Sabtu, 19 November 2011

Hb. Lutfi: Aliran Kejawen dan Tarekat

Tanya Jawab dengan Habib Lutfi,- Al Kisah

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Di Indonesia banyak sekali aliran yang bercorak kebatinan. Di antaranya tarekat dan aliran kebatinan Kejawen. Keduanya memang memiliki kesamaan, tapi di sisi lain juga berseberangan dalam banyak hal. Aliran Kejawen mengajarkan, salah satunya, tapa pendhem. Pelakunya ditanam layaknya orang meninggal. Mereka yang berhasil, konon bisa menjadi sakti, mengetahui peristiwa di tempat yang jauh, bisa menebak isi hati orang, dan Iain-Iain. Sebaliknya, aliran tarekat tidak mengajarkan kesaktian. Tarekat mengarahkan pengikutnya agar hatinya bersih, sabar, dan mencari kerelaan Tuhan semata. Jadi, meng¬ajarkan dan mengamalkan ajaran Islam dengan baik dan benar, sehingga orang itu menjadi beriman dan bertaqwa kepada Allah SWI
Pertanyaan saya, pertama, seandainya ke-dua aliran tersebut dipersandingkan, apakah Kejawen yang lebih unggul daripada tarekat, atau sebaliknya? Kedua, seandainya ada pengikut aliran ta¬rekat minta agar bisa sakti, bagaimana solusi-nya? Apakah harus bergabung dengan aliran Kejawen? Apakah Kejawen itu bisa dianggap ilmu hitam? Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Wa'alaikumussalam Wr. Wb.
Bagi pengikut tarekat, karamah (yang bagi orang lain bisa saja dianggap kesaktian - Red.) bukanlah tujuan. Karamah itu, bagi para kekasih Allah, tanpa diminta pun, Allah Taala akan memberinya. Itu bukan merupakan kebanggaan. Sekali lagi, itu bukan tuju¬an bagi para waliyullah. Kalau mereka diberi kelebihan yang luar biasa sebagainana di-anugerahkan kepada Syaikh Abdul Oadir Jailani, misalnya, itu semata-mata karena kekuasaan Allah. Bahkan mereka sebenarnya malu kepada Allah SWT apabila diberi ke¬lebihan yang luar biasa.

Kalau seseorang sudah dekat dan semakin dekat dengan Allah SWT, mungkin-kah ada ilmu yang bisa mengalahkan orang yang dekat kepada Sang Pencipta? Kami tidak bermak-sud mengatakan bahwa ilmu yang dipelajari dan di-amalkan dalam aliran Kejawen itu lebih rendah, tidak sama sekali. Tapi, sekali lagi, apakah orang yang sudah dekat benar kepada Allah SWT bisa dikalahkan?
Namun, ingat, orang yang tidak mempan ditembak atau dibacok itu belum tentu orang yang selalu melakukan pendekatan kepada Allah. Sebab, itu terkadang bisa menimbulkan kesombongan dan berakibat menjauhkan dirinya dari Allah SWT. Terkecuali orang-orang yang makrifatnya tinggi. Dia akan lebih memahami makna dan rahasia kebesaran ayat-ayat Allah. Jadi semua itu tergantung pada manusianya.
Tidak semua ilmu Kejawen itu beraliran hitam. Perlu diketahui, ilmu Kejawen dirintis oleh tokoh-tokoh ulama pada zaman Wall Sembilan dulu dan para ulama sesudahnya. Mereka itu mencari jalan untuk menerjemah-kan kitab-kitab fiqih dan kitab-kitab tasawuf, khususnya ke dalam bahasa Jawa. Maka kitab itu disebut kitab Kejawen, karena per alihan bahasa dari bahasa Arab ke dalam bahasa Jawa, baik yang Kawi maupun krama inggil. Misalnya,, kitab karya Kial Saleh Darat Semarang. Kitab Majmu' dan kitab Munjiyat, misalnya, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, sehingga sering disa-ahsangkai, disebut kitab Kejawen.
Penerjemahan kitab-kitab itu bermaksud memberi jembatan (pada waktu itu) bagi penganut agama pada waktu itu (zaman Wali Sembilan atau sesu¬dahnya) untuk memudah-kan memahami agama yang baru, yaitu Islam, dari agama sebelumnya. Para au/iya itu memberikan warna tersendiri dalam dunia ta¬sawuf, dan dari situlah muncul Kejawen. Misalkan orang bertapa, dalam Islam bertapa ini kemudian diganti de¬ngan khalwat, menyendiri. Dalam khalwatnya mereka selalu menjaga wudhu, dan tidak boleh melepaskan dzikir kepada Allah SWT.
Memang ada ilmu Keja¬wen yang bertujuan semata-mata mencari kesaktian,termasuk untuk pengobatan dan sebagainya. Ada pula ilmu Kejawen yang tumbuh terlepas dari ajaran Islam. Nah, dari sinilah kita harus pandai-pandai memilah da¬lam masalah ini.
Seperti contoh tapa pendhem, itu tidak ada di dalam Islam. Begitu juga dalam tarekat. Dalam Islam sudah ada aturan untuk puasa atau shiyam, yaitu puasa tidak makan dan minum serta tidak berhubungan suami-istri dari subuh hingga maghrib. Karena itu, kalau ada yang berkata bahwa tapa pen¬dhem dipercayai akan memberikan kesak¬tian, kita sebagai kaum muslim patut berhati-hati. Bisa-bisa itu adalah ulah setan. Jika kita percaya kepada kepercayaan semacam itu, dikhawatirkan kita akan jatuh pada kesyirikan.

Sufi Road: Tujuan Tasawuf adalah Mengenal Allah

Abdur Rauf Al Singkil
Sebagai seorang Salik, ia tidak menjauh dari kehidupan sosial-masyarakat dan menyepi di bukit-bukit. gunung-gunung, dan di hutan-hutan tapi meleburkan dlri dalam aktivitas sehari-hari bersama masyarakat.

Masih banyak masyarakat yang salah dan keliru dalam melihat tasawuf. Sehingga dalam benak mereka tasawuf itu lebih identik dengan keterbelakangan, kumuh. lusuh, miskin dan semacamnya. Itu karena tasawuf hanya dipahaminya sebatas dzikir, wiridan. puasa, 'uzlah, mistis, dan irrasional. Berbeda dengan pandangan tasawuf yang dikembangkan oleh Abd Rauf al-Sinkili, yang tidak hanya berupa dan berhubungan dengan hal-hal yang kumuh tersebut. Justru tasawuf yang benar adalah yang rasional, tidak kumuh, dan penuh optimisme dalam kehidupan.
Seorang sufi, kata Abd Rauf al-Sinkili, tidak harus menjauh dari kehidupan sosial-masyarakat dan menyepi di bukit-bukit gunung-gunung, dan di hutan-hutan, tapi seharusnya meleburkan diri dalam aktivitas sehari-hari bersama masyarakat. Mengatasi problema-problema yang dihadapi masyarakat baik yang bersifat sosial, politik, budaya, ekonomi maupun agama. Seorang sufi juga tidak hams lepas dari syari'at, tapi setiap gerak gerik dan perbuatan seorang salik harus sesuai dengan syari'at yang telah ditentukan dalam al-Qur'an dan hadis.

Nama lengkapnya adalah Abd Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Sinkili. la adalah seorang ulama besar Indonesia pada abad ke-17. Syaikh Abdul Rauf dilahirkan di Kabupaten Singkel, di wilayah pantai barat-laut Aceh. Tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti, tapi menurut Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra, yang mengutip dari Ringkes, setelah mengadakan kalkulasi ke masa lalu saat kembalinya Abd Rauf dari tanah Arab, Madinah, bahwa Abd Rauf al-Sinkili dilahirkan sekitar 1024 H/1615 M., lebih 100 tahun setelah kejatuhan Malaka dari tangan Portugis.

Al-Sinkili mendapatkan pendidikan pertama-nya langsung dari ayahnya, Syaikh Ali (al-Fansuri), seorang ulama yang mempunyai madrasah di Aceh. Di Serambi Makkah ini ia juga berguru kepada beberapa ulama besarseperti Syamsuddin al-Sumatrani (w. 1040 H./1630 M.).
Sementara untuk memperluas wawasan keilmuan dan pengetahuannya, al-Sinkili meninggalkan Aceh menuju Arabia seperti Yaman, Jeddah, Mekkah dan Madinah, pada 1052 H./ 1642 M. Selama 19 tahun di Arabia, ia belajar berbagai disiplin ilmu seperti syari'at fiqih. hadis, ilmu kalam dan tasawuf, tidak kurang dari 19 guru dan 27 ulama lainnya ia berguru kepada mereka yang mempunyai kontak dan hubungan pribadi. Di antara gurunya yang paling penting adalah Ibrahim ibn Abd Allah ibn Jam'an (w. 1083 H./1672 M). Kepadanya al-Sinkili mempelajari apa yang dinamakan ilmu ai-zhahir ( pengetahuan eksoteris), seperti hadis dan fiqih dan subyek-subyek lain yang terkait di Yaman.

Setelah menyelesaikan belajar di Yaman, al-Sinkili melanjutkan perjalanannya ke Jeddah, yartu ke Makkah dan terakhir ke Madinah. Di Madinah-lah al-Sinkili mendapatkan ilmu-ilmu bathin (pengetahuan esoteris). Dan, guru utamanya yang sangat mempengaruhi perjalanan spiritualnya adalah Syaikh Ahmad al-Qusyasyi. Diakuinya. bahwa karena berkat gurunya itulah dia kemudian boleh berbuat khidmat kepada tapak wali Allah yang kamil (sempuma) lagi mukamal (menyem-purnakan) (Azra.1999). Bahkan al-Qusyasyi kemudian mempercayai al-Sinkili sebagai pimpinan {khalifah) Tarekat Syathariyyah dan Qadiriyyah.

Setelah 19 tahun berada di Arabia, ia lalu memutuskan kembali ke Aceh sekitar 1661 M., yaitu setahun setelah al-Qusyasyi meninggal, dan mengajar di madrasahnya di Aceh. Banyak orang dari seluruh nusantara yang datang untuk berguru kepadanya. Di antara murid-muridnya yang menjadi ulama terkenal ialah Syaikh Burhanuddin Wafan dari Minangkabau, Abd al-Muhyi dari jawa Barat, Dawud al-Jawi al-Fansuri dan Ismail Agha Mushthafa Agha 'Ali al-Rumi dari Turki.
Sebagai ulama yang menguasai berbagai bidang ilmu keagamaan, Abd Rauf telah menghasilkan berbagai karyatulis (kitab) yang cukup besar di bidang agama, antara lain: fiqih, hadis, tasawuf, dan tafsir. Sedangkan di antara karya yang dihubungkan dengan al-Sinkili dalam bidang fiqih adalah Mir 'ah at-Tullab fi TashilMa 'rifah al-Ahkam asy-Syar 'iyyah Hal-Malikal-Wahhab (Cermin para Penuntut Ilmu, untuk Memudahkan Mengetahui Hukum-hukum Syari'at Tuhan) dalam bahasa Melayu. Karya ini ditulis atas permintaan Sultan Safiyyat al-Din, yang diselesaikan pada 1074 H./ 1663 M. Isi karya ini mengungkapkan tentang aspek muamalat, fiqih, termasuk sosial, politik, ekonomi, dan keagamaan umat Islam.

Prestasi lain dari al-Sinkili sebagai ulama besar, ternyata bukan hanya menulis untuk kaum Muslim awam mengenai ilmu-ilmu zahir (ibadah sehari-hari), tetapi juga untuk kalangan elit (al-khawwash) mengenai topik-topik yang berkaitan dengan ilmu-ilmu batin seperti kalam dan tasawuf. Dalam bidang terakhir inilah al-Sinkili lebih dikenal luas di kawasan Melayu.
Karya-karya al-Sinkili dalam bidang tasawuf adalah lebih banyak dibandingkan dengan karya-karya yang lain. Oman Fathurrahman mencatat sebanyak23 karya khusus dalam bidang tasawuf. Di antaranya adalah Umdah al-Muhtajin ila Suluk Maslak al-Mufarridin (Pijakan bagi Orang-orang yang Menempuh Jalan Tasawuf) dalam bahasa Melayu, Tanbih al-Masi afMansub ila Tariq al-Qusyasyiyy (Pedoman bagi Orang yang Menem¬puh Tarekat al-Qusyasyiyy) dalam bahasa Arab, dan Kifayat al-Muhtajin ila Masyrab al-Muwah-hidin al-Qa ilin bi Wahdat al-Wujud (Bekal bagi Orang-orang yang Membutuhkan Minuman Ahli Tauhid Penganut Wahdatuf Wujud), juga dalam bahasa Melayu.

Dalam kitab Kifayat al-Muhtajib ini, af-Sinkil banyak berkomentar dan menjelaskan mengenai konsep wahdat al wujud telah diperdebatkan oleh ulama-ulama sebelumnya. Dalam konteks ini al-Sinkili mempertahankan transendensi Tuhan atas ciptaan-Nya dan menolak pendapat Wujudiyyah yang menekankan imanensi Tuhan dalam ciptaan-Nya.
la berargumen, sebelum Tuhan menciptakan alam raya, Dia selalu memikirkan tentang diri-Nya sendiri, yang mengakibatkan terciptanya Nur Muhammad. Dan dari Nur Muhammad itulah Tuhan menciptakan pola-pofa dasar permanen (al-a'yun al-tsabitah), potensi alam raya. yang menjadi sumber pola-pola dasar (al-a’yubn-al-kharijiyyah), ciptaan dalam bentuk konkretnya. Al-Sinkili menyimpulkan, meskipun a'yun al-kharijiyyah merupakan pancaran-bayangan dari Wujud Mutlak, untuk masalah ini mereka berbeda dari Tuhan itu sendiri.


Wujud Yang Esa
Ajaran dan wajah tasawuf al-Sinkili berpijak pada konsep ke-Esa-an Tuhan atau Wahdat al-Wujud. Dalam pandangannyabahwasatu-satunya wujud adalah Allah {la ilaha ilia Allah), tidak ada wujud selain wujud Allah. Dengan kata lain, wujud dalam pengertian hakiki hanya al-Haq, segala sesuatu selain a/-Haqt\6ak memiliki wujud. Wujud selain al-Haq, yaitu alam raya dan isinya ini misalnya, hanyalah bayangan dari al-Haq, atau bayangan dari bayangan-Nya, bukan wujud-Nya.
Dengan demikian al-Sinkili menegaskan transendensi Tuhan atas makhluk-Nya. Transen-densi di sini menurutnya, bahwa alam -termasuk manusia di dalamnya - tidak memiliki wujud tersendiri, karena ia hanya merupakan bayangan Tuhan. Kehadiran bayangan itu tergantung pada ada dan tidak adanya bayangan. Oleh sebab itu, wujud hakiki yang sebenarnya adalah sumber bayangan tersebut berikut segala sifat yang melekat padanya. Menurut al-Sinkili yang juga mengutip perkataan Ibnu 'Arabi bahwa hakikat manusia adalah bayangan Allah, tidak lain dari itu (waa'yunina finafsial¬am ri dzilluhu la ghairuhu).

Dengan pandangannya bahwa alam adalah bayangan Allah, al-Sinkili menegas¬kan jika alam ini bukan benar-benar Dzat al-Haq, karena anggapan tersebut akan mem-batalkan status al-Haq sebagai Pencipta Alam Raya. Oleh sebab itu, al-Sinkili menyatakan sangat tidak mungkin jika Sang Pencipta menciptakan Dzat-Nya sendiri secara utuh.
Pandangan al-Sinkili bahwa alam merupakan bayangan Tuhan, secara implisit merupakan jawaban atas panda¬ngan kontroversial Hamzah Fansuri yang menganut konsep wujudiyyah. dan menekankan sisi persamaan dan penyatuan antara bayangan dengan benda aslinya. Menurut Hamzah Fansuri bahwa dirinya Itu, sungguh pun mendapatkan nama dan rupa, hakikat rupa dan namanya tidak ada. Seperti bayang-bayang dalam cermin, rupanya dan namanya ada, tapi hakikatnya tidak ada. Oleh karena itu, dirinya bersama-sama dengan Tuhannya, karena dirinya tidak terpisah dengan Tuhannya, dan Tuhan pun tidak terpisah dengan hamba-Nya.

Alasan al-Sinkili atas ketidaksetujuannya terhadap pandangan Hamzah Fansuri tersebut adalah berdasarkan ayat-ayat al-Qur'an yang menjelaskan bahwa tidak sekali pun Allah menciptakan Dzat-Nya sendiri. Melalui Nabi Muhammad SAW, Allah berkata: Qui Allahu khaliqukullisya'in (Katakanlah Hai Muhammad! Allah itu Pencipta segala sesuatu). Allah tidak mengatakan, misalnya, Qui Allahu khaliqu 'ainihi (Katakanlah! Allah adalah Pencipta Dzat-Nya sendiri).
Kalaupun ada, menurut al-Sinkili, orangyang mengatakan bahwa alam dan segala sesuatu itu adalah Dzat al-Haq, hal itu hanya berlaku pada zaman azali. Pada zaman azali itu segala sesuatu dihubungkan dengan wujud Allah, sehingga ia dapat dikatakan sebagai wujud, tapi bukan wujud
hakiki. karenayang hakiki di zaman azali pun hanya wujud Allah, yang lain hanya berada pada tingkat imkan al-wujud. yaitu kemungkinan wujud. Dengan demikian jika manusia. yang notabene bagian dari alam, benar-benar merupakan sama dan menyatu dengan Dzat Allah, seharusnya ia dapat mewujudkan apa saja yang dikehendaki dan dapat dilakukan dalam sekejap. seperti yang Allah tegaskan dalam al-Qur'an, Idza arada sya'an an yaqula lahukun fayakun (Apabila Allah menghen daki sesuatu. hanya berkata kepadanya. jadilah! Maka jadilah itu). Tapi kenyataannya manusia tidak mampu melaksanakan hal tersebut, karena kehendaknya tidak selalu seiring dengan kehendak Allah. Hal ini menjadi bukti bahwaalam, manusia, atau makhluk tidak identik dengan Allah atau al-Haq secara mutlak.

Meski begitu sebagai wujud yang tidak berdiri sendiri dan diciptakan melalui proses pemancaran (emanasi) dari Dzat Allah, maka keberadaan alam tidak berbeda secara mutlak juga dengan-Nya, karena alam bukan wujud keduayang benar-benar terpisah dari-Nya.
Al-hasil, menurutal-Sinkil, bahwa wujud alam ini tidak benar-benar berdiri sendiri, melainkah terjadi melalui pancaran, dan yang dimaksud dengan memancar adalah bagaikan memancarnya pengetahuan dari Allah. Seperti halnya alam ini bukan benar-benar Dzat al-Haq - karena ia merupakan wujud baru, alam juga tidak benar-benar lain dari-Nya. Manusia bukan wujud kedua yang berdiri sendiri di samping Allah. Alam juga bukan Dzat al-Haq secara mutlak, melainkan sekadar bayangan-Nya, atau bahkan bayangan dari bayangan-Nya, karena Tuhan adalah Dzat Yang Esa, tidak sesuatu yang menyertai-Nya, meskipun la menyertai segala sesuatu Menuju Yang Esa.

Cara untuk menuju kepada Sang Wujud sebagai satu-satunya Wujud, menurut al-Sinkili, adalah melalui jalan tarekat. Dalam konteks tasawuf, tarekat adalah jalan bagi orang yang melakukan jalan mistis (tasawuf), jalan yang ditempuh para sufi sebagai jalan yang berpangkal dari syari'at Karena antara syari'at dan hakikat ada keterkaitan yang sangat kuat. Syari'at adalah aturan atau hukum, sedangkan tarekat merupakan cara untuk melaksanakan aturan dan hukum Allah, tempat berpijak bagi setiap Muslim.

Sedangkan tujuan akhir bagi seorang sufi atau orang yang melakukan jalan mistis adalah mengenal Tuhan dengan sebenar-benarnya, memperoleh cita makrifat pada alam ghaib dan mendapatkan penghayatan langsung pada Dzat Allah. Jadi, makrifat merupakan tahap akhir bagi seorang salik setelah syari'at, tarekat, dan hakikat.
Tarekat yang dipraktikkan al-Sinkili dapat dikelompokkan dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah penyucian hati. Penyucian hati, sebagai tahap pertama, menurutal-Sinkili, harus ditempuh melalui sepuluh martabat, yang dalam setiap martabatnya terdiri atas sepuluh martabat, sehingga seluruhnya berjumlah seratus martabat. Seluruh martabat dimaksud pada dasarnya mengandungajaran untuk mawasdiri, penguasaan dan pengendalian hawa nafsu, membersihkan hati dari ikatan dan pengaruh duniawi, serta penyera-han diri secara total kepada Allah SWT.
Dalam tahap pertama ini, al-Sinkili menekankan agar mereka yang menempuh jalan mistis menjalankan seluruh martabat tersebut, mulai dari martabat pertama, al-yaqzan (bangun atau sadar) hingga martabat terakhir, yakni martabat tawhid (mengesakan Allah). Dalam pelaksanaannya, para pelaku mistis dianjurkan untuk selalu memohon kepada Allah agar mampu melewati jalan yang sangat berat tersebut. Dan yang paling penting adalah agar mereka tidak berpaling kepada selain Allah selama menjalaninya, karena hal tersebut akan menjadi penghalang (hijab) untuk mencapai tujuan akhir yaitu makrifat.

Tahap kedua jenjang tarekat adalah konsentrasi dalam dzikir, yaitu memusatkan seluruh kesadaran dan pikiran dalam merenungkan keindahan wajah Tuhan dengan penuh kerinduan. Menurut al-Sinkili, dzikir merupakan cara paling efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah, paling mudah dilakukan, dan paling baik di hadapan Allah. Dzikir dianggap sebagai pintu gerbang utama untuk mencapai penghayatan makrifat pada al-Haq. Untuk itu dalam ajaran tasawuf. terutama setelah munculnya berbagai tarekat. tata cara dzikir beserta aturan-aturan wiridnya memegang peranan sentral dan menjadi ciri pembeda antara satu tarekat dengan tarekat-tarekat yang lain.
Bacaan dzikiryangdianjurkan al-Sinkili selama menjalankan jalan mistis adalah bacaan tahlil, la ilaha ilia Allah, Tidak ada Tuhan selain Allah. Bacaan ini agar diamalkan secara kontinyu dan menenggelamkan hati di dalamnya hingga merasakan manfaat dan buahnya yang tak terbatas.
Salah satu manfaat dari mengamalkan dzikir secara kontinyu, menurut al-Sinkili, adalah dapat membentuk akhlak atau moral yang baik dan menimbulkan kemuliaan. Dari manfaat yang pertama, akan lahir sifat zuhud, yakni hilangnya kecenderungan hati terhadap materi sebagai sesuatu yang bersifat nisbi, dan lenyapnya ketergantungan kepada selain Allah. Sedangkan manfaat yang kedua, akan diberkatinya berbagai kebutuhan, seperti makanan, pakaian dan lain sebagainya, sehingga yang sedikit dan sederhana pun akan selalu menjadi cukup dan penuh keberkahan dalam hidup ini.
Sedangkan tujuan tertinggi dari dzikir, menurut al-Sinkili, adalah dapat diperoleh keyakinan mutlak akan ke-Esaan Allah dan tenggelam dalam diri-Nya, sehingga wujud hamba menjadi hilang dan kembali menjadi tiada. Maka tibalah saatnya penghalang (hi/'ab) yang terbentang antara hamba dengan-Nya menjadi hilang.

Jika seorang hamba telah mampu mencapai tingkat ini, berarti ia telah sampai kepada akhir perjalanannya kepada Allah, karena berarti ia telah sampai kepada tawhid, Dzat yang merupakan tawhidtertlngg\ di antara em pat tingkatan tawhid, yaitu tawhid uluhiyyah (mengesakan ketuhanan Allah), tawhid af'aliyah (mengesakan perbuatan Allah), tawhidsifaX (mengesakan sifat-sifat Allah), dan tawhid Dzatiyah (mengesakan Dzat Allah).
Tahap yangterakhir dan merupakan tingkatan tarekat peleburan diri {fana) ke dalam Allah, yaitu proses terbentuknya tabir penyekat alam ghaib, atau proses mendapat penerangan dari yang ghaib sebagai hasil meditasi atau dzikir. Peleburan diri tersebut, menurut al-Sinkili, adalah terdiri atas beberapa tingkatan. Tingkatan yang paling tinggi adalah ketika dzikir yang diucapkan telah menetap dalam hati, telah hilang dan samar, serta hamba yang mengucapkan dzikir pun tidak ingat lagi akan dzikirnya bahkan tidak ingat akan hatinya sendiri, maka itulah yang dinamakan fana'dalam arti sesungguhnya. Dalam tingkatan ini, seseorang telah benar-benar fana'dari dirinya, ia tidak merasakan lagi seluruh lahiriyah dan batiniyah panca inderanya, serta tidak merasakan segala sesuatu di sekelilingnya. la pergi menuju Tuhannya, dan kemudian berada di dalam-Nya.
Lebih jauh, al-Sinkili mengatakan bahwa fana' dalam arti sesungguhnya adalah kemampuan seorang hamba memandang bahwa Allah berada pada segala sesuatu. Fana' adalah martabat penggabungan yang tertinggi, di dalamnya tidak ada nama, tulisan, ungkapan maupun isyarat. Fana' adalah martabat orang yang mampu mendengardan memandang melalui al-Haq. Dan, fana 'tertinggi sekalipun hanya merupakan sarana dan langkah pertama menuju Allah SWT, karena setelah itu ada yang lebih diharapkan, yakni petunjuk-Nya.
Al-Sinkili meninggal dunia pada tahun 1693 di usia 73 tahun. Beliau dimakamkan di samping makam Teungku Ajong yang dianggap paling karamat di Aceh, dekat Kuala Sungai Aceh. Di Aceh ia dikenal dengan sebutan Teungku di Kuala. Berkat kemasyhurannya itu nama Abd Rauf al-Sinkili kemu-dian diabadikan menjadi sebuah nama perguruan tinggi di Aceh, yaitu Universitas Syiah Kuala. Wallahu a'lam bi al-shawab

Q Humaidi AS: Cahaya Sufi

Riyadhus Shalihin : Keutamaan SHolat Malam


1. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata : “Nabi saw, berdiri salat malam, hingga pecah-pecah kedua telapak kaki beliau. Saya bertanya kepada beliau : “Untuk apakah engkau berbuat ini, wahai Rasulullah, sedangkan engkau telah benar-benar diampunidosa-dosamu yang telah lewat dan yang akan datang?” Rasulullah saw, bersabda : “tak bolehkan aku menjadi hamba yang banyak bersyukur.”(H.R Bukhari dan Muslim)

2. Dari Al Mughirah, seperti hadis tersebut di atas, yang juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim
3. Dari Ali ra, bahwasanya pada suatu malam ketika ia tidur bersama Fatimah, tiba-tiba Nabi saw, mengetuk pintu serta bersabda : “Kenapa kalian tidak mengerjakan salat?”(H.R Bukhari dan Muslim)

4. Dari Salim bin Abdullah bin Umar bin Khaththab ra, dari ayahnya dari Nabi saw, bersabda : “Sebai-baik orang adalah Abdullah, seandainya ia suka mengerjakan salat malam.” Salim berkata : “Maka sesudah itu Abdullah hanya tidur sebentar pada waktu malam.”(H.R Bukhari dan Muslim)
5. Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, ia berkata Rasulullah saw, bersabda : “Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti si Fulan di mana dia bangun pada waktu malam, tetapi tidak mau mengerjakan salat sunnat pada waktu malam.”(H.R Bukhari dan Muslim)

6. Dari Ibnu Mas`ud ra, ia berkata : “Pernah di hadapan Nabi saw. Diceritakan tentang seseorang yang tidur pada waktu malam sampai pagi (tidak bangun pada waktu malam), kemudian beliau bersabda : “Itu adalah orang yang kedua di telinganya dikencingi oleh setan.” Atau beliau bersabda : “Di telinganya.”(H.R Bukhari dan Muslim)
7. Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw. Bersabda :
“Setan mengikat tengkuk kepala salah seorang di antara kalian sewaktu tidur dengan tiga ikatan. Pada masing-masing ikatan itu setan berkata : “Tidurlah lagi, malam masih panjang.” Apa bila orang itu bangun kemudian zikir kepada Allah Ta`ala maka lepaslah satu ikatan. Apabila ia berwudhu, maka lepaslah satu ikatan lagi. Dan apabila ia salat, maka lepaslah semua ikatan itu, sehingga pada waktu pagi ia akan
tangkas dan tenang jiwanya, sedang kalau tidak, maka ia akan lesu dan malas.”(H.R Bukhari dan Muslim)

8. Dari Abdullah bin Salam ra, bahwasanya Nabi saw, bersabda :
“Wahai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam, berikanlah makanan, dan salatlah kalian pada waktu mala sewaktu manusia sedang tidur, niscaya kamu sekalian akan masuk
surga dengan selamat.” (H.R Turmudzi)

9. Dari Abu Jurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda :
“Puasa yang paling utama selain puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram dan salat yang paling utama sesudah salat fardhu adalah salat malam (Tahajjud)(H.R
Muslim)

10. Dari Ibnu Umar ra, bahwasanya Nabi saw. bersabda :
“Salat malam itu dua rakaat. Apabila kamu khawatir kedahuluan Subuh ,maka witirlah dengan satu rakaat.”(H.R Bukhari dan Muslim)
11. Dari Ibnu Umar ra, ia berkata : “Adalah Nabi saw. melakukan salat malam dua rakaat dan salat witir dengan satu rakaat.”(H.R Bukhari dan Muslim)
12. Dari Anas ra, ia berkata : “Rasulullah saw, sering berbuka (tidak puasa) dalam suatu bulan, sehinggga kami menyangka beliau tidak pernah puasa dalam bulan itu, dan
beliau sering berpuasa, sehingga kami menyangka beliautidak pernah berbuka sedikitpun dalam bulan itu. Demikian pula apabila kamu melihat beliau salat pada waktu malam, niscaya kamu dapat melihatnya, dan apabila kamu ingin melihat beliau tidur niscaya kamu dapat melihatnya.”(H.R Bukhari)

13. Dari ‘Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw, biasa salat sebelas rakaat pada waktu malam, di mana dalam setiap beliau sujud, lamanya kira-kira sama dengan seorang membaca lima puluh ayat, dan itu beliau belum mengangkat kepala. Beliau salat dua rakaat sebelum salat Subuh, kemudian beliau berbaring pada pinggang kanannya, sehingga muazin mengumandangkan iqamat untuk salat Subuh.”(H.R Bukhari)

14. Dari ‘Aisyah ra, ia berkata : “Rasulullah saw, tidak pernah salat malam lebih dari sebelas rakaat baik itu pada bulan Ramadhan maupun pada bulan lainnya, di mana beliau salat empat rakaat yang cukup lama dan sempurna, kemudian beliau salat empat rakaat yang sama lama dan sempurna khusuknya, kemudia beliau salat tiga rakaat. Saya
bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak tidur sebelum salat Witir?” Beliau menjawab : “Wahai ‘Aisyah sesungguhnya kedua mataku terpejam, tetapi hatiku tidak
tidur.”(H.R Bukhari dan Muslim)

15. Dari ‘Aisyah ra, bahwasanya Nabi saw, biasa tidur pada permulaan malam dan bangun pada akhir malam, kemudian mengerjakan salat.”(H.R Bukhari dan Muslim)
16. Dari Ibnu Mas`ud ra, ia berkata : “pada suatu malam saya salat bersama-sama dengan Nabi saw, dan beliau lama sekali berdiri sehingga timbul niat yang tidak baik dalam diri saya.” Ada seorang yang menanyakan : “Niat apakah itu?” ia menjawab : “Saya bermaksud ingin duduk dan meninggalkan salat bersama beliau.”(H.R Bukhari dan Muslim)
17. Dari Hudzaifah ra, ia berkata : “Pada suatu malam saya salat dengan Nabi saw, setelah membaca Al Fatihah, beliau membaca surat Al Baqarah , dalam hati saya berkata : “mungkin beliau akan rukuk setelah mendapat seratus ayat.”
Setelah beliau mendapat seratus ayat, beliau melanjutkan bacaannya, maka dalam hati saya berkata: “Mungkin beliau akan mengkhatamkan (menghabiskan) surat Al Baqarah
dalam satu rakaat.” Selesai membaca surat Al Baqarah, dalam hati saya berkata : “Sekarang mungkin beliau akan melakukan rukuk.” Tetapi beliau mulai membaca surat An
Nisa’ dan dibacanya samapi selesai, kemudian beliau membaca surat Ali Imran dengan sangat hati-hati dan jelas.Apabila beliau membaca ayat yang di dalamnya ada perintah
tasbih, maka beliau membaca tasbih. Apabila beliau membaca ayat yang di dalamnya ada perintah untuk memohon, maka beliau memohon. Apabila beliau membaca ayat yang di
dalamnya ada perintah untuk berlindung diri, maka beliau berlindung diri. Kemudian beliau ruku dengan membaca: SUBHAANA RABBIYAL ‘AZHIIM, lamanya rukuk hampir sama
dengan lamanya berdiri. Kemudian beliau membaca :SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANAA LAKAL HAMDU. Kemudian beliau berdiri yang lamanya hampir sama dengan lamanya rukuk, kemudian sujud dan membaca : SUBHAANA RABBIYAL A’LAA. Lamanya sujud hampir sama dengan lamanya berdiri.”(H.R Muslim)

18. Dari Jabir ra, ia berkata : Rasulullah saw, pernah ditanya: “manakah yang paling utama di dalam salat?” Beliau menjawab : “Lamanya berdiri.”(H.R Muslim)
19. Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash ra, bahwasanya Rasulullah saw, bersabda : “Salat yang paling disenangi oleh Allah adalah cara salatnya Nabi Dawud, dan puasa yang paling disenangi oleh Allah adalah cara puasanya Nabi Dawud, dimana beliau tidur setengah malam dan bangun pada sepertiganya serta tidur seperenam malam, beliau puasa sehari dan berbuka sehari.” (H.R Bukhari dan Muslim)
20. Dari Jabir ra, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah saw, bersabda : “Sesungguhnya pada waktu malam terdapat satu saat, apabila seorang muslim memohon kebaikan kepada Allah Ta’ala baik berkaitan dengan urusan dunia maupun akhirat, niscaya Allah mengabulkan permohonannya. Dan saat yang demikian itu ada pada setiap malam.” (H.R Muslim)

21. Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi saw., bersabda : “Apabila salah seorang di antara kalian mengerjakan salat pada waktu malam hendaklah ia memulainya dengan dua
rakaat yang ringan. ”(H.RMuslim)
22. Dari ‘Aisyah ra, ia berkata : “Apabila Rasulullah saw, mengerjakan salat pada waktu malam, beliau memulainya dengan dua rakaat yang ringan.”( H.R Muslim)
23. Dari ‘Aisyah ra, ia berkata : “Apabila Rasulullah saw, tidak dapat mengerjakan salat pada waktu malam karena sakit atau karena sesuatu yang lain, maka beliau
mengerjakan salat sebelas rakaat pada waktu siang.”(H.R Muslim)

24. Dari Umar bin Khaththab ra, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda : “Barangsiapa tertidur tidak mengerjakan kebiasanya atau melaksanakannya antara salat Subuh dan
Dhuhur, maka dicatatkan baginya seolah-olah ia membaca atau melaksanakannya pada waktu malam.”(H.R Muslim)
25. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda : “Allah sangat mengasihani orang laki-laki yang bangun pada waktu malam, kemudian mengerjakan salat dan mau membangunkan istrinya.. Apabila istrinya enggan bangun, maka ia menyiramkan air pada muka istrinya itu.Allah sangat mengasihani seorang perempuan yang bangun
pada waktu malam, kemudian mengerjakan salat dan mau membangunkan suaminya. Apabila suaminya enggan bangun, maka ia menyiramkan air pada muka suaminya itu.”(H.R Abu
Dawud)
26. Dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id ra, mereka berkata :
Rasululllah saw, bersabda : “Apabila seorang laki-laki membangunkan istrinya pada waktu malam, kemudian keduanya salat dua rakaat, maka masing-masing dicatat dalam glongan orang-orang yang selalu zikir kepada Allah
Ta’ala .”
27. Dari ‘Aisyah ra, bahwasanya Nabi saw, bersabda :
“Apabila salah seorang di antara kalian mengantuk dalam mengerjakan salat, maka hendaklah ia tidur sehingga rasa kantuknya hilang. Sebab, jika salat sambil mengantuk, bisa jadi ia bermaksud memohon ampun tetapi malah mengutuk

Sufi Road : Hadit Arba'in (7)

Hadits Ketujuh
Dari Abu Ruqoyah Tamim Ad Daari radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah
shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Agama adalah nasehat, kami berkata: Kepada siapa? Beliau bersabda: Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya dan kepada pemimpan kaum muslimin dan rakyatnya.(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Kandungan Hadits:
1. Agama Islam berdiri tegak di atas upaya saling menasihati, maka harus selalu saling menasihati di antara masing-masing individu muslim.
2. Nasihat wajib dilakukan sesuai kemampuan.
-----------------------------------------------------------------------
1. Nasehat adalah: ungkapan yang menyeluruh berupa keinginan yang mencakup semua
kebaikan.
2. Yang dimaksud adalah bahwa nasehat merupakan penopang agama.
3.Yang dimaksud dengan nasehat kepada Allah adalah beriman kepada-Nya, tidak
menyekutukan-Nya, mensucikannya dari segala kekurangan, ta’at kepada-Nya dan tidak
bermaksiat kepada-Nya. Nasehat kepada Rasul-Nya adalah membenarkan risalahnya,
berima

Sufi Road : Ilmu dan Belajar

Banyak sekali dalil atas ilmu yang terdapat di dalam Al Qur'an, diantaranya Allah telah berfirman, "niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". (QS. AI Mujadilah : 11). Sebagaimana Ibnu Abbas pemah mengatakan bahwa sesungguhnya para ulama' mempunyai derajat-derajat diatas orang-orang mukmin sebanyak 700 derajat yang jarak antara dua derajatnya adalah perjalanan 500 tahun.
Allah S WT berfirman: "Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?". (QS. Az Zumar; 9).
Allah SWT juga berfirman : "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama". (QS. Fathir: 28) Allah SWT juga berfirman : "Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untukmanusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu ". (QS. AI Ankabut: 43)
Bersabda RasuluIIah Saw, "Para ulama adalah pewarispara Nabi". Rasulullah Saw, juga pernah bersabda, "Manusia yang paling utama adalah orang mukmin yang alim serta bermanfaat jika dibutuhkan. Jika ia tidak dibutuhkan, maka ia pun mencukupi dirinya,\ Rasulullah bersabda pala, "Imam itu telanjang, serta pakaiannya adalah taqwa, perhiasannya ialah rasa malu, serta buahnya adalah ilmu ". Rasulullah Saw telah bersabda, "Manusia yang terdekat dari derajat kenabian adalah ahlii ilmu serta ahli jihad. Adapun ahli ilmu maka disebakan ia telah menmjukkan kepada orang-orang tentang agama yang dibawa oleh para Rasui Adapun ahli jihad, maka mereka berjlhad dengan pedang-pedang mereka untuk membela agama-agama yang dibawa oleh para Rasul".
Rasulullah telah bersabda, "Orang alim itu ialah orang kepercayaan Allah dibumi-Nya"
Bersabda Rasulullah Saw, "Pada hari kiamat nanti yang akan memberi syafa 'at adalah Nabi-nabi, kemudian para ulama, lalu para syuhada ".

Berkata Fath Mushili, "Bukankah orang sakit itu bila dilarang makan dan minum serta berobat akan mati?". Orang-orang berkata "Ya”, Kemudian Fath Mushili berkata, "Begitu pula hati. Apabila ia tidak dibe hikmah serta ilmu selama tiga hari, maka ia pun ia telah berkata benar sebab hidangan hati ialah serta hikmah, serta dengan demikian ia hidup sebagaimana hidangan tubuh ialah makanan serta minuman".
Barang siapa yang hatinya sakit serta mati, sesungguhnya ia telah kehilangan ilmu, ia tidak menyadarinya, sebab kesibukan dunia telah melumpuhkan perasaannya. Jika mengungkapkan kesibukan-kesibukan itu darinya, maka ia pun telah merasakan kepedihan yang sangat serta mengalami penyesalan yang tiada akhir. Itulah makna diantara sabda Rasulullah Saw., "Manusia itu tidur (laiai), maka kalau ia mati barulah mereka bangun (sadar) ".
Adapun yang dimaksud dengan keutamaan ilmu seperti yang ditunjukkan oleh sabda Rasulullah Saw., "Sesungguhnya para malaikat telah merendahkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu, sebab ridla dengan apa yang dilakukannya". Rasulullah juga bersabda, "Kepergianmu untuk belajar satu bab ilmu lebih baik daripada shaiatmu sebanyak 100 rakaat".

Berkata Abu Darda Barangsiapa berpendapat bahwa bepergjan untuk belajar ilmu bukan merupakan jihad, maka iapun telah mengalami kekurangan dalam pendapat serta akalnya". Adapun keutamaan pengajaran, maka hal tersebut ditunjukkan oleh finnan SWT., yang artinya : uDan (ingatlah) ketika Allah mengambil dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu), hendaklah kamu menerangkan tentang isi kitab kepada manusia, serta jangan kamu menyembunyikannya". (QS. Ali Imron ay at 187). Rasulullah ketika membaca ayat ini juga bersabda, "Tidaklah Allah membenci ilmu kepada orang alim, melainkan Dia mengambil janji darinya sebagaimana Dia mengambil janji dari Nabi-Nabi supaya kamu menerangkannya serta tidaklah menyembunyikannya".
Rasulullah Saw. ketika mengutus Mu’az juga bersabda, "Petunjuk yang diberikan Allah kepada seseorang dengan perantaraanmu lebih baik bagimu daripada dunia dan serta segala isinya ". Umar ra. berkata, "Barang siapa yang menceritakan sebuah hadits, kemudian diamalkannya, sesungguhnya ia telah mendapat pahala seperti pahala amal tersebut".
Mengenai pengajaran serta belajar ilmu dan meriwayatkannya secara marfuk Mu'adz bin Jabal berkata, "Belajarlah ilmu, sebab mempelajari ilmu karena Allah adalah kebaikan serta menuntut ilmu adalah ibadah, pengkajrannya ialah seperti tasbih, penyelidikannya seperti jihad, pengajarannya adalah sedekah disertai pemberiannya kepada ahlinya ialah pendekatan diri kepada Allah. Ilmu adalah penghibur di kala kesepian, menjadi kawan dikala menyendiri serta menjadi petunjuk di kala senang dan susah, ia adalah pembantu serta teman yang baik danpenerang jalan ke surga".
Allah akan mengangkat derajat orang-orang dengan ilmu, kemudian menjadikan mereka dalam kebaikan seperti pimpinan dan pemberi petunjuk yang diikuti, petunjuk di dalam kebaikan, jejak mereka diikuti serta perbuatan-perbuatan mereka diamalkan.
Para malaikat ingin menghiasi mereka serta mengusap mereka dengan sayap-sayapnya. Setiap benda yang basah dan yang kering bertasbih bagi mereka serta memohon ampun bagi mereka, bahkan ikan-ikan di lautan serta binatang-binatangnya, hewan-hewan buas serta temak di darat dan dan bintang di langit. Karena ilmu menghidupkan hati serta menerangi pandangan yang gelap dan menguatkan badan yang lemah. Dengan ilmu hamba mencapai kedudukan orang-orang yang shaleh serta derajat yang tinggi. Memikirkan ilmu sama halnya puasa serta mengkaji ilmu sama dengan shalat malam. Dengan ilmu Allah ditaati serta disembah dan diEsakan. Dengan ilmu.manusia berhati-hati dalam mengamalkan agama serta memelihara hubungan. kekeluargaan. Ilmu ialah pemimpin serta amal adalat pengikutnya. Orang yang mendaapt ilmu adalah orang yang bahagia, sedangkan orang yang tidak mendapatkannya adalahorang yang sengsara.

Dari segi rasio, sudah jelas bahwa ilmu tersebut sesuatu yang utama sebab dengan ilmu manusia sampai kepada Allah SWT. serta menjadikan, dekat denganNya. ia pun mendapatkan kebahagiaan yang abadi dan kenikmatan yang kekal. Ilmu menyebabkan kemuliaan di duni dan akhirat,dunia adalah tanaman akhirat,maka orang alim dengan ilmunya menanam bagi dirinya kebahagiaan abadi dengan mendidik akhlaknya sesuai dengan tuntutan ilmu. Barangkali pula dengan pengajaran ia telah menanamkan kebahagiaan yang abadi sebab ia telah menjadi akhlaq orang-orang lain serta menyuruh kepada mereka perbuatan yang mendekatkan mereka kepada Allah SWT. "Serulah (manusia) kepada Tuhanmu dengan hikmah serta dengan pelajaran yang baik , serta bantahlah mereka dengan jalan yang baik". (QS. An Nahl: 125)
Ia menyeru orang-orang Khawas dengarf hikmat serta menyeru orang-orang awam dengan nasehat-nasehat dan para pembangkang dengan bantahan. Maka menyelamatkan dirinya dan orang lain serta inilah kesempurnaan manusia.

*disarikan dari kitab Ikhya Ulumuddin

Kamis, 17 November 2011

Sufi Road: Hati yang Malu

Suatu hari, demikian dikisahkan, seorang lelaki mendatangi Imam Hambali (780-855). Ia lelaki yang banyak bergelimang maksiat. Tiba-tiba ia datang ke majelis pengajian Imam Hambali untuk menceritakan mimpinya.

Dalam mimpi itu, kata lelaki itu, ia merasa tengah berada dalam kerumunan manusia yang ada di hadapan Rasulullah SAW. Rasul tampak berada di tempat yang agak tinggi. Satu per satu, orang-orang mendatangi Rasul dan berkata, "Doakan saya ya Rasulullah." Rasul pun mendoakan orang-orang itu. "Akhirnya tinggal aku sendiri," kata lelaki yang menceritakan mimpinya itu. "Aku pun sangat ingin
mendatangi beliau, tapi aku malu atas berbagai maksiat yang telah kulakukan. Rasul lalu berkata,"Mengapa kau tidak datang kepadaku dan minta kudoakan?" "Wahai Rasulullah," kata lelaki itu, "Aku terhalang oleh rasa malu akibat perbuatan-perbuatan burukku di masa lalu." "Kalau engkau merasa terhalang oleh rasa malu, berdirilah dan mintalah agar aku mendoakanmu. Bukankah engkau tak pernah menghina para sahabatku," jawab Rasul dalam mimpi tersebut.

Itu hanya sebuah kisah kecil dari pergulatan panjang umat manusia meninggalkan kemaksiatan untuk hijrah ke bumi kebaikan. Perjumpaan serta dialog dengan Rasul pun hanya ada dalam mimpi, bukan dalam kenyataan. Mimpi bukanlah dasar yang kukuh untuk dijadikan pegangan, walau para pecinta sejati Rasulullah meyakini bahwa mimpi bertemu Rasulullah adalah sama dengan pertemuan yang sebenarnya, dan mimpi seperti itu hanya mungkin dialami oleh mereka yang mendapat syafaat.

Tapi Imam Hambali menghargai keterangan lelaki pendosa tersebut. Laki-laki itu punya rasa malu atas perbuatan-perbuatan buruknya. Rasa malu itu yang mencegahnya terperosok semakin dalam ke jurang kemaksiatan, dan malah mengangkatnya ke dataran kebaikan. Mimpi itu adalah jalan yang mengantarkannya menuju pertobatan dengan menemui Imam Hambali. Maka, Imam Hambali pun berkata pada lelaki itu untuk menyebarkan kisah tersebut agar memberi kemanfaatan pada orang-orang lain.

Di dalam perjalanan manusia sebagai hamba untuk mendekat pada Sang Kekasih, Allah Azza Wajalla, rasa malu baru merupakan tangga yang pertama. Masih sangat jauh dari perwujudan rasa cinta yang semestinya. Tapi, apa yang membuat kita dapat mencapai tangga ke-99 bila tangga pertama pun kita tak sanggup menapakinya? Bukankah kita tak melupakan petunjuk Rasulullah bahwa "Malu adalah sebagian dari iman."

Rasul sekalipun menggenggam rasa malu di hadapan Allah Sang Maha Penyayang. Setidaknya itu tercetus dalam kisah Mi'raj, saat Muhammad SAW menerima perintah secara langsung agar umatnya menegakkan salat. Konon, mula-mula Allah memerintahkan salat 50 kali dalam sehari. Rasulullah sempat menyanggupi, namun Rasul lain yang ditemui dalam perjalanan gaib tersebut mengingatkannya bahwa tugas itu terlalu berat bagi umat Muhammad.

Rasul pun meminta keringanan sehingga tugas diturunkan lima kali. Masih terlalu berat, Rasul meminta keringanan lagi. Demikian terus-menerus hingga kewajiban salat hanya lima kali sehari. Saat itu, Muhammad SAW diingatkan bahwa lima kali sehari masih terlampau berat. Namun, Rasul telah malu hati untuk kembali mengajukan keringanan pada Allah SWT.

Hanya Allah yang Mahatahu seberapa benar kisah tersebut, tapi kisah itu telah menunjukkan peran malu dalam kehidupan ruhaniah Rasul. Punyakah kita rasa malu karena mengabaikan salat? Malukah kita karena hanya punya sedikit tabungan kebaikan dalam kehidupan ini.

Allah menyaksikan setiap langkah kita. Maka semestinya kita malu berbuat hal yang mubazir, apalagi maksiat, di hadapan-Nya. Semestinya kita malu tak cukup beribadah kepada-Nya. Semestinya kita malu bila tidak berkerja keras menyelesaikan amanat-masing-masing.

Semestinya kita malu tidak mensyukuri nikmat, menuntut kenaikan gaji dengan mengumpat-umpat bukan dengan meningkatkan kualitas kerja sendiri. Semestinya kita malu bila menjadi atasan tak mampu mengangkat nasib bawahan, dan sebagai pemimpin gagal menyejahterakan rakyat yang kita pimpin. Lazimnya, kita hanya malu untuk urusan duniawi di hadapan manusia lain, bukan urusan kebaikan di hadapan Tuhan.

Tokoh sufi Rabi'ah Al-Adawiyah juga mengungkapkan rasa malunya. Suatu saat, ia ditanya mengapa tidak minta pertolongan materi dari sahabat-sahabatnya. Rabi'ah menjawab tenang. "Aku malu kalau harus minta materi pada Allah, padahal Dialah pemilik segala materi. Apakah aku harus minta materi pada orang yang jelas bukan pemilik materi itu."

Suatu doa acap dikumandangkan sebagai pujian di lingkungan pesantren. "Tuhanku, aku merasa tak pantas untuk mendapat surga-Mu. Tapi akupun tak sanggup menanggung azab neraka-Mu. Maka terimalah tobatku, maafkan segala dosaku. Sungguh Engkau adalah Pengampun Yang Maha Besar."

Rasa malu telah membuat seorang wali Allah memanjatkan doa itu. Tidakkah kita malu bila tak mengikuti jalan yang telah ditempuh Rasulullah dan para wali Allah untuk menuju ke haribaan-Nya.

>>(zaim uchrowi)

Rabu, 16 November 2011

Sufi Road: Sholawat Al Mughniyah


Sholawat Al Mughniyah ini adalah sholawat yang dimintakan dan diberikan oleh As Syeikh Al Qutb Ibnu 'Atha' Allah Al Iskandari. Menurut beliau As syeikh Ibnu Athai-Allah Sholawat ini berfadhilah untuk segala keperluan dan segala hajat. Untuk hal itu maka mintakanlah dan ebrikanlah sholawat ini untuk Rasulullah Shollallahu 'Alaihi Wasallam 100x sampai 1000x
Selain itu fadhilahnya dapat memimpikan Rasulullah, baka berikanlah sholawat ini kepada beliau sebanyak 1000x, dan jika seseorang telah diberi Allah taufiq untuk memberikan sholawat ini setiap harinya 1000x, maka sudah pasti dia akan diperkayakan Allah selama masa hidupnya dan untuk selama-lamanya di dunia dan akherat dia akan dicintai oleh semua makhluk. banyak fahilah lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Dinukil dari Kitab Sa’adatud-darain Fis Shalati ’ala Sayyidil Kaunai – As-Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani , oleh Al Habib Muhammad bin Ali Al-Syihab