Tampilkan postingan dengan label Hikmah Spiritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah Spiritual. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Oktober 2012

Jalinlah Ikatan Suci Dengan Kaum Sholihin

Tausiyyah  al-Habib Umar bin Hafidz

Janganlah kalian mensia-siakan persahabatan dengan orang mulia, iaitu orang-orang yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah Ta’ala dan RasulNya. Mereka adalah orang-orang yang cahayanya berkilauan. Sinarnya bergemerlapan. Demi Allah …. memisahkan diri dari mereka merupakan suatu kerugian yang sangat besar.

Tidakkah kalain fikir, kerugian tersebut disebutkan oleh pemimpin dari segala pemimpin, iaitu Baginda Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم. Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم telah bersabda (maksudnya): Celakalah bagi orang yang tidak melihatku pada hari qiamat.

Sesungguhnya orang yang tidak melihat kaum sholihin tidak akan bisa melihat Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم. Orang yang tidak memandang mereka, tidak akan bisa memandang Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم. Dan orang yang tidak menjalin hubungan dengan mereka tidak akan bisa berhubungan dengan Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم.

Ketahuilah, bahwa kaum sholihin adalah bahagian dari Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم. Mereka adalah pewaris Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم. Mereka adalah khalifah Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم. Mereka adalah pemegang sirr Baginda Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم. Mereka adalah pemegang sirr setelah kewafatan Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم.

Mereka adalah pewaris rahasia an-Nabawiyyah sepeninggalan Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Mereka adalah semulia-mulia perwaris Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Di antara mereka adalah al-Imam al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alwi bin Muhammad al-Haddad رضي الله عنه yang telah disifatkan oleh al-Imam al-Habib ‘Ali bin Muhammad bin Hussin al-Habsyi رضي الله عنه dalam bait qashidah beliau: “Kerananya (Imam al-Haddad) sejuklah hati Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم. Bagi Baginda صلى الله عليه وآله وسلمia adalah sebaik-baik keturunannya. Panutan bagi pengikut. Ka’abah (qiblat) bagi orang yang meniti jalan kebenaran dan merupakan kebanggaan bagi penduduk negerinya. Nasihat-nasihatnya menebarkan ilmu pengetahuan. Kasih-sayangnya meliputi semua umat. Darinya, mereka mengambil manfa’at dengan sebaik-baik manfa’at.”

Dalam kesempatan lain, al-Imam al-Habib ‘Ali bin Muhammad bin Hussin al-Habsyi رضي الله عنه menyifatkan al-Imam al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alwi bin Muhammad al-Haddad رضي الله عنه dalam untaian syairnya yang begitu indah. Al-Habib ‘Ali mengatakan: “Dialah cucu Nabi صلى الله عليه وآله وسلم yang bersambung nasabnya dengan orang-orang mulia yang kemuliaan mereka dikenal oleh para pejuangan dan pemberani. Dialah penyalur asrar dan ilmu kepada keluarga, keturunan, penduduk negerinya, bahkan kepada umat generasi sesudahnya. Maka semua yang bersuluk dengannya akan bersinar dengan cahaya bilau yang terang benderang.”

Cahaya ini tak akan padam dan tak akan sirna. Mengapa? Sebab, Allah Ta’ala lah yang menyalakannya! Itulah sebabnya cahayanya terus bersinar dan kian memancar. Siapakah yang mampu memadam cahaya yang telah dinyalakan oleh Allah Ta’ala? Demi Allah! Cahaya itu tidak akan padam dan takkan pernah sirna selamamana Allah Ta’ala yang menjaganya.

Namun sungguh menyedihkan, di antara kita (yakni para ‘Alawiyyin dan keturunan Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم) terdapat orang-orang yang terhalang dari cahaya itu. Mereka adalah orang-orang yang enggan masuk ke dalam golongan itu. Bahkan sangat disayangkan, justru mereka masuk ke dalam kelompok lain. al-Imam al-Habib ‘Ali bin Muhammad bin Hussin al-Habsyi رضي الله عنه berkata: “Siapa tidak menempuh jalan leluhurnya pasti akan bingung dan tersesat. Wahai anak-cucu Nabi صلى الله عليه وآله وسلم tempuhilah jalan mereka, setapak demi setapak dan jauhi segala bid’ah.”

Siapakah yang lebih mengenal Allah Ta’ala dibandingkan para kaum ‘arifin? Siapakah yang lebih mengetahui hakikat Rabbul ‘Alamin dibandingkan dengan imam-imam kita? Siapakah yang lebih mengenal Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم dibanding mereka? Selain mereka, kepada siapa kita akan bercermin? Kepada siapa kita akan berteladan?

Wahai hamba-hamba Allah, pelajarilah riwayat hidup kaum sholihin. Jalinlah persaudaraan dan kasih-sayang dia antara kalain. Jangan kalian bercerai berai. Bersiap-siaplah menolong jalan mereka. Demi Allah! Jalan mereka tersebar, bendera mereka berkibar. Bukan di negara kalian sahaja, namun diseluruh penjuru dunia. Di belahan dunia, timur mahupun barat. Bagi masyarakat ‘Arab mahupun ‘Ajam (non-‘Arab). Baik di Jaziarah ‘Arab, Amerika, Eropah, Rusia, Asia, China ataupun Indonesia ini.

Di sana bendera kelaurga al-Imam al-Habib ‘Alwi bin ‘Ubaidullah bin Ahmad al-Muhajir رضي الله عنه telah berkibar. Di segala penjuru, bendera keluarga al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin ‘Ali Ba’Alawi رضي الله عنه telah berkibar. Di setiap wilayah, kita pasti akan melihat bendera ahli thariqah ini (yakni thariqah ‘Alawiyyah). Mereka memiliki para tentera dan penolong yang berkedudukan tinggi disisiNya. Namun saat ini, di antara para tentera dan penolong itu ada yang tidur, bahkan mereka nyenyak dalam tidurnya. Ada di antara mereka yang hanya duduk berpangku tangan (berpeluk tubuh) dan terus duduk sahaja. Cukuplah wahai saudaraku! Sudah banyak kita melihat orang-orang yang terlambat dan tertinggal. Bangkitlah wahai saudataku! Sampai kapan kalian akan tidur? Sampai kapan kalian akan terus berpeluk tubuh? Amatilah! Apakah perjalanan hidup mereka telah diterapkan dirumah-rumah kalian? Apakah mereka sudah menjadi teladan dalam keluarga kalian? Apakah mereka telah menjadi panutan bagi anak dan isteri kalian? Bagaimana kalian ini? Kalian mengaku cinta dan memiliki ikatan dengan mereka, namun di rumah kalian setiap harinya yang terdengar hanyalah berita mengenai orang-orang kafir. Hanya menyimak khabar dari orang-orang fasiq dan gossip para bintang filem?????!!!! Setahun penuh tidak pernah ada berita mengenai salaf!!! Apakah ini yang disebut cinta????? Apakah ini yang dikatakan memiliki ikatan kekeluargaan????

Jubah Sayyidatuna Fathimah az-Zahra عليها السلام

Sungguh ironis sekali!!!! Saat ini sinetron, orang-orang fasiq dan orang-orang kafir lah yang mendidik anak-anak kita. Pemandangan itu yang menjadi hiasan dalam keluarga kita. Betapa banyak anak perempuan kita yang meniru wanita-wanita fasiq di TV, baik dari cara berpakaian, cara bergaul dan sebagainya. Sehingga mereka itdak mengenal lagi siapa Fathimah az-Zahra عليها السلام. Siapakh beliau? Bagaimana biografi beliau? Seperti apa pakaian beliau? Bagaimana kezuhudannya? Bagaimana ibadahnya? Saat ini mereka tidak lagi mengenal puteri-puteri Nabi Muhammad صلى الله عليه وآله وسلم. Mereka tidak tahu siapa itu Zainab, Ummu Kultsum, Ruqayyah. Mereka juga tidak tahu isteri-isteri Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Mereka tidak lagi mengenal siapa itu Khadijah binti Khuwailid عليها السلام, ‘Aisyah ash-Shiddiqah عليها السلام dan lain-lain. Bagaimana ini boleh terjadi? Wahai para kepala keluarga! Bagaimana kalian mendidik anak-anak kalian? Dengan figur siapa kalian memberikan contoh kepada puteri-puterimu?

Apakah kalian berniat menggantikan Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم dengan mereka? Teladan apakah yang telah kalian berikan kepada keluarga dan anak-anak kalian? Kalian meniru orang-orang durhaka, padahal kalian adalah mu’min. sesungguhnya kalian telah memiliki kebesaran, kebanggan dan kemuliaan. Namun mengapa kebesaran, kebanggaan serta kemuliaan itu kalian tukar dengan orang-orang yang jauh dari Allah dan RasulNya

Sungguh, kalian telah menggantikan teladan yang telah diredhai Allah Ta’ala dan RasulNya untuk kalian. Apakah kalian lupa akan firman Allah Ta’ala di dalam al-Quran: لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ Ertinya: Demi sesungguhnya, adalah bagi kamu pada diri Rasulullah itu contoh ikutan yang baik (Surah al-Ahzab: 21)

Wahai saudaraku, tanamlah dalam hatimu untuk berubah dari semua ini. Kembalilah pada jalan yang telah diteladankan oleh Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Dalam buku catatan ‘amal kita tertulis kata-kata yang tidak patut, pandangan yang tidak layak, dan niat yang tidak pantas (selayaknya). Jikalau demikian, maka siapakah yang akan menghapuskannya? Bertaubatlah kepada Allah Ta’ala, kerana Dialah yang menerima segala taubat dari hamba-hambaNya dan Dialah yang memaafkan segala kesalahan-kesalahan para hambaNya. Wallahu a’lam.

Sekian dari, al-Fagir ilaLlah abu zahrah al-qedahiy http://pondokhabib.wordpress.com

Selasa, 11 September 2012

Misteri Dibalik Jendela Batin

www.sufinews.com

Didalam batin kita ternyata ada khasanah yang agung melebihi kebesaran Jagad Semesta. Kita bisa melihatnya, bukan dengan mata kepala, tetapi dengan matahati kita. Apa yang tampak dalam wujud fisik kita hanyalah lambang belaka dari hakikat yang ada didalam dada. 

Jika saja ada anatomi batin, tentu saja ada penglihatan, rasa dan pendengaran batin, bahkan ada Ibadah-ibadah yang mesti dilakukan oleh batin kita, sebagaimana keharusan yang dilakukan oleh gerak-gerik fisik kita.

Kalau kita merasa bersedih, dimanakah tempat bersedih? Kalau kita bergembira, dimanakah tempat kegembiraan itu? Kalau kita sedang mencintai, dimanakah tempatnya cinta? Kalau kita sedang rindu dimanakah rindu itu sesungguhnya? Kalau kita sedang menikmati, dimanakah wilayah nikmat dalam batin kita?

Allah memiliki Sebuah Nama yang disebut dengan Al-Baathin (Yang Maha Batin), lalu apa hubungannya dengan nuansa batiniyah dan lahiriyah kita? Bagaimana batin kita bisa merasakah gelap dan terang?

Ada apa dengan batin kita? Tiba-tiba kita menanyakan sesuatu yang selalu hadir, tetapi terasa misterius, dan sehari-hari, terkadang kita biarkan mengalir dengan sendirinya, tanpa kita berhasrat untuk mengusik lebih jauh. Tetapi siapa yang bisa membendung kerinduan batin itu sendiri untuk hadir dalam penyaksian jiwa kita, dan mengenal Sang Penggerak Batin, Yang Maha Al-Bathin, Allah Ta’ala?

Ketika waktu menembus tengah malam, kita seperti sedang mengembara di jagad semesta. Di balik jubah hitam yang menyelimuti semesta itu, tanpa terasa kita telah menggapai satu bintang ke bintang lainnya. Tetapi kita tidak pernah menjenguk diri kita, apa dan siapa yang tadi mengembara ke cakrawala malam itu? Mengapa sebegitu mudah, seakan-akan seluruh cakrawala itu ada di genggaman kita? Apakah seluruh benda-benda di langit, di bumi dan bahkan makhluk-makhluk Allah di langit itu memiliki hubungan erat dengan diri kita?

Mari kita ketuk pintu batin kita, untuk sekadar membuka hakikat-hakikat dibalik misteri perjalanan hidup kita, lalu kita teguhkan keyakinan-keyakinan kita, yang selama ini naik turun diantara lembah-lembah ngarai, puncak-puncak bukit dan jurang-jurang kehidupan. Lalu muncul adalah perasaan suka dan duka, sedih dan bahagia, bahkan keharuan-keharuan yang tak terhingga, bahkan berlanjut dengan sejuta pertanyaan yang memburu kita. Kita mulai memasuki fakta dan hakikat sesungguhnya, kebenaran-kebenaran yang tidak hanya kita pandang dari sudut dan bilik-bilik pemikiran kita, tetapi sudah mulai menampkkan bayang-bayang, sampai pada titik tertentu, adalah gambaran sesungguhnya tentang kita, diri kita, hakikat kita.

Dalam ruang dalam di dada kita (limaa fish shuduur) ternyata ada kehidupan yang sesungguhnya. Di ruang tengah ada jantung , yang terletak di sisi dada kiri kita, dan itulah yang disebut Qalbu. Dunia Qalbu adalah sentra dari seluruh aktivitas batin kita, yang secara organik termekanis oleh gerak gerik batin kita. Dan Qalbu lah yang memutuskan untuk menerima atau menolak. Al-Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazaly secara cemerlang membedah anatomi batin kita dalam kitabnya Al-Ihya’, dengan uraian yang begitu sistematis, menggambarkan organisasi batin ini. Sebab jauh-jauh Rasulullah Saw, telah mengisyaratkan adanya “segumpal darah” yang sangat menentukan kebaikan dan keburukan kita. Al-Ghazali membagi sudut utama batin menjadi Qalbu, Ruh, Nafsu dan Akal. Sementara Syeikhul Akbar Muhyiddin Ibnu Araby, membuat klasifikasi, dengan, Al-Fikr, Al-‘Aql, Al-Fu’ad dan Al-Lubb.

Qalbu itulah yang dikatakan sebagai Hakikat Manusia. Hakikat yang terus menerus bergerak mengatur organisme ruhaninya. Dan karenanya, Qalbu disebut sebagai Lathifah Rabbaniyah, yang mengenal dimensi Ketuhanan, sebab Allah berada diantara person dan qalbunya.

Qalbu yang sesungguhnya bermakna berbolak balik, karena fungsi qalbu itu sendiri yang senantiasa menjadi fokus tarik menarik antara Ruh dan Nafsu kita. Ruh yang terus menerus menghembuskan nafas kebajikan menuju kepada Allah, sementara Nafsu mencemarkan dengan udara kotor yang menyeret Qalbu agar berbuat jahat, buruk dan destruktif, melalui kebinatangan nafsu dan kebuasannya. Di sela-sela tarik-menarik itulah syetan memasuki ruang dalam bilik-bilik peredaran darah yang mengaliri seluruh diri kita.

Qalbu itulah yang kelak disebut sebagai Arasy, atau cermin dari Arasy Ilahi. Dan sebab itu, dalam Hadits Nabi Saw, dikatakan, “Qalbu seorang Mukmin adalah Arasy Allah.” Istana Ilahi yang ada dalam diri kita. Jika dada spiritual kita disebut Al-Kursi, maka Qalbu adalah Arasy nya. Seluruh wilayah di dalam dada akan diorganisir menurut perintah Qalbu. Qalbu yang dipenuh cahaya CintaNya, sehingga sang hamba memenuhi ruang qalbu dengan mencintaiNya, adalah Qalbu para Auliya’Nya.

Sejumlah metafor Qalbu dibangun oleh Al-Ghazali. Qalbu ibarat cermin. Gambar yang memantul dalam cermin itu adalah ilmu-ilmu hakikat. Dan dalam cermin itu sebuah kebenaran diterima dalam mosaik cermin Qalbu. Penerimaan kebenaran oleh hati, bisa melalui informasi yang diterima, atau melalui kenyataan yang diyakini, atau bahkan kenyataan atau fakta yang yang disaksikan dengan jelas, khususnya oleh kaum Shiddiqin dan Auliya’.

Tetapi mosaik ini akan buram dan menghalangi cahaya kebenaran yang memantul dalam hati kita, lewat sejumlah penghalang: Gambar yang memantul dalam cermin itu rusak; atau cermin itu buruk dan ternoda; atau cermin itu berlainan arah; atau cermin itu tertutupi oleh hijab tertentu, dan tentu saja rupa dalam cermin akan tidak tampak manakala yang memandang memang bodoh tentang pengetahuan rupa dan cermin itu sendiri.

Bila hakikat manusia adalah Qalbu, lalu apakah hakikat Qalbu itu? Hakikat Qalbu adalah nuansa batinnya qalbu. Qalbu ini menjadi wilayah dari batinnya sendiri, yang disebut sebagai Ruh. Dalam anatomi fisik, ruh biasa disebut dengan nyawa yang bertempat dalam titik hitam di tengah jantung. Tetapi secara hakiki, Ruh adalah Kelembutan Rabbaniyah yang menggerakkan Qalbu Ruhani. Maka di dalam Ruh itu ada Amar yang mengatur gerak-gerik Ruh dari Allah Ta’ala. Karena itu dalam Al-Qur’an disebutkan, “Katakanlah bahwa Ruh itu adalah Amar Tuhanku.” (Al-Isra’: 85), dan pada ayat lain dijelaskan, “Ruh dipertemukan dari AmarNya pada orang yang dikehendaki dari para hambaNya pada hari pertemuan.” (Ghaafir: 15), atau ayat, “Mereka yang telah dicatat di hati mereka, keimanan, dan dikokohkan dengan ruh dari Allah.” (Al-Mujaadilah: 22)

Mereka yang berada dalam wilayah Ruhiyah adalah para Muqarrabun, karena penguasaan Ruh Ilahiyah yang melimpah begitu kuat dalam dirinya. Para Muqarrabun yang jumlahnya sedikit di dunia ini, adalah mereka yang disebut dalam Al-Qur’an, “Dan tidak Kami beritahu tentang (ruh) kecuali sedikit.” Para Auliya Allah, ruh mereka senantiasa terfokus pada musyahadah (penyaksian) Kemahaagungan Allah dimana-mana, dan kapan saja. Ruh mereka berada dalam alam Malakut-Nya, yang terus menerus menyucikan Allah. Itulah nuansa kaum Muqarrabun.

Jika Ruh posisinya di atas Qalbu, maka Nafsu berada di bawah Qalbu. Pada dasarnya, Nafsu merupakan refleksi dari seluruh keadaan dunia dalam kita, termasuk di sana Qalbu dan ruh, akal dan fikiran. Tetapi, yang demikian itu bermakna Nafsu sebagai Nafs yang berarti jiwa. Namun secara khusus, Nafsu memiliki bilik-bilik transformatif di dalam jiwa itu sendiri, yang kelak terbagi-bagi dalam kamar-kamar jiwa kita.

Paling rendah adalah Nafsu Ammarah, yaitu Nafsu yang senantiasa memerintahkan kita untuk berbuat jahat, yang kelak melahirkan sifat-sifat tercela (al-Madzmumat) disebabkan oleh dorongan sifat nafsu ini yang mengarah pada syahwat dan marah serta sifat-sifat tercela lainnya. Jika nafsu ini mendapatkan Rahmat Allah, ia akan selamat. Dari nafsu Ammarah naik ke Nafsu Lawwamah, yaitu nafsu yang pasif, antara kebaikan dan keburukan, dan terombang ambing di sana. Seseorang terkadang menuruti syahwat dan keburukan lainnya, kadang ia terdorong untuk bertobat dan kebaikan.

Lalu naik ke tahap Nafsu Muthmainnah, yaitu Nafsu yang tenteram. Nafsul Muthmainnah adalah kondisi dimana seseorang berada dalam ketenangan bersama Allah, dari dan kepada Allah. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang “kembali kepada Allah” (an-Nafs al-Murji’ah). Dan yang bisa kembali kepada Allah hanyalah orang-orang senantiasa berdzikir kepada Allah.

Jiwa atau Nafs yang bisa kembali kepada Allah-lah yang bisa tenteram, dan ketentraman jiwa inilah yang menghantar pada kerinduan hamba untuk meraih Ridha Allah. Maka di gerbang Nafsu berikutnya adalah Nafsu Raadhiyyah . Nafsu Raadhiyah adalah kondisi Nafsu yang melampaui Muthmainnah. Karena itu, pada situasi Raadhiyyah, seseorang sudah tidak memikirkan lagi syurga dan neraka. Yang ada hanyalah kerinduan pada Ridha Allah Ta’ala.

Akhir dari Radhiyah adalah Nafsu Mardhiyyah. Seorang hamba telah menjadi Ridha itu sendiri dalam kontemplasi ruhaniyahnya. Karena ia tidak lagi berupaya meraih RidhaNya, sebab Ridha telah menjadi nama, sifat dan perilakunya.

Dari Mardhiyyah naik menjadi Nafs Mulhimah, yaitu Nafsu yang dilimpahi Ilham Allah, yang kelak berada dalam Nafsu Kaasyifah. Nafsu yang berada dalam ketercerahan Rahasia-rahasia Batin (Al-Asraar), yang menjadi gerbang dari Nafs ‘Arifah (yang terus menerus ma’rifat kepada Allah. Dan puncaknya adalah Nafs Kamilah, nafsu yang peripurna dalam tranformasi ruhani seorang hamba yang mendapat predikat Insan Kaamil.

Jika Nafsu (syahwat dan ghadab), Ammarah, itu melahirkan sifat-sifat Madzmumat (tercela), seperti Kufur, Syirik, Iri, Dengki, Takabbur, Riya’, Mencintai Dunia, Ta’jub pada diri (keakuan), Merasa paling bisa dan hebat, Menuruti Syahwat, Ghibah (menggunjing), Ambisius, Serakah, Dzalim, Nifaq, Fasiq, dan seluruh sifat tercela yang bisa menghancurkan diri sendiri, justru sebaliknya jika Allah melimpahkan rahmat pada Nafs, maka akan mengalami transformasi menuju kesempurnaan nafsu itu sendiri, dengan sejumlah predikat Akhlak al-Mahmudah (terpuji), seperti kehambaan, ketaubatan, kezuhudan, kewara’an’ kesyukuran, keridhaan, ketawakkalan, qanaah, dan sampai tahap-tahab Mahabbah dan Ma’rifah.

Nafsu yang bisa terasah dalam kecermelangan, pada mulanya bisa berada dalam ketenteramannya dan seterusnya. Tetapi ketika didominasi oleh Ammarah dan Lawwamah, akan semakin terjerembab oleh lumpurnya sendiri.

Namun perlu diingat dalam Nafsu manusia ada empat dimensi buruk: 1) Sifat-sifat keganasan atau kebuasan yang melhirkan emosi marah. 2) Sifat-sifat hewaniyah yang berperilaku bak binatang. Kedua sifat diatas akan melahirkan rasa senang terhadap kejahatan, kemenangan, pemaksaan, rekayasa buruk dan pengkhianatan. Dari sinilah melahirkan sifat yang ke 3) Sifat-sifat Syaithaniyah. Dan ke 4) Sifat-sifat Rabbaniyah, yaitu sifat yang berambisi ingin menyamai Tuhan, ingin dipuja, ingin disembah, ingin dicatat nama kebesarannya.

Dimensi batin lain yang tak kalah pentingnya adalah Akal. Dalam hadits Nabi disebutkan, “Awal mula yang diciptakan oleh Allah adalah Akal. “ Hadits lain menyebutkan, “Qalam”, dan hadits lain lagi menyebutkan “An-Nuur”. Ketiganya, Akal, Qalam dan Nur, sesungguhnya satu wilayah dengan istilah berbeda. Fungsi akal adalah melihat yang benar dan yang salah, yang kelak akan diputuskan oleh Qalbu apakah yang benar itu diterima dan yang salah itu ditolak, adalah tergantung keputusan Qalbu.

Kedudukan Akal di sisi Qalbu, ibarat kedudukan raja dengan perdana menterinya. Sedangkan badan kasar kita adalah wilayah kekuasaannya.

Akal manusia hanya bisa melahirkan kebijaksanaan-kebijaksanaan, tetapi akal tidak bisa memutuskan suatu keyakinan. Karena keyakinan itu wilayahnya Qalbu. Oleh sebab itu sehebat apa pun akal manusia, maka akal manusia tidak bisa menyerap dimensi spiritual yang hakiki. Ia sebatas berada dalam paradigma filsafatan saja. Maka bila akal ditanya, “Wahai akal, apakah sesungguhnya induk dari pengetahuan anda ini?” Ia akan menjawab, “Induk Ilmu pengetahuan adalah filsafat.” Lalu ditanya apakah induk filsafat itu? Akal tak mampu menjawabnya. Qalbu lah yang mampu menjawabnya. “Induk filsafat adalah Ahli Dzikir.”

Dalam organisme Batin kita kelak akan berhubungan dengan pengetahuan-pengetahuan ruhaniyah dalam pantulan dengan Cahaya Allah (An-Nuur). Maka lembaga batin inilah yang bisa memandang hubungan-hubungan organisma antara kekayaan batinnya dengan Iradah dan Qudrat Allah Ta’ala, termasuk dalam merespon Akhlaq-Akhlaq Allah dalam kefanaan hambaNya, dan kebaqaan-Nya.

KHM LUKMAN HAKIM

Jumat, 07 September 2012

Hakikat Iman

Di dalam kitab tafsir Ruhul Bayan disebutkan bahwa iman menurut syari’at adalah meyakini dengan hati, mengakui dengan lisan dan mengerjakan dengan amal perbuatan. Adapun pengertian Islam menurut syari’at adalah tunduk dan patuh. Maka setiap yang beriman berarti telah Islam, namun tidak setiap yang Islam berarti telah beriman. Adapun pengertian Islam menurut hakikat yaitu sebagaimana sabda Nabi SAW:

 اَنْ تَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّاللهُ

Menyaksikan tiada Tuhan selain Allah, sedangkan pengertian iman secara hakikat adalah sebagaimana firman Allah dalam surat al-Hadid ayat 16 :

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ أَمَنُواْ اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِاللهِ

Belumlah seseorang itu dikatakan beriman sebelum hatinya itu dapat khusyuk mengingat Allah.

Dari pengertian iman secara syari’at dan hakikat ini, imam Ghazali membagi iman manusia kepada tiga tingkatan:

Iman tingkat pertama adalah imannya orang-orang awam yaitu imannya kebanyakan orang yang tidak berilmu. Mereka beriman karena taklid semata. Sebagai perumpamaan iman tingkat pertama ini, kalau kamu diberi tahu oleh orang yang sudah kamu uji kebenarannya dan kamu mengenal dia belum pernah berdusta serta kamu tidak merasa ragu atas ucapannya, maka hatimu akan puas dan tenang dengan berita orang tadi dengan semata-mata hanya mendengar saja.

Ini adalah perumpamaan imannya orang-orang awam yang taklid. Mereka beriman setelah mendengar dari ibu bapak dan guru-guru mereka tentang adanya Allah dan Rasul-Nya dan kebenaran para Rasul itu beserta apa-apa yang dibawanya. Dan seperti apa yang mereka dengar itu, mereka menerimanya serta tidak terlintas di hati mereka adanya kesalahan-kesalahan dari apa yang dikatakan oleh orang tua dan guru-guru mereka, mereka merasa tenang dengannya, karena mereka berbaik sangka kepada bapak, ibu dan guru-guru mereka, sebab orang tua tidak mungkin mengajarkan yang slah kepada anak-anaknya, guru juga tidak mungkin mengajarkan yang salah kepada murid-muridnya. Karena kita percaya kepada orang tua dan kepada guru, maka kita pun beragama Islam.

Iman yang semacam ini tidak jauh berbeda dengan imannya orang-orang Yahudi dan Nasrani yang juga merasa tenang dengan hal-hal yang mereka dengar dari ibu, bapak dan guru-guru mereka. Bedanya adalah mereka memperoleh ajaran yang salah dari orang tua dan guru-guru mereka, sedangkan orang-orang Islam mempercayai kebenaran itu bukan karena melihat kebenaran karena penyaksiannya terhadap Allah, tetapi karena mereka telah diberikan ajaran yang haq, yang benar.

Selanjutnya iman tingkat kedua yaitu imannya orang-orang ahli Ilmu Kalam yaitu dimana mereka beriman cukup berdasarkan dalil aqli dan naqli, dan mereka merasa puas dengan itu. Iman tingkat kedua ini tidak jauh berbeda derajatnya dengan iman tingkat pertama. Sebagai contoh, apabila ada orang yang mengatakan kepadamu bahwa Zaid itu di rumah, kemudian kamu mendengar suaranya, maka bertambahlah keyakinanmu, karena suara itu menunjukkan adanya Zaid di rumah tersebut. Lalu hatinya menetapkan bahwa suara orang tersebut adalah suara si Zaid.

Iman pada tingkat ini adalah iman yang bercampur baur dengan dalil dan kesalahan pun juga mungkin terjadi karena mungkin saja ada yang berusaha menirukan suara tadi, tetapi yang mendengarkan tadi merasa yakin dengan apa yang telah di dengarnya, karena ia tidak berprasangka buruk sama sekali dan ia tidak menduga ada maksud penipuan dan peniruan. Jadi imannya orang-orang ahli ilmu kalam masih terdapat kesalahan dan kekeliruan padanya.

Adapun Iman tingkat ketiga yaitu imannya orang-orang ahli makrifat yang telah mempelajari tarekat. Mereka beriman kepada Allah dengan pembuktian melalui penyaksian kepada Allah. Sebagai perumpamaan: Apabila kamu masuk ke dalam rumah, maka kamu akan melihat dan menyaksikan Zaid itu dengan pandangan mata kamu. Inilah makrifat yang sebenarnya dan inilah yang dikatakan iman yang sebenarnya. Karena mereka beriman dengan pembuktian melalui penyaksian mata hatinya, maka mustahil mereka terperosok ke jurang kesalahan.

Dari ketiga tingkatan iman ini dapatlah kita ketahui bahwa hanya orang-orang ahli makrifatlah atau orang-orang ahli tarekatlah yang dikatakan benar-benar telah beriman kepada Allah. Adapun imannya orang-orang awam dan imannya orang-orang ahli ilmu kalam adalah beriman secara syari’at, namun secara hakikat mereka belum beriman kepada Allah, disebabkan karena ketiadaan ilmu dan ketidaktahuan mereka. Jadi hanya dengan mempelajari tarekatlah kita baru dapat lepas dari syirik khafi (syirik yang tersembunyi) dan syirik yang jali (syirik yang nyata).

Kita patut bersyukur kepada Allah SWT karena kita tergolong kepada tingkatan iman yang ketiga yaitu imannya orang-orang ahli makrifat yang tentunya peringkat ini hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang telah mempelajari ilmu tarekat. Karena tanpa bertarekat mustahil Allah dapat dikenal. Namun mayoritas umat Islam saat ini tidak mau mempelajari ilmu tarekat atau ilmu hati, sehingga mereka tidak mengenal Tuhan yang mereka sembah dan sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata sebagaimana firman Allah dalam surat az-Zumar ayat 22 :

فَوَيْلٌ لِلْقَسْيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِنْ ذِكْرِاللهِ أُلَئِكَ فِى ضَلَلٍ مُّبِيْنِ

Artinya : Maka celakalah bagi orang yang hatinya tidak dapat mengingat Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata.

Demikianlah celaan Allah terhadap orang-orang yang tidak dapat mengingat-Nya, yang kesemuanya itu disebabkan karena mereka tidak mempelajari soal hati. Namun kebanyakan umat Islam saat ini tidak tahu kalau mereka itu tidak tahu. Mereka menganggap bahwa amal ibadah mereka dapat diterima oleh Allah SWT, karena merasa bahwa tauhid mereka telah sempurna, padahal sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.

Tentu bagi kita yang telah memperoleh ilmu dan pengenalan kepada Allah, kita memiliki kewajiban untuk berdakwah dalam rangka melepaskan umat manusia dari kesesatan karena tidak mengenal Allah, dan di dalam melakukan dakwah tentunya harus dilaksanakan dengan arif dan bijaksana, sebagaimana firman Allah

أُدْعُ اِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَة

Artinya : Serulah kepada Tuhanmu dengan bijaksana dan nasehat yang baik.

Dakwah bil hikmah adalah dakwah yang ditujukan kepada orang yang alim atau orang yang berilmu. Adapun dakwah dengan mauizatil hasanah adalah dakwah yang ditujukan kepada orang yang awam atau orang yang bodoh dengan cara memberikan nasehat yang baik.

Ada dua jenis orang bodoh yang harus kita ketahui sebagai sasaran dakwah kita. Jenis pertama adalah orang bodoh yang mau belajar, maka tunjukilah ia, karena dia memang jauh dari panduan dan petunjuk sedang niatnya penuh untuk menambah ilmu pengetahuan dan taat melakukan ibadah.

Jenis yang kedua adalah orang bodoh yang tidak tahu kalau dirinya tidak tahu dan tidak mau tahu. Maka janganlah dekati dia dan jangan membuang-buang waktu untuk mendakwahinya karena orang bodoh jenis kedua ini adalah syetan yang berwujud manusia. Pintarnya tidak dapat diturutkan, bodohnya tidak dapat ditunjukkan, ia lebih bodoh dari keledai, lebih bebal dari lembu. Tinggalkanlah ia dalam kebodohannya, sampai nanti Allah merobahnya.

Kalau menghadapi orang bodoh saja sudah sulit, tentu lebih sulit lagi berdakwah kepada orang yang berilmu dikarenakan kesombongan yang ada pada dirinya karena telah merasa banyak memiliki ilmu. Orang alim seperti ini disebut alim tanggung, ilmunya ke atas tak sampai, ke bawah tak jejak, yang selalu berebut pengaruh di masyarakat dan berdakwah di sana-sini. Mereka bagaikan cendawan yang tumbuh menonjol di sana-sini sambil membusungkan dada dengan banyaknya ilmu yang tak bersari. Sungguh sedih dan kasihan kita melihat orang yang seperti ini. Disangka emas rupanya mentasi. Maka ajaklah mereka ini untuk mengenal Allah dengan cara yang bijaksana karena mereka terhijab oleh ilmu yang mereka miliki. Oleh : Saifuddin, M.A

Kamis, 09 Februari 2012

Bagaimana Belajar Makrifat?

Prof Dr Nasiruddin Umar

"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kalian yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kalian, dan mengajarkan kepada kalian kitab dan hikmah, serta mengajarkan apa yang kalian belum ketahui". (QS al-Baqarah [2] 151).

Dalam ontologi keilmuan Islam, ilmu dan makrifat mempunyai persamaan dan perbedaan. Persama-annya, keduanya sama-sama sebagai pengetahuan yang diperlukan manusia guna memberikan kemudahan dalam menjalani kehidupan. Perbedaannya, dari segi ontologi, ilmu adalah pengetahuan yang berada dalam lingkup dan domain manusia tanpa harus melibatkan unsur-unsur asing dari luar diri manusia. Logika manusia cukup untuk memahami objek ilmu.

Sedangkan makrifat adalah pengetahuan yang secara umum berada di luar lingkup dan domain manusia. Keberadaannya ditentukan kemampuan manusia mengakses unsur-unsur luar dirinya, dalam hal ini Tuhan. Secara epis-timologis, ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui hasil olah nalar dan logika manusia. Sementara itu, makrifat adalah pengetahuan yang diperoleh melalui hasil olah batin dan spiritual manusia.

Orang yang mengusai ilmu disebut alim dan orang yang menguasai makrifat disebut arif. Hanya sedikit menjadi rancu ketika kata "tim dam marifah diindonesiakan menjadi ilmu dan makrifat. Ini sudah mengalami reduksi dan penyederhanaan makna. Secara aksiologis, ilmu bertujuan memberi kejelasan dan kemudahan manusia di dalam menjalani kehidupannya.

Makrifat, lebih berusaha untuk memberikan kepuasan intelektual dan spiritual yang pada akhirnya akan menghadirkan rasa tenang dan damai secara konstruktif ke dalam diri manusia. Metodologi keilmuan umumnya berangkat dari sikap keraguan terhadap satu fenomena atau informasi.

Dari sikap ini, lahirlah upaya untuk memahami dan mendalami dalam bentuk studi yang melibatkan parameter keilmuan logika. Seperti melakukan observasi atau survei dan penelitian mendalam lainnya sebagai pengujian kembali terhadap konsep dan teori yang dihasilkan oleh parameter tersebut.

Setelah itu harus ada keberanian intelektual si penelitinya untuk memublikasikan kesimpulan hasil-hasil studinya secara terbuka kepada publik. Sepanjang belum ada yang keberatan dan menolak (tentu saja setelah melalui studi yang selevel), sepan-jang itu pula diakui sebagai sebuah kebenaran yang dapat diyakini.

Jika ternyata di kemudian hari ada yang mematahkan logika dan temuan itu, bisa menjadi tanda berakhirnya konsep dan teori itu. Metodologi kemakrifatan sama sekali berbeda (untuk tidak mengatakan bertolak belakang) dengan metodologi keilmuan. Sebab, umumnya metode ini berangkat dari rasa dan sikap yakin terhadap suatu objek yang mengandung misteri.

Berangkat dari keyakinan itu, tugas pertama yang harus dilakukan guru atau mursyid adalah melakukan proses pembersihan diri para murid dari berbagai keraguan. Proses ini biasa disebut pembersihan jiwa (tadzkiyah al-nafs) atau penghalusan kalbu (tahdzib al-qulub). Proses ini digambarkan dalam surah al-Baqarah ayat 151 di atas.

Itu menjelaskan bahwa sebelum dilakukan proses pendidikan dan pengajaran atau taklim, terlebih dahulu dilakukan proses pembersihan diri. Selain ayat tersebut, masih banyak lagi ayat dan hadis, serta perkataan sahabat yang mengisyaratkan metode mendapatkan makrifat. Kisah antara Nabi Musa dan Khidir di dalam surah al-Kahfi juga relevan dengan pembahasan ini.

Bagaimana Nabi Musa yang dikenal sebagai nabi ulul azmi masih harus belajar kepada hamba Tuhan yang tidak populer di dunia publik. Persyaratan menjadi murid juga lebih unik dibanding dengan metode keilmuan biasa, yaitu, "...Janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku menerangkan kepadamu." (QS al-Kahfi [18] 70).

Lebih unik lagi, sang guru mencontohkan sesuatu yang sama sekali di luar kemampuan logika untuk memahaminya, yaitu membocorkan perahu-perahu nelayan, membunuh anak kecil tak berdosa, dan memugar reruntuhan bangunan tua. Namun, ending dari cerita ini ialah Nabi Musa mendapatkan kearifan bahwa di atas langit masih ada langit. Ilmu Tuhan itu mahaluas.

Dari situ, kita pun mendapatkan hikmah bahwa manusia utama dan pilihan Tuhan tidak mesti harus populer, bahkan tidak mesti menjadi nabi. Rasulullah memberikan contoh bagaimana mempelajari makrifat dengan mengedepankan keikhlasan dan kedekatan diri terus-menerus kepada Allah SWT. Sahabatnya juga demikian.

Ali pernah membuat pernyataan "Barang siapa mengajariku satu huruf, aku rela menjadi budaknya". Generasi berikutnya, seperti Imam Bukhari, setiap kali akan menerima sebuah hadis terlebih dahulu ia shalat dua rakaat. Kitab Al-Talim wal Mu-taallim, yang mengajarkan sopan santun guru dan murid, mastfi dipegang teguh di sejumlah besar pondok pesantren.

Dalam tradisi intelektual Islam, tidak tampak perbedaan tajam antara metode memperoleh ih iu dan makrifat, bahkan keduanya sering digunakan bergantian {inter-changable). Dalam tradisi pondok pesantren, cara memperoleh ilmu masih tetap dominan mengakomodasi metodologi makrifat yang menuntut kepasrahan dan ketawadhuan santri kepada kiai atau gurunya.

Oleh karena itu, mungkin ilmuan pesantren menganggap pola pembidangan ilmu dan makrifat di atas dianggap terlalu ske-matis. Namun, pembahasan tni sekaligus juga untuk memberi masukan terhadap dunia pendidikan kita yang kini sedang disorot banyak kalangan. Ternyata tingginya ilmu pengetahuan yang dicapai seseorang tidak berbanding lurus dengan akhlaknya.

Sudah tentu, di situ ada yang salah. Setidaknya, mata rantai penyucian diri (tadzkiyah) sudah banyak ditinggalkan dan tidak lagi menjadi faktor dalam dunia pendidikankita. Umumnya, kita loncat ke proses pembelajaran (taklim). Padahal, Alquran mengingatkan kita perlunya mendahulukan tadzkiyah sebelum taklim.

Bahkan, salah satu ayat yang sering dipasang di punggung Alquran, "La yamassuhu illal muthahharun." (Tidak ada yang menyentuhnya [Alquran], selain hamba-hamba yang disucikan). (QS al-Hadid [57] 79). Di sisi lain, pengetahuan makrifat itu sendiri bertingkat-tingkat. Dimulai dari yang paling sederhana, yaitu mengenal makhluk-makhluk fisik Allah SWT.

Dari sini, ilmu menjadi bagian dari makrifat. Pengetahuan makrifat juga mencakup upaya mengenal makhluk-makhluk metafisik-spiritual, dan pada puncaknya mengenal Sang Pencipta dalam hubungannya dengan makhluknya. Tentu sajariada setiap jenjang makrifat itu membutuhkan metodologinya sendiri.

Guru atau mursyid juga bertingkat-tingkat, mulai dari mursyid biasa hingga wali, bahkan Nabi Muhammad secara langsung. Tidak masalah, apakah orang itu masih hidup atau sudah tiada. Faktanya, banyak sekali di antara para arifin, gurunya adalah orang yang sudah di alam lain (akan dibahas dalam artikel khusus). Tidak heran kalau di antara mereka ada yang mengatakan "Alangkah miskinnya seorang murid jika para gurunya hanya orang-orang hidup".

Sumber: Republika

Sabtu, 04 Februari 2012

Hakekat Shalat Yang Sebenarnya

Nasehat Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf

Al-Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf adalah salah satu ulama dengan kapasitas ilmu pengetahuan dhohir dan bathin yang diakui oleh ulama-ulama sezamanya. Al Arif Billah Habib Abdullah bin Idrus Al Aydrus menyebut beliau sebagai kholifah di masanya.

Pada satu kesempatan di masjid Thoha, Hadramaut, pada tanggal 20 Syawal 1353 Hijriyah, beliau memberikan ceramah ilmiah bertemakan shalat. Beliau berkata, shalat merupakan sarana paling utama bagi manusia untuk dapat selalu berinteraksi dengan Penciptanya. Dahulu Nabi Zakariya a.s. menjadikan shalat sebagai fasilitas ketika beliau meminta kepada Allah untuk diberikan keturunan.
Doa beliau dikabulkan dan mendapatkan seorang putra yaitu Nabi Yahya yang merupakan anugerah terbesar dalam hidupnya. Rasul SAW bersabda, ‘Hal yang paling membuatku senang adalah shalat’. Dengan shalat beliau merasakan suatu kenikmatan yang tiada banding, berdialog dengan Allah SWT.

Dalam kitab Nashoih Dinniyah Habib Abdullah Alhaddad mengibaratkan shalat sebagaimana kepala pada manusia. Manusia mustahil dapat hidup tanpa kepala. Demikian halnya semua perbuatan baik manusia akan sia-sia jika tanpa disertai shalat. Shalat merupakan parameter diterima atau tidaknya amal perbuatan manusia. Rasul SAW bersabda, ‘Pertama yang diperhitungkan pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya diterima, maka seluruh amal sholehnya diterima, namun jika shalatnya ditolak, maka seluruh amal solehnya ditolak pula.’

Habib Ahmad kemudian bercerita, “Al-walid Sayid Alwi bin Abdurrahman Assegaf berkata, ‘Sesungguhnya pamanku Abdurrahman bin Ali berkata, jika kamu mempunyai hajat baik urusan dunia ataupun akhirat, maka memintalah pertolongan kepada Allah SWT dengan melaksanakan shalat. Bacalah akhir surat Thoha seusai shalat, Insya Allah dengan segala kebesaran-Nya akan dikabulkan hajat dan keinginanmu.’

Namun shalat kita pada masa sekarang ini tidaklah seperti shalat para salaf terdahulu yang penuh khusyu’ dan khidmat. Shalat kita merupakan shalat yang selalu dipenuhi kelalaian dan kealpaan, sehingga sangatlah kecil prosentase diterimanya. Orang-orang sufi terdahulu yang tidak diragukan lagi kedalaman ilmu pengetahuannya, menambahkan tiga rukun pada rukun-rukun shalat yang dikemukakan para ulama fiqih yaitu, khusuk atau tadabbur (hadirnya hati), khudu’(merendahkan diri kepada Allah) dan ikhlas. Firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.”

Penafsiran mereka dalam ayat ini adalah, ‘Janganlah kalian mendekati (mengerjakan) shalat sedangkan kalian dalam keadaan mabuk oleh kesenangan dunia hingga pikiran kalian kosong dari dari segala urusan dunia.’

Sekarang kita saksikan orang-orang melaksanakan shalat namun hati mereka masih selalu tertuju pada urusan dunia, baik urusan jual beli maupun pekerjaan mereka. Akibatnya mereka lupa berapa rokaat yang telah mereka kerjakan, tidak mengetahui surat apa yang telah dibacakan imam. Mereka sama sekali tidak menghayati bacaan Alfatihah dan ayat-ayat yang lain dalam shalat, mereka tidak menyadari bahwa mereka berdiri di depan Maha Penguasa dan sedang berdialog dengan Maha Pencipta. Urusan-urusan duniawi benar-benar telah menguasai hati manusia.

Orang yang memikirkan urusan dunia dalam shalat sama halnya dengan orang yang melumuri Al-Qur’an yang suci dengan khomer. Shalat yang seharusnya menjadi wadah yang suci telah mereka penuhi dengan kotoran-kotoran yang menjijikkan. Tanpa ada niat ikhlas yang merupakan ruh dari shalat, orang yang demikian diibaratkan oleh Imam Ghozali seperti seseorang yang menghadiahkan seonggok bangkai dengan kemasan rapi kepada seorang raja. Tentunya perbuatan tersebut bukannya menyenangkan hati raja melainkan membuat dia marah dan murka karena dianggap telah melecehkan kehormatan dan kebesarannya.

Para salaf terdahulu memandang shalat sebagai hal yang sangat sakral dan agung. Mereka selalu berusaha melaksanakan dengan sesempurna mungkin. Hingga diantara mereka acapkali dihinggapi burung saat shalat karena sangat khusyuk dan tenangnya. Ada pula yang sampai tidak merasakan dahsyatnya gempa bumi yang meluluh lantakkan bangunan-bangunan di sekitarnya. Bahkan Imam Ali bin Husein sama sekali tak merasakan panasnya kobaran api yang membumi hanguskan rumah beliau saat beliau tenggelam dalam shalatnya. Saat ditanya beliau hanya berujar, ‘Panasnya api yang lain (api neraka) telah membuatku tak merasakan panasnya api dunia.’

Habib Ahmad kemudian memberikan tausiyah, ‘Rasul SAW bersabda, ‘Ada seorang lelaki di antara kamu, rambut di kedua pipinya telah memutih namun tidak diterima satu pun shalatnya.’ Ini menunjukkan bahwa tak ada satu shalat pun yang dia kerjakan dengan khusyuk. Padahal, mulai usia 15 tahun hingga enam puluh tahun sudah berapa kali dia mengerjakan shalat. Jika tidak ada satu shalat pun yang dia kerjakan dengan khusyuk, itu berarti hatinya benar-benar dikuasai urusan keduniaan.

Ini adalah masalah kompleks di tengah masyarakat Islam yang harus disikapi dengan serius, terutama bagi para ulama dan penuntut ilmu. Adapun orang awam pada zaman sekarang sudah merasa cukup dengan shalat serba praktis seperti yang biasa mereka kerjakan. Bahkan di antara mereka ada yang mengeluh jika mendapati seorang imam shalat terlalu lama. Mereka lebih memilih imam yang lebih cepat dan ringkas sembari mengesampingkan unsur kekhusyukan yang sebenarnya esensial dalam shalat. Bagaimana dengan shalat kita?

http://www.forsansalaf.com

Sabtu, 28 Januari 2012

Maqam Orang Menangis

ww.sufinews.com
Syeikh Ahmad ar-Rifa’y

Rosullullah SAW bersabda: “Siapa pun anak yang dilahirkan, kemudian diberi nama Muhammad dalam rangka mendapatkan berkah darinya, maka ia dan anaknya berada di syurga.

Hadits mulia ini mengandung rahasia cinta kepada Rasulullah Saw, yang bisa difahami oleh kalangan khusus yang dekat dengan Allah Swt. Mereka senantiasa menyebut namanya yang penuh berkah, yang kemudian memberikan hasrat untuk berakhlaq dengan akhlaq beliau yang suci, dalam rangka bersiteguh dengan jejak langkahnya. Sehingga anda tidak melihat mereka berhenti dalam stasiun dunia, ketika mereka menempuh jalan napak tilas Rasul Saw. Bahkan mereka senantiasa sadar dan [penuh] khusyu’, senantiasa takut kepada Allah Swt, mengikuti jejak Nabi mereka, mengamalkan sunnah Nabinya, dan merekalah yang disebut para ‘arifun.

Anak-anak sekalian. Ketahuilah kaum arifin senantiasa menangis, ketika kaum yang alpa sedang tertawa. Dan mereka sedang susah ketika kaum yang terpedaya dunia sedang gembira. Allah Swt, berfirman:

“Wajah-wajah mereka hari itu berseri-seri, kepada Tuhannya terus memandang.”
“Wajah-wajah mereka berseri, riang penuh gembira.”

Ragam orang menangis:

Sesungguhnya Allah Swt, telah menyebutkan bukti-bukti menuju ma’rifat. Dan diantara tanda kaum arifin senantiasa lebih banyak menangis dan mengalir air matanya karena Allah Ta’ala. Sebagaimana firmanNya: “Dan mereka sujud gelisah dengan menangis.”

Allah Swt mencerca kaum alpa, karena mereka lebih banyak bersendagurau dan tidak pernah menangis.
“Apakah dari kisah ini mereka heran dan mereka tertawa-tawa dan tidak menangis?”

Menangis itu ada kalanya:

Menangis mata
Menangis hati
Menangis rahasia batin.

Menangis mata adalah tangisan kaum ma’rifat yang kembali hatinya kepada Allah Swt.
Menangis hati adalah tangisan kaum ma’rifat yang sedang menempuh jalan menuju Allah Swt.
Menangis rahasia batin, adalah kaum ma’rifat yang menangis karena mereka menjadi pecinta Allah Swt.

Perlu diketahui, bahwa kalangan ahli ma’rifat mempunyai kesusahan yang tersembunyi di bawah rahasia batin mereka, tertutupi oleh pemikiran mereka, maka, ketika rahasia batinnya memuncah, berhembuslah angina rasa takut penuh cinta karena Kharisma Ilahi. Sedangkan hatinya begolak jilatan api kegelisahan, yang membakar seluruh remuk redamnya kealpaan dan kelupaan kepada Tuhannya Azza wa-Jalla.

Derajat Tangis

Tangisan itu terdiri enam arah:
Menangis karena malu, seperti tangisan Nabi Adam as.
Menangis karena kesalahan, seperti tangisan Nabi Dawud as.
Menangis karena takut, seperti tangisan Nabi Yahya bin Zakaria.
Menangis karena kehilangan, seperti tangisan Nabi Ya’qub as.

Menangis karena Kharisma Ilahi, seperti tangisan seluruh para Nabi as, yaitu dalam firmanNya: “Ketika dibacakan ayat-ayat Sang Rahman kepada mereka, maka mereka bersujud dan menangis.” (Maryam: 58)

Menangis karena rindu dan cinta, seperti tangisan Nabi Syu’aib as, ketika beliau menangis sampai matanya buta, kemudian Allah Swt, mengembalikan menjadi sembuh, lalu beliau menangis lagi hingga buta kembali sampai tiga kali. Lalu Allah Swt, memberikan wahyu kepadanya: “Wahai Syu’aib, bila tangisanmu karena engkau takut neraka, Aku sudah benar-benar mengamankan dirimu dari neraka. Dan jika tangismu karena syurga, Aku telah mewajibkan dirimu syurga.” Ayub menjawab, “Tidak Ya Tuhan, namun aku menangis karena rindu ingin memandangmu…”

Kemudian Allah Swt, menurunkan wahyu kepadanya, ”Sungguh wahai Syu’aib! Sangat benar orang yang menghendakiKu, menangis dari dalam rindu kepadaKu. Untuk penyakit ini tidak ada obatnya, kecuali bertemu denganKu.”

Diriwayatkan bahwa Nabi Saw, bersabda: “Bila seorang hamba menangis karena takut kepada Allah atas masalah ummat, sungguh Allah Swt memberikan rahmat bagi ummat itu, karena tangisan hamba tadi.”

Rabi’ah ra, berkata, “Aku menangis selama sepuluh tahun karena merasa jauh dari Allah Swt, dan sepuluh tahun lagi menangis karena bersama Allah Swt, kemudian sepuluh tahun menangis karena menuju kepada Allah Swt. Menangis karena bersama Allah, disebabkan sangat berharap padaNya. Sedangkan menangis jauh dari Allah Swt, karena takut kepadaNya. Adapun menangis karena menuju Allah Swt, karena sangat rindu kepadaNya.”

Salah satu Sufi berkata, “Aku masuk ke rumah abi’ah al-Bashriyah, ketika itu ia sedang sujud. Lalu aku duduk di sisinya, hingga ia bangun mengangkat kepalanya. Kulihat ditempat sujudnya menggenang air matanya. Aku bersalam kepadanya, dan ia jawab salamku. Ia berkata, “Apa kebutuhanmu?” tanyanya.

“Aku ingin datang kepadamu..” kataku.

Lalu ia menangis, dan memalingkan wajahnya dariku. Ketika ia menangis, ia mengatakan, “Sejuknya matahatiku harus datang dariMu? Sungguh mengherankan orang yang mengenalMu, bagaimana ia bisa sibuk dengan selain DiriMu? Mengherankan sekali! Orang yang menghendakiMu, bagaimana ia menginginkan selain DiriMu?”

Atha’ as-Sulamy ra, ketika menagis banyak berungkap: “Oh Tuhan, kasihanilah diriku yang putus menujuMu, kasihanilah berpalingku dari selain DiriMu, kasihanilah keterasinganku di NegeriMu, kasihanilah rasa takutku pada hamba-hambaMu dan berhentinya diriku di hadapanMu.”

Al-Fudhail bin Iyadh menegaskan, “Ketika aku sedang thawaf, aku bertemu seseorang yang roman mukanya berubah dan tubuhnya kurus kering, ia menangis dengan menderu, lalu aku dekati ia. Tiba-tiba ia berkata, “Oh Tuhanku!betapa mesranya hati para pecinta,betapa ringannya hati para airfin, sungguh tak akan putus harapan perindumu.”
Tiba-tiba kudengar bisikan suara mengatakan, “Wahai Waliyullah, sungguh tujuh langit ikut menangis. Diam! Sekarang apa yang kamu pinta!.”

Diriwayatkan bahwa Nabi Adam as, ketika diturunkan dari syurga, ia menangis sampai airmatanya menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, lalu Allah Swt, mewahyukan padanya, “Tangisan ini karena kehilangan syurga, lalu mana tangisan karena meninggalkan khidmah bakti padaKu?”

Lalu Nabi Adam as, terkejut, hingga sampai pada kalimat ikhlas. Lalu berucap”Laa Ilaaha Illa Anta Subhanaka…” (Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau!)
Allah Swt, berfirman, : “Maka Adam mendapatkan kalimat-kalimat dari Tuhannya, lalu ia taubat kepadaNya.”

Dzun Nuun al-Mishry –semoga Allah Swt, merahmatinya– mengatakan, “Aku melihat lelaki di Makkah sedang menangis dengan tangisan ahli ma’rifat, lalu aku mendekat,

“Apakah engkau punya kekasih?” tanyaku.
“Betul!” jawabnya.
“Jauh apa dekat kekasihmu itu?”
“Dekat,” katanya.
“Selaras denganmu apa tidak?”
“Sungguh selaras denganku.”
“Subhanallah! Lalu kenapa engkau menagis?”
“Ketahuilah, siksaan karena dekat dan serasi itu lebih pedih, ketimbang siksaan karena jauh dan kontra…!”

Dikisahkan bahwa Rabiah –Rahimahallahu Ta’ala– suatu hari sedang lewat di salah satu jalan di Bashrah. Tiba-tiba ada tetesan yang menetes dari kesdihan, lalu ia bertanya, “Tetesan apakah itu?” Lalu dijawab, “Itu dari tangisan Hasan.” Rabi’ah lalu berkata, “Katakanj semua ya pada Hasan, seandainya airmata bertambah terus hingga sampai ke Arasy sana, sebagai rasa cinta kepada Allah Swt, sungguh airmata itu sangat sedikit sekali.”

Abbad bin Syumaid bin Ujlan berkata:”Apakah orang munafiq itu menmangis?”
Lalu dijawab, “Menangis dari mata kepala, memang. Tapi tangisan dari hati, tidak!”

Fudhail ra, mengatakan, “Bila anda melihat seseorang menangis tapi hatinya alpa, maka itulah tangisan munafiq. Tangisan yang sesungguhnya adalah tangisan qalbu.”

Malik bin Dinar ra, ditanya, “Tidakkah engkau datang dengan seorang qari’ yang membaca di hadapanmu?”

“Kematian kekasih tidak butuh pada peratap tangisan.”

Ka’b al-Ahbar ra, menandaskan, “Suatu tangisanku setets karena takut kepada Allah Ta’ala, lebih kucintai disbanding sedekah segunung emas.”

Dalam tangisan Malik bin Dinar ra, seringkali munajat, “Duh diriku! Engkau ingin bersanding pasa Sang Maha Jabbar, dan menjadi orang yang terpilih, lalu mana engkau tinggalkan syahwat nafsumu? Sudah sejauh mana engkau mendekat kepada Allah? Wali mana yang engkau cintai karena Allah? Musuh mana yang engkau benci karena Allah? Menahan diri yang mana yang engkau lakukan karena Allah? Tidak! Jika semua itu tidak karena ampunan dan rahmat Allah!”. Tiba-tiba ia pingsan.

Diriwayatkan, bahwa Allah Swt, berfirman kepada Nabi Musa as,: “Tak ada yang lebih dekat kepadaKu dibanding orang-orang yang menangis karena takut dan cinta kepadaKu.”

Tsabit an-Nasaj, ra berkata, “Nabi Dawud as, tidak pernah minum setegukpun setelah berbuat kesalahan, melainkan ia hanya menyerap airmatanya, hingga beliau menemui Allah Azza wa-Jalla (wafat).”
Ketika suatu hari melihat airmatanya banyak yang mengalir, ia berkata, “Ya Ilahi, apakah Engkau tidak kasihan atas tangisanku?”
Lalu ada suara dari langit, “Hai Dawud! Engkau masih ingat airmatamu, sedangkan engkau tidak mengingat dosa-dosamu?!”
Lantas Nabi Dawud as mengambil debu yang dipanaskan, lalu mengusap-usap kepalanya dengan debu pasir itu, sembari berkata, “Duh hilanglah air mukaku di hadapan Tuhanku.”

Di masa Hasan al-Bashry ra ada seorang lelaki yang punya anak perempuan sedang menangis, hingga matanya buta. Lelaki itu datang kepada Hasan agar didoakan dan dinasehatinya, siapa tahu ia menyadari dirinya. Lalu Hasan mendatangi gadis itu, dan berkata, “Kasihanilah dirimu!”
“Oh, guru! Mataku tidak lepas dari dua wajah, apakah layak untuk memandang Tuhanku atau tidak. Jika tidak layak maka sudah benar kalau mataku buta! Jika benar layak, maka ribuan seperti mataku ini pantas menjadi tebusan untuk memandangNya,” jawabnya.
“Aku datang untuk mengobati, malah aku yang diobati. Aku datang untuk jadi dokternya, malah aku menemukan dokterku.”

Salamah bin Khalid al-Makhzumy ra mengatakan, “Suatu hari perempuan dari Syam ada di Baitullah al-Haram, ia bisaa dipanggil Khazinah (Sang duka), karena selamanya menangis akibat rindunya kepada Allah Swt. Saat ia memandang pintu Ka’bah, selalu ia berucap, “Oh rumah Tuhanku, oh, rumah Tuhanku…”
Suatu saat pintu Ka’bah dibuka, lalu wanita itu melihat orang-orang sedang thawaf sembari menangis, dan berucap, “Diraja kami dan matahati kami…betapa panjang rindu kami kepadaMu…Kapan kami bertemu?” Wanita itu mendengarkan ucapan itu, lalu menjerit pingsan, hingga membuatnya mati.

Yahya bin Ashfar menandaskan, “Kami masuk bersama jamaah kami ke rumah Ufairah, perempuan ahli ibadah –semoga Allah Ta’ala merahmatinya-. Ia seorang yang buta karena banyaknya menangis, lalu salah satu dari kami mengatakan, “Betapa sedihnya kebutaan setelah sebelumnya bisa melihat!”.
Rupanya ia mendengar ucapan itu, dan berkata, “Hai hamba Allah! Butanya hati dari Allah Swt lebih pedih ketimbang butanya mata kepala! Aku sangat senang jika Allah memberikan kenyataan cintaNya kepadaku, dan sama sekali aku tidak ada kesedihan melainkan Allah Ta’ala mengambilnya dariku.”

Malam gelap gulita
Sedang pemaksiat lelap tidurnya.
Sang Arifun berdiri di hadap Tuhannya
Membacakan Ayat-ayat hidayah
Airmata mereka mengalir bercucuran
Tak sabar sedetik pun untuk tidak mengingatNya
Deru rindu bergelora
Sungguh pecinta tak pernah tidur.

Senin, 23 Januari 2012

Kemuliaan

www.sufinews.com

Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily

Sulthanul Auliya’ Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily mengatakan: Allah Swt. berfirman: “Hanya bagi Allahlah kemuliaan, dan bagi Rasul-Nyaserta bagi sekalian orang-orang yang beriman.”

Kemuliaan orang yang beriman adalah pencegahan Allah terhadap dirinya untuk menghamba kepada hawa nafsu, syetan dan dunia atau segala yang ada di jagad ini baik yang ghaib maupun yang tampak, baik itu dunia maupun akhirat.

Sedangkan orang munafik tidak mengerti keagungan kecuali melalui kausalitas (sebab akibat) serta penyembahan terhadap tuhan-tuhan yang banyak.
“Adakah Tuhan (yang lain) disamping Allah? Maha Luhur Allah dari apa yang mereka sekutukan. Apakah mereka menyekutukan melalui (tuhan-tuhan) yang tak bisa mencipta sesuatu pun, sedangkan mereka itu diciptakan, dan mereka (tuhan-tuhan) tidak mampu menolong mereka, juga menolong diri mereka sendiri. Apabila engkau mengajak mereka kepada petunjuk, mereka tidak akan mengikutimu, baik mereka engkau ajak atau engkau diam saja.”

Sebagian Sufi berkata, “Barang siapa yang menghendaki kemuliaan dunia akhirat maka masuklah dalam mazhab kami ini dalam dua hari.”

Ada seseorang bertanya, “Bagaimana caranya untukku?”.

Dijawab, “Pisahkan berhala-berhala dari hatimu, dan ringankanlah tubuhmu dari kepentingan duniawi, baru kemudian jadilah dirimu semaumu. Sebab Allah tak akan meninggalkanmu. Apabila setelah itu ada sesuatu dari dunia yang datang kepadamu, jangan engkau pan¬dang dengan mata hasrat kesenangan, jangan pula Anda menyertai dunia itu dengan gembira. Jangan pula Anda duduk bersamanya kecuali dengan kewajiban ilmu dalam mendistribusikan dan menahan¬nya.

Apabila suatu hari Anda masih mencari duniawi, maka saksi kanlah bahwa Allah telah mencarimu dalam pencarianmu pada dunia itu. Dan engkau sebenarnya dicari melalui pencarian. Kalau engkau keluar menuju upaya pencarian dunia melalui jalan ridha, maka masuklah jalan itu. Hati Anda jangan bergantung padanya, dengan tetap bergantung pada Allah, dan memang harus begitu. Sebab engkau tidak tahu apakah engkau akan mendapatkannya atau tidak?

Kalau engkau telah mendapatkannya, engkau tidak tahu apakah itu milik Anda atau milik orang lain? Kalau itu milik Anda engkau tidak tahu apakah di dalamnya mengandung unsur kebaikan atau keburukan? Kalau itu bukan milik Anda, maka Anda tidak berhak mengetahuinya, apakah itu untuk kekasihmu atau musuhmu?

Kesimpulannya: Bagaimana hati bisa tenang manakala masih singgah kepada seuatu yang membingungkan yang terilustrasikan dari semua ini, bahkan lebih banyak lagi? Karena itu carilah dunia itu, tetapi Anda tetap bergantung kepada-Nya dan memandang-Nya.

Bersyukurlah manakala Anda berhasil, dan bersabar serta ridhalah jika belum berhasil. Bahkan memuji kepada Allah itu lebih layak indahnya. Sebab Allah tidak menghalangimu dari sukses duniawi itu, karena Allah bakhil. Tidak demikian! Tetapi Allah menghalangimu karena Dia memandang kepadamu. Artinya, apabila Allah menghalangimu dari sukses itu, Allah sebenarnya telah memberi anugerah kepadamu. Namun pemberian anugerah dalam ketidaksuksesan itu hanya dipahami oleh orang-orang shiddiqun.

Sebaliknya, apabila Anda mendapatkan jalan keluar usaha dari Allah melalui jalan kebencian, yang mengganti pengetahuan (yang benar) atau yang mendekatinya, maka cepat-cepatlah kembali kepada Allah, larilah kepada-Nya hingga Dia sendiri yang member sihkan Anda, dan (Allah bertindak sebagaimana kehendak-Nya -- sedangkan akibat baik hanya bagi orang-orang yang bertakwa).”

Sanad (Silsilah) Talqin Kaum Sufi

www.sufinews.com
Syeikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani

Adapun penjelasan tentang sanad (silsilah) kaum sufi dalam mendikte dan membimbing secara lisan (talqin) kalimat Tauhid: La Ilaha IllaLlahu (Tidak ada Tuhan yang haq selain Allah) kepada para murid (para pemula yang ingin mencari tarekat) adalah sebagaimana yang diriwayatkan berikut ini: Bahwa Rasulullah Saw. pernah mendikte dan membimbing para Sahabatnya secara lisan akan kalimat Tauhid, La Ilaha IllaLlahu (Tidak ada Tuhan yang haq selain Allah) secara berjamaah dan individu. Dimana silsilah sanad mereka bersambung dan masing-masing kepada jamaah kaum yang dibimbing.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Bazzar, ath-Thabrani dan lain-lain dengan sanad yang baik (hasan), dari Sadad bin Aus dan dibenarkan oleh Ubadah bin Shamit, yang menceritakan: Suatu hari kami pernah berkumpul bersama Rasulullah Saw, lalu beliau bertanya, ‘Apakah diantara kalian terda pat orang luar (gharib) [yakni, ahlul-kitab]?”.

Lalu kami (para Sahabat) menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk menutup pintu dan berkata, ‘Angkatlah tangan kalian dan ucapkan: “La Ilaaha Illallah” (Tidak ada Tuhan yang haq selain Allah).” Sadad bin Aus berkata: Kemudian kami mengangkat tangan kami sesaat dan mengucapkan kalimat, “La Ilaha IllaLlahu” (Tidak ada Tuhan yang haq selain Allah). “Lalu Rasulullah meletakkan tangannya sembari berdoa:

“Segala puji hanya milik Allah, ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengutusku dengan membawa Kalimat ini, Engkau memerintahku dengan Kalimat ini, Engkau telah menjanjikanku surga atas Kalimat ini, dan sesungguhnya Engkau tidak akan mengingkari janji.“

Kemudian Rasulullah Saw. berkata kepada para Sahabat, “Apakah kalian tidak senang, sesungguhnya Allah telah mengampuni kalian ?”

Ini adalah dalil bagi para guru tarekat dalam men-talqin dzikir kepada para jamaah secara bersamaan. Adapun dalil mereka dalam men-talqin dzikir secara sendiri-sendiri, maka saya tidak mendapatkannya dalam kitab-kitab para ahli hadis yang sempat saya telaah, akan tetapi Tuan Guru Yusuf al-Ajami, seorang guru silsilah telah meriwayatkan dalam risalahnya dengan sanad yang mutashil (sambung) sampai kepada Ali bin Abu Thalib r.a. yang mengatakan: Aku pernah meminta kepada Rasulullah Saw, “Tunjukkan aku jalan (cara) yang lebih dekat kepada Allah Azza wa-Jalla dan paling mudah untuk dilakukan oleh para hamba serta paling utama di sisi Allah Swt.” Maka Rasulullah Saw. berkata, “Wahai Ali, engkau harus melanggengkan dzikir kepada Allah Azza wa-Jalla, baik secara sirri (rahasia) atau keras (terang-terangan).” Lalu aku menyahut, “Semua orang bisa berdzikir, wahai Rasulullah! Akan tetapi yang kuinginkan adalah engkau mau mengkhususkan sesuatu untukku.” Maka Rasulullah Saw bersabda:

“Jangan, wahai Ali, sebaik-baik apa yang aku dan para nabi terdahulu ucapkan adalah kalimat, ‘La Ilaha IllaLlah.’ Dan andaikan tujuh langit dan tujuh bumi berada pada piringan neraca [yang satu] sedangkan kalimat ‘La Ilaha IllaLlah’ berada di piringan neraca [yang lain], tentu kalimat ‘La Ilaha IllaLlah’ akan tetap mengungguli (lebih berat).”

Untuk menguatkan Hadis ini adalah Hadis yang diriwayatkan Ibnu Hibban, al-Hakim dan lain-lain dengan Hadis Maifu’ (sampai kepada Rasulullah Saw): Bahwa Musa a.s. pernah berkata kepada Tuhannya, “Ya Tuhan, ajari aku sesuatu, yang dengan sesuatu itu aku bisa mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu.” Kemudian Allah menjawab, “Wahai Musa, ucapkan, ‘La Ilaha IllaLlah’ (Tiada Tuhan selain Allah).” Lalu Musa berkata, “Wahai Tuhan, seluruh hamba-Mu telah mengucapkan kalimat ini,” Allah menjawabnya, “Ucapkan, ‘La Ilaha IllaLlah’ (Tiada Tuhan selain Allah).” Musa balik berkata, “Ya Tuhanku, aku ingin sesuatu yang Engkau khususkan untukku. “ Allah menjawab, “Wahai Musa, andaikan tujuh langit dan tujuh bumi berada pada piringan neraca [yang satu] sedangkan kalimat ‘La Ilaha IllaLlah’ berada di piringan neraca [yang lain], tentu kalimat ‘La Ilaha IllaLlah’ akan miring (lebih berat).”

Hadis ini adalah sebanding dengan apa yang ditanyakan Ali r.a. kepada Rasulullah Saw. Dan dalam Hadis lain diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. pernah berkata kepada Ali r.a., “Wahai Ali, Kiamat tidak akan segera terjadi sementara di muka bumi ini masih ada orang yang mengucapkan, Allah’.”

Tuan Guru Yusuf al-Ajami mengatakan: Kemudian Ali r.a. meminta kepada Rasulullah Saw. untuk membimbing dzikir secara lisan (talqin) sembari berkata: “Bagaimana aku berdzikir?” Maka Rasulullah Saw. berkata, “Pejamkan kedua matamu dan dengarkan dariku tiga kali, kemudian kamu ucapkan, La Ilaha IllaLlah (Tidak ada Tuhan selain Allah) tiga kali, sementara aku mendengarkanmu.” Kemudian Rasulullah Saw. mengucapkan: La Ilaha IllaLlah (Tidak ada Tuhan selain Allah) sebanyak tiga kali dengan memejamkan kedua matanya dan mengeraskan suaranya, sementara Ali mendengarkannya. Lalu Ali r.a. menirukannya dengan mengucapkan La Ilaha IllaLlah (Tidak ada Tuhan selain Allah) sebanyak tiga kali dengan memejamkan kedua matanya dan mengeraskan suaranya, sementara Nabi Saw. mendengarkannya.

Saya tidak menemukan dalil dan landasan tentang cara yang diajarkan Rasulullah Saw. kepadaAli r.a. ini. Sementara hanya Allah yang Mahatahu.

Tuan Guru Yusuf al-Jami —rahimahullah— mengatakan: Rasulullah Saw. memerintahkan para Sahabat untuk menutup pintu ketika beliau hendak membimbing dzikir secara lisan kepada para Sahabatnya dengan lebih dahulu bertanya, ‘Apakah diantara kalian terdapat orang luar (gharib) [yakni, ahlul-kitab]?”—sebagaimana Hadis di muka— adalah untuk mengingatkan bahwa tarekat kaum sufi dibangun atas dasar ketertutupan. ini berbeda dengan Syariat suci. Sehingga seorang pengikut tarekat kaum sufi tidak diperkenankan membicarakan hakikat di depan orang yang tidak meyakininya, karena dikhawatirkan bisa berakibat mengingkarinya, dan kemudian membenci!

Dari sini sebagian dari para ahli hadis mengingkari bahwa Hasan al-Bashri pernah mendapatkan bimbingan secara lisan tentang dzikir kalimat (Tidak ada Tuhan selain Allah dari Ali r.a., karena sangat langkanya dan sedikitnya argumentasi untuk menguatkan akan hal itu secara masyhur. Bahkan sebagian dari mereka juga mengingkari bahwa Hasan al-Bashri sempat berkumpul dengan Ali bin Abu Thalib r.a., apalagi tentang kesempatan mendapatkan bimbingan tarekat dari Ali r.a. Tapi yang benar, ia sempat berkumpul dengan Ali r.a. dan ia sempat mendapatkan bimbingan secara lisan tentang dzikir La Ilaha IllaLlah (Tidak ada Tuhan selain Allah) dari Ali r.a. dan Ali pun sempat memakaikan serpihan kain (khirqah) kepada al-Hasan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar dan muridnya, al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi —rahimahumallah— meriwayatkan, dimana ia mengatakan bahwa sanadnya sahih dan para perawinya juga bisa dipercaya: Sesungguhnya Hasan al-Bashri pernah berkata: ‘Aku pernah mendengar Ali r.a. berkata: Rasulullah Saw. bersabda:‘Umatku ibarat hujan, tidak diketahui mana yang terbaik, yang pertama atau yang terakhir?’.”

Dalam riwayat lain dari Hasan al-Bashri yang mengatakan: Aku pernah mendengarAli r.a. di Madinah, ’dimana ia mendengar suara, lalu ia bertanya: “Apa gerangan ini?” Orang-orang menjawab, “Utsman bin Affan terbunuh!!” Lalu ia berkata: “YaAllah, sesungguhnya aku bersaksi kepada-Mu, bahwa aku tidak rela dan tidak peduli [siapa pun pembunuhnya].”

Dalam Musnad Ibnu Musdi, dari Hasan al-Bashri yang berkata: “Aku pernah berjabat tangan dengan Ali bin Abu Thalib r.a.”

Jalaluddin as-Suyuthi —rahimahullah— mengatakan: “Menurut hemat saya dan juga sekelompok para Huffazh (penghafal Hadis) riwayat Hasan al-Bashri dan Alii bin Abu Thalib r.a. memang benar dan ada.”

Jalaluddin as-Suyuthi —rahimahullah— juga mengatakan: Demikian halnya apa yang dikemukakan guru kami, al-Hafizh Ibnu Hajar juga sama dengan pernyataan kami, dimana ia memberikan dukungan, dengan mengatakan: Hal ini bisa diperkuat oleh berbagai aspek: Pertama, bahwa apa yang ditetapkan (mutsbat) akan didahulukan daripada yang meniadakan (menafikan); Kedua, al-Hafizh menyebutkan, bahwa Hasan al-Bashri pernah shalat di belakang Utsman bin Affan r.a.. Dan ketika Utsman terbunuh, maka ia shalat di belakang Ali r.a. ketika ia datang di Madinah. Ia juga pernah berkumpul dengan Ali r.a. setiap hari sebanyak lima kali. Syekh Jalaluddin as-Suyuthi menjelaskan hal ini secara panjang lebar pada bagian yang ia tulis mengenai kebenaran mengenakan serpihan kain, tarekat al-Qadiriah, ar-Rifa’iah dan as-Suhrawardiah. Maka sebaiknya anda merujuk kembali pada penjelasannya.

Maka bisa diketahui, bahwa sanad talqin (bimbingan dzikir secara lisan) dan mengenakan serpihan kain (khirqah) yang berlaku di kalangan ulama salaf antara satu dengan yang lain tidak terdapat sanad yang tetap sesuai dengan cara yang ditempuh para ahli hadis, karena mereka telah berprasangka baik terhadap generasi pendahulunya. Sampai pada akhirnya muncul al-Hafizh Ibnu Hajar dan al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi serta orang-orang yang sependapat dengan mereka. Kemudian mereka menyatakan benar dan sahih, bahwa Hasan al-Bashri pernah mendengar Ali r.a. Mereka juga menjadikan sanadnya bersambung (mutashil) sampai kepada al-Bashri. Maka anda jangan heran dan merasa aneh, wahai saudaraku, bila sebagian para ahli hadis menyatakan Mauquf (berhenti) tentang persambungan sanad mengenakan serpihan kain dan bimbingan dzikir secara lisan, karena memang hal itu tidak bisa dilakukan, dimana sebagian besar kaum sufi merasa kesulitan untuk mengeluarkan (takhrij) dan kitab-kitab para ahli hadis. Semoga Allah Swt. senantiasa memberi rahmat kepada Ibnu Hajar dan Jalaluddin as-Suyuthi yang telah menjelaskan tentang persambungan sanad masalah tersebut.

Insya Allah hal mi bakal kamijelaskan lebih lanjut ketika kami membicarakan teiitang sanad mengenakan serpihan kain, dimana Syekh Muhyiddin Ibnu al-Arabi tidak pernah melihat persambungan sanad mengenakan serpihan kain melalui cara menukil (mengalihkan kepada orang lain) secara lahiriah. Kemudian ia mengambilnya melalui Nabi Khidhir a.s. ketika ia sedang berkumpul dengannya, sampai akhirnya dijadikan sebagai rujukan dalam sanad. Dan segala puji hanya milik Allah.

Bila sekarang anda telah tahu akan kebenaran dan kesahihan sanad kaum sufi dan sambungnya sanad taiqin dan Nabi Saw. kepada Ali bin Abu Thalib r.a., maka Au r.a. juga mentaiqin Hasan al-Bashri, kemudian Hasan al-Bashri men-talqin Habib al-Ajami, dan Habib al-Ajami men-talqin Dawud ath-Tha’i, kemudian Dawud ath-Tha’i men-talqin Ma’ruf al-Karkhi, kemudian Ma’ruf al-Karkhi men-talqin Sari as-Saqathi, kemudian Sari as-Saqathi men-talqin Abu al-Qasim al-Junaid, kemudian al-Junaid men-talqin al-Qadhi Ruwaim, kemudian Ruwaim men-talqin Muhammad bin Khafif asy-Syirazi, kemudian Ibnu Khafif men-talqin Abu al-Abbas an-Nahawandi, kemudian an-Nahawandi men-taiqin Syekh Faraj az-Zanjani, kemudian az-Zanjani men-talqin Syekh Syihabuddin as-Suhrawardi, kemudian Syekh Syihabuddin men-talqin Syekh Najibuddin Burghusy asy-Syirazi, kemudian Ibnu Burghusy men-talqin Syekh Abdush-Shamad an-Nathtani, kemudian Syekh Abdush-Shamad men-talqin Syekh Hasan asy-Syamsiri, kemudian asy-Syamsiri men-talqin Syekh Najmuddin, kemudian Syekh Najmuddin men-talqin Syekh Mahmud al-Ashfahani, kemudian Syekh Mahmud men-talqin Syekh Yusuf al-Ajami al-Kurani, kemudian Syekh Yusuf men-talqin Syekh Hasan at-Tustari yang dimakamkan di dekat jembatan al-Muski Mesir al-Mahrusah, kemudian Syekh Hasan men-talqin Syekh Ahmad bin Sulaiman az-Zahid, kemudian az-Zahid men-talqin Syekh Madyan, kemudian Syekh Madyan men-talqin Syekh Muhammad, putra dan saudara perempuan Madyan, Tuan Guru Muhammad men-taiqin Syekh Muhammad as-Surawi dan Syekh Ali al-Murshifi. Kedua Tuan Guru tersebut yang membimbing kami bertobat dan men-talqin hamba yang selalu membutuhkan pertolongan Allah ini Abdul-Wahab bin Ahmad asy-Sya’rani, penulis risalah ini.

Kemudian saya juga pernah mendapatkan bimbingan dzikir secara lisan (talqin) dari Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi, seorang murid dan kedua guru saya yang terakhir tersebut, dimana beliau membimbing saya dalam bertobat dan memberi izin saya untuk men-talqin dzikir dan mendidik para murid sufi, untuk meniru dan mencari berkah terhadap tarekat kaum sufi.

Sayajuga memiliki jalur tarekat lain yang sanadnya lebih dekat dan kedua sanad di atas, dimana saya pernah mendapatkan bimbingan secara lisan dari Syekh Islam Zakaria al-Anshani, dimana ia mendapatkan bimbingan dari Tuan Guru Muhammad al-Ghamari, murid dari Tuan Guru Ahmad az-Zahid, teman dari Syekh Madyan. Sehingga silsilah antara saya dengan Syekh az-Zahid hanya ada dua orang. Darij alur ini saya sejajar dengan Tuan Guru Muhammad as-Surawi, guru dari Syekh Muhammad asy-Syanawi. Akan tetapi dan jalur ini tidak ada yang mengizinkan saya untuk men-talqin dan mendidik para murid sufi, selain Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi.

Saya juga merniliki jalur tarekat lain, selain jalur-jalur di atas, dimana antara saya dengan Rasulullah Saw. hanya terdapat dua orang silsilah. Jalur ini saya dapatkan bimbingan dari Tuan Guru Ali al-Khawwash, dimana dia pernah mendapatkan bimbingan dari Tuan Guru Ibrahim al-Matbuli yang langsung mendapatkan bimbingan dari Rasulullah Saw. secara sadar dengan lisan dan dengan cara yang sudah dikenal di kalangan kaum sufi di alam ruhaniah. Kemudian Tuan Guru Ali al-Khawwash sebelum wafat juga mendapatkan bimbingan langung dari Rasulullah Saw. tanpa perantaraan silsilah orang lain, sebagaimana yang pernah didapatkan oleh gurunya, Syekh Ibrahim al-Matbuli. Dengan demikian antara saya dengan Rasulullah Saw. hanya ada satu orang silsilah. Jalur tarekat ini hanya saya sendiri yang bisa mendapatkan di Mesir sampai saat ini. Sebagaimana yang saya jelaskan dalam Kitab al-Minan wal-Akhlaq dan dalam Kitab al-’Uhud al-Muhammadiyyah. Dan hanya Allah yang Mahatahu.

Ketika Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi —rahimahullah— membimbingku dzikir secara lisan, ia menyenandungkan bait syair berikut:

Aku bingung di malarnku, selagi aku hidup.

Jika aku mati, maka siapa yang akan bingung setiap malamnya setelahku, Kemudian dia berkata kepadaku: Sudah menjadi tradisi para guru tarekat sufi, setelah mereka men-talqin muridnya akan menyebutkan sanad (silsilah) talqin yang mereka dapatkan dari guru sebelumnya, dan menyebutkan sanad mengenakan serpihan kain (khirqah) kepada sang murid sebelum sang guru mengenakan serpihan kain tersebut kepada sang murid. Dia juga memberi tahu saya, bahwa di NegaraYaman sana terdapat jamaah yang memiliki sanad talqin bacaan shalawat kepada Rasulullah Saw. Mereka membimbing bacaan shalawat kepada sang murid, sehingga mereka sibuk untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Sang murid akan terus memperbanyak shalawat kepada Nabi, sampai akhirnya ia bisa bertemu dengan Rasulullah Saw. secara sadar dan berbicara secara lisan. Ia bisa bertanya kepada Nabi tentang beberapa kejadian sebagaimana seorang murid yang bertanya kepada gurunya. Tingkatan spiritual sang murid ini ternyata naik begitu cepat dalam waktu hanya beberapa hari, sehingga ia tidak butuh lagi bimbingan dari para guru sufi, karena langsung dibimbing oleh Rasulullah Saw. sendiri.

Syekh Muhammad asy-Syanawi melanjutkan pembicaraannya: Guru kebenaran dalam menempuh jalur tarekat tersebut adalah ia bisa bertemu dengan Nabi Saw —sebagaimana yang kami sebutkan. Kalau ia tidak berhasil bertemu dan berkumpul dengan Nabi Saw. maka jalur tarekatnya jelas tidak benar. Dan diantara orang yang bisa berhasil bertemu dengan Nabi Saw. adalah Syekh Ahmad az-Zawawi ad-Damanhuri, dimana wirid shalawatnya kepada Nabi Saw. setiap harinya sebanyak lima puluh ribu kali shalawat dengan lafal berikut:

“Ya Allah, semoga shalawat (rahmat) tetap Engkau berikan kepada Junjungan kita Muhammad, seorang Nabi yang Llmmi dan kepada keluarga serta para Sahabatnya, dan juga salam sejahtera kepadanya.”

Dan diantara orang yang juga berhasil menempuh jalur ini adalah Syekh Nuruddin asy-Syanwani, pendiri majelis shalawat yang ada di Jami al-Azhar. Termasuk juga orang yang berhasil menempuh jalur ini adalah Syekh Muhammad Dawud al-Mauzalawi, Syekh Muhammad al-SAil ath-Thanaji, Syekh Jalaluddin as-Suyuthi dan sekelompok orang yang kami sebutkan dalam Mukadimah Kitab al-Vhud 4- Muhammadiyyah dan generasi terdahulu dan sekarang.

Saya mengambil tarekat shalawat mi melaluij alur Syekh Nuruddin asy-Syanwani yang mengatakan: “Bahwa diantara syarat-syaratnya adalah makan makanan yang halal, tidak menyibukkan diri dengan apa pun selain apa yang diizinkan oleh Syariat.” Maka segala puji hanya milik Allah, Tuhan Pemelihara alam.

Jumat, 20 Januari 2012

Cinta Itu Satu Perkenalan

Kalam Al Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al Jufri

Assalamu`alaikum Warahmatullahi wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat salam semoga selalu terlimpahkan kepada Baginda Rasulullah SAW, keluarga dan Shahabatnya.
Ibnu Abbas RA menjelaskan tentang firman Allah SWT:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menjadikan Jin dan Manusia melainkan untuk menyembah-Ku”.(Q.S. Adh Dhariyat: 56) Yaitu mengenali Alah SWT.

Ibrahim bin Adham RA telah berkata: “Kasih sayang itu merupakan hasil dari sebuah perkenalan, barang siapa yang mengenal Allah SWT maka dia akan mencintai-Nya dan barang siapa mencintai Allah SWT maka dia akan mencintai Baginda Rasulullah SAW, barang siapa yang kenal Baginda Rasulullah SAW, pasti dia akan mencintainya”.
Kita pernah mendengar sebuah ungkapan menarik yang mengatakan bahwa; Tidak wajar hubungan kita dengan Baginda Rasulullah SAW jika hanya sekedar melakukan suatu amalan dan hanya cukup seperti itu, sepatutnya hubungan tersebut akan membuahkan cinta kepada Habibana Muhammad SAW dan cinta itu terus hidup mekar didalam hati kita dan beliau SAW pasti akan hidup didalam hati kita.

Baginda Rasulullah SAW adalah seorang Nabi yang datang kepada kita sebagai seorang manusia, namun Nabi SAW bukanlah seperti insan biasa. Baginda Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita bagaimana cara memandang kepada sebuah kehidupan dengan pandangan yang mempunyai makna, bukan pandangan yang sebaliknya. Perbedaan diantara kedua pandangan yang tidak mempunyai makna ialah, seseorang yang melihat dirinya dan semata-mata tertumpu untuk memenuhi kepuasan nafsu dirinya. Pandangan yang mempunyai makna ialah, melihat kepada kehidupan mengikuti pandangan yang telah dibawa Baginda Rasulullah SAW, dimana ia bertujuan untuk mengembalikan kekhalifahan diatas muka bumi ini kepada manusia yang termaktub didalam Al Quran: “sesungguhnya Aku telah jadikan diatas muka bumi ini khalifah”. Pandangan tersebut itu merangkumi kepada hewan, benda-benda tidak bernyawa dan tumbuh-tumbuhan, karena pandangan itu bukan hanya melibatkan pandangan kepada manusia saja tetapi merangkumi semua.
Baginda Rasulullah SAW memandang kepada gunung yang terdiri dari batu dan tanah, dengan suatu pandangan yang membangkitkan perasaan cinta. Sabda beliau SAW: “Uhud adalah bukit yang mencintai kita dan kita juga mencintainya”.

Pandangan yang ditunjukkan Baginda SAW kepada yang tidak bernyawa itu menyebabkan ia begerak dan cenderung kepada Baginda Rasulullah SAW. Dalam suatu peristiwa, bukit Uhud bergetar ketika Baginda Rasulullah SAW mendaki bukit tersebut, kemudian Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Tetaplah kamu wahai Uhud, sesungguhnya yang diatas kamu ini ialah seorang Nabi”. Maka bukit Uhudpun berhenti bergetar dan disaksikan oleh shahaabat Abu Bakar As Shidiq dan dua orang lainnya. Pandangan yang ditunjukkan Baginda Nabi Muhammad SAW kepada benda-benda yang tidak bernyawa itu, menyebabkan ia datang kepada Baginda Nabi SAW dan menerimanya.

Sepertu sebuah kisah pelepah kurma yang tidak bernyawa, dimana Baginda Nabi SAW sering memegang pelepah kurma tesebut ketika sedang khutbah Jumat di Masjidnya, hari demi hari bilangan manusia semakin bertambah maka Baginda Nabi SAW menggunakan Mimbar. Suatu ketika Baginda Nabi SAW pun datang ke Masjid untuk khutbah, ketika itu Baginda Nabi SAW telah melepasi pelepah kurma yang dibawanya tersebut, dimana jarak Baginda Nabi SAW dengan pelepah kurma tersebut kurang lebih sekitar 8 langkah. Baginda Nabi SAW melangkah menaiki mimbar dan memulai khutbahnya, semasa khutbah Baginda Nabi SAW, para shahabat mendengar suara tangisan yang teramat sedih dan menyayat hati. Semakin lama suara tangisan itu semakin nyaring terdengar, para shahabat mulai berpaling kekiri dan kekanan mencari-cari dari mana arah datang suara tangisan tersebut, akhirnya mereka dapati suara tangisan itu datang dari pelepah kurma. Apabila benda yang tidak bernyawa ini telah dapati Baginda Nabi SAW berkomunikasi dengannya dan mengandung makna kehidupan yang dibawa Baginda Nabi SAW, maka beliau SAW telah menggerakkan makna kehidupan pada pelepah kurma itu.

Oleh karena itu ia amat menyukai untuk menggambarkan rasa cintanya kepada Baginda Rasulullah SAW. (Hadits ini bertahap mutawatir mengikuti ke Shahihannya)
Para Shahabat berkata: Apabila pelepah kurma itu mulai merengek seperti kehilangan anak, ia menyebabkan kami hampir tidak bisa mendengar suara Baginda Nabi SAW. Kemudian Baginda Nabi SAW turun dari mimbar dan sekali lagi Baginda Nabi SAW telah mengajar kami suatu pengajaran bahwa; Baginda Nabi SAW datang dengan mempunyai pengetahuan tentang rahasia sebuah kehidupan untuk membujuk pelepah kurma itu, kemudian beliau SAW meletakkan tangannya diatas pelepah kurma itu lalu membujuknya seperti seorang ibu yang membujuk anaknya sedang menangis sehingga pelepah kurma itupun terus diam. Lalu Baginda Nabi SAW memberi pilihan kepadanya, kekal hidup sehingga hari kiamat dan kembali kepada Nabi SAW seperti sedia kala atau berada bersama Baginda Nabi SAW didalam Surga. Pelepah kurma itupun memilih untuk bersama Baginda Nabi SAW di Surga.

Baginda Nabi SAW apabila datang kepada hewan, telah mengajar kita bagaimana cara untuk bermuamalah dengan hewan dengan mempunyai nilai ubudiyah kepada Allah SWT. Ketika Baginda Nabi SAW berangkat kemedan jihad di Perang Badar, berulangkali Baginda Nabi SAW turun dari hewan tunggangannya tersebut supaya dapat beristirahat, demikianlah Baginda Nabi SAW terus menerus lakukan pada tunggangannya.

Baginda Nabi SAW telah mengajar kita cara bermuamalah kepada yang telah berkhidmat untuk kita walau ia hanya seekor hewan. Muamalah ini mestilah mempunyai nilai rasa menghargai, bahwa yang dihadapanku ini mempunyai hak sewajarnya untuk dipelihara.
Hasil dari sebuah kecintaan ini juga dapat dilihat, apabila seekor hewan berada dipuncak kemarahan sekalipun, ia mau merasai hubungan dengan orang yang dapat berkomunikasi dengannya dimana orang itu memahami rahasia sebuah kehidupan. Terdapat sebuah kisah tentang seekor unta dan orang Arab tahu apabila unta tersebut membahayakan bahkan bisa membunuh orang, mereka pasti akan mengikatnya. Baginda Nabi SAW melalui kawasan tersebut dan bertanya: “Apa yang berlaku kepada kamu?”, mereka menjawab; “Unta ini bahaya”, Baginda Nabi SAW bersabda; “Bukalah ikatan unta itu”, mereka menjawab, “kami takut ada hal-hal yang tidak baik menimpamu, disebabkan unta ini ya Rasulullah?”, Baginda Nabi SAW bersabda; “Bukakanlah ikatan itu”. Merekapun membuka ikatan tersebut.

Kemudian Baginda Nabi SAW mendekati unta itu, lantas iapun diam sebagaimana diriwayatkan oleh hadits shahih, unta itu datang kepada Baginda Nabi SAW dalam keadaan tunduk. Seorang perawi telah meriwayatkan: “Unta itu mendekati kaki Baginda Nabi SAW dan menciuminya, kemudian ia mengangkat kepalanya, Nabi SAW mendekati dan berbicara dengannya. Lantas unta itu angkat kepalanya dan mendekati Nabi SAW sekali lagi, ia membisikkan sesuatu ketelinga Nabi SAW, seterusnya Baginda Nabi SAW kembali berkata-kata kepadanya dan ia pun melakukan perkara yang sama.

Setelah itu Baginda Nabi SAW memandang ke arah orang yang mempunyai Unta tersebut dan berkata; “Sesungguhnya unta ini telah mengad kepadaku bahwa ia telah diberikan kerja-kerja yang membebankannya dan kamu juga tidak memberi makan yang baik kepada unta itu”. Mereka menjawab, “Ya Rasulullah, demi karenamu ia akan diberi sebaik-baik makanan untuk unta dan kami tidak akan membebankan selama-lamanya”.

Unta ini berbicara begitu karena Baginda Nabi SAW datang kepadanya dengan membawa makna kehidupan hewannya. “Tidak diutuskanmu melainkan membawa rahmat seluruh alam”. Begitulah akhlak Baginda Nabi SAW bersama unta dan benda-benda yang tidak bernyawa.
Maka bagaimana muamalah Baginda Nabi SAW dengan manusia? Dimana beliau SAW ditugaskan mengangkat martabat manusia serta mengembalikan sifat manusia kepada sifat kemanusiaannya. Pada hari ini kita dapat belajar satu pengajaran; kita hidup sebagai umat Baginda Rasulullah SAW mengetahui bahwa berbicara dengan alam yang mengelilingi kita, dengan konsep kenabian yang mulia akan menimbulkan keadaan yang lain pada alam ini serta menjadikan alam ini merasai rahasia sebuah kehidupan yang dianugerahkan Baginda Rasulullah SAW untuk memahaminya, ini merupakan penganugerahan cinta, diadakan untuk menggerakkan hati kita sebelum orang lain. Untuk menyadarkan kita sebagai kelompok muslim tentang wujudnya hubungan dengan Baginda Rasulullah SAW. Ia membuat kita berlomba-lomba dalam perlombaan, disana kita mampu untuk berbicara dengan alam ini dari mula bahwa Baginda Rasulullah SAW diutus untuk mengembalikan rasa hormat manusia kepada dirinya sendiri sebagai manusia dan hormat kepada alam disekelililngnya sehingga alam ini juga kembali hormat kepada manusia itu. Jika kita kembali pada konsep komunikasi dengan yang berada disekeliling kita dan sebaliknya dengan berpandukan ajaran Baginda Rasulullah SAW, banyak perkara akan berubah kepada suatu keadaan yang lebih baik karena kita adalah umat Baginda Rasulullah SAW.

Aku mohon kepada Allah SWT, agar hidupkan kita dengan makna ini, ya Allah..hidupkanlah makna hubungan dengan Baginda Rasulullah SAW didalam jiwa kami, gerakkanlah dalam diri kami dengan semangat ini, satukanlah kami dengan orang yang Engkau cintai dan ridha dengan rahmat-Mu wahai Tuhan yang Maha pengasih dan penyayang dan segala puji bagi Allah SWT Tuhan sekalian alam.

Wallahu A`lam…
http://ahlulkisa.com

Bertasawuf yang Benar

Dua orang ulama besar pernah hidup pada satu zaman. Keduanya dikenal sebagai ahli fiqih dan sekaligus ahli makrifat. Yang satu bernama Syech Sofyan Al-Tsawri. Ia dikenal sebagai pendiri mazhab fiqih besar di zamannya; tetapi dalam perkembangan zaman, fiqihnya kalah populer dengan fiqih-fiqih yang lain, satunya lagi adalah Imam Ja’far Al- Shadiq, salah satu di antara “bintang” cemerlang dalam silsilah tarikat.

Pada suatu hari Syech Sofyan Al-Tsawri mendatangi Imam Ja’far Al-Shadiq dan di dapatinya Imam Ja’far dalam pakaian yang indah gemerlap, hingga tampak bagi Al-Tsawri sangat mewah. Ia merasa, Imam yang terkenal sangat salih dan zahid, tidak pantas untuk memakai pakaian seperti itu. Ia berkata, “Busana ini bukanlah pakaianmu!”.

Imam Jakfar Al-Shadioq menimpali ucapan Al-Tsawri dengan berkata, “Dengarkan aku dan simak apa yang akan aku katakan padamu. Apa yang akan aku ucapkan ini, baik bagimu sekarang dan pada waktu yang akan datang, jika kamu ingin mati dalam sunnah dan kebenaran, dan bukan mati di atas bid’ah. Aku beritakan padamu, bahwa Rasulullah saw hidup pada zaman yang sangat miskin. Ketika kemudian zaman berubah dan dunia datang, orang yang paling berhak untuk memanfaatkannya adalah orang-orang salih, bukan orang-orang yang durhaka; orang-orang mukmin, bukan orang-orang munafik; orang-orang Islamnya bukan orang-orang kafirnya. Apa yang akan kau ingkari, hai Al- Tsawri? Demi Allah, walaupun kamu lihat aku dalam keadaan seperti ini sejak pagi hingga sore, jika dalam hartaku ada hak yang harus aku berikan pada tempatnya, pastilah aku sudah memberikannya semata-mata karena Allah.”

Pada saat itu datanglah rombongan orang yang” bergaya sufi”. Mereka mengajak orang banyak untuk mengikuti kehidupan mereka yang sangat sederhana. Mendengar ucapan Imam Ja’far, mereka berkata, “Tampaknya sahabat kami ini tidak mampu membalas pembicaraan Tuan dan tidak dapat menyampaikan hujah.” Imam Ja’far berkata, “Tunjukkan hujah kalian.” Mereka menyahut, “Kami punya hujah dari Kitab Allah.” Kata Imam, “Tunjukkan dalil-dalilnya, karena Kitab Allah lebih wajib untuk diikuti dan diamalkan.ketimbang selainnya” Mereka berkata, “Allah swt mengabarkan sekelompok sahabat Nabi saw: di dalam kitab-Nya; Dan mereka mendahulukan orang-orang lain di atas diri mereka sendiri sekali pun mereka memerlukan apa yang mereka berikan itu; siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr; 9) Allah memuji mereka. Kemudian Allah berfirman dalam ayat yang lain; Mereka memberikan makanan yang mereka cintai kepada orang miskin, yatim, dan tawanan. Cukuplah bagi kami semua keterangan ini.”

Di antara yang hadir dalam majelis itu ada seseorang yang segera menukas, “Kami tidak melihat kalian (dengan maksud orang yang “Bergaya sufi” itu) menahan diri untuk tidak makan makanan yang baik. Malahan kalian memerintahkan orang lain untuk mengeluarkan harta mereka supaya kalian bersenang-senang dengan memanfaatkan harta mereka.” Imam berkata pada orang itu, “Tinggalkan olehmu apa yang tidak bermanfaat bagi kamu.” Setelah itu Imam berkata kepada mereka yang menyampaikan dalil-dalil dari Al- Quran itu, “Hai saudara-saudara, ceritakan kepadaku apakah kalian tahu nâsikh-mansûkh dalam Al-Quran, muhkam dan mutasyâbih-nya? Karena di sinilah umat ini banyak yang tersesat atau binasa.” Mereka menjawab: “Sebagian memang kami ketahui. Tetapi sebagian yang lain tidak.”

Dengan bertanya seperti itu, Imam Ja’far bermaksud untuk mengajarkan mereka untuk berhati-hati menafsirkan Al-Quran, tanpa bantuan ilmu yang memadai. Karena di dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat yang berlaku dalam konteks tertentu tetapi tidak pada konteks yang lain (nâsikh-mansûkh). Di dalamnya juga ada yang sangat jelas maknanya dan ada yang sekilas tampak ambigu (muhkam mutasyâbih). Setelah itu, Imam Ja’far berkata:“Apa yang kalian sebut sebagai keterangan dari Al-Quran tentang orang yang mendahulukan orang lain, walaupun diri mereka dan keluarga mereka kepayahan, perbuatan mereka itu hanyalah hal yang diperbolehkan bukan hal yang dilarang. Mereka mendapat pahala di sisi Allah. (Tidak ada perintah untuk melakukan perbuatan seperti itu. Mereka boleh saja melakukan hal demikian). Tetapi Allah setelah itu memerintahkan mereka untuk melakukan hal yang bertentang dengan apa yang mereka lakukan. Perintah Tuhan itu menjadi nâsikh (menghapuskan) bagi perbuatan mereka. Allah melarang mereka untuk berbuat demikian sebagai ungkapan kasih sayangnya kepada kaum mukmin. Supaya mereka tidak menyengsarakan dirinya dan keluarganya. Mungkin ada di antara mereka anak-anak kecil yang lemah, anak-anak, orang tua renta, orang yang sudah sangat tua yang tidak sanggup lagi menahan lapar. Jika aku menyedekahkan makananku kepada orang lain, padahal padaku tidak ada lagi makanan selain itu, pastilah semua keluargaku ditelantarkan dan binasa dalam keadaan lapar.

Karena itulah Rasulullah saw bersabda: Jika ada lima butir kurma atau lima dinar atau dirham yang dimiliki seseorang, kemudian ia ingin mengekalkan uang itu, maka yang paling utama ialah ia memberikannya kepada kedua orangtuanya, kemudian kepada dirinya dan keluarganya, kemudian kepada kerabat dan saudaranya kaum muslim, kemudian kepada tetangganya yang miskin, dan terakhir pada ranking kelima, ia mensedekahkannya di jalan Allah.

Seorang Anshar memerdekakan lima atau enam orang budak sebelum matinya, padahal ia tidak punya harta lain selain itu. Ia meninggalkan anak-anak kecil. Nabi saw pernah berkata kepada sahabatnya: ‘Sekiranya kalian memberitahukan kepadaku keadaan dia, aku tidak akan membiarkan kalian menguburkannya di pekuburan muslimin. Ia menelantarkan anak-anak kecil dan membiarkan mereka mengemis kepada orang lain.’ Kemudian Imam berkata: ‘Ayahku menyampaikan kepadaku dari Nabi saw bahwa ia bersabda; Mulailah dari tanggunganmu yang paling dekat, kemudian yang paling dekat, dan seterusnya!’

Kemudian, inilah yang difirmankan dalam Al-Quran, yang menolak argumentasi kalian dan diwajibkan kepada kalian oleh Tuhan yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana; Dan orang-orang yang apabila membelanjakan hartanya, mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan; 67). Tidakkah kalian perhatikan bahwa Allah mengecam orang yang berlebih-lebihan dalam menginfakkan hartanya? Pada ayat lain Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Ia tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (QS. Al-An’am; 141, QS. Al-A’raf; 31). Tuhan melarang mereka berlebihan dan melarang mereka kikir. Yang benar itu ialah yang berada di tengah-tengah. Seseorang tidak boleh memberikan seluruh hartanya, lalu setelah itu, ia berdoa agar Tuhan memberinya rezeki. Doa seperti itu tidak akan dikabulkan.

Rasulullah saw bersabda: Ada beberapa kelompok dari umatku yang doanya tidak akan dikabulkan; Doa seorang anak yang disampaikan untuk mencelakakan orang tuanya, doa seseorang untuk mencelakakan pengutangnya padahal ketika ia membuat transaksi tidak ada saksi, doa seorang lelaki untuk mencelakakan isterinya padahal Allah sudah menyerahkan tanggungjawab memelihara isteri itu di tangannya, dan doa seseorang yang duduk di rumah lalu ia tidak henti-hentinya bermohon: ‘Tuhanku berilah rezeki padaku’; kemudian ia tidak keluar rumah untuk mencari rezeki. Allah swt akan berkata kepadanya: ‘Wahai hamba-Ku, bukankah Aku sudah memberi jalan bagimu untuk mencari rezeki dan berusaha di bumi dengan modal tubuhmu yang sehat? Supaya kamu tidak bergantung pada orang lain. Jika Aku kehendaki, Aku akan memberi rezeki. Jika Aku kehendaki, Aku batasi rezeki kamu. Dan alasanmu Aku terima.’

“Selain itu, doa orang yang tidak akan Aku dengar adalah doa seseorang yang mendapat rezeki yang banyak dari Allah swt. Ia mengeluarkan semuanya kemudian ia kembali sambil berdoa: ‘Ya Rabbi, berilah aku rezeki’. Tuhan berfirman: ‘Bukankah Aku telah memberimu rezeki yang banyak. Kenapa kamu tidak berhemat seperti yang Aku perintahkan? Mengapa kamu berlebih-lebihan seperti yang Aku larang?’ Kemudian terakhir, doa yang tidak akan didengar Tuhan adalah doanya orang yang memutuskan silaturahim.’

“Allah mengajari Nabi-Nya bagaimana cara berinfak. Di suatu hari, pada diri Rasulullah saw ada beberapa uang emas. Ia tidak ingin tidur bersama uang itu. Kemudian ia mensedekahkannya. Pagi hari ada seseorang yang datang meminta bantuan kepadanya. Tapi Rasulullah tidak punya apa pun. Peminta itu kecewa karena Nabi saw tidak membantunya. Rasulullah saw juga berduka cita karena tidak dapat memberinya apa pun, padahal Nabi saw adalah orang yang sangat santun dan penuh kasih. Allah swt lalu mendidik beliau dengan firman-Nya: Janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu di kudukmu, jangan juga engkau buka selebar-lebarnya, nanti kamu duduk dalam keadaan menyesal dan rugi (QS. Al-Isra 29).”

Sofyan Al-Tsawri, bisa dibilang, mewakili pandangan sekelompok orang yang meyakini bahwa kesucian harus dicapai dengan mengorbankan segala-galanya, meninggalkan pekerjaan, memberikan seluruh harta, meninggalkan keluarga, mengasingkan diri, dan menjauhkan diri dari dunia. Konon, karena cinta dunia itu sumber segala kejahatan, akhirnya mereka memilih untuk membenci dunia.

Mujahadah dan Riyadhah.gaya Al-Tsawri, tidak bisa dibilang salah, karena memang ada segolongan orang yang karena “ kondisi tertentu harus menjalani model itu”, tetapi tidak dapat diterapkan sepenuhnya kepada semua orang, karena jika demikian, siapakah di antara kita yang harus membayar zakat, melakukan ibadah haji, mengurus orang yang lemah, membiayai pendidikan, melakukan penelitian ilmiah dan sebagainya ?, hanya melihat kehidupan tasawuf model ini, bisa melahirkan pendapat yang keliru dalam memandang tasawuf dan kehidupan Sufi yang oleh sebagian penentangnya, diidentikkan dengan kemiskinan, kelusuhan, dan bahkan kekotoran. Bisa bisa membuat orang takut belajar tasawuf dan menjalani kehidupan sufi karena kuatir menjadi miskin.

Imam Ja’far menunjukkan dengan argumentasi yang sangat fasih, bahwa tasawuf sejati tidak demikian. Ia menjelaskan bahwa kemiskinan yang disamakan dengan kesalihan berasal dari kekeliruan dalam memahami Al-Quran dan hadis. Tasawuf sejati bukan tidak memiliki dunia tetapi tidak dimiliki dunia. Sufi bukan berarti tidak mempunyai apa-apa, tetapi tidak dipunyai apa-apa.( Laisa Zuhud bian La tamlika Syaian , Innama Zuhud an laa yamlikaka dzalikas syaik), seperti hal ini ditegaskan oleh Imam Abil Hasan Ali Assadzili

Seorang sufi boleh saja, malah mungkin harus, memiliki kekayaan yang banyak; tetapi ia tidak akan melupakan kewajiban diri maupun hartanya, dalam meraih dan mendistribusikannya dan ia tidak meletakkan kebahagiaan pada kekayaannya. Hatinya tidak bergantung pada harta dan kekayaannya melainkan kepada ALLAH yang memberinya anugrah harta dan kekayaan itu.dan kepadanya sepenuhnya ia bersujud dan menumpahkan puji syukur.


Sumber:
almihrab.com
ahlussunahwaljamaah.wordpress.com