Tampilkan postingan dengan label Taubat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taubat. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 April 2013

Madrasah Hadhramaut: Taubat

Bila hal itu terjadi, hendaklah ia kembalikan urusannya kepada Allah SWT, karena Allah akan memintakan maaf kepada mereka untuk dirinya jika Allah melihat adanya kesungguhan dalam hati kita kelak di hari Kiamat.

Pelajaran ini akan membahas langkah pertama yang harus dijalani seorang hamba dalam perjalanan­nya menuju Allah SWT setelah muncul­nya al-baits dan kerinduan yang kuat di dalam hati untuk datang kepada-Nya. Langkah pertama untuk menuju Allah adalah tash-hih at-taubah, memperbaiki taubat dan sungguh-sungguh bertaubat kepada Allah SWT.

Taubat sebagai kata diambil dari kata ar-ruju‘ dan al-awbah, yang berarti “kem­bali”. Taubat sendiri pada hakikatnya meliputi tiga makna, yang, apabila ke­tiganya terpenuhi dan tercakup, terwu­judlah taubat yang sesungguhnya. Tiga hal tersebut adalah ‘ilm, hal, fi‘l.

‘Ilm

‘Ilm, atau ilmu, yang dimaksud di sini adalah ilmu yang mengetahui bahwa dirinya adalah seorang hamba, yang ke­lak akan berdiri di hadapan Allah SWT pada hari Kiamat, yang hidupnya hanya sementara untuk kemudian menemui ke­matian, dan akan dimintai pertanggung­jawaban atas segala perbuatan yang te­lah dilakukannya dalam hidupnya yang teramat singkat itu.

Sang hamba mengetahui bahwa hi­dup yang teramat singkat ini akan ber­ujung pada satu masa ketika ia akan ber­diri seorang diri di hadapan Raja dari se­gala raja, Yang akan menanyainya se­orang diri dengan tanpa ada seorang pem­bela pun dan tidak pula seorang pe­rantara yang dapat membantunya untuk menjawab segala pertanyaan yang di­ajukan. Maharaja itu akan berkata ke­pa­danya, “Wahai hamba-Ku, ingatkah eng­kau di hari ini, di waktu ini... engkau me­nutup rapat semua pintu agar tidak terlihat oleh pandangan seorang pun dari makh­luk-Ku karena engkau malu bila mereka melihat perbuatanmu kala itu... sedang­kan engkau terang-terangan mem­per­tunjukkan kepada-Ku satu per­buatan yang tidak Aku ridhai. Di mana­kah eng­kau taruh pandangan-Ku saat itu? Ham­ba-Ku, mengapa engkau jadi­kan Aku pemandang yang paling remeh dalam penilaianmu? Hambaku, engkau malu terhadap hamba-hamba-Ku, tetapi sama sekali tidak merasa malu kepada-Ku?”

Di saat berada di hadapan-Nya, Dia akan berkata, “Wahai hamba-Ku, Aku telah menciptakanmu dari ketiadaan, Aku limpahi engkau dengan berbagai karunia, Aku muliakan engkau dengan ‘La ilaha illallah.’ Engkau tumbuh dengan karunia-karunia yang Aku berikan, ibu­mu menyusui dan mengasuhmu dengan karunia itu, pengetahuanmu pun ber­kembang dengan karunia itu, lalu eng­kau tumbuh besar dan menjadi perkasa dengan segala karunia yang telah Aku berikan dari berbagai kebaikan, namun kemudian engkau pergunakan untuk mendurhakai-Ku? Bagaimana engkau pergunakan nikmat-Ku? Apakah engkau menggunakannya untuk hal-hal yang Aku ridhai? Apakah engkau mencari kedekatan dengan-Ku selama hari-hari yang telah Aku berikan kepadamu?”

Saat-saat kelak kita dimintai pertang­gungjawaban itu tidak seorang mukmin pun kecuali ia meyakini dengan sepenuh hati bahwa pasti akan dilaluinya.

Seorang hamba pun mengetahui bah­wa tidaklah setiap kata yang terucap dari lidahnya kecuali akan dicatat, tidak­lah setiap tatapan di saat memandang sesuatu kecuali akan dituliskan, dan ti­dak pula setiap diam, gerak, dan lengah kita kecuali akan dicatat untuk dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT.

Di saat memperhatikan semua pen­jelasan itu, mungkin sebagian orang akan merasa sempit dadanya untuk da­pat memahami makna-makna mulaha­qah (pencarian jati diri), mutaba‘ah (me­neladani), hisab (penghitungan amal), ataupun kitab ‘alaih (pencatatan amal perbuatan).

Maka, coba kita perhatikan dari segi yang lain, yakni memahami makna dari makna-makna kemurahan yang Allah SWT karuniakan kepada kita, kemuliaan yang diberikan-Nya kepada kita, dan penghormatan yang diberikan Allah kepada kita.

Coba perhatikan seseorang yang memiliki kedudukan atau popularitas yang tinggi di tengah-tengah masyara­kat. Orang-orang berkumpul di sekitar­nya. Wartawan yang satu menulis setiap kata yang diucapkannya, sedang yang lainnya mengambil gambar dari setiap gerak-geriknya. Namun, puncak dari se­mua perhatian yang diberikan itu tidaklah lebih dari satu atau dua jam saja, setelah itu mereka kembali ke rumahnya ma­sing-masing.

Ketahuilah, seorang hamba memiliki kedudukan yang penting di sisi Allah. Karena penting dan tingginya keduduk­an seorang hamba di sisi Allah, Dia, bah­kan, mewakilkan dua malaikat mulia, yang tercipta dari cahaya yang tidak per­nah durhaka kepada-Nya, sebagai pen­dampingnya setiap saat.

Dua malaikat yang Allah wakilkan ini mencatat setiap ucapan sang hamba dari semenjak ia baligh hingga akhir ha­yatnya. Dalam gurau, sungguh-sungguh, marah, ridha, sedih, atau gembira, “Tiada suatu ucapan pun yang diucap­kannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Raqib dan ‘Atid (yang selalu hadir meng­awasi).” — QS Qaf (50): 18.

Seorang hamba adalah pemilik ke­dudukan di sisi Allah. Seseorang yang telah mengetahui bahwa semua per­buat­annya akan dicatat, dihitung, ke­mudian akan dilaporkan dan dibuka di hadapan Allah SWT. Setelah itu ditentu­kan tempat kembalinya, apakah menuju negeri keridhaan atau negeri kemurka­an, menuju surga atau dijerumuskan ke jurang neraka.

Waktunya di dunia akan berakhir di saat ruh sampai di ujung kerongkongan. Tidak ada jaminan tentang kapan sam­painya ruh ke ujung kerongkongan. Ti­dak dapat direncanakan dan tidak pula dapat disiasati agar ia datang pada wak­tu yang tepat, dan tidak diketahui kapan malaikat maut datang menjemput. Se­mua­nya datang dengan tiba-tiba dan se­kejap mata. Tidak dibedakan antara anak muda ataupun orang tua, dan tidak pula dibedakan atara yang sakit ataupun yang sehat. Jika malaikat maut datang menjemput, pada saat itulah diberitahu­kan bahwa waktunya telah berakhir untuk selamanya.

Seseorang yang mengetahui semua kemestian itu, akankah di hatinya tidak ada sesuatu yang terlahir dan muncul dari pengetahuannya itu? Yakni keada­an menyesal, merasa malu, hina, dan rendah di hadapan Allah SWT. “Kemarin aku mendurhakai Allah padahal Allah melihatku. Aku akan berdiri di hadapan-Nya dan Allah akan menanyaiku semua itu.”

Salah seorang shalihin dari negeri Habasyah datang kepada seorang waliyullah dari kalangan salaf. Orang itu bertanya, “Wahai Syaikh, apakah Allah akan mengampuniku atas dosa yang telah aku perbuat?”

“Benar, Allah akan mengampunimu bila engkau bertaubat dengan sungguh-sungguh,” jawab sang waliyullah.

Orang itu pun bersyukur dan memuji Allah, dan tampak dari raut wajahnya kegembiraan yang luar biasa. Namun, setelah beberapa langkah meninggalkan sang waliyullah, orang itu kembali lagi de­ngan raut muka yang tidak lagi me­nunjukkan kegembiraan.

Wali tadi bertanya, “Apa yang terjadi denganmu?”

Orang itu menjawab, “Apakah Allah melihatku di saat aku mendurhakai-Nya?”

Maka dijawab, “Ya, Allah melihatmu.”

Tiba-tiba orang itu berteriak histeris dan langsung tersungkur ke tanah dalam keadaan sudah tidak bernyawa.

Tahukah apa yang terjadi dengan orang ini?

Awal mula, pikirannya sibuk dengan urusan, “Apakah aku akan masuk ke da­lam surga atau neraka?” Setelah kekha­watirannya terhadap urusan surga dan neraka hilang dengan jawaban sang wali tadi bahwa Allah akan mengampuninya atas segala dosanya, muncullah di da­lam hatinya makna yang lebih dalam, lebih tinggi, lebih besar, dan lebih halus lagi dari apa yang menyibukkan pikir­an­nya selama itu tentang surga dan ne­raka. Yakni makna hubungan seorang ham­ba dengan Allah, makna bahwa Allah melihat dirinya melakukan kedur­hakaan ini dan itu, makna bahwa Allah me­nutupi semua keburukannya dari pan­dangan makhluk-Nya, padahal Allah Mahakuasa untuk mempertunjukkan se­mua keburukan itu kepada mereka, makna bahwa Allah tak pernah berhenti memberikan berbagai karunia, nikmat, dan limpahan rizqi padahal ia tak henti pula mendurhakai-Nya.

Semua perasaan itu melahirkan pe­nye­salan terhadap semua keteledoran, ke­durhakaan, dan keberanian yang se­lama ini ia lakukan terhadap Allah SWT. Perasaan semacam ini yang hadir di dalam hati seorang hamba disebut pe­nyesalan, salah satu unsur yang sangat penting dalam taubat.

Hal

Hal dalam konteks ini adalah penye­salan atas segala perbuatan buruk yang telah lalu. Terkadang sebagian salaf me­megang jenggotnya sambil berkata, “Alangkah buruknya perbuatanku meski­pun seandainya akan dimaafkan!”

Penyesalan semacam ini akan me­nimbulkan keteguhan yang kuat dalam diri seseorang untuk berkata dalam hati­nya, “Aku akan berhenti dari berbuat dosa... aku tidak akan pernah melaku­kannya lagi untuk selama-lamanya... aku tidak akan pernah lagi mendurhakai Allah....”

Fi‘l

Fi’il, atau perbuatan, dalam konteks ini adalah melepaskan diri dari maksiat dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.

Bila telah lahir penyesalan semacam ini, yang dilandasi dengan ilmu, penye­salan dan ilmu itu akan membuahkan ke­teguhan dalam hati untuk meninggalkan maksiat, dan tidak mengulanginya lagi, sehingga darinya terwujudlah hakikat sesuatu yang disebut taubat.

Adapun apabila kesalahan atau mak­siat itu berkaitan dengan hak-hak ma­nusia, misalnya mengambil harta si Fulan atau menghina dan mencacinya, ada per­kara keempat yang harus dilaku­kan, yak­ni mengembalikan hak-hak itu kepada pe­miliknya. Jika seseorang telah memakan harta orang lain, ia harus mengembalikan harta itu kepada pe­milik­nya.

Namun bukan hanya itu, karena apa yang telah dikembalikan itu belum ter­hitung sebagai taubat sebelum ia pun meminta maaf kepada mereka.

Lalu bagaimana seandainya mereka tidak memaafkannya?

Bila hal itu terjadi, hendaklah ia kem­balikan urusannya kepada Allah SWT, karena Allah akan memintakan maaf ke­pada mereka untuk dirinya jika Allah me­lihat adanya kesungguhan dalam hati kita kelak di hari Kiamat. Dengan demi­kian berarti ia telah menunaikan kewajib­annya dalam taubat. Allah akan memu­lia­kannya dengan memberinya anu­ge­rah berupa kerelaan dari orang-orang yang didzalimi haknya. Dan bila ia tidak kuasa untuk mengembalikan hak itu ke­pada mereka, Allah akan memuliakan­nya dengan memberinya sesuatu yang setimpal dengan kerelaan orang-orang yang terzhalimi itu. Karena hak-hak orang lain atas dirinya tetap tidak gugur sebagai tanggunggannya.

Lembaran-lembaran Dosa

Lembaran-lembaran dosa manusia dapat digolongkan menjadi tiga bagian.

Pertama, lembaran dosa yang pe­laku­nya dapat diampuni. Yakni semua kedurhakaan dan dosa yang ada antara sang hamba dan Tuhannya bila pada diri hamba terdapat penyesalan yang benar dan hakiki yang dihasilkan dari ilmu. Sehingga, penyesalan itu melahirkan keteguhan dan tekad yang kuat untuk meninggalkan dosa-dosa itu semua. Itulah taubat nasuha. Maka Allah pun akan mengampuninya atas dosa-dosa­nya seluruhnya.

Kedua, lembaran dosa yang pelaku­nya tidak akan diampuni. Yakni dosa syi­rik akbar, syirik besar. Syirik akbar ada­lah meyakini adanya Tuhan selain Allah SWT. Namun, dosa ini tidak terjadi pada umat Rasulullah SAW. Tidak akan ada syirik besar pada umat Nabi SAW, se­bagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari, Nabi SAW bersabda, “Sesung­guhnya aku, demi Allah, tidaklah takut ka­lian akan berbuat syirik (akbar) sete­lahku, akan tetapi yang aku takutkan ada­lah akan dibukakannya dunia atas kalian.”

Ketiga, lembaran dosa yang tidak tergugurkan. Yakni dosa yang dilakukan berkaitan dengan hak-hak manusia, hak-hak yang berkaitan dengan makhluk. Inilah yang semestinya membuat sese­orang yang sedang berjalan menuju Allah besungguh-sungguh dalam me­nunai­kan hak-hak itu.

Dosa Besar dan Kecil

Para ulama mengatakan, dosa besar itu ada empat macam. Sebagian saha­bat mengatakan, dosa besar ada tujuh macam, dan sebagian yang lain menga­ta­kan ada sebelas macam. Ibnu Abbas RA berkata, “Semoga Allah merahmati Ibnu Umar, yang membagi dosa kepada tujuh macam, karena yang tujuh itu lebih dekat kepada tujuh puluh.”

Adapun yang disepakati oleh jumhur ulama Ahlussunnah wal Jama’ah adalah bahwa semua perkara yang dikenai had (hukuman tertentu) termasuk dosa be­sar, semua yang dinashkan oleh Al-Qur’an atas keharamannya itu pun ter­masuk dosa besar, dan semua perbuat­an keji termasuk dosa besar.

Perhatikan juga terhadap makna lain, yaitu keadaan hati terhadap maksiat sesudah melakukan maksiat. Ulama berkata, “Terus-menerus dalam maksiat ter­golong dosa besar.” Dan meremeh­kan maksiat adalah termasuk dosa besar, meskipun maksiat itu kecil.

Itulah sebabnya, sebagian shalihin memohon ampun kepada Allah terhadap hal-hal mubah sekalipun. Mereka selalu memandang bahwa hal (interaksi)-nya dengan Allah adalah senantiasa menun­tut ketinggian dan kedekatan dengan-Nya dalam segala hal. Karenanya bila melakukan sesuatu yang mubah tidak berniat untuk mencari kedekatan dengan Allah, mereka pun memohon ampun ke­pada-Nya.

Bukan hanya itu, sebagian mereka pun bertaubat kepada Allah pada bebe­rapa perbuatan taat. Mereka bertaubat dari makna yang hadir di hati pada saat berbuat taat, yakni tidak merasa dan menyadari adanya kemurahan Allah pada saat berdiri mengerjakan suatu ketaatan.

Lebih tinggi lagi, Rabiatul Adawiyah pernah berkata, “Istighfar kita butuh kepada istighfar.” Mungkin kita memang sudah beristighfar, tapi istighfar kita belum sungguh-sungguh karena Allah.

Itulah taubat. Mulailah taubat sejak saat ini juga, dan tidak ada ujung dari taubat. Setiap kali seseorang meningkat derajat kede­katannya kepada Allah secara maknawi, dituntut taubat dari makna-makna se­belumnya.

Seorang shalihin berkata kepada Rabiatul Adawiyah, “Doakanlah aku su­paya aku bertaubat kepada Allah agar Allah memberiku taubat.”

Rabiah menjawab, “Melainkan aku akan mendoakanmu semoga Allah mem­berimu taubat agar engkau bertaubat.”

Shalatlah dua rakaat shalat sunnah Taubat dan jadikan sebagai wiridannya istighfar Astaghfirullaha wa atubu ilayh (100 kali) atau Rabbighfirli warhamni wa tub ‘alayya (100 kali). Apabila ini se­nantiasa dilakukan pada tiap-tiap malam, buahnya akan memperoleh satu tingkat­an yang dikatakan ulama sebagai ting­katan mahbubiyah (dicintai – oleh Allah). “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang selalu bertaubat.” — QS Al-Baqarah (2): 222.

Sumber :www.majalah-alkisah.com

Kamis, 16 Februari 2012

Risalah Al Qusyairi : 1. Taubat

Abd al-Karim ibn Hawazinal-Qusyairi

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahawa Rasulullah saw mengatakan - 'Orang yang bertaubat dari dosa adalah seperti orang yang tidak berdoa, dan jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya dosa tidak melekat pada dirinya.’
Ketika beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, apa tandanya taubat?”, Rasulullah menjawab, “Menyesali kesalahan.”
Anas bin Malik meriwayatkan bahawa Rasulullah saw mengatakan, “Tiada sesuatu yang lebih dicintai oleh Allah selain pemuda yang bertaubat.”
Makna taubat dalam bahasa Arab adalah kembali – ia merupakan tingkat pertama di antara maqam yang dialami oleh sufi, dan tahap pertama di antara tahap-tahap yang dicapai oleh salik (si penempuh jalan Allah).
Sebuah hadis mengatakan, “Pengingat Tuhan di dalam hati setiap insan adalah Muslim.”
Abu Hafs Al-Haddad mengatakan, “Saya meninggalkan suatu perbuatan tercela, lalu kembali kepada Nya. Kemudian perbuatan itu meninggalkan saya, dan sesudah itu saya tidak kembali kepada Nya.”
Syeikh Abu Ali Al-Daqqaq mengatakan, “Salah seorang murid bertaubat, kemudian menerima ujian. Dia bertanya-tanya di dalam hati, “Jika saya bertaubat, bagaimanakah keadaan saya nanti?”

Syeikh Abu Ali Al-Daqqaq pula mengatakan: Taubat dibahagikan menjadi 3 tahap: tahap pertama adalah tawbah (taubat), tahap kedua adalah inabah (berpaling kepada Tuhan), dan tahap akhir adalah awbah (kembali).

Al-Junaid menyatakan, “Taubat mempunyai 3 makna. Pertama menyesali kesalahan; kedua tetap hati untuk tidak mengulang kembali kepada apa yang telah dilarang oleh Allah SWT, dan ketiga adalah menyelesaikan keluhan orang terhadap dirinya.”
Sahl Ibn Abdullah menyatakan, “Taubat adalah menghentikan sikap suka menunda-nunda.”
Al-Harith menegaskan, “Saya tidak pernah mengatakan , “Wahai Tuhanku, aku memohon ampunan-Mu.’ Saya mengatakan, ‘Kurniakan kepadaku, wahai Tuhan, kerinduan untuk bertaubat.’

Al-Junaid mengunjungi As-Sari pada suatu hari, dan mendapatinya sedang kebingungan. Dia bertanya, “Apa yang terjadi atas dirimu?”
As-Sari menjawab, “Aku bertemu dengan seorang pemuda, dan dia bertanya tentang taubat kepadaku. Ku beritahu dia – ‘Taubat adalah engkau tidak melupakan dosa-dosamu.’ Lantas dia menegurku dengan mengatakan, ‘Taubat adalah bahwa engkau benar-benar melupakan dosa-dosamu.’ Al-Junaid mengatakan bahwa yang dikatakan oleh pemuda itulah yang benar. As-Sari bertanya kepadanya mengapa dia berpendapat seperti itu. Al-Junaid menjawab, ‘Karana apabila aku kafir dan kemudian Dia membimbingku menjadi Muslim, maka ingatan akan kekafiran dalam taubat merupakan kekafiran.’ As-Sari lalu terdiam.
Al-Junaid merujuk taubatnya orang-orang yang telah mencapai kebenaran, yang tidak ingat akan dosa-dosa mereka lagi karana keagungan Allah SWT telah menguasai hati mereka, dan dzikr (mengingat Dia) yang terus mereka lakukan.

Menurut Ruwaym, : Ia adalah taubat dari taubat.
Dzun Nun Al-Mishri memberi penjelasan, “Taubat dari kalangan orang awam adalah taubat dari dosa, dan taubat kaum terpilih adalah taubat dari kealpaan.”

Abul Hussain An-Nuri mengatakan, “Taubat adalah bahawa engkau berpaling dari segala sesuatu selain Allah SWT.”
Yahya bin Muaz berdoa, “Wahai Tuhanku, aku tidak mengatakan bahwa aku telah bertaubat. Aku tidak kembali kepada-Mu dikerenakan sesuatu yang menurutku adalah kecenderunganku, aku tidak bersumpah bahwa aku tidak akan berbuat dosa lagi, karana aku mengetahui kelemahanku sendiri. Aku tidak mengatakan bahwa aku kembali kepada-Mu kirana bisa jadi aku mati sebelum kembali dengan sunguh-sungguh.”

Dzun Nun mengatakan, “Permohonan keampunan diajukan dengan tidak disertai kehati-hatian adalah taubatnya para pendusta.”

Ketika Ibn Yazdanyar ditanya tentang prinsip-prinsip yang menjadi asas perjalanan seorang hamba menuju Tuhan, dia menjawab, “Prinsip-prinsip yang engkau maksudkan ialah bahwa dia tidak kembali kepada sesuatu yang telah dia tinggalkan, tidak meminta segala sesuatu selain Yang Esa yang kepada Nya dia menuju, dan menjaga lubuk hatinya dari menginginkan sesuatu yang darinya dia telah menjauhkan diri.”
“Taubat ialah saat di mana engkau mengingat dosa dan tidak menemukan kemanisan di dalamnya.”, kata Al-Bunsyanji.

“Perasaan taubat adalah bahwa bumi ini terlalu sempit bagimu meskipun ia luas sehingga engkau tidak menjumpai tempat untuk beristirahat. Lalu engkau merasakan jiwamu terbatas, kerana Allah SWT telah mengatakan dia dalam Al Quran:
“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (Taubah, 9:118)

Ibn Atha’ mengatakan “Terdapat dua jenis taubat: inabah (kembali) dan istijabah (menjawab atau memenuhi) Dalam inabah sang hamba bertaubat kerana takut akan hukuman; dalam istijabah dia bertaubat kerana malu akan kedermawan-Nya.

Abu Hafs mengatakan, “Seorang hamba tidak bersangkut paut dengan taubat. Taubat datang kepadanya, bukan dari dirinya.”
Abu Hafs ditanya, “Mengapa orang-orang bertaubat membenci dunia?” Dia menjawab, “Karana ia merupakan tempat dosa-dosa dikejar.” Dan dikatakan kepadanya, “Ia juga tempat tinggal yang dijunjung tinggi oleh Tuhan dengan taubat. Dia mengatakan, “Pendosa mendapatkan keyakinan dari dosanya, tetapi mendapatkan bahaya dari penerimaan atas taubatnya.”

Diriwayatkan bahawa Allah SWT berfirman kepada Adam, “Wahai Adam, Aku telah mewariskan anak cucumu beban dan penderitaan Aku juga telah mewariskan kepada mereka taubat. Aku menjawab seorang di antara mereka, yang berdoa dengan sunguh-sungguh kepada Ku sebagaimana kamu telah berdoa kepada-Ku, sama sebagaimana Aku menjawabmu. Wahai Adam, Aku akan membangkitkan orang-orang yang bertaubat dari kubur-kubur mereka dalam keadaan gembira; doa mereka akan Ku-jawab.”
Diriwayatkan seseorang telah bertanya kepada Rabiah, "Saya telah sering berbuat dosa dan menjadi semakin tidak taat. Tetapi, apabila saya bertaubat, apakah Dia akan mengampuninya?" Rabiah menjawab: 'Tidak - tetapi apabila Dia mengampunimu, maka engkau akan bertaubat.'

Adalah perbuatan Nabi Muhammad saw bertaubat terus-menerus. Beliau mengatakan, “Hatiku suram, oleh kerana itu aku memohon ampunan Allah 70 kali dalam sehari.”
Yahya bin Muaz menyatakan, “Satu pelanggaran saja sesudah taubat lebih patut ditakuti berbanding 70 pelanggaran sebelum taubat.”

وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَـٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَـٰرِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا‌ۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِہِنَّ‌ۖ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآٮِٕهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآٮِٕهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٲنِهِنَّ أَوۡ بَنِىٓ إِخۡوَٲنِهِنَّ أَوۡ بَنِىٓ أَخَوَٲتِهِنَّ أَوۡ نِسَآٮِٕهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَـٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّـٰبِعِينَ غَيۡرِ أُوْلِى ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٲتِ ٱلنِّسَآءِ‌ۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ‌ۚ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ 

"Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, apa yang mereka perbuat." "Katakanlah kepada wanita yang beriman :"Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka meukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (An-Nur:31)

وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِيضِ‌ۖ قُلۡ هُوَ أَذً۬ى فَٱعۡتَزِلُواْ ٱلنِّسَآءَ فِى ٱلۡمَحِيضِ‌ۖ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطۡهُرۡنَ‌ۖ فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٲبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri[137] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[138]. apabila mereka Telah suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (Al-Baqarah:222)

إِنَّمَا يَسۡتَجِيبُ ٱلَّذِينَ يَسۡمَعُونَ‌ۘ وَٱلۡمَوۡتَىٰ يَبۡعَثُہُمُ ٱللَّهُ ثُمَّ إِلَيۡهِ يُرۡجَعُونَ 

Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nya-lah mereka dikembalikan. (Al-An'am:36)

Minggu, 25 Desember 2011

Taubat Menurut Imam Ghazali

Taubat seperti dijelaskan oleh Imam Ghazali dalam kitabnya "Ihya ulumuddin" adalah sebuah makna yang terdiri dari tiga unsur: ilmu, hal dan amal. Ilmu adalah unsur yang pertama, kemudian yang kedua hal, dan ketiga amal.

Ia berkata: yang pertama mewajibkan yang kedua, dan yang kedua mewajibkan yang ketiga. Berlangsung sesuai dengan hukum (ketentuan) Allah SWT yang berlangsung dalam kerajaan dan malakut-Nya.

Ia berkata: "Sedangkan ilmu adalah, mengetahui besarnya bahaya dosa, dan ia adalah penghalang antara hamba dan seluruh yang ia senangi. Jika ia telah mengetahui itu dengan yakin dan sepenuh hati, pengetahuannya itu akan berpengaruh dalam hatinya dan ia merasakan kepedihan karena kehilangan yang dia cintai. Karena hati, ketika ia merasakan hilangnya yang dia cintai, ia akan merasakan kepedihan, dan jika kehilangan itu diakibatkan oleh perbuatannya, niscaya ia akan menyesali perbuatannya itu. Dan perasaan pedih kehilangan yang dia cintai itu dinamakan penyesalan. Jika perasaan pedih itu demikian kuat berpengaruh dalam hatinya dan menguasai hatinya, maka perasaan itu akan mendorong timbulnya perasaan lain, yaitu tekad dan kemauan untuk mengerjakan apa yang seharusnya pada saat ini, kemarin dan akan datang. Tindakan yang ia lakukan saat ini adalah meninggalkan dosa yang menyelimutinya, dan terhadap masa depannya adalah dengan bertekad untuk meninggalkan dosa yang mengakibatkannya kehilangan yang dia cintai hingga sepanjang masa. Sedangkan masa lalunya adalah dengan menebus apa yang ia lakukan sebelumnya, jika dapat ditebus, atau menggantinya.

Yang pertama adalah ilmu. Dialah pangkal pertama seluruh kebaikan ini. Yang aku maksudkan dengan ilmu ini adalah keimanan dan keyakinan. Karena iman bermakna pembenaran bahwa dosa adalah racun yang menghancurkan. Sedangkan yakin adalah penegasan pembenaran ini, tidak meragukannya serta memenuhi hatinya. Maka cahaya iman dalam hati ini ketika bersinar akan membuahkan api penyesalan, sehingga hati merasakan kepedihan. Karena dengan cahaya iman itu ia dapat melihat bahwa saat ini, karena dosanya itu, ia terhalang dari yang dia cintai. Seperti orang yang diterangi cahaya matahari, ketika ia berada dalam kegelapan, maka cahaya itu menghilangkan penghalang penglihatannya sehingga ia dapat melihat yang dia cintai. Dan ketika ia menyadari ia hampir binasa, maka cahaya cinta dalam hatinya bergejolak, dan api ini membangkitkan kekuatannya untuk menyelamatkan dirinya serta mengejar yang dia cintai itu.

Ilmu dan penyesalan, serta tekad untuk meninggalkan perbuatan dosa saat ini dan masa akan datang, serta berusaha menutupi perbuatan masa lalu mempunyai tiga makna yang berkaitan dengan pencapaiannya itu. Secara keseluruhan dinamakan taubat. Banyak pula taubat itu disebut dengan makna penyesalan saja. Ilmu akan dosa itu dijadikan sebagai permulaan, sedangkan meninggalkan perbuatan dosa itu sebagai buah dan konsekwensi dari ilmu itu. Dari itu dapat dipahami sabda Rasulullah Saw : " Penyesalan adalah taubat" (Hafizh al 'Iraqi dalam takhrij hadits-hadits Ihya Ulumuddin berkata: hadits ini ditakhrijkan oleh Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al Hakim. Serta ia mensahihkan sanadnya dari hadits Ibnu Mas'ud. Dan diriwayakan pula oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim dari hadits Anas r.a. dan ia berkata: hadits ini sahih atas syarat Bukhari dan Muslim), karena penyesalan itu dapat terjadi dari ilmu yang mewajibkan serta membuahkan penyesalan itu, dan tekad untuk meninggalkan dosa sebagai konsekwensinya. Maka penyesalan itu dipelihara dengan dua cabangnya, yaitu buahnya dan apa yang membuahkannya." (Ihya Ulumuddin (4: 3,4), cetakan: Darul Ma'rifah, Beirut).

Jumat, 08 April 2011

Sufi Road : Taubat Imam Ghazali

Taubat seperti dijelaskan oleh Imam Ghazali dalam kitabnya "Ihya ulumuddin" adalah sebuah makna yang terdiri dari tiga unsur: ilmu, hal dan amal. Ilmu adalah unsur yang pertama, kemudian yang kedua hal, dan ketiga amal.

Ia berkata: yang pertama mewajibkan yang kedua, dan yang kedua mewajibkan yang ketiga. Berlangsung sesuai dengan hukum (ketentuan) Allah SWT yang berlangsung dalam kerajaan dan malakut-Nya.

Ia berkata: "Sedangkan ilmu adalah, mengetahui besarnya bahaya dosa, dan ia adalah
penghalang antara hamba dan seluruh yang ia senangi. Jika ia telah mengetahui itu
dengan yakin dan sepenuh hati, pengetahuannya itu akan berpengaruh dalam hatinya dan
ia merasakan kepedihan karena kehilangan yang dia cintai. Karena hati, ketika ia
merasakan hilangnya yang dia cintai, ia akan merasakan kepedihan, dan jika kehilangan
itu diakibatkan oleh perbuatannya, niscaya ia akan menyesali perbuatannya itu. Dan
perasaan pedih kehilangan yang dia cintai itu dinamakan penyesalan. Jika perasaan pedih
itu demikian kuat berpengaruh dalam hatinya dan menguasai hatinya, maka perasaan itu
akan mendorong timbulnya perasaan lain, yaitu tekad dan kemauan untuk mengerjakan
apa yang seharusnya pada saat ini, kemarin dan akan datang. Tindakan yang ia lakukan
saat ini adalah meninggalkan dosa yang menyelimutinya, dan terhadap masa depannya
adalah dengan bertekad untuk meninggalkan dosa yang mengakibatkannya kehilangan
yang dia cintai hingga sepanjang masa. Sedangkan masa lalunya adalah dengan menebus
apa yang ia lakukan sebelumnya, jika dapat ditebus, atau menggantinya
Yang pertama adalah ilmu. Dialah pangkal pertama seluruh kebaikan ini. Yang akumaksudkan dengan ilmu ini adalah keimanan dan keyakinan. Karena iman bermaknapembenaran bahwa dosa adalah racun yang menghancurkan. Sedangkan yakin adalahpenegasan pembenaran ini, tidak meragukannya serta memenuhi hatinya. Maka cahayaiman dalam hati ini ketika bersinar akan membuahkan api penyesalan, sehingga hatimerasakan kepedihan. Karena dengan cahaya iman itu ia dapat melihat bahwa saat ini,karena dosanya itu, ia terhalang dari yang dia cintai. Seperti orang yang diterangi cahayamatahari, ketika ia berada dalam kegelapan, maka cahaya itu menghilangkan penghalangpenglihatannya sehingga ia dapat melihat yang dia cintai. Dan ketika ia menyadari iahampir binasa, maka cahaya cinta dalam hatinya bergejolak, dan api ini membangkitkan kekuatannya untuk menyelamatkan dirinya serta mengejar yang dia cintai itu.

Ilmu dan penyesalan, serta tekad untuk meninggalkan perbuatan dosa saat ini dan masa
akan datang, serta berusaha menutupi perbuatan masa lalu mempunyai tiga makna yang
berkaitan dengan pencapaiannya itu. Secara keseluruhan dinamakan taubat. Banyak pula
taubat itu disebut dengan makna penyesalan saja. Ilmu akan dosa itu dijadikan sebagai
permulaan, sedangkan meninggalkan perbuatan dosa itu sebagai buah dan konsekwensi
dari ilmu itu. Dari itu dapat dipahami sabda Rasulullah Saw : " Penyesalan adalah taubat"
(Hafizh al 'Iraqi dalam takhrij hadits-hadits Ihya Ulumuddin berkata: hadits ini
ditakhrijkan oleh Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al Hakim. Serta ia mensahihkan
sanadnya dari hadits Ibnu Mas'ud. Dan diriwayakan pula oleh Ibnu Hibban dan Al Hakim dari hadits Anas r.a. dan ia berkata: hadits ini sahih atas syarat Bukhari dan Muslim),
karena penyesalan itu dapat terjadi dari ilmu yang mewajibkan serta membuahkan
penyesalan itu, dan tekad untuk meninggalkan dosa sebagai konsekwensinya. Maka
penyesalan itu dipelihara dengan dua cabangnya, yaitu buahnya dan apa yang
membuahkannya." (Ihya Ulumuddin (4: 3,4), cetakan: Darul Ma'rifah, Beirut).

Rabu, 06 April 2011

Sufiroad : Tobat Nasuha...

Para sufi umumnya memandang tobat sebagai langkah pertama yang harus dilakukan oleh setiap orang yang ingin menempuh jalan tasawuf. Ia merupakan sarana pertama menuju Allah. Artinya bahwa maqam tobat itu merupakan awal perjalanan bagi mutashawiff, yaitu pengikut tasawuf yang melakukan mujahadah menuju perjumpaan dengan Allah. Sebab untuk menuju jalan tersebut harus suci lahir dan bathin agar mudah menerima taufik , hidayah dan inayah dari Allah SWT.

Tobat yang paling utama yang dikejar oleh orang tasawuf adalah TOBAT NASUHA, yaitu tobat yang semurni-murninya betapa beratnya persyaratannya mereka harus berjuang untuk mendapatkannya. Tobat nasuha dapat berupa kesadaran seseorang yang mendorong dirinya untuk memperbaiki semua kesalahand an kekurangan masa lalu, dengan tekad bulat untuk tidak mengulanginya kembali di masa depan. Karenanya tobat yang murni ini harus disertai dengan keterbangunan jiwa yang melahirkan kesadaran akan segala kesalahannya dan tekad untuk memperbaikinya. Makanya untuk mencapainya tidaklah mudah, ada empat hal yang harus dilakukan untuk mencapai tobat nasuha:Pertama, menyadari bahwa maksiat yang mendatangkan dosa itu amatlah keji dan berdampak buruk, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun masyarakat luas. Sehingga ia harus benar-benar menyesali dosanya di masa lalu.
Kedua, menyadari sungguh-sungguh betapa dahsyatnya siksaan Allahatas orang yang berbuat dosa dan maksiat, sehingga ia bertekad bulat untuk ben ar-benar menjauhi maksiat dan tidak melakukannya lagi
Ketiga, menyadari akan kekurangan dan kelamahan dirinya yang tak akan tahan menanggung siksaan diakherat nanti, sehingga iasangat mendambakan ampunan dari Allah dan berniat akan mengisi hidupnya untuk banyak memohon ampun pada Allah.
Keempat, kalau punya kesalahan dan dosa yang berhubungan dengan hak-hak sesama manusia (huluqul adami), maka secara khusus ia mau ebrusaha untuk menyelesaikannya dengan sebaik baiknya hingga tercapai suatu kerelaan (‘an taradhin)
Untuk itu guna meraih maqam tobat nasuha sangatlah diperlukan kejujuran dan kesungguhan hati seseorang dalam memohon ampunan dan bertobat kepada Allah SWT. Dan juga disertai perasan yang tulus dan ikhlas untuk bersedia meninggalkan sama sekali dosa dosa dimasa lalu yang mengotori hidupnya. Tentunya proses ini membutuhkan waktu dan kesabaran untuk terus menerus mengendalikan dan memerangi hawa nafsunya.
Dalam kisah-kisah kehidupan sufi, kadang tobat dilakukan setelah melewati peristiwa aneh dan luar biasa yang menggugah perasaan seorang sufi, sehingga ia menyadari bahwa dirinya berada didalam kesesatan. Ibrahin bin Adham misalnya, diwirayatkan segera meninggalkan istana ayahandanya disaat berburu ia mendengar suara ebrulang-ulang kali yang memperingatkannya bahwa bukan untuk kehidupan mewah itu ia diiptakan, dengan suara “Bukan untuk itu kamu diciptakan, bukan untuk itu kamu diperintah” Dua kali suara itu ebrkata lantang dan pada kali ketiga suara datang dari bagian depan pelana kudanya, sehingga ibrahim bin adham ebrkata “Demi tuhan, aku tidak akan ingkar dari Tuhan sesudah ini , sepanjang Tuhanku selalu melindungiku dari dosa.”
Begitu pula ajaibnya Dzun nun Al Misri, seorang sufi mesir ternama, ketika ditanya tentang pengalaman tobatnya “apakah yang menyebakan dirimu bertobat:, jawab beliau “Pada suatu hari aku berjalan-jalan dan melihat seekor burung jatuh dari sangkarnya. Dalam hati aku berkata “betapa celakanya burung ini! Setelah aku berkata demikian, terlihat olehku tanah merekah kemudian tampaklah sebuah wadah seperti piring yang satu berisi makanan dan yang satu berisi air. Maka keduanya aku santap dan kemudian aku bertobat. Begitu Dzun Nun mengutarakan kisahnya.

Demikianlah sekilas mengenai tobat, semoga kita selalu diberikan Allah kesempatan untuk terus bertobat sebanyak-banyaknya sebelum nafas diambil dari tubuh ini.