pan­dang­an kepada kedudukan di hati makh­luk.

Sumber :www.majalah-alkisah.com

Sabtu, 08 Juni 2013

Madrasah Hadhramaut : Fase-fase Takabbur

majalah-alkisah

Penuhi hatimu dengan cinta kepada manusia, cinta kebaikan bagi mereka, sebagai wujud kasih sayang terhadap mereka. Nabi SAW bersabda, “Orang-orang yang penuh cinta akan disayang oleh Yang Maha Pemilik cinta, Yang Mahasuci lagi Mahatinggi....”

Hati tidaklah diciptakan untuk bersenang-senang dengan kenikmatan dunia. Benar, makanan dan minuman dapat dinikmati oleh mulut, pe­mandangan yang indah dapat pula di­nikmati oleh matamu, demikian pula se­gala sesuatu yang dibolehkan untuk di­nikmati oleh nafsumu dan semua anggota tubuh yang berkaitan dengannya ber­da­sarkan bentuk-bentuk kenikmatannya ma­sing-masing. Akan tetapi, tidaklah pa­tut bagi hati untuk memiliki ketergantung­an terhadap kesenangan-kesenangan dunia itu. Sesungguhnya cinta terhadap dunia adalah pangkal setiap kesalahan.

Karenanya, tampillah terhadap hati­mu untuk mengobati masalah ini, yakni hubbud dunya (cinta dunia). Dan untuk mengobati masalah ini, langkah yang harus ditempuh adalah melepaskan diri dari masalah ini. Yakni bagaimana kita memahami maksiat-maksiat hati dan ba­gaimana membersihkannya dari segala bentuk maksiat. Fondasinya, kubahnya, ataupun juga atapnya.

Setiap bentuk kemaksiatan hati me­miliki kaitan erat dengan hubbud dunya, cinta kepada dunia. Dan cinta kepada du­nia memiliki beberapa unsur. Di antara un­sur-unsur cinta dunia itu adalah takab­bur, hasud, dan riya’. Itulah sebabnya, eng­kau membutuhkan cara untuk menyi­kapi semua unsur tersebut agar dapat melepaskan hatimu dari semua unsur itu sehingga hatimu dapat selamat dari cinta kepada dunia.

Selain itu, tampillah terhadap hatimu untuk membersihkannya dengan meng­hindarkan hatimu dari berburuk sangka ke­pada manusia, merendahkan mereka, atau merasa lebih mulia dari mereka.

Penuhi hatimu dengan cinta kepada manusia, cinta kebaikan bagi mereka, se­bagai wujud kasih sayang terhadap me­reka. Nabi SAW bersabda, “Orang-orang yang penuh cinta akan disayang oleh Yang Maha Pemilik cinta, Yang Maha­suci lagi Mahatinggi. Sayangilah siapa pun yang berada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh siapa pun yang di langit.”

Para ulama menyebut hadits ini al-musalsal bil awwaliyah. Apa yang dimak­sud dengan musalsal bil awwaliyah?

Musalsal bil awwaliyah maknanya adalah setiap hadits yang diterima dari gurunya dengan mengucapkan, “Guruku, Fulan, mengatakan kepadaku dan per­tama kali yang aku dengar darinya adalah hadits ini....”

Mengapa pertama kali yang disam­paikan dan diperdengarkan adalah sabda Nabi SAW, “Orang-orang yang penuh cin­ta akan disayang oleh Yang Maha Pemilik cinta, Yang Mahasuci lagi Mahatinggi. Sayangilah siapa pun yang berada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh siapa pun yang di langit.”?

Para ulama mengatakan, karena awal mula seorang penuntut ilmu mende­ngarkan ilmu dalam hadits Nabi SAW berupa hadits rahmat merupakan per­mulaan yang memberikan kesiapan awal yang benar bagi mereka di dalam mema­hami makna-makna bagaimana bersikap dengan ilmu. Kesiapan itu akan menjadi­kan para penuntut ilmu semakin bertam­bah sifat rahmatnya terhadap makhluk setiap kali bertambah ilmunya, sehingga bertambah pula kedekatannya kepada Allah SWT.

Jika kita datangi satu per satu pe­nyakit-penyakit hati, kita akan mendapati bahwa yang paling berbahaya, paling da­lam, paling sulit dikenali, paling berat, dan yang paling sulit untuk dihadapi dari pe­nyakit-penyakit hati, adalah tiga penyakit itu. Yakni takabbur, hasud, dan riya’. Ke­tiga penyakit ini adalah penyakit hati dan tempatnya pun di dalam hati, yang selan­jutnya diterjemahkan dalam berbagai ben­tuk tindakan, baik berupa perbuatan maupun ucapan. Maksiat pertama dari maksiat-mak­siat hati adalah takabbur, sombong. Pe­nyakit ini asal mulanya adalah penyakit yang sangat halus bernama ujub.

Apa itu ujub? Ujub adalah pengakuan dan penisbahan atas kelebihan yang dimiliki kepada diri sendiri bukan kepada taufiq Allah SWT.

Engkau sukses dalam satu pekerja­an, misalnya, lalu engkau katakan, “Ini karena kebrilianan dan strategi yang aku terapkan. Ini hasil jerih payahku.”

Wahai saudaraku, banyak orang yang juga memiliki strategi dan kemampuan yang lebih hebat dari apa yang engkau lakukan. Akan tetapi mereka tidak sukses seperti dirimu. Apakah yang membeda­kan antara mereka dan dirimu?

Ia berkata, “Bisa saja situasi dan kon­disinya.”

Lalu siapakah yang mengatur segala kondisi dan keadaan? Bukankah semua­nya di bawah pengaturan Allah SWT?

Bila seseorang melihat dirinya memi­liki kemampuan untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi SAW, mi­salnya, dari manakah kemampuan itu ber­asal?

Ia berkata, “Aku berusaha dan bersu­sah payah serta dengan jerih payahku men­datangi guru-guru.”

Benar. Akan tetapi siapa yang mem­berimu taufiq untuk dapat melakukan se­mua itu? Allah SWT!

Bila engkau mampu untuk meng­him­pun satu kadar tertentu dari harta, yang di­pan­dang bernilai dalam pandangan manusia, dan engkau infakkan di jalan kebaikan, memang benar engkaulah yang mengeluarkan semua itu. Akan te­tapi siapa yang memberimu ilham untuk melakukan hal itu? Tidak lain adalah Allah SWT!

Menisbahkan kelebihan dan keuta­maan yang dimiliki kepada diri sendiri, itu­lah yang disebut ujub. Yakni kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri. Dan ujub itulah asal mula penyakit takabbur yang berada dalam diri manusia.

Bila dalam diri seseorang terdapat ujub, akan muncullah takabbur. Pohon ta­kabbur itu pun akan tumbuh subur di da­lam hatinya.

Ketahuilah, sesungguhnya takabbur memiliki dua sisi. Sisi bathin dan sisi lahir. Dan sisi bathin takabbur adalah pengaku­an terhadap kelebihan diri sendiri atas orang lain.

Apa maknanya?

Maknanya, “Aku melihat diriku lebih mulia dari orang lain. Aku lebih utama dari orang lain. Aku lebih baik dari orang lain.” Inilah yang dikatakan oleh Iblis. Ia ber­kata, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, “Aku lebih baik darinya. Eng­kau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” — QS Al-A`raf (7): 12.

Apakah sesuatu yang telah membuat Iblis menjadi hina. Sesuatu itu adalah ucapan “Aku lebih baik darinya.” Yakni Iblis memandang dirinya lebih mulia dan lebih utama dari makhluk Allah lainnya.

Apa yang kemudian dilahirkan dari pengakuan terhadap keutamaan diri sendiri terhadap orang lain? Pengakuan itu akan melahirkan perasaan merasa lebih tinggi dan lebih mulia dari orang lain.

Mahkota para Malaikat...

Takabbur pada awalnya yang muncul hanyalah sebatas perasaan yang ada di dalam hati. Namun selanjutnya perasaan itu akan berubah menjadi sikap dan tin­dakan. Inilah fase-fase takabbur. Dan berikut adalah penjelasan tentang fase-fase tersebut:

Pertama, dalam hati. Takabbur ber­mula dalam diri seseorang dengan me­rasa kagum terhadap dirinya. Ia menis­bah­kan kelebihan dan keistimewaan yang dimilikinya kepada dirinya sendiri, tidak kepada Allah SWT. Selanjutnya ia mem­banding-bandingkan dirinya dengan orang lain dan melihat dirinya lebih tinggi dan mulia dibandingkan dengan selain­nya.

Keadaan hati semacam itu akan terus berada dalam kekacauan, karena ia tidak menisbahkannya kepada karunia Allah SWT.

Ia akan terus membanding-banding­kan. “Aku adalah ini... aku adalah anu.... Dia hanya.... Mereka pun hanya... mereka lebih rendah dariku!”

Ia melihat dirinya lebih utama dari orang lain. Namun semua itu masih ber­ada dalam batasan hati. Masih berupa lintasan-lintasan yang berada dalam hati. Apa yang kemudian ditimbulkan dari kon­disi semacam itu?

Kedua, tindakan. Misalnya, berjalan di hadapan orang lain tapi tidak menyapa atau memberi salam kepada mereka. Ia menunggu sampai mereka yang terlebih dahulu menyapanya atau mengucapkan salam kepadanya.

Kondisi hati itu telah berubah menjadi tin­dakan dalam tingkah laku. Ia meman­dang orang lain dengan pandangan hina dan merendahkan, bergaul dengan orang lain dengan pergaulan yang kering tanpa kehangatan, dan menolak untuk mene­rima kebenaran dari orang lain bila me­reka menasihatinya.

Apa yang selanjutnya dilahirkan dari tindakan-tindakan ini?

Iblis pada awalnya adalah ahli ibadah. Ia termasuk hamba Allah yang sungguh-sungguh menjalankan berbagai bentuk ibadah, sampai-sampai dikatakan bahwa tidaklah terdapat satu jengkal tanah pun di muka bumi ini kecuali ditemukan bekas sujud Iblis, sujudnya kepada Allah SWT.

Hanya saja perbuatan itu baru berupa amal­an lahir, yang tidak disertai dengan penyucian hati. Sehingga, setiap kali su­jud, setiap kali itu pula ia merasakan per­buatannya sebagai jerih payah dirinya semata.

“Aku telah mengeluarkan ini untuk-Mu, wahai Tuhan! Aku sudah sujud ke­pada-Mu, wahai Rabb! Aku melakukan ini! Aku... aku... dan aku...!”

Permasalahan sesungguhnya adalah dirinya sendiri. Permasalahan itu kembali kepada dirinya sendiri. Setelah itu me­ngarah kepada memandang yang lain lebih hina dan lebih rendah dari dirinya.

“Wahai Tuhanku, aku telah sujud ke­pada-Mu dan aku sudah berbuat ini dan itu untuk-Mu....”

Muncul sesuatu di dalam hatinya.

Karena ibadahnya, Iblis semakin ting­gi derajatnya dan masuk ke dalam go­longan para malaikat muqarrabin.

Setelah mendapatkan kedudukan itu, ia pun mulai membanding-bandingkan ke­adaan dirinya dengan keadaan para muqarrabin lainnya. “Aku beribadah lebih banyak diban­ding­kan mereka....”

Iblis semakin berusaha keras mencari ketinggian derajat dalam ibadahnya ke­pada Allah, terus... terus, dan terus... hing­ga sampai kepada derajat menjadi peng­hulu para muqarrabin. Ia dijuluki Thawus al-Malaikah (Mahkota para Malaikat).

Mahasuci Allah, sampai batasan ini muncul masalah di dalam hatinya. Ia me­nisbahkan ibadahnya kepada dirinya sen­diri dan tidak kepada Allah SWT. Ia ter­ja­tuh ke dalam ujub dan mulai memban­ding-bandingkan keadaan dirinya dengan yang lain.

“Aku penghulu sekalian muqarrabin... aku mahkota para malaikat.”

Bahaya Takabur

Seseorang yang menempatkan dirinya di atas kesombongan dan berdiam diri serta menganggap perkara ini sesuatu yang sepele, sesungguhnya bahaya yang pertama baginya adalah bahwa ia telah mempertunjukkan dirinya untuk melakukan perang terhadap Allah SWT.

Imam As-Suyuthi mengeluarkan sebuah hadits dengan sanad yang shahih, Allah SWT berfirman, “Kesombongan adalah pakaian kebesaran-Ku. Barang siapa mengambil pakaian kebesaran itu dari-Ku, niscaya Aku binasakan.”

Apakah engkau melihat ada satu bahaya yang lebih besar dari ini?

Seseorang yang menempatkan diri­nya di atas kesombongan dan berdiam diri serta menganggap perkara ini se­suatu yang sepele, sesungguhnya ba­haya yang pertama baginya adalah bah­wa ia telah mempertunjukkan dirinya un­tuk melakukan perang terhadap Allah SWT. Apa sebab ia dikatakan telah me­nabuh genderang peperangan terhadap Allah SWT? Karena perbuatan tersebut merupakan puncak dari permusuhan yang sesungguhnya.

Mengapa dikatakan permusuhan? Karena engkau menyatakan sesuatu yang bukan milikmu. Engkau merebut hak Allah SWT di dalam sifat-sifat-Nya, karena hanya milik-Nya-lah segala ben­tuk kesombongan dan kebesaran.

Kata al-kibriya’ diambil dari kata akbar, sesuatu yang paling besar. Dia-lah Yang Mahabesar. Ini berarti engkau menantang Yang Mahabesar SWT. Di dalam shalat engkau ucapkan, “Allah Maha­besar.” Lalu bagaimana mungkin eng­kau merasa besar dan menyom­bong­kan diri? Sungguh ini sesuatu yang sangat berbahaya.

Para ulama mengatakan, sesung­guhnya Allah SWT memiliki sifat Jala­liyah (Keagungan), Kamaliyah (Kesem­purnaan), dan sifat Jamaliyah (Keindah­an). Dan ibadah kita kepada Allah SWT adalah bahwa di hadapan sifat keagung­an-Nya kita harus berbuat dengan apa-apa yang menjadi lawanannya.

Allah memiliki sifat kesombongan, apa yang semestinya kita miliki? Yang mesti kita miliki adalah kerendahan hati (at-tawadhu‘).

Allah memiliki sifat ketinggian dan ke­muliaan, apa yang seharusnya kita mi­liki? Kita semestinya memiliki sifat me­rendahkan diri dan merasa hina.

Allah memiliki sifat Mahakaya, kita semestinya memiliki sifat faqir dan ter­amat bergantung. Bagi Allah kemaha­kuasaan, bagi kita adalah kelemahan.

Bila Allah SWT memadang kepada­mu sedangkan engkau berakhlaq de­ngan akhlaq yang patut dan semestinya untukmu, yakni berakhlaq dengan akh­laq yang menjadi kebalikan dari sifat-sifat keagungan dan akhlaq-akhlaq ketuhan­an, niscaya Allah pun akan ridha ke­pada­mu.

Adapun sifat-sifat kemahaindahan ketuhanan Allah SWT, kita mengikutinya dan berakhlaq dengan sifat-sifat ke­maha­indahan-Nya tersebut. Allah bersi­fat Maha Pengasih, jadilah engkau se­orang pengasih. Allah Maha Dermawan, jadilah engkau seorang dermawan. Allah Mahabijaksana, jadilah engkau seorang yang bijaksana. Sifat-sifat ini keseluruh­annya adalah sifat-sifat yang disukai Allah untuk ditiru dan diikuti.

Di sana terdapat sifat-sifat kesem­pur­naan Allah SWT. Apabila engkau te­lah dapat mewujudkan kebalikan dari si­fat-sifat keagungan-Nya, kesombongan dengan kerendahan hati, kebesaran dan ke­muliaan dengan kerendahan diri, ke­mahakayaan dengan kefaqiran dan ter­amat butuh terhadap Allah SWT, dan engkau pun telah pula mewujudkan sifat-sifat keindahan Allah SWT dalam dirimu, Allah bersifat Maha Pengasih, engkau menjadi seorang pengasih, Allah Maha Dermawan, engkau menjadi seorang der­mawan, Allah Mahabijaksana, eng­kau menjadi seorang yang bijak... Allah SWT akan bertajalli terhadap dirimu dengan sifat-sifat kemahasempurnaan-Nya.

Engkau lemah, Allah akan memberi­kan kekuatan kepada-Mu dari kekuatan-Nya, Allah akan memberikan ketegaran dari kekuatan-Nya. Engkau bodoh, Allah akan memberikan pengetahuan dan hik­mah dari ilmu dan hikmah-Nya. “Dan Kami telah mengajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” — QS Al-Kahfi (18): 65. Allah SWT memberikan ilmu kepadamu, ka­rena engkau telah melakukan muama­lah yang baik dengan asma-asma Allah SWT dan sifat-sifat-Nya.

Hamba yang sombong adalah sebab dari kerusakan yang terjadi di atas muka bumi ini. Bagaimana mungkin engkau berjalan menuju Allah SWT sedangkan engkau berbuat kerusakan di atas muka bumi, yang Allah amanahkan kepadamu agar engkau menjadi khalifah Allah di atasnya?

“Sesungguhnya Aku hendak men­jadi­kan khalifah di muka bumi.” — QS Al-Baqarah (2): 30.

Peliharalah bumi ini, dan jangan me­rusaknya.

Apa maknanya?

Sesungguhnya sebagian besar dari segala kesulitan yang ada di muka bumi ini sumbernya adalah dari kesombongan (al-kibr). Segala apa yang engkau lihat dan saksikan dari berbagai pertumpahan darah, perampasan hak orang lain, dan tindakan anarkis, penipuan, suap-me­nyuap, pencurian, pemutusan silatu­ra­him, kebencian dan tidak saling menya­pa, dan sebagainya, awalnya tidak lain adalah tunduknya jiwa terhadap kesom­bongan.

Dalam hal ini berarti kita sedang ber­bicara tentang sesuatu yang berkaitan de­ngan bagaimana menyelesaikan ber­bagai masalah yang melingkupi kita di dunia ini.

Akan tetapi dari manakah dimulainya jalan keluar dari berbagai masalah yang ada di dunia ini?

Jalan keluar dari semua masalah itu sesungguhnya tidaklah dapat dimulai dengan seseorang di antara kita mem­bu­sungkan dadanya, menghentakkan na­pasnya, dan memandang bahwa hanya dirinyalah orang shalih yang akan membenahi bumi ini dari kerusakan, se­kalipun itu dengan nama Islam. Melain­kan hal itu dimulai dengan kembalinya setiap manusia kepada hatinya untuk membersihkannya dari segala penyakit yang ada di dalamnya.

Mengobati Penyakit Takabur

Ada dua cara mengobati penyakit takabur, yaitu ilmu dan amal. Pertama, ilmu. Yakni hendaklah eng­kau mengetahui siapa dirimu? Coba ingat­lah, renungkanlah, baca, pelajari, dan cari tahu siapa dirimu sesungguh­nya? Awalmu adalah setetes air mani dan akhirmu adalah bangkai yang kotor dan di antara keduanya itu engkau mem­bawa kotoran.

Apa sesungguhnya dirimu? Dari apa engkau diciptakan? Dan apa kelak akhir dari dirimu? Engkau adalah si lemah yang teramat rapuh hanya oleh lapar dan letih yang menderamu!

Imam Ali bin Abi Thalib RA pernah ber­kata, “Sungguh aku heran terhadap orang yang berlaku sombong padahal ia hanyalah si lemah yang bau tak sedap karena keringatnya, dapat terbunuh bila mencuri, dan tak dapat tidur hanya ka­rena kuman kecil yang menggerogoti tu­buhnya.”

Hakikatnya memang engkau adalah makhluk yang lemah, yang tiada ber­daya. Akan tetapi kekuatan akan datang kepadamu dengan penyandaranmu ke­pada Allah SWT.

Bila engkau telah memahami per­kara ini dan kemudian ilmu ini telah ber­ubah menjadi sesuatu yang mengkristal di dalam dirimu, ia membutuhkan se­suatu yang lain di sampingnya, yakni obat yang kedua bagi takabur, yaitu amal perbuatan.

Maka, cara mengobati penyakit ta­kabur yang kedua adalah amal perbuat­an. Dalam hal ini ada dua perkara yang hendaknya dilakukan.

Pertama, hauslah akan perbuatan-perbuatan yang dapat menumbuhkan sifat tawadhu‘, sifat rendah hati. Untuk berbuat lebih dulu dalam perbuatan-per­buatan itu. Setiap kali engkau berjumpa dengan siapa pun, lakukanlah lebih da­hulu untuk menyapa mereka. Ucapkan­lah salam kepadanya, dan jabatlah ta­ngannya, siapa pun orangnya, kecil atau­pun besar, teman, atau bahkan musuh.

Engkau yang harus terlebih dahulu memulainya. Jangan biarkan bisikan-bisikan nafsumu mendiktemu.

Wahai murid pencari ridha Allah, hati-hatilah! Jangan sampai nafsumu me­nertawakanmu dan berkata kepada­mu, “Lakukanlah sesuatu dari sifat ke­sombongan, karena kesombongan ada­lah keutamaan!” Tinggalkan bisikan itu. Mulailah terlebih dahulu untuk meng­ucapkan salam dan berjabat tangan kepada siapa pun yang engkau jumpai.

Kedua, bersegeralah untuk melaku­kan perbuatan-perbuatan yang memiliki keutamaan dan dapat mengalahkan nafsu.

Engkau masuk ke dalam masjid, mi­salnya, dan engkau dapati ada sesuatu yang kotor di dalamnya, ambil dan ber­sihkanlah. Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya‘rawi adalah salah seorang pem­besar ulama ahli hati. Di waktu-wak­tu tertentu beliau tidak terlihat di kediam­annya. Murid-murid beliau pun mencari­nya ke sana-kemari dan tidak menemu­kannya. Ternyata beliau sedang berada di dalam WC masjid. Beliau menutup pintu WC dan membersihkan kotoran-kotorang yang ada di kloset dan sekitar­nya.

Ketika orang-orang dekatnya berta­nya kepada beliau tentang hal itu, beliau menjawab, “Aku takut terhadap takabur atas diriku... aku takut kalau-kalau aku merasa ujub atas diriku... di saat orang-orang memanggilku, ‘Syaikh Sya`rawi... Syaikh Sya`rawi... ’, insan televisi, men­teri, para pembantu, sanak keluargaku, dan semua kepercayaan orang terha­dapku. Aku takut semua itu menjadi ru­sak. Karenanya aku bermaksud meng­ingatkan diriku dengan sesuatu dari pe­kerjaanku ini.”

Itulah sebabnya, engkau akan men­da­pati bahwa, bagi orang yang hatinya telah takluk oleh sifat takabur, sulit bagi­nya untuk menerima hal semacam ini. Jika engkau katakan kepadanya “Bang­kitlah dan bersihkan kotoran itu”, ia akan berkata, “Apa urusanku dengan kotoran ini? Engkau ingin aku membersihkan­nya?”

Mari kita mengingat riwayat tentang Uwis Al-Qarni – semoga Allah merah­matinya. Suatu hari ia mengumpulkan sisa-sisa makanan dari tempat-tempat sampah, mengaisnya dan member­sih­kannya. Setelah itu makanan-makanan itu ia bagi-bagikan kepada para faqir miskin yang sangat membutuhkan, yang tidak menemukan makanan di hari itu. Dan dalam munajatnya, ia selalu ber­kata, “Ya Allah, janganlah Engkau adzab diriku karena orang-orang yang tidur da­lam keadaan lapar dari umat Nabi Muhammad.”

Dengarlah, wahai saudara-saudara­ku pengusaha, yang dikaruniai harta yang berlimpah. Beliau yang tiada ber­harta dan tidak pula memiliki makanan ini telah mengais sisa-sisa makanan dari tempat-tempat sampah, membersih­kan­nya, dan membagi-bagikannya kepada orang-orang faqir yang membutuhkan dan berkata dalam munajatnya, “Ya Allah, janganlah Engkau adzab diriku karena orang-orang yang tidur dalam ke­adaan lapar dari umat Nabi Muham­mad.”

Suatu hari seekor anjing yang tengah lapar mendekati Uwis Al-Qarni yang tengah mengais sisa-sisa makanan di tempat sampah dan menggonggong di hadapannya karena merasa terganggu terhadap kehadiran Uwis di tempat itu. Uwis pun berkata kepada anjing itu, “Wahai anjing, janganlah engkau me­nya­kitiku, karena aku pun tidak akan me­nyakitimu. Aku hanya mengambil yang layak untukku dan engkau pun meng­ambil yang layak untukmu. Jika kelak aku dapat melewati shirath dan masuk ke dalam surga, sungguh keadaanku le­bih baik darimu. Namun jika aku terge­lincir dari shirath dan jatuh ke dalam ne­raka, sungguh engkau lebih baik dariku.”

Benar, di hari Kiamat nanti anjing akan kembali menjadi debu. Dan sese­orang dari kita – nauzhu billahi min dzalik – bila masuk ke dalam neraka, apa yang dapat berguna baginya? Maka sungguh anjing lebih baik baginya.

Kisah ini tidaklah dimaksudkan agar engkau memberi makan orang-orang faqir dari tempat sampah. Sama sekali tidak! Melainkan yang kami inginkan adalah agar sifat takabur yang ada di dalam hati kita keluar dan pergi. Kita hendak mengobati penyakit-penyakit yang ada di dalam hati kita.

Hendaklah kita haus untuk melaku­kan perbuatan-perbuatan itu. Dan di an­tara perbuatan-perbuatan tersebut ada­lah berkhidmah kepada para faqir mis­kin. Carilah anak yatim piatu, orang-orang faqir, atau mereka yang telah jom­po. Bantulah untuk mencucikan pakaian mereka atau membantu menuntun me­reka masuk ke kamar mandi untuk mem­bantu mereka mandi, karena dalam se­tiap pekerjaan ini terdapat makna meng­alahkan sifat takabur dalam jiwa. Berat memang terasa bagi nafsu, akan tetapi padanya terdapat pengekangan bagi nafsu dan pendidikan terhadapnya.

Bila kedua langkah ini, ilmu dan amal, sudah dilakukan, mengobatinya haruslah disertai dengan kesungguhan doa kepada Allah SWT.

Sumber :www.majalah-alkisah.com

Senin, 22 April 2013

Madrasah Hadhramaut: Taubat

Bila hal itu terjadi, hendaklah ia kembalikan urusannya kepada Allah SWT, karena Allah akan memintakan maaf kepada mereka untuk dirinya jika Allah melihat adanya kesungguhan dalam hati kita kelak di hari Kiamat.

Pelajaran ini akan membahas langkah pertama yang harus dijalani seorang hamba dalam perjalanan­nya menuju Allah SWT setelah muncul­nya al-baits dan kerinduan yang kuat di dalam hati untuk datang kepada-Nya. Langkah pertama untuk menuju Allah adalah tash-hih at-taubah, memperbaiki taubat dan sungguh-sungguh bertaubat kepada Allah SWT.

Taubat sebagai kata diambil dari kata ar-ruju‘ dan al-awbah, yang berarti “kem­bali”. Taubat sendiri pada hakikatnya meliputi tiga makna, yang, apabila ke­tiganya terpenuhi dan tercakup, terwu­judlah taubat yang sesungguhnya. Tiga hal tersebut adalah ‘ilm, hal, fi‘l.

‘Ilm

‘Ilm, atau ilmu, yang dimaksud di sini adalah ilmu yang mengetahui bahwa dirinya adalah seorang hamba, yang ke­lak akan berdiri di hadapan Allah SWT pada hari Kiamat, yang hidupnya hanya sementara untuk kemudian menemui ke­matian, dan akan dimintai pertanggung­jawaban atas segala perbuatan yang te­lah dilakukannya dalam hidupnya yang teramat singkat itu.

Sang hamba mengetahui bahwa hi­dup yang teramat singkat ini akan ber­ujung pada satu masa ketika ia akan ber­diri seorang diri di hadapan Raja dari se­gala raja, Yang akan menanyainya se­orang diri dengan tanpa ada seorang pem­bela pun dan tidak pula seorang pe­rantara yang dapat membantunya untuk menjawab segala pertanyaan yang di­ajukan. Maharaja itu akan berkata ke­pa­danya, “Wahai hamba-Ku, ingatkah eng­kau di hari ini, di waktu ini... engkau me­nutup rapat semua pintu agar tidak terlihat oleh pandangan seorang pun dari makh­luk-Ku karena engkau malu bila mereka melihat perbuatanmu kala itu... sedang­kan engkau terang-terangan mem­per­tunjukkan kepada-Ku satu per­buatan yang tidak Aku ridhai. Di mana­kah eng­kau taruh pandangan-Ku saat itu? Ham­ba-Ku, mengapa engkau jadi­kan Aku pemandang yang paling remeh dalam penilaianmu? Hambaku, engkau malu terhadap hamba-hamba-Ku, tetapi sama sekali tidak merasa malu kepada-Ku?”

Di saat berada di hadapan-Nya, Dia akan berkata, “Wahai hamba-Ku, Aku telah menciptakanmu dari ketiadaan, Aku limpahi engkau dengan berbagai karunia, Aku muliakan engkau dengan ‘La ilaha illallah.’ Engkau tumbuh dengan karunia-karunia yang Aku berikan, ibu­mu menyusui dan mengasuhmu dengan karunia itu, pengetahuanmu pun ber­kembang dengan karunia itu, lalu eng­kau tumbuh besar dan menjadi perkasa dengan segala karunia yang telah Aku berikan dari berbagai kebaikan, namun kemudian engkau pergunakan untuk mendurhakai-Ku? Bagaimana engkau pergunakan nikmat-Ku? Apakah engkau menggunakannya untuk hal-hal yang Aku ridhai? Apakah engkau mencari kedekatan dengan-Ku selama hari-hari yang telah Aku berikan kepadamu?”

Saat-saat kelak kita dimintai pertang­gungjawaban itu tidak seorang mukmin pun kecuali ia meyakini dengan sepenuh hati bahwa pasti akan dilaluinya.

Seorang hamba pun mengetahui bah­wa tidaklah setiap kata yang terucap dari lidahnya kecuali akan dicatat, tidak­lah setiap tatapan di saat memandang sesuatu kecuali akan dituliskan, dan ti­dak pula setiap diam, gerak, dan lengah kita kecuali akan dicatat untuk dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.

Di saat memperhatikan semua pen­jelasan itu, mungkin sebagian orang akan merasa sempit dadanya untuk da­pat memahami makna-makna mulaha­qah (pencarian jati diri), mutaba‘ah (me­neladani), hisab (penghitungan amal), ataupun kitab ‘alaih (pencatatan amal perbuatan).

Maka, coba kita perhatikan dari segi yang lain, yakni memahami makna dari makna-makna kemurahan yang Allah SWT karuniakan kepada kita, kemuliaan yang diberikan-Nya kepada kita, dan penghormatan yang diberikan Allah kepada kita.

Coba perhatikan seseorang yang memiliki kedudukan atau popularitas yang tinggi di tengah-tengah masyara­kat. Orang-orang berkumpul di sekitar­nya. Wartawan yang satu menulis setiap kata yang diucapkannya, sedang yang lainnya mengambil gambar dari setiap gerak-geriknya. Namun, puncak dari se­mua perhatian yang diberikan itu tidaklah lebih dari satu atau dua jam saja, setelah itu mereka kembali ke rumahnya ma­sing-masing.

Ketahuilah, seorang hamba memiliki kedudukan yang penting di sisi Allah. Karena penting dan tingginya keduduk­an seorang hamba di sisi Allah, Dia, bah­kan, mewakilkan dua malaikat mulia, yang tercipta dari cahaya yang tidak per­nah durhaka kepada-Nya, sebagai pen­dampingnya setiap saat.

Dua malaikat yang Allah wakilkan ini mencatat setiap ucapan sang hamba dari semenjak ia baligh hingga akhir ha­yatnya. Dalam gurau, sungguh-sungguh, marah, ridha, sedih, atau gembira, “Tiada suatu ucapan pun yang diucap­kannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Raqib dan ‘Atid (yang selalu hadir meng­awasi).” — QS Qaf (50): 18.

Seorang hamba adalah pemilik ke­dudukan di sisi Allah. Seseorang yang telah mengetahui bahwa semua per­buat­annya akan dicatat, dihitung, ke­mudian akan dilaporkan dan dibuka di hadapan Allah SWT. Setelah itu ditentu­kan tempat kembalinya, apakah menuju negeri keridhaan atau negeri kemurka­an, menuju surga atau dijerumuskan ke jurang neraka.

Waktunya di dunia akan berakhir di saat ruh sampai di ujung kerongkongan. Tidak ada jaminan tentang kapan sam­painya ruh ke ujung kerongkongan. Ti­dak dapat direncanakan dan tidak pula dapat disiasati agar ia datang pada wak­tu yang tepat, dan tidak diketahui kapan malaikat maut datang menjemput. Se­mua­nya datang dengan tiba-tiba dan se­kejap mata. Tidak dibedakan antara anak muda ataupun orang tua, dan tidak pula dibedakan atara yang sakit ataupun yang sehat. Jika malaikat maut datang menjemput, pada saat itulah diberitahu­kan bahwa waktunya telah berakhir untuk selamanya.

Seseorang yang mengetahui semua kemestian itu, akankah di hatinya tidak ada sesuatu yang terlahir dan muncul dari pengetahuannya itu? Yakni keada­an menyesal, merasa malu, hina, dan rendah di hadapan Allah SWT. “Kemarin aku mendurhakai Allah padahal Allah melihatku. Aku akan berdiri di hadapan-Nya dan Allah akan menanyaiku semua itu.”

Salah seorang shalihin dari negeri Habasyah datang kepada seorang waliyullah dari kalangan salaf. Orang itu bertanya, “Wahai Syaikh, apakah Allah akan mengampuniku atas dosa yang telah aku perbuat?”

“Benar, Allah akan mengampunimu bila engkau bertaubat dengan sungguh-sungguh,” jawab sang waliyullah.

Orang itu pun bersyukur dan memuji Allah, dan tampak dari raut wajahnya kegembiraan yang luar biasa. Namun, setelah beberapa langkah meninggalkan sang waliyullah, orang itu kembali lagi de­ngan raut muka yang tidak lagi me­nunjukkan kegembiraan.

Wali tadi bertanya, “Apa yang terjadi denganmu?”

Orang itu menjawab, “Apakah Allah melihatku di saat aku mendurhakai-Nya?”

Maka dijawab, “Ya, Allah melihatmu.”

Tiba-tiba orang itu berteriak histeris dan langsung tersungkur ke tanah dalam keadaan sudah tidak bernyawa.

Tahukah apa yang terjadi dengan orang ini?

Awal mula, pikirannya sibuk dengan urusan, “Apakah aku akan masuk ke da­lam surga atau neraka?” Setelah kekha­watirannya terhadap urusan surga dan neraka hilang dengan jawaban sang wali tadi bahwa Allah akan mengampuninya atas segala dosanya, muncullah di da­lam hatinya makna yang lebih dalam, lebih tinggi, lebih besar, dan lebih halus lagi dari apa yang menyibukkan pikir­an­nya selama itu tentang surga dan ne­raka. Yakni makna hubungan seorang ham­ba dengan Allah, makna bahwa Allah melihat dirinya melakukan kedur­hakaan ini dan itu, makna bahwa Allah me­nutupi semua keburukannya dari pan­dangan makhluk-Nya, padahal Allah Mahakuasa untuk mempertunjukkan se­mua keburukan itu kepada mereka, makna bahwa Allah tak pernah berhenti memberikan berbagai karunia, nikmat, dan limpahan rizqi padahal ia tak henti pula mendurhakai-Nya.

Semua perasaan itu melahirkan pe­nye­salan terhadap semua keteledoran, ke­durhakaan, dan keberanian yang se­lama ini ia lakukan terhadap Allah SWT. Perasaan semacam ini yang hadir di dalam hati seorang hamba disebut pe­nyesalan, salah satu unsur yang sangat penting dalam taubat.

Hal

Hal dalam konteks ini adalah penye­salan atas segala perbuatan buruk yang telah lalu. Terkadang sebagian salaf me­megang jenggotnya sambil berkata, “Alangkah buruknya perbuatanku meski­pun seandainya akan dimaafkan!”

Penyesalan semacam ini akan me­nimbulkan keteguhan yang kuat dalam diri seseorang untuk berkata dalam hati­nya, “Aku akan berhenti dari berbuat dosa... aku tidak akan pernah melaku­kannya lagi untuk selama-lamanya... aku tidak akan pernah lagi mendurhakai Allah....”

Fi‘l

Fi’il, atau perbuatan, dalam konteks ini adalah melepaskan diri dari maksiat dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.

Bila telah lahir penyesalan semacam ini, yang dilandasi dengan ilmu, penye­salan dan ilmu itu akan membuahkan ke­teguhan dalam hati untuk meninggalkan maksiat, dan tidak mengulanginya lagi, sehingga darinya terwujudlah hakikat sesuatu yang disebut taubat.

Adapun apabila kesalahan atau mak­siat itu berkaitan dengan hak-hak ma­nusia, misalnya mengambil harta si Fulan atau menghina dan mencacinya, ada per­kara keempat yang harus dilaku­kan, yak­ni mengembalikan hak-hak itu kepada pe­miliknya. Jika seseorang telah memakan harta orang lain, ia harus mengembalikan harta itu kepada pe­milik­nya.

Namun bukan hanya itu, karena apa yang telah dikembalikan itu belum ter­hitung sebagai taubat sebelum ia pun meminta maaf kepada mereka.

Lalu bagaimana seandainya mereka tidak memaafkannya?

Bila hal itu terjadi, hendaklah ia kem­balikan urusannya kepada Allah SWT, karena Allah akan memintakan maaf ke­pada mereka untuk dirinya jika Allah me­lihat adanya kesungguhan dalam hati kita kelak di hari Kiamat. Dengan demi­kian berarti ia telah menunaikan kewajib­annya dalam taubat. Allah akan memu­lia­kannya dengan memberinya anu­ge­rah berupa kerelaan dari orang-orang yang didzalimi haknya. Dan bila ia tidak kuasa untuk mengembalikan hak itu ke­pada mereka, Allah akan memuliakan­nya dengan memberinya sesuatu yang setimpal dengan kerelaan orang-orang yang terzhalimi itu. Karena hak-hak orang lain atas dirinya tetap tidak gugur sebagai tanggunggannya.

Lembaran-lembaran Dosa

Lembaran-lembaran dosa manusia dapat digolongkan menjadi tiga bagian.

Pertama, lembaran dosa yang pe­laku­nya dapat diampuni. Yakni semua kedurhakaan dan dosa yang ada antara sang hamba dan Tuhannya bila pada diri hamba terdapat penyesalan yang benar dan hakiki yang dihasilkan dari ilmu. Sehingga, penyesalan itu melahirkan keteguhan dan tekad yang kuat untuk meninggalkan dosa-dosa itu semua. Itulah taubat nasuha. Maka Allah pun akan mengampuninya atas dosa-dosa­nya seluruhnya.

Kedua, lembaran dosa yang pelaku­nya tidak akan diampuni. Yakni dosa syi­rik akbar, syirik besar. Syirik akbar ada­lah meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT. Namun, dosa ini tidak terjadi pada umat Rasulullah SAW. Tidak akan ada syirik besar pada umat Nabi SAW, se­bagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari, Nabi SAW bersabda, “Sesung­guhnya aku, demi Allah, tidaklah takut ka­lian akan berbuat syirik (akbar) sete­lahku, akan tetapi yang aku takutkan ada­lah akan dibukakannya dunia atas kalian.”

Ketiga, lembaran dosa yang tidak tergugurkan. Yakni dosa yang dilakukan berkaitan dengan hak-hak manusia, hak-hak yang berkaitan dengan makhluk. Inilah yang semestinya membuat sese­orang yang sedang berjalan menuju Allah besungguh-sungguh dalam me­nunai­kan hak-hak itu.

Dosa Besar dan Kecil

Para ulama mengatakan, dosa besar itu ada empat macam. Sebagian saha­bat mengatakan, dosa besar ada tujuh macam, dan sebagian yang lain menga­ta­kan ada sebelas macam. Ibnu Abbas RA berkata, “Semoga Allah merahmati Ibnu Umar, yang membagi dosa kepada tujuh macam, karena yang tujuh itu lebih dekat kepada tujuh puluh.”

Adapun yang disepakati oleh jumhur ulama Ahlussunnah wal Jama’ah adalah bahwa semua perkara yang dikenai had (hukuman tertentu) termasuk dosa be­sar, semua yang dinashkan oleh Al-Qur’an atas keharamannya itu pun ter­masuk dosa besar, dan semua perbuat­an keji termasuk dosa besar.

Perhatikan juga terhadap makna lain, yaitu keadaan hati terhadap maksiat sesudah melakukan maksiat. Ulama berkata, “Terus-menerus dalam maksiat ter­golong dosa besar.” Dan meremeh­kan maksiat adalah termasuk dosa besar, meskipun maksiat itu kecil.

Itulah sebabnya, sebagian shalihin memohon ampun kepada Allah terhadap hal-hal mubah sekalipun. Mereka selalu memandang bahwa hal (interaksi)-nya dengan Allah adalah senantiasa menun­tut ketinggian dan kedekatan dengan-Nya dalam segala hal. Karenanya bila melakukan sesuatu yang mubah tidak berniat untuk mencari kedekatan dengan Allah, mereka pun memohon ampun ke­pada-Nya.

Bukan hanya itu, sebagian mereka pun bertaubat kepada Allah pada bebe­rapa perbuatan taat. Mereka bertaubat dari makna yang hadir di hati pada saat berbuat taat, yakni tidak merasa dan menyadari adanya kemurahan Allah pada saat berdiri mengerjakan suatu ketaatan.

Lebih tinggi lagi, Rabiatul Adawiyah pernah berkata, “Istighfar kita butuh kepada istighfar.” Mungkin kita memang sudah beristighfar, tapi istighfar kita belum sungguh-sungguh karena Allah.

Itulah taubat. Mulailah taubat sejak saat ini juga, dan tidak ada ujung dari taubat. Setiap kali seseorang meningkat derajat kede­katannya kepada Allah secara maknawi, dituntut taubat dari makna-makna se­belumnya.

Seorang shalihin berkata kepada Rabiatul Adawiyah, “Doakanlah aku su­paya aku bertaubat kepada Allah agar Allah memberiku taubat.”

Rabiah menjawab, “Melainkan aku akan mendoakanmu semoga Allah mem­berimu taubat agar engkau bertaubat.”

Shalatlah dua rakaat shalat sunnah Taubat dan jadikan sebagai wiridannya istighfar Astaghfirullaha wa atubu ilayh (100 kali) atau Rabbighfirli warhamni wa tub ‘alayya (100 kali). Apabila ini se­nantiasa dilakukan pada tiap-tiap malam, buahnya akan memperoleh satu tingkat­an yang dikatakan ulama sebagai ting­katan mahbubiyah (dicintai – oleh Allah). “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang selalu bertaubat.” — QS Al-Baqarah (2): 222.

Sumber :www.majalah-alkisah.com

Rabu, 17 April 2013

Habib Zein : Pahala Bacaan untuk Orang Mati

Bolehkah menghadiahkan pahala bacaan Al-Quran dan dzikir kepada orang yang telah mati?

Ya, itu dibolehkan. Madzhab yang benar dan terpilih menyatakan sampai­nya pahala bacaan dan amal-amal jas­mani lainnya kepada mereka, dan bah­wasanya karena itu pula mereka bisa men­dapatkan pengampunan atas dosa atau peningkatan derajat, cahaya, ke­gembiraan, dan pahala lainnya lantaran karunia Allah SWT.

Apa dalilnya?

Dalilnya, Nabi SAW bersabda, “Ba­calah surah Yasin kepada orang-orang mati di antara kalian.” – Hadits ini di­sampaikan oleh Abu Daud (3121), Ibnu Majah (1448), dan lainnya, dari hadits Ma’qil bin Yasar RA.

Rasulullah SAW juga bersabda, “Ya-Sin adalah jantung Al-Quran. Tidaklah seseorang membacanya dengan niat kepada Allah SWT dan menghendaki ne­geri akhirat melainkan Allah mengam­puninya. Dan bacakanlah ia kepada orang-orang mati di antara kalian.” – Disampaikan oleh Ahmad (5: 26), An-Nasa’i dalam Al-Kubra (10914), dan lainnya.

Ulama ahli tahqiq menyatakan, ha­dits ini bersifat umum, mencakup bacaan kepada orang sekarat yang akan mati dan bacaan kepada orang yang sudah mati. Inilah pengertian yang jelas dari hadits di atas.

Hadits ini menjadi dalil bahwa baca­an tersebut sampai kepada orang-orang yang sudah mati dan adanya manfaat padanya sebagaimana yang disepakati para ulama. Perbedaan pendapat hanya berkaitan jika pembaca tidak berdoa setelahnya dengan doa semacam ini, misalnya, “Ya Allah, jadikanlah pahala bacaan kami kepada Fulan.”

Jika seesorang membaca doa ini se­bagaimana yang diamalkan kaum mus­limin, yang memberikan pahala bacaan mereka kepada orang-orang mati di an­tara mereka, tidak ada perbedaan pen­da­pat di antara ulama terkait sampai­nya bacaan itu, karena ia dikategorikan seba­gai doa yang disepakati tersampai­nya.

Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka ber­doa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami’.” – QS Al-Hasyr (59): 10.

Jika dia tidak berdoa demikian de­ngan bacaannya itu, menurut pendapat yang termasyhur dalam Madzhab Syafi’i, pahalanya tidak sampai. Namun ulama Madzhab Syafi’i generasi akhir menyata­kan, pahala bacaan dan dzikir sampai kepada mayit, seperti mazhab tiga imam yang lain, dan inilah yang diamalkan umat pada umumnya. “Apa yang menu­rut kaum muslimin baik, itu baik di sisi Allah.” Ini adalah perkataan Ibnu Mas’ud RA.

Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, semoga Allah melimpahkan manfaat kepada kita lantarannya, mengatakan, “Di antara yang paling besar keberkah­annya dan paling banyak manfaatnya untuk dihadiahkan kepada orang-orang mati adalah bacaan Al-Quran dan meng­hadiahkan pahalanya kepada mereka. Kaum muslimin pun telah mengamalkan ini di berbagai negeri dan masa. Mayo­ritas ulama dan orang-orang shalih, salaf maupun khalaf, pun berpendapat demi­kian.” Silakan simak perkataan Al-Haddad RA selengkapnya dalam Sabil al-Iddikar.

Dari Ibnu Umar RA, ia mengatakan, “Jika salah seorang di antara kalian mati, janganlah kalian menahannya. Segera­kanlah ia ke kuburnya, dan hendaknya di­bacakan permulaan Al-Baqarah di dekat kepalanya, dan di dekat kedua kaki­nya dengan penutup Al-Baqarah.” – Disampaikan secara marfu’ (perkataan sahabat yang dinisbahkan sebagai per­kataan Nabi SAW) oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir (12: 444) dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab (7: 16) dari hadits Ibnu Umar RA. Al-Baihaqi mengatakan, yang benar adalah bahwasanya itu adalah perkataan Ibnu Umar RA.

Dalam kitabnya, Ar-Ruh, Ibnu Qayyim mengungkapkan adanya penyampaian pelajaran di atas kubur. Ia berhujjah, se­jumlah ulama salah berwasiat agar di­adakan bacaan pada kubur mereka, di antaranya adalah Ibnu Umar, yang ber­wasiat agar dibacakan surah Al-Baqarah pada kuburnya, dan bahwasanya kaum Anshar mengamalkan jika ada orang yang mati, maka mereka silih berganti ke kuburnya untuk membaca Al-Quran padanya (Ar-Ruh hlm. 10).

Ulama menyatakan, seseorang di­bolehkan menghadiahkan pahala amal­nya kepada orang lain, baik itu berupa bacaan maupun yang lainnya. Dalilnya, hadits yang diriwayatkan Amru bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, Nabi SAW, yang bersabda, “Dibolehkan bagi salah seorang di antara kalian, jika hendak bersedekah dengan sukarela, memberikannya kepada kedua orang­tuanya. Dengan demikian, kedua orang­tuanya mendapatkan pahala sedekah­nya dan ia pun mendapatkan seperti pa­hala kedua orangtuanya tanpa mengu­rangi pahala kedua orangtuanya sedikit pun.” – Disampaikan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Ausath (7: 92) dan Abu Syaikh Ibnu Hayyan dalam Thabaqat Al-Muhad­ditsin bi Ashbahan (3: 610).

Di antara hadits-hadits yang diriwa­yat­kan terkait hal ini, meskipun dhaif, telah ditetapkan di antara ulama hadits bahwasanya hadits dhaif dapat diamal­kan terkait fadhail al-a’mal, keutamaan-keutamaan amal.

Apa hukum bacaan Al-Quran kepada mayit dan di atas kubur?


Imam Syafi’i R.H.M. menyatakan, dianjurkan membaca ayat apa pun dari Al-Quran di dekat kubur. Jika mereka mengkhatamkan Al-Quran seluruhnya, itu baik. Ini disebutkan oleh An-Nawawi dalam Riyadh Ash-Shalihin dan dalam Al-Adzkar.

Apa dalil yang membolehkannya?


Dalilnya, sebagaimana yang baru saja disampaikan di atas, perkataan Ibnu Umar R.A., “Jika salah seorang di antara kalian mati, janganlah kalian menahan­nya. Segerakanlah ia ke kuburnya, dan hendaknya dibacakan permulaan Al-Ba­qarah di dekat kepalanya, dan di dekat kedua kakinya dengan penutup Al-Baqarah.”

Hadits marfu’ juga telah disampaikan sebelum ini, “Bacalah Ya-Sin kepada orang-orang yang mati di antara kalian.” Sebagian ulama hadits menafsirkannya pada makna sebenarnya, sebagaimana ini cukup jelas dari lafal hadits. Semen­tara sebagian yang lain menafsirkannya pada makna kiasan. Maksudnya, orang yang sudah mendekati kematiannya. Namun masing-masing makna dimung­kinkan. Dan seandainya kedua makna ini sama-sama diamalkan, itu lebih baik.

Al-Khallal meriwayatkan dari Sya’bi, ia mengatakan: Jika di antara kaum Anshar ada orang yang mati, mereka silih berganti ke kuburnya untuk mem­baca Al-Quran. Demikian. Kaum muslim­in pun masih tetap membaca Al-Quran kepada orang-orang mati sejak masa kaum Anshar.

Dari semua penjelasan di atas dapat diketahui bahwasanya bacaan Al-Quran di atas kubur merupakan anjuran syari’at. Allah lebih mengetahui.

Apa makna firman Allah SWT “Dan tidaklah manusia mendapatkan kecuali apa yang diusahakannya.” – QS An-Najm (53): 39, dan sabda Nabi SAW “Jika manusia mati, terputuslah amalnya”?

Dalam kitab Ar-Ruh, Ibnu Qayyim mengatakan, Al-Quran tidak menafikan seseorang mendapatkan manfaat dari usaha orang lain, tetapi Al-Quran hanya memberitahukan bahwasanya ia tidak memiliki kecuali usahanya. Adapun usaha orang lain, itu adalah milik orang yang melakukannya. Orang lain itu dapat menghendaki memberikannya kepada orang lain atau menghendaki menahan­nya untuk dirinya sendiri. Dalam hal ini, Allah SWT tidak menyatakan “Sesung­guhnya dia tidak boleh menerima man­faat kecuali lantaran apa yang diusaha­kannya sendiri.”

Sabda Nabi SAW, “Terputuslah amal­nya.” Beliau tidak menyatakan “Peman­faatannya”, tetapi beliau hanya memberi­tahukan ihwal keterputusan amalnya. Ada­pun amal orang lain, itu menjadi hak orang yang melakukannya. Jika ia mem­berikannya kepadanya, pahala amal orang yang melakukannya sampai ke­padanya, bukan pahala amalnya sendiri. Dengan demikian, yang terputus adalah satu hal, dan yang sampai adalah hal lainnya. Demikian yang disampaikannya secara ringkas (Ar-Ruh hlm. 129).

Ulama tafsir menyebutkan dari Ibnu Abbas RA, firman Allah SWT “Dan se­sungguhnya manusia tidak mendapat­kan kecuali apa yang diusahakannya” – QS An-Najm (53): 39, telah dihapus hu­kumnya dalam syari’at ini dengan firman Allah SWT “Dan orang-orang yang ber­iman, beserta anak-cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak-cucu mereka.” – Ath-Thur (52): 21. Allah memasukkan anak-cucu ke dalam surga lantaran kebajikan leluhur mereka. Lihat Tafsîr Al-Qurthubi (17: 114).

Ikrimah mengatakan, itu terjadi pada kaum Musa AS. Adapun umat ini menda­patkan apa yang mereka usahakan dan mendapatkan pula apa yang diusahakan oleh yang lain. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan bahwa seorang wa­nita mengangkat bayinya dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah anak ini men­dapatkan pahala haji?”

Beliau menjawab, “Benar, dan bagi­mu pahala.” – Hadits ini disampaikan oleh Muslim (1336) dan lainnya, dari hadits Ibnu Abbas RA.

Yang lainnya bertanya kepada Nabi SAW, “Ibuku terluputkan dirinya (mati tanpa wasiat), apakah ia mendapatkan pahala jika aku bersedekah atas nama dia?”

Beliau menjawab, “Benar.” – Hadits ini disampaikan oleh Al-Bukhari (1322) dan Muslim (1004) dari hadits Aisyah RA.

Perkataan penanya, “terluputkan”, kata ini diucapkan terkait orang yang mati secara tiba-tiba, dan diucapkan pula terkait orang yang tewas oleh jin dan gangguan. “Dirinya,” menurut Imam Na­wawi, “kami menulisnya dengan harakat fathah dan dhammah nafsaha dan naf­suha, dengan nashab dan rafa’. Bacaan rafa’ dengan maksud sebagai obyek yang tidak disebutkan subyeknya. Nashab dengan maksud sebagai obyek kedua.” – Syarh Muslim (7: 89-90).

Demikian, Allah lebih mengetahui.

Apa hukum bacaan Al-Fatihah dan bacaan kepada mayit serta tawasul dengannya untuk penerimaan doa?


Ketahuilah, di antara yang terbesar keberkahannya dan terbanyak manfaat­nya untuk dihadiahkan kepada orang-orang mati adalah bacaan Al-Quran Al-Azhim dan menghadiahkan pahalanya kepada mereka. Mayoritas ulama dan orang-orang shalih, baik salaf maupun khalaf, berpendapat demikian, dan kaum muslimin di berbagai masa dan negeri pun mengamalkannya. Dalam hadis marfu’ yang telah disampaikan terdahulu dinyatakan, “Jantung Al-Quran adalah Ya-Sin. Tidaklah seseorang membaca­nya dengan niat kepada Allah dan meng­hendaki negeri akhirat melainkan ia di­ampuni. Hendaknya kalian membaca­nya kepada orang-orang mati di antara kalian.”

Diriwayatkan dalam hadits dhaif, “Siapa yang masuk pemakaman dan mem­baca ‘Katakanlah: Dialah Allah Yang Esa’ sebelas kali, kemudian mem­berikan pahalanya kepada orang-orang mati, ia diberi pahala sesuai dengan jum­lah orang-orang yang mati.” Diriwayat­kan oleh Ar-Rafi’i dalam kitabnya At-Tarikh dan Ad-Daraquthni dalam kitab­nya As-Sunan.

Adapun tawasul dengan surah Al-Fatihah terkait penerimaan doa, ini se­baik-baik wasilah. Pada hakikatnya, itu hanyalah tawasul dengan Allah SWT. Dalam hadits qudsi dikatakan, “Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.” Disampaikan oleh Muslim dalam kitabnya Shahîh Muslim (598) dari hadits Abu Hurairah RA.

Sumber: Majalah-alkisah.com

Senin, 15 April 2013

Madrasah Hadhramaut : Jendela Bathin

majalah-alkisah

Ketahuilah, bila engkau relakan hatimu menjadi halaman bagi datang dan perginya berbagai macam dan rupa lintasan-lintasan baik ataupun buruk dalam bentuk apa pun, engkau tidak akan pernah bisa mengontrol segala tingkah laku dan perbuatanmu untuk selama-lamanya.

Setelah engkau pelihara jendela-jendela lahir yang dapat mencemari hati, baik pada siang maupun malam hari, selanjutnya terdapat jendela-jendela lain yang perlu mendapat perhatian kita. Jendela-jendela yang sesungguhnya mem­pengaruhi mata dalam memandang, telinga dalam mendengar, dan lidah da­lam bertutur kata. Jendela-jendela itu ada­lah jendela bathin, sebagaimana telah disinggung pada penjelasan yang lalu.

Para ulama suluk menyebut jendela-jendela bathin ini dengan nama al-kha­wathir, yakni lintasan-lintasan yang muncul di dalam hati. Jendela jenis ini tidak dapat diindra, dan tidak pula berupa materi.

Setiap bentuk ketaatan yang disukai Allah SWT yang telah mewujud dalam ben­tuk perbuatan tidak lain berawal dari satu lintasan yang ada di dalam hati. Ter­lintas ketaatan di dalam hatimu lalu eng­kau melakukannya. Demikian pula setiap maksiat yang dimurkai Allah yang telah mewujud dalam bentuk perbuatan, itu pun tidak lain berawal dari satu lintasan yang ada di dalam hati.

Dosa-dosa besar, kefasikan, kedur­haka­an, aniaya, dan semua kezhaliman yang banyak dilakukan banyak manusia, dari manakah asalnya? Asal semua itu adalah lintasan-lintasan yang ada di da­lam hati lalu mereka memenuhi panggilan lintasan-lintasan itu. Lintasan-lintasan itu adalah jendela-jendela bathin hati yang datang kepada hati dari dalam dirinya sendiri. Dan jendela-jendela ini memiliki empat sumber:

Pertama, dari an-nafs (nafsu) yang disebut al-hawa (hasrat atau keinginan).

Lintasan yang bersumber dari nafsu disebut “hawa nafsu”. Di tengah kemarau yang terik, misalkan, engkau tengah ber­puasa fardhu. Di saat yang sama engkau melihat air yang sejuk dan dingin. Apa yang diinginkan oleh nafsumu? Tentu eng­kau ingin meneguk air itu. Dari mana da­tangnya lintasan itu? Lintasan itu da­tang dari nafsu, dari kebutuhan nafsu, dari keinginan nafsu.

Seseorang dengan serta merta me­ngejekmu dengan ejekan yang menyakit­kan, tentu engkau ingin segera menam­parnya. Datang lintasan kepadamu untuk menamparnya. Dari mana lintasan untuk me­nampar itu datang? Lintasan itu da­tang dari nafsu, dari keinginan nafsu, dari perbuatan nafsu.

Kedua, dari setan, sebagaimana da­lam hadits, “Setan itu memberikan bisikan kepada hati anak Adam. Bila ia berdzikir kepada Allah, setan akan menangguh­kan­nya. Namun bila ia lupa dari berdzikir ke­pada Allah, setan pun akan kembali membisikinya.”

Lintasan yang bersumber dari setan ini dinamakan al-waswas (bisikan), se­bagaimana dalam firman Allah SWT, “Dari kejahatan waswasil khannas (bisik­an setan yang biasa bersembunyi).” – QS An-Nas (114): 4.

Ketiga, dari malaikat, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang di­keluarkan oleh Imam As-Suyuthi dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sesung­guh­nya setan memiliki bisikan kepada anak adam, dan sesungguhnya malaikat pun memiliki bisikan pula. Adapun bisikan setan adalah mendatangkan keburukan dan pengingkaran terhadap kebenaran, se­dang bisikan malaikat adalah menda­tangkan kebaikan dan pengakuan terha­dap kebenaran. Oleh karena itu barang siapa mendapatkan bisikan semacam itu (kebaikan), ketahuilah, sesungguhnya itu datangnya dari Allah, maka pujilah Allah; dan barang siapa mendapatkan bisikan selain dari itu (keburukan), memohonlah perlindungan kepada Allah dari setan.”

Dari dasar ini, para ulama kemudian menamakan bisikan setan dengan nama waswasah dan bisikan malaikat dengan nama lummatul malak.

Keempat, dari al-khawathir (lintasan-lintasan) yang datang langsung dari sisi Allah SWT yang ditanamkan ke dalam hati.

Semua lintasan itu memang secara hakikat datang dari Allah SWT, baik se­bagai musibah maupun anugerah, baik sebagai ujian maupun karunia. Namun di luar sumber-sumber yang telah dise­butkan terdapat lintasan-lintasan yang Allah SWT tanamkan secara langsung ke dalam hati seorang hamba mukmin dari sisi kemahatinggian-Nya.

Lintasan semacam ini para ulama me­nyebutnya “ilham”, sebagaimana fir­man Allah SWT, “Dan demi jiwa serta pe­nyempurnaannya, Allah meng­il­ham­kan ke­pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ke­taqwaannya.” – QS Asy-Syams (91): 7-8.

Lintasan-lintasan yang ada dalam hati seorang salik sangatlah banyak, bahkan di hati setiap insan di atas muka bumi ini. Bila engkau mencoba untuk mengontrol satu lintasan yang datang di dalam hatimu dalam satu waktu, perhatikanlah, berapa lintasan yang akan datang pada saat itu juga di dalam hatimu?

Di saat engkau merasakan haus, da­tanglah lintasan di dalam hatimu, “Pergi­lah dan minumlah!” Lalu datang lagi lin­tasan yang lain, “Tetapi aku harus buru-buru, sudah janji Fulan akan datang, aku harus segera menyambutnya.” Datang lagi lintasan yang lain, “Wah, kok aku bisa lupa dengan acara anu… semua di tem­patku lagi?” Dan demikian seterusnya, da­tang silih-berganti berbagai macam rupa lintasan dalam hatimu, sampai-sam­pai seorang ahli pendidikan pernah me­ngatakan, dalam sehari semalam lebih dari 70.000 lintasan datang ke dalam hati seorang manusia.

Hal yang penting bagi seorang salik menuju Allah dalam memelihara hatinya adalah bagaimana ia mampu menda­tangkan lintasan-lintasan kebaikan, men­dengarkannya dengan seksama, dan ke­mudian memenuhinya, dan bagaimana agar ia mampu berpaling dari lintasan-lin­tasan keburukan dan menanggalkan­nya. Dengan melakukan hal tersebut, insya Allah engkau akan dapat mema­hami berbagai hakikat yang dapat me­nimbulkan dan mendatangkan dorongan-dorongan untuk semakin dekat kepada Allah SWT.

Lintasan-lintasan yang datangnya dari sumber kebaikan akan memperluas pe­mahaman dan pandangan hati terha­dap kebaikan dan selanjutnya ia pun menghendaki kebaikan. Lintasan-lintasan yang membawa bisikan keburukan, bila engkau tidak menghentikannya dari hati­mu, bila engkau tidak mengobatinya, bila engkau tidak bersungguh-sungguh dalam mengekangnya, dan bila engkau tidak men­jaga hatimu dari semua itu dan tidak pula membentenginya, akan terus-mene­rus melakukan serangan-serangan ter­hadap hati dan memperdayanya untuk berbuat keburukan.

Sebuah Renungan

Selanjutnya mari kita merenung ber­sama. Kita renungkan bagaiamana be­sarnya pengaruh lintasan-lintasan itu ter­hadap hati. Coba kita perhatikan keadaan kita pada hari ini.

Di zaman sekarang ini, sejak dini hari seseorang telah disibukkan dengan ber­bagai aktivitas. Sejak pagi, seseorang te­lah bergelut dengan berbagai kesibukan, dari kemacetan lalu lintas, tugas kantor, tu­gas seminar, tugas kuliah, urusan pri­badi, janji dengan relasi, berhadapan de­ngan klien, dan sebagainya. Datang wak­tu malam, ia pun telah lelah, karena se­harian bekerja dan beraktivitas. Tanpa di­sadari, kehidupannya terus berjalan be­gitu cepatnya. Hari berganti hari, bulan ber­ganti bulan, dan tahun pun telah ber­ganti tahun.

Kenyataan yang dilakukannya seba­gai rutinitas tanpa disadari telah mengam­bil bagian demi bagian dari dirinya. Ia bangun di waktu pagi dan kembali ke pem­baringan di malam hari tanpa menge­tahui bagaimana semestinya memelihara dirinya. Tidak siang dan tidak pula malam.

Kita lihat sebagian pemuda. Mereka tengah asyik tertidur, tidak tahu ke mana me­reka akan pergi. Di jalanan, asyik-masyuk mendengarkan musik kegemar­annya, dari satu lagu kepada lagu beri­kutnya. Mereka sibuk, lalu kapan mereka ber­pikir? Kapan duduk untuk merenungi masa yang akan datang dari kehidup­annya?

Dalam pembahasan ini, kita tidak se­dang berbicara tentang haramnya men­de­ngarkan lagu-lagu tertentu. Yang men­jadi pembicaraan kita adalah bagaima seseorang telah menceburkan dirinya ke dalam putaran roda kehidupan dengan cara semacam itu pada sepanjang waktu­nya, dari satu aktivitas kepada aktivitas lainnya, dari satu kesibukan kepada ke­sibukan berikutnya. Inilah permasalahan sesungguhnya. Sebab, mungkin saja se­seorang mendengarkan satu lagu yang indah dengan syair-syair yang meng­gu­gah hati untuk semakin mendekatkan diri­nya kepada Allah, atau paling tidak mem­bantunya dalam menjalani rutinitasnya. Ini bukanlah masalah.

Namun bila hidup seseorang telah ter­patri pada situasi dan kenyataan sema­cam itu, meskipun dengan berbagai rupa aktivitasnya, bahkan lebih dari itu, andai­kan yang didengarkannya bukanlah lagu-lagu yang haram dan tidak pula diperse­lisihkan hukumnya sekalipun, dan bahkan misalkan seseorang menghabiskan se­mua waktunya untuk berbagai macam ke­sibukan hingga tidak menemukan waktu untuk memikirkan lintasan-lintasan yang datang dalam hatinya, inilah masalahnya.

Lalu apa yang dituntut? Yang dituntut adalah bagaimana seseorang dapat pin­dah dari kehidupan yang telah dijalaninya semacam itu, yakni bagaimana kenyata­an yang selama ini telah melingkupi diri­nya dapat mengingatkan kepada kehi­dupan yang lain, yakni kehidupan akhirat.

Coba tengoklah sedikit ke belakang dan lihatlah kenyataan yang sekarang kita jalani. Yang penting bagi kita, selama kita berjalan menuju Allah, katakanlah, “Aku tidak rela bila harus terbawa arus ke­hidupan. Aku akan melaksanakan ke­wajibanku dengan sebaik mungkin. Bila aku seorang siswa, aku akan menjadi sis­wa yang berprestasi tinggi, namun bukan karena apa-apa, melainkan karena aku memiliki tujuan dari prestasi yang tinggi itu, yakni taqarub kepada Allah. Bila aku seorang pedagang, aku harus menjadi pe­dagang yang terbaik, karena aku me­miliki tujuan, dan tujuanku adalah taqarub kepada Allah. Bila aku seorang arsitek, se­orang pegawai, dan lain-lain, akan hi­dup bersama di tengah-tengah masyara­kat, tetapi hatiku bersama Allah.”

Makna “hatiku bersama Allah” yakni menghilangkan segala lintasan keburuk­an yang datang kepada hati.

Untuk itulah kita butuh suatu keingin­an setelah memahami pelajaran ini. Kata­kan, “Tidak akan pernah kubiarkan da­tang, pada siang ataupun malam hari, lintasan ke dalam hatiku seperti itu selain aku mempunyai tujuan.”

Ketahuilah, bila engkau relakan hati­mu menjadi halaman bagi datang dan perginya berbagai macam dan rupa lin­tasan-lintasan baik ataupun buruk dalam ben­tuk apa pun, engkau tidak akan per­nah bisa mengontrol segala tingkah laku dan perbuatanmu untuk selama-lama­nya. Seseorang pernah mengadu, ia ber­kata, “Aku telah hadir ke berbagai majelis semacam ini, mataku pun terkadang me­nangis dan hatiku luluh karena rindu un­tuk datang kepada Allah SWT, dan aku ber­tekad untuk istiqamah setelah itu. Na­mun setelah dua-tiga hari, semua itu hi­lang dari diriku. Mengapa?”

Jawabnya, karena sesuatu yang men­jadikanmu kehilangan semua itu, itu juga yang telah membuatmu kembali ke­pada apa yang engkau telah bertaubat darinya (maksiat), membawamu kembali kepada kelalaian, dan yang juga melupa­kanmu kepada makna taraqqi (mengga­pai kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT). Sesuatu itu adalah bahwa hatimu menjadi halaman yang terbuka untuk da­tang dan perginya berbagai rupa lintasan kebaikan dan keburukan. Engkau tidak me­miliki penyaring yang dapat membiar­kan masuknya lintasan yang baik dan men­cegah datangnya lintasan-lintasan yang buruk.

Setelah memahami pelajaran ini, yang harus kita lakukan adalah bersung­guh-sungguh dalam mengontrol lintasan-lintasan di dalam hati kita dengan jalan menerima lintasan kebaikan dan menolak atau berpaling dari lintasan keburukan.

Perpindahan yang Berbeda

Apa yang akan engkau lakukan bila lintasan itu telah berlalu, berubah menjadi pemahaman, dan kemudian menjadi per­buatan? Engkau telah melakukan suatu per­buatan yang engkau sendiri tidak ingin untuk melakukannya?

Bila itu terjadi, duduklah dan renung­kanlah bagaiamana engkau sampai ke­pada hal itu.

“Aku bersalah kepada si Fulan dalam ucapan karena aku merelakan diriku ikut ber­­­samanya dalam satu perbincangan yang semestinya aku tidak ikut di da­lamnya.”

Mengapa? “Karena aku menerima lin­tasan yang ada dalam hatiku. Lintasan itu berkata, ‘Aku harus meluruskannya, aku lebih hebat dalam pemahaman, dan aku lebih hebat dalam berdebat’.”

Bila engkau sudah mulai membingkai dirimu dengan rangkaian perenungan se­macam ini di dalam mengontrol lintasan-lintasan hati, yakni engkau meyakinkan ke­pada dirimu bahwa engkau memiliki ba­nyak lintasan hati yang perlu untuk di­kontrol, setelah itu engkau akan dapat me­nerima untuk memahami berbagai tim­­bangan untuk mengukur lintasan-lin­tasan tersebut sebagai wujud dari mu­jahadatun nafs (pergulatan hati), yang diba­rengi dengan penyandaran diri ke­pada Allah SWT serta berserah diri ke­pada-Nya. Sehingga, niscaya engkau akan melihat dirimu akan berpindah-pin­dah dalam kehidupanmu dengan per­pindah­an yang berbeda dari sebelumnya. Eng­kau akan berpindah dari keadaaan se­orang manusia yang berjalan dengan lintasan-lintasan yang mengarahkannya ke mana pun, dan bagaimana pun ben­tuknya, kepada keadaan seorang muk­min yang mampu mengendalikan dan mengarahkan lintasan-lintasan hatinya bagaimana seharusnya berjalan.

Semoga Allah mengaruniai kita se­mua sebaik-baik langkah dalam mengha­dapi lintasan-lintasan yang datang ke dalm hati.

Sumber :www.majalah-alkisah.com