Tampilkan postingan dengan label Sufi Book. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sufi Book. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2012

Buku Cinta Bagai Anggur : Pendidikan Hati

suluk.blogsome.com
Dikutip dari sebagian isi Bab III buku “Cinta Bagai Anggur”, dengan seijin penerbit.
Judul: “Cinta Bagai Anggur: Tuangan Hikmah Dari Seorang Guru Sufi di Amerika.”
Karya: Syaikh Muzaffer Ozak, dikompilasikan oleh Syaikh Ragip Frager
Alih bahasa: Nadia Dwi Insani, Herry Mardian, Herman Soetomo
Penerbit: Pustaka Prabajati


Tetapi apakah sebenarnya “diuji” itu? Seorang guru menguji para siswanya untuk mengetahui tingkat kemampuan mereka, mengetahui tingkat pemahaman mereka. Si guru tidak tahu sedalam apa para siswanya telah belajar. Tapi bukankah Allah mengetahui?

SETIAP nabi mempunyai tugas spesifik. Peran Nabi Isa a.s. adalah untuk menampilkan tiadanya kepemilikan dan kepedulian akan keduniawian.

Ucapan maupun perbuatan para nabi dan para kekasih Allah tidak berasal dari diri mereka sendiri. Mereka sudah tidak lagi memiliki kehendak diri. Mereka hanya mengekspresikan kehendak Allah. Bahkan para wali, yang lebih rendah dari para Nabi pun, juga mencapai jenjang tersebut. Mereka melihat dengan mata-Nya, mendengar dengan telinga-Nya, dan berkata-kata dengan lisan-Nya. Mereka melangkah dengan kaki-Nya dan menggenggam dengan tangan-Nya.

Seperti itu pula, Nabi Isa pun tidak memiliki kehendak diri. Beliau adalah ekspresi dari kehendak Tuhan atas suatu fungsi maupun tujuan yang spesifik. Ini pun berlaku bahkan bagi orang biasa—yah, mungkin orang biasa yang “biasa-biasa”-nya tidak keterlaluan—yaitu orang-orang yang mencintai Allah dan dicintai oleh Allah.

Pada diri Nabi Sulaiman a.s., kehendak Tuhan termanifestasikan dalam bentuk kekayaan dan kekuasaan. Nabi Isa a.s. adalah sultan bagi qalb dan jiwa, sementara Nabi Sulaiman a.s. mengombinasikan penguasaan atas keduniawian dan keruhanian.

Kalau di dunia ini engkau adalah seorang sultan, manusia tidak akan puas atau sepakat dengan kepemimpinanmu. Ini sangat sulit. Nabi Musa a.s pada suatu ketika pernah mengeluh kepada Allah, “Aku berusaha melaksanakan kehendak-Mu, tetapi semua orang kini justru sedang menentang aku.” Allah pun berfirman, “Hai Musa, engkau hanyalah darah dan daging. Padahal Aku, Akulah pencipta mereka. Aku yang memenuhi setiap kebutuhan mereka. Jangankan kepada engkau, bahkan terhadap Aku pun mereka selalu menentang!”

Itulah mengapa Allah tetap tersembunyi, setidaknya dari sebagian besar kita (beberapa dari kita manusia, bahkan hingga hari ini, bisa “melihat” Dia!). Bisakah engkau bayangkan jika Allah bisa dilihat begitu saja, seperti para nabi? Kita akan berlari menangis kepada-Nya, “Tolonglah perhatikan, aku belum punya anak satu pun. Aku tidak punya uang cukup. Aku kehilangan pekerjaan.” Yang lainnya lagi berkata, “Aku tidak puas dengan keadilan-Mu!” Itulah mengapa Allah tersembunyi, demi ketenangan dan kedamaian. Paling tidak, Allah tersembunyi dari mereka yang suka mengeluhkan “pelayanan”-Nya.

Nah, kembali pada kisah kita sebelumnya, perhatikanlah: kehendak manusia sangatlah lemah. Jangan membohongi dirimu sendiri dengan mengatakan bahwa engkau yang mencari dan engkau yang akan menemukan. Ibrahim bin Adham dipanggil oleh Al-Haqq. Namun dia harus terlebih dulu diajari oleh orang yang membajak lahan di atap istananya, dan oleh seekor burung gagak yang menyuapi lelaki yang terikat. Tapi jangan lupa, kau harus memerhatikan tanda-tanda. Melihat saja tidak cukup, engkau harus memerhatikan. Mendengar saja tidak cukup, engkau harus memahami.

Akhirnya, suatu hari Ibrahim bin Adham pergi meninggalkan istananya dan menuju ke padang penggembalaan. Ia bertemu dengan seorang gembala berpakaian kumal yang bertambalan di sana-sini. Walaupun di luar ia compang-camping, namun gembala itu telah menemukan Tuhan dalam kesendiriannya di padang rumput. Di dalamnya, ia telah menjadi seorang yang sangat kaya dan tampan. Sedangkan Sultan Ibrahim bin Adham, walaupun ia mengenakan busana sutra, di dalamnya compang-camping karena ia belum menemukan Al-Haqq. Ibrahim bin Adham kemudian meminta si gembala untuk saling bertukar pakaian, yang lalu menerima tawarannya.

Sang Sultan pun akhirnya berbalik dari penghadapannya kepada keduniawian. Kerajaannya, harta dan kekuasaannya, pakaian-pakaian dan kedudukannya adalah hijab-hijab penghalang antara dia dan Tuhannya. Ia robek semua itu dan mencampakkannya. Tapi tentu saja, ia harus memiliki semua hal itu dulu sebelum bisa mencampakkannya.

Lalu melangkahlah ia ke arah mana pun yang dikatakan kepadanya.

Ibrahim bin Adham dituntun kepada seorang Sultan Kebenaran, seorang guru: seorang syaikh. Di bawah perintah gurunya, Ibrahim bin Adham memulai jihad terbesarnya—yaitu perang melawan syahwat dan hawa nafsunya sendiri.

Dalam pembimbingannya sebagai seorang pejalan, guru Ibrahim bin Adham memberinya tugas untuk berkelana di dunia, supaya ia bisa mengerti dari mana ia berasal.

Dalam latihan semacam ini, engkau seperti membaca sebuah buku untuk pertama kalinya lalu mengerti beberapa hal. Lalu engkau membacanya lagi, dan mengerti beberapa hal lainnya. Kemudian, engkau membacanya untuk ketiga kalinya, dan masih juga engkau temukan beberapa hal yang lain lagi. Sang Syaikh menyuruh Ibrahim bin Adham pergi untuk membaca buku tentang kehidupan lampaunya sendiri, sehingga dia dapat memahaminya pada tingkat yang lebih tinggi.

Buku teragung adalah dunia ini, kehidupan ini. Baca, baca, dan bacalah lagi. Bagian terbanyak dari isi buku itu adalah masa lampaumu. Sejalan dengan pembacaan ulangmu yang terus-menerus, kau akan menemukan ia berubah, dan kau akan menemukan dirimu sendiri. Ia adalah buku yang sangat besar, menjangkau dari bumi ini hingga ke pojok-pojok terjauh dari seluruh langit.

Ibrahim bin Adham telah kembali ke kota Balkh pada suatu malam yang dingin di musim salju. Dia lalui malam itu dengan melaksanakan shalat Isya di Masjid Agung yang didirikannya semasa ia masih menjadi sultan.

Malam merupakan saat yang sangat penting bagi para pencari. Waktu untuk shalat Isya di masjid dimulai kira-kira satu jam setelah terbenamnya matahari, dan biasanya berlanjut sampai dua setengah jam kemudian. Setelah menyelesaikan ibadah mereka pada Allah, sebagian orang langsung pulang ke rumah untuk bersama-sama dengan orang-orang yang mereka cintai. Mereka menatap mata dan menciumi wangi rambut orang-orang terkasih mereka. Itu pun sebuah ibadah—mencintai istri dan anak-anak. Di malam hari pula, para wali besar serta para nabi biasanya mencurahkan diri mereka sepenuhnya untuk shalat dan beribadah kepada Allah.

Sedangkan Ibrahim bin Adham, setelah ia menyelesaikan shalat Isya-nya, sama sekali tidak memiliki satu tempat pun untuk dituju. Dia bergumam kepada dirinya sendiri, “Ini adalah rumah Allah, dan aku dulu membangunnya agar senantiasa terbuka kepada semua orang. Akan kucari sebuah sudut kecil untuk duduk, sekadar sebagai tempat tafakur dan beristirahat.”

Kemudian datanglah penjaga masjid. Kebetulan, belum lama berselang karpet masjid itu baru saja dicuri. Si penjaga menemukan sang “Bekas Sultan”, kini telah menjadi seorang darwis kumal, lalu berkata, “Ha! Ini dia si pencuri karpet, sekarang sembunyi di sini mau mengambil lagi!” Ia menyambar kaki Ibrahim bin Adham lalu menyeret kepalanya menuruni tangga masjid yang terdiri dari seratus anak tangga. Kepala Ibrahim bin Adham pun membentur anak tangga itu satu demi satu. Dan di sepanjang tangga menurun ke bawah, bersama setiap rasa sakit di kepalanya karena terbentur anak tangga, dia bersyukur pada Allah. Ketika telah sampai di anak tangga terbawah, dia katakan pada dirinya sendiri, “Wah, sayang sekali, seharusnya dulu kusuruh buat anak tangga lebih banyak lagi.”

Karena keberserahdiriannya pada Kehendak Ilahiah, bersama dengan setiap penderitaan yang dirasakannya, naik pulalah tingkat kesucian nafs -nya. Oleh karena Ibrahim bin Adham telah meninggalkan dunia, tertinggal pula derita-derita alam dunia. Demikianlah, engkau juga harus mengalami penderitaan-penderitaan dunia ini agar tingkat kesucian jiwamu meningkat.

Semua kitab suci mengatakan bahwa kita dihadirkan ke dunia ini untuk diuji. Engkau bisa menemukan pernyataan ini di dalam ajaran Musa a.s., ajaran Isa a.s., dan dalam ajaran Muhammad s.a.w.

Tetapi apakah sebenarnya “diuji” itu? Seorang guru menguji para siswanya untuk mengetahui tingkat kemampuan mereka, mengetahui tingkat pemahaman mereka. Si guru tidak tahu sedalam apa para siswanya telah belajar. Tapi bukankah Allah mengetahui? Allah mengetahui dengan sempurna kemampuan, pemahaman, dan tingkat kesadaran kita. Mengapa Allah menguji, adalah untuk membuat kita mengetahui. Ujian menunjukkan pada kita sendiri di mana kita berada, dan juga membuat yang lain tahu di mana kedudukan mereka, melalui ujian masing-masing.

Orang-orang yang menanggung ujian-ujian terberat adalah para kekasih Allah—para nabi, para wali, dan para guru-guru milik Allah. Mereka adalah simbol-simbol kasat mata bagi umat manusia, yang tugasnya adalah untuk menampilkan alasan kehadiran kita di dunia ini.

Akhirnya, Ibrahim bin Adham berhasil melewati hampir semua ujian yang diatur untuknya oleh syaikhnya, lalu pulanglah dia ke kota tempat tinggal syaikhnya tersebut. Sebelum kedatangannya, syaikhnya berbicara kepada murid-muridnya yang lain. Kau tahu, para syaikh mengetahui peristiwa-peristiwa yang datang dan pergi, dalam diri mereka maupun di luar diri mereka. Sang Syaikh menugaskan seluruh muridnya untuk pergi ke semua pintu gerbang kota. “Kalau kalian melihat Ibrahim bin Adham pulang, jangan biarkan dia masuk. Tinjulah dia, tendanglah. Ludahi, pukul, buat dia jatuh.” Ketika Ibrahim bin Adham sampai di salah satu gerbang kota, saudara-saudara seperguruannya melakukan berbagai hal yang kejam kepadanya. Dia pergi ke gerbang lain, tetapi perlakuan saudara-saudaranya di sana pun sama saja buruknya. Dia pergi ke gerbang yang ketiga dan disambut dengan cara yang sama. Ibrahim bin Adham menegaskan, “Dengar! Apa pun yang akan kalian lakukan terhadapku—walaupun kalian menumpahkan darahku atau mencoba membunuhku—tidak akan ada seorang pun yang bisa menghalangiku menjumpai Syaikh.”

Ketika akhirnya dia berhasil melewati gerbang kota, para saudaranya terus-menerus menendangi kedua tumitnya, meski dia telah mencapai rumah syaikhnya. Para pejalan tetap saja menendang, menendang, dan menendang. Ibrahim bin Adham tidak berkata sepatah pun. Dia terus saja berusaha untuk mencapai rumah syaikhnya. Ketika seorang darwis yang masih muda—yang agak terlalu bersemangat—menendang begitu keras sehingga kulit bagian belakang tumitnya terkelupas. Ibrahim bin Adham berbalik dan berkata dengan tenang, “Mengapa kalian lakukan semua ini kepadaku? Bukankah kalian tahu bahwa aku pun saudaramu? Aku juga seorang darwis. Apakah kalian masih saja menganggapku Sultan Balkh?”

Para darwis kemudian melaporkan hal ini kepada Syaikh, yang kemudian mengatakan, “Nah, lihatlah, dia belum berhasil mencapai maqam tertinggi. Dia masih belum melupakan siapa dirinya sebelumnya. Cita rasa kesultanan, nikmatnya kekuasaan seorang raja masih tertinggal di ingatan pangkal lidahnya dan dalam kenangannya.” []

Jumat, 04 November 2011

Sufi Book: Ahlul Bid'ah Hasanah

Ahlul Bid\'ah Hasanah -
Jawaban Untuk Mereka yang Mempersoalkan Amalan Para Wali


Bid'ah.. dalam beberapa tahun terakhir syiar dakwah yang mengecam sunah dengan kata bidah semakin marak dilakukan oleh sebagian saudara2 muslim. Banyak terdapat perbedaan tafsir yang membelokkan femahaman bidah dari makna yang sebenarnya.
Imam Syafi’I ra berkata : Bid’ah terbagi menjadi dua, yaitu bid’ah mahmuudah (yang terpuji) dan bid’ah madzmuumah (yang tercela). Bid’ah yang sesuai dengan sunah adalah bid’ah terpuji, sedangkan yang bertentangan dengan sunah adalah bid’ah tercela.
Dalam kesempatan lain beliau ra berkata :
Hal-hal baru (muhdatsaat) itu ada dua. Pertama, hal baru yang bertentangan dengan Alqur-an, Sunah, Aatsar maupun Ijmaa’. Inilah bid’ah yang sesat. Kedua, segala hal baru yang baik dan tidak bertentangan dengan Alqur-an, Sunah, Aatsar maupun Ijmaa’. Hal baru seperti ini tidaklah tercela.

Bagi para pencari kebenaran, buku ini hadir sebagai penghapus dahaga mereka. Di dalamnya telah terhimpun berbagai dalil yang mendasari berbagai amalan salaf yang sering dipertanyakan oleh sebagian kecil umat Islam yang terlalu fanatik pada ajarannya. Karenanya buku ini sangat cocok bagi semua orang yang mencintai amalan salaf, amalan para wali dan bagi mereka yang mencari kebenaran sejati.

Buku ini selain memberikan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits, juga banyak memberikan informasi, pandangan serta penjelasan ulama-ulama besar dan terkemuka seputar permasalahan bid’ah dan amalan para wali. Setiap paragraf berisi informasi ilmiah dari berbagai sumber yang dapat dipertanggung jawabkan. Anda bahkan akan menemukan begitu banyak contoh-contoh bid’ah hasanah yang dilakukan oleh para sahabat di zaman Rasulullah saw maupun sepeninggal beliau saw. Buku ini menjadi sangat menarik karena seakan ia membawa kita ke zaman Rasulullah saw dan para sahabat beliau saw.

Buku ini disusun oleh seorang ustad, da’i plus penulis muda yang sangat produktif. Yaitu Al Ustad Al Habib Noval bin Muhammad Alaydrus.


DAFTAR ISI BUKU INI:


Pemahaman Bid’ah dengan benar
Pandangan ulama seputar hadits “Semua Bid’ah Adalah Sesat”
Bid’ah- Bid’ah Sahabat
Bid’ah sahabat semasa hidup Rasulullah
Bid’ah berkumpul berdzikir
Bid’ah mengakhiri setiap rakaat dengan surat Al-Ikhlas
Bid’ah Mengawali setiap rakaat dengan surat Al-Ikhlas
Bid’ah mengumpulkan keringat Rasulullah saw
Bid’ah doa I’tidal
Bid’ah doa iftitah
Bid’ah menjampi-jampi (Ruqyah) dengan surat Al Fatihah
Bid’ah doa Tasyahud
Bid’ah shalat sunah sebelum menjalani hukuman mati
Bid’ah sahabat setelah wafatnya Rasulullah
Bid’ah shalat tawarih
Bid’ah adzan kedua shalat Jum’at
Bid’ah Khalid bin Walid
Bid’ah menjadikan rambut Rasulullah sebagai obat
Bid’ah berobat dengan jubah Nabi
Bid’ah memindah maqam Ibrahim
Bid’ah khataman Al-Qur’an
Bid’ah istighfar Abu Hurairah
Bid’ah keluar rumah hanya untuk menebar salam
Hukum pengamalan hadits dho’if
Majelis dzikir berjamaah dan dengan suara keras
Penjelasan tentang surat Al A’raf ayat 205
Penjelasan hadits larangan berdzikir dengan suara keras
Kemuliaan majelis Yasin-an
Keutamaan surat Yasin
Mengangkat tangan ketika berdoa dan mengusapkannya ke wajah selesai berdoa
Mengaminkan doa orang lain
Menghitung dzikir dengan tasbih
Berjabat tangan selepas shalat
Hukum bertabarruk
Tabarruk Nabi Ibrahim Alaihissalam
Keberkahan Tabut
Keberkahan air bekas wudhu Rasulullah saw
Keberkahan selendang Rasulullah saw
Keberkahan bekas sentuhan mulut Rasulullah saw
Rambut hitam karena disentuh Rasulullah
Tidak mencukur rambut yang disentuh Rasulullah
Keberkahan kurma Jabir bin Abdullah
Keberkahan hidangan Jabir
Keberkahan Imam Nawawi
Ziarah Kubur
Nabi saw berziarah ke Baqi’
Nabi menziarahi wanita penyapu masjid
Sayyidina Abdullah bin Umar menziarahi Rasulullah
Bilal bin Harits Al-Muzanni menziarahi Nabi saw
Warga Madinah menziarahi Nabi saw
Badui menziarahi Rasulullah
Sayyidatuna Aisyah menziarahi saudaranya
Wanita menziarahi makam anaknya
Sayyidah Fathimah menziarahi Sayyidina Hamzah
Pendapat ulama salaf tentang ziarah kubur
Berdoa dan membaca Al-Qur’an di makam

Senin, 27 Desember 2010

Sufi Road : Risalah Al Ghautsiyyah

Syekh Abdul Qadir Al Jailani

Sebagai bekal untuk Sobat-sobat Pejalan Cahaya di belahan dunia manapun berada kini, yg selalu setia mendampingi diri, bersama dalam menapaki tangga ruhani, lahir dan batin. Semoga Allah SWT Senantiasa Memperkuat lingkaran cahayaNya dalam diri kita & ukhuwah bashariah kita, aamin ...
Risalah Al Ghautsiyyah adalah sebentuk dialog batiniah antara Allah SWT dan Syekh Abdul Qadir Al Jailani, yang diterima melalui ilham qalbi dan penyingkapan ruhani [kasyf ma’nawi].

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji bagi Allah, Sang Penghapus Duka. Shalawat atas manusia terbaik, Muhammad. Berkatalah sang penolong agung, yang terasing dari selain Allah dan amat intim dengan Allah.

Allah SWT Berkata : “Wahai penolong agung!”
Aku menjawab : “Aku mendengar panggilan-Mu, Wahai Tuhannya si penolong.”

Dia Berkata : “Setiap tahapan antara alam Naasut dan alam Malakut adalah syariat; setiap tahapan antara alam Malakut dan Jabarut adalah tarekat; dan setiap tahapan antara alam Jabarut dan alam Lahut adalah hakikat.” 1
Lalu Dia berkata kepadaku : “Wahai penolong agung ! Aku tidak pernah mewujudkan Diri-Ku dalam sesuatu sebagaimana perwujudanKu dalam diri manusia.”

Lalu aku bertanya : “Wahai Tuhanku, apakah Engkau memiliki tempat ?”, Maka Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, Akulah Pencipta tempat, dan Aku tidak memiliki tempat.”

Lalu aku bertanya : “Wahai Tuhanku, apakah Engkau makan dan minum ?”, Maka Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, makanan dan minuman kaum fakir adalah makanan dan minuman-Ku.”2

Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, dari apa Engkau ciptakan malaikat ?”. Dia Berkata kepadaku : “Aku Ciptakan malaikat dari cahaya manusia, dan Aku Ciptakan manusia dari cahaya-Ku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, Aku Jadikan manusia sebagai kendaraan-Ku, dan Aku jadikan seluruh isi alam sebagai kendaraan baginya.”3

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, betapa indahnya Aku sebagai Pencari ! Betapa indahnya manusia sebagai yang dicari ! Betapa indahnya manusia sebagai pengendara, dan betapa indahnya alam sebagai kendaraan baginya.”4

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah Rahasianya. Jika manusia menyadari kedudukannya di sisi-Ku, maka ia akan berucap pada setiap hembusan nafasnya, ‘milik siapakah kekuasaan pada hari ini ?’.”5

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, tidaklah manusia makan sesuatu, atau minum sesuatu, dan tidaklah ia berdiri atau duduk, berbicara atau diam, tidak pula ia melakukan suatu perbuatan, menuju sesuatu atau menjauhi sesuatu, kecuali Aku Ada [Berperan] di situ, Bersemayam dalam dirinya dan Menggerakkannya.”6

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, tubuh manusia, jiwanya, hatinya, ruhnya, pendengarannya, penglihatannya, tangannya, kakinya, dan lidahnya, semua itu Aku Persembahkan kepadanya oleh Diri-Ku, untuk Diri-Ku. Dia tak lain adalah Aku, dan Aku Bukanlah selain dia.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, jika engkau melihat seseorang terbakai oleh api kefakiran dan hancur karena banyaknya kebutuhan, maka dekatilah ia, karena tidak ada penghalang antara Diri-Ku dan dirinya.”7

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, janganlah engkau makan sesuatu atau minum sesuatu dan janganlah engkau tidur, kecuali dengan kehadiran hati yang sadar dan mata yang awas.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, barangsiapa terhalang dari perjalanan-Ku di dalam batin, maka ia akan diuji dengan perjalanan lahir, dan ia tidak akan semakin dekat dari-Ku melainkan justru semakin menjauh dalam perjalanan batin.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, kemanunggalan ruhani merupakan keadaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Siapa yang percaya dengannya sebelum mengalaminya sendiri, maka ia telah kafir. Dan barang siapa menginginkan ibadah setelah mencapai keadaan wushul, maka ia telah menyekutukan Allah SWT.”8

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, barangsiapa memperoleh kebahagiaan azali, maka selamat atasnya, dia tidak akan terhina selamanya. Dan barang siapa memperoleh kesengsaraan azali, maka celaka baginya, dia tidak akan diterima sama sekali setelah itu.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, Aku Jadikan kefakiran dan kebutuhan sebagai kendaraan manusia. Barangsiapa menaikinya, maka ia telah sampai di tempatnya sebelum menyeberangi gurun dan lembah.”9

Lalu Dia Berkatak kepadaku : “Wahai penolong agung, bila manusia mengetahui apa yang terjadi setelah kematian, tentu ia tidak menginginkan hidup di dunia ini. Dan ia akan berkata di setiap saat dan kesempatan, ‘Tuhan, matikan aku !’.”10

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, semua makhluk pada hari kiamat akan dihadapkan kepadaKu dalam keadaan tuli, bisu dan buta, lalu merasa rugi dan menangis. Demikian pula di dalam kubur.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, cinta merupakan tirai yang membatasi antara sang pencinta dan yang dicintai. Bila sang pencinta telah padam dari cintanya, berarti ia telah sampai kepada Sang Kekasih.”11

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, Aku Melihat Ruh-ruh menunggu di dalam jasad-jasad mereka setelah ucapanNya, ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu ?’ sampai hari kiamat.”

Lalu sang penolong berkata : “Aku melihat Tuhan Yang Maha Agung dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, barangsiapa bertanya kepadaKu tentang melihat setelah mengetahui, berrti ia terhalang dari pengetahuan tentang melihat. Barangsiapa mengira bahwa melihat tidak sama dengan mengetahui, maka berarti ia telah terperdaya oleh melihat Allah SWT.’”12

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, orang fakir dalam pandangan-Ku bukanlah orang yang tidak memiliki apa-apa, melainkan orang fakir adalah ia yang memegang kendali atas segala sesuatu. Bila ia berkata kepada sesuatu, ‘jadilah !’ maka terjadilah ia.”13

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Tak ada persahabatan dan kenikmatan di dalam surga setelah kemunculan-Ku di sana, dan tak ada kesendirian dan kebakaran di dalam neraka setelah sapaan-Ku kepada para penghuninya.”14

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, Aku Yang Paling Mulia di antara semua yang mulia, dan Aku Yang Paling Penyayang di antara semua penyayang.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, tidurlah di sisi-Ku tidak seperti tidurnya orang-orang awam, maka engkau akan melihatKu.” Terhadap hal ini aku bertanya : “Wahai Tuhanku, bagaimana aku tidur disisi-Mu ?”. Dia Berkata : “Dengan menjauhkan jasmani dari kesenangan, menjauhkan nafsu dari syahwat, menjauhkan hati dari pikiran dan perasaan buruk, dan menjauhkan ruh dari pandangan yang melalaikan, lalu meleburkan dzatmu di dalam Dzat.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, katakan kepada sahabatmu dan pencintamu, siapa di antara kalian yang menginginkan kedekatan dengan-Ku, maka hendaklah ia memilih kefakiran, lalu kefakiran dari kefakiran. Bila kefakiran itu telah sempurna, maka tak ada lagi apapun selain Aku.”15

Lalu Dia Berkata : “Wahai penolong agung, berbahagialah jika engkau mengasihi makhluk-makhluk-Ku, dan beruntunglah jika engkau memaaafkan makhluk-makhluk-Ku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, katakan kepada pencintamu dan sahabatmu, ambillah manfaat dari do’a kaum fakir, karena mereka bersama-Ku dan Aku Bersama mereka.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, Aku Bersama segala sesuatu, Tempat Tinggalnya, Pengawasnya, dan kepada-Ku tempat kembalinya.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, jangan peduli pada surga dan apa yang ada di sana, maka engkau akan melihat Aku tanpa perantara. Dan jangan peduli pada neraka serta apa yang ada di sana, maka engkau akan melihat Aku tanpa perantara.”16

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, para penghuni surga disibukkan oleh surga, dan para penghuni neraka disibukkan oleh-Ku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, sebagian penghuni surga berlindung dari kenikmatan, sebagaimana penghuni neraka berlindung dari jilatan api.”17

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, barangsiapa disibukkan dengan selain Aku, maka temannya adalah sabuk [tanda kekafiran] pada hari kiamat.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, orang-orang yang dekat mencari pertolongan dari kedekatan, sebagaimana orang-orang yang jauh mencari pertolongan dari kejauhan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, sesungguhnya Aku Memiliki hamba-hamba yang bukan nabi maupun rasul, yang kedudukan mereka tidak diketahui oleh siapapun dari penghuni dunia maupun penghuni akhirat, dari penghuni surga ataupun neraka, tidak juga malaikat Malik ataupun Ridwan, dan Aku Tidak Menjadikan mereka untuk surga maupun untuk neraka, tidak untuk pahala ataupun siksa, tidak untuk bidadari, istana maupun pelayan-pelayan mudanya. Maka beruntunglah orang yang mempercayai mereka meski belum mengenal mereka.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, engkau adalah salah satu dari mereka. Dan di antara tanda-tanda mereka di dunia adalah tubuh-tubuh mereka terbakar karena sedikitnya makan dan minum; nafsu mereka telah hangus dari syahwat, hati mereka telah hangus dari pikiran dan perasaan buruk, ruh-ruh mereka juga telah hangus dari pandangan yang melalaikan. Mereka adalah pemilik keabadian yang terbakar oleh cahaya perjumpaan [dengan Tuhan].”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, bila seseorang yang haus datang kepadamu di hari yang amat panas, sedangkan engkau memiliki air dingin dan engkau sedang tidak membutuhkan air, jika engkau menahan air itu baginya, maka engkau adalah orang yang paling kikir. Bagaimana Aku Menolak mereka dari rahmat-Ku padahal Aku Telah Menetapkan atas Diri-Ku, bahwa Aku Paling Pengasih di antara yang mengasihi.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, tak seorang pun dari ahli maksiat yang jauh dari-Ku, dan tak seorangpun dari ahli ketaatan yang dekat dari-Ku.”18

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, bila seseorang dekat kepada-Ku, maka ia adalah dari kalangan maksiat, karena ia merasa memiliki kekurangan dan penyesalan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, merasa memiliki kekurangan merupakan sumber cahaya, dan mengagumi cahaya diri sendiri merupakan sumber kegelapan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, ahli maksiat akan tertutupi oleh kemaksiatannya, dan ahli taat akan tertutupi oleh ketaatannya. Dan Aku Memiliki hamba-hamba selain mereka, yang tidak ditimpa kesedihan maksiat dan keresahan ketaatan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, sampaikan kabar gembira kepada para pendosa tentang adanya keutamaan dan kemurahan, dan sampaikan berita kepada para pengagum diri sendiri tentang adanya keadilan dan pembalasan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, ahli ketaatan selalu mengingat kenikmatan, dan ahli maksiat selalu mengingat Yang Maha Pengasih.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, Aku Dekat dengan pelaku maksiat setelah ia berhenti dari kemaksiatannya, dan Aku Jauh dari orang yang taat setelah ia berhenti dari ketaatannya.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, Aku Menciptakan orang awam namun mereka tidak mampu memandang cahaya kebesaran-Ku, maka Aku Meletakkan tirai kegelapan di antara Diri-Ku dan mereka. Dan Aku Menciptakan orang-orang khusus namun mereka tidak mampu mendekati-Ku dan mereka sebagai tirai penghalang.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, katakan kepada para sahabatmu, siapa di antara mereka yang ingin sampai kepada-Ku, maka ia harus keluar dari segala sesuatu selain Aku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, keluarlah dari batas dunia, maka engkau akan sampai ke akhirat. Dan keluarlah dari batas akhirat, maka engkau akan sampai kepada-Ku.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, keluarlah engkau dari raga dan jiwamu, lalu keluarlah dari hati dan ruhmu, lalu keluarlah dari hukum dan perintah, maka engkau akan sampai kepada-Ku.”

Maka aku bertanya : “Wahai Tuhanku, shalat sepert apa yang paling dekat dengan-Mu ?.” Dia Berkata : “Shalat yang di dalamnya tiada apapun kecuali Aku, dan orang yang melakukannya lenyap dari shalatnya dan tenggelam karenanya.”19

Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, puasa seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Berkata : “Puasa yang di dalamnya tiada apa pun selain Aku, dan orang yang melakukannya lenyap darinya."

Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, amal apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Berkata : “Amal yang di dalamnya tiada apa pun selain Aku, baik itu [harapan] surga ataupun [ketakutan] neraka, dan pelakunya lenyap darinya."

Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, tangisan seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Berkata : “Tangisan orang-orang yang tertawa." Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, tertawa seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Berkata : “Tertawanya orang-orang yang menangis karena bertobat.” Lalu aku berkata : “Wahai Tuhanku, tobat seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Menjawab : “Tobatnya orang-orang yang suci.” Lalu aku bertanya : “Wahai Tuhanku, kesucian seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.” Dia Menjawab : “Kesucian orang-orang yang bertobat.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, pencari ilmu di mata-Ku tidak mempunyai jalan kecuali setelah ia mengakui kebodohannya, karena jika ia tidak melepaskan ilmu yang ada padanya, ia akan menjadi setan.”20

Berkatalah sang penolong agung : “Aku bertemu Tuhanku SWT dan aku bertanya kepada-Nya, ‘Wahai Tuhan, apa makna kerinduan [‘isyq] ?’, Dia Menjawab : ‘Wahai penolong agung, [artinya] engkau mesti merindukan-Ku dan mengosongkan hatimu dari selain Aku.’” Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, jika engkau mengerti bentuk kerinduan maka engkau harus lenyap dari kerinduan, karena ia merupakan penghalang antara si perindu dan yang dirindukan.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, bila engkau berniat melakukan tobat, maka pertama kali engkau harus bertobat dari nafsu, lalu mengeluarkan pikiran dan perasaan buruk dari hati dengan mengusir kegelisahan dosa, maka engkau akan sampai kepada-Ku. Dan hendaknya engkau bersabar, karena bila tidak bersabar berarti engkau hanya bermain-main belaka.”

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, bila engkau ingin memasuki wilayah-Ku, maka hendaknya engkau tidak berpaling kepada alam mulk, alam malakut, maupun alam jabarut. Karena alam mulk adalah setannya orang berilmu, dan malakut adalah setannya ahli makrifat, dan jabarut adalah setannya orang yang sadar. Siapa yang puas dengan salah satu dari ketiganya, maka ia akan terusir dari sisi-Ku.”

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, perjuangan spiritual [mujahadah] adalah salah satu lautan di samudera penyaksian [musyahadah] dan tela dipilih oleh orang-orang yang sadar. Barangsiapa hendak masuk ke samudera musyahadah, maka ia harus memilih mujahadah, karena mujahadah merupakan benih dari musyahadah dan musyahadah tanpa mujahadah adalah mustahil. Barangsiapa telah memilih mujahadah, maka ia akan mengalami musyahadah, dikehendaki atau tidak dikehendaki.”21

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, para pencari jalan spiritual tidak dapat berjalan tanpa mujahadah, sebagaimana mereka tak dapat melakukannya tanpa Aku.”

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, sesungguhnya hamba yang paling Ku Cintai adalah hamba yang mempunyai ayah dan anak tetapi hatinya kosong dari keduanya. Jika ayahnya meninggal, ia tidak sedih karenanya, dan jika anaknya pun meninggal, ia pun tidak gundah karenanya. Jika seorang hamba telah mencapai tingkat seperti ini, maka di sisi-Ku tanpa ayah dan tanpa anak, dan tak ada bandingan baginya.”22

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, siapa yang tidak merasakan lenyapnya seorang ayah karena kecintaan kepada-Ku dan lenyapnya seorang anak karena kecintaan kepada-Ku, maka ia tak akan merasakan lezatnya Kesendirian dan Ketunggalan.”

Dia juga Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, bila engkau ingin memandang-Ku di setiap tempat, maka engkau harus memilih hati resah yang kosong dari selain Aku.” Lalu aku bertanya : “Tuhanku, apa ilmunya ilmu itu ?.” Dia Menjawab : “Ilmunya ilmu adalah ketidaktahuan akan ilmu.”

Dan Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, berbahagialah seorang hamba yang hatinya condong kepada mujahadah, dan celakalah bagi hamba yang hatinya condong kepada syahwat.”

Lalu aku bertanya kepada Tuhanku SWT tentang mi’raj. Dia Berkata : “Mi’raj adalah naik meninggalkan segala sesuatu kecuali Aku, dan kesempurnaan mi’raj adalah pandangan tidak berpaling dan tidak pula melampauinya [ QS 53 : 17].” Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, tidak ada shalat bagi orang yang tidak melakukan mi’raj kepada-Ku.”23

Lalu Dia Berkata kepadaku : “Wahai penolong agung, orang yang kehilangan shalatnya adalah orang yang tidak mi’raj kepada-Ku.”


Keterangan :
1. Alam Naasut adalah alam manusia, di dalamnya yang tampak adalah urusan-urusan kemanusiaan yang lembut dan bersifat ruhaniah. Alam Malakut adalah alam dimana para malaikat berkiprah melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh Allah SWT. Alam Jabarut adalah alam gaib tempat urusan-urusan ilahiah yang menunjukkan hakikat daya paksa, kekerasan, kecepatan tindak pembalasan, dan ketidakbutuhan kepada segala sesuatu. Alam Lahut adalah alam gaib yang di dalamnya hanya tampak urusan-urusan ilahiah murni.

2. Yang dimaksud fakir disini bukanlah orang yang membutuhkan harta benda, melainkan orang yang merasa butuh kepada Allah SWT.

3. Kendaraan di sini berarti sarana untuk menyampaikan seseorang kepada tujuan. Untuk tujuan tertentu, Allah SWT memanfaatkan manusia sebagai saranaNya, sementara manusia memanfaatkan alam sebagai sarana untuk mencapai tujuannya.

4. Allah SWT sebagai pencari sarana, memilih manusia – makhluk yang paling mulia – sebagai kendaraanNya. Betapa Agungnya Dia dan betapa terhormatnya manusia yang telah dipilihNya. Dan merupakan keagungan pula bagi alam karena telah dijadikan oleh manusia sebagai kendaraan yang membawanya kepada tujuannya.

5. Jika manusia mengetahui secara hakiki betapa tinggi kedudukannya dan betapa dekat ia dengan Allah SWT, maka ia akan merasa bahwa suatu saat nanti – karena kedekatan itu – Allah akan memberikan kekuasaanNya kepadanya. Karena itulah ia akan senantiasa menanti, kapan saat penyerahan itu tiba, dengan kalimat : “Milik siapakah kekuasaan pada hari ini ?.”

6. Allah SWT selalu berperan dalam setiap gerak dan diamnya manusia.

7. Orang yang telah menyadari kefakiran dan kebutuhannya di hadapan Allah SWT, berarti ia telah memahami posisi dirinya terhadap Tuhannya. Sehingga tiada lagi penghalang antara dirinya dan Allah SWT.

8. Penyatuan ruhani antara makhluk dan Khaliq tidak akan dapat diungkapkan dengan kata-kata. Jika seseorang belum mengalaminya sendiri, maka ia akan cenderung mengingkarinya. Dan orang yang mengaku telah mengalaminya padahal belum, maka ia telah kafir. Orang yang telah mencapai keadaan ini, tiada yang ia inginkan selain perjumpaan dengan Allah. Jika ia menginginkan hal lain, meski itu berupa ibadah sekalipun, dalam maqam ini, ia dianggap telah menyekutukan Allah dengan keinginannya yang lain.

9. Kefakiran dan kebutuhan merupakan sarana yang membawa manusia kepada kesadaran akan jati dirinya dan kebesaran Allah SWT. Orang yang telah sampai pada kesadaran semacam ini berarti telah sampai pada posisinya yang tepat tanpa harus menempuh perjalanan yang berliku-liku.

10. Kematian merupakan saat disingkapkannya hakikat segala sesuatu, dan perjumpaan dengan Tuhan adalah saat yang paling dinantikan oleh orang yang merindukanNya.

11. Cinta tiada lain kecuali keinginan sang pencinta untuk berjumpa dan bersatu dengan yang dicintai. Bila keduanya telah bertemu, maka cinta itu sendiri akan lenyap, dan keberadaan cinta itu justru akan menjadi penghalang antara keduanya.

12. Yang dimaksud mengetahui adalah melihat dengan mata hati. Jadi, di sini melihat sama dengan mengetahui.

13. Fakir dalam pandangan Allah SWT bukanlah orang yang tidak memiliki harta benda, melainkan orang yang merasa butuh kepada Allah SWT, dan tidak memiliki perhatian kepada apapun selain Allah SWT. Orang seperti ini, kehendaknya sama dengan kehendak Allah SWT, sehingga apa yang ia inginkan untuk terwujud akan terwujud.

14. Keinginan dan kenikmatan terbesar manusia di alam akhirat itu hanyalah perjumpaan dengan Allah SWT. Maka kenikmatan di dalam surga dan kesengsaraan di dalam neraka tidak akan terasa jika dihadapkan pada kenikmatan perjumpaan dengan Allah SWT, meski itu hanya dalam bentuk sapaan belaka.

15. Kefakiran adalah suatu keadaan butuh. Jika seseorang tidak membutuhkan apa pun selain Allah, maka kefakirannya telah sempurna. Baginya, Yang Wujud hanyalah Allah SWT, tak ada selainNya.

16. Ini seperti ungkapan Rabi’ah Al Andawiyah : “Aku menyembah Allah bukan karena mengharap surga atau takut akan neraka, melainkan karena Dia memang layak untuk disembah dan karena aku mencintai-Nya.”

17. Penghuni surga berlindung dari kenikmatan agar mereka tidak terlena sehingga lupa akan kenikmatan yang paling besar, yakni perjumpaan dengan Allah SWT.

18. Maksudnya, walaupun seseorang termasuk ahli maksiat, Allah tetap dekat dengannya sehingga jika ia mau bertobat, Allah pasti menerimanya. Dan janganlah seorang yang taat menyombongkan diri atas ketaatannya, karena dengan begitu ia justru akan semakin jauh dari Allah. Memiliki perasaan kekurangan dan penyesalan itulah yang menyebabkan seseorang dekat kepada Allah.

19. Lenyap dari shalat bermakna bahwa niat dan perhatian si pelaku shalat hanya tertuju kepada Allah SWT. Fokusnya bukan lagi penampilan fisik maupun gerakan-gerakan, melainkan kepada makna batiniah shalat itu.
20. Ilmu yang sesungguhnya adalah yang ada di sisi Allah SWT, sementara ilmu yang kita miliki hanyalah semu dan palsu. Selama manusia tidak melepas kepalsuan itu, ia tidak akan menemukan ilmu sejati. Ilmu sejati tidak akan berlawanan dengan perbuatan. Setan adalah contoh pemilik ilmu yang perbuatannya berlawanan dengan ilmu yang dimilikinya.

21. Mujahadah adalah perjuangan spiritual dengan cara menekan keinginan-keinginan jasmani, nafsu, dan jiwa, agar tunduk di bawah kendali ruh kita. Musyahadah adalah penyaksian akan kebesaran dan keagungan Allah SWT melalui tanda-tanda keagungan-Nya di alam ini.

22. Kecintaan seseorang kepada anak atau orang tua semestinya tidak melebihi kecintaannya kepada Allah SWT. Ia harus menyadari bahwa orang tua maupun anak adalah anugerah Allah SWT yang bersifat sementara, dan cepat atau lambat ia akan berpisah dengan mereka. Maka seharusnya perpisahan itu tidak membuatnya gundah dan gelisah mengingat hal itu terjadi karena kehendak Allah SWT [ QS 80 : 34-37]

23. Dalam sebuah hadist, Nabi SAW berkata : “Shalat adalah mi’raj kaum mukmin.” Mi’raj berarti naiknya ruh menghadap Allah SWT meski jasad kita tetap berada di alam ini. Jika shalat seseorang belum membawanya kepada keadaan seperti ini, berarti ia belum melakukan shalat dengan sempurna


==> pejalan-cahaya.blogspot.com