Tampilkan postingan dengan label Kunjungan Syeh Hisyam Kabbani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kunjungan Syeh Hisyam Kabbani. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Januari 2012

Video Ceramah Majelis Nurul Mustofa 31 Des 2011

Assalamualaikum Wr. Wb.
Berikut adalah Link Video Ceramah Syeikh Muhammad Hisyam Kabbani di Majelis Nurul Mustofa 31 Desember 2011 di GOR Rawamangun.
Ceramah dalam bahasa Arab yang diterjemahkan kedalam bahasa indonesia. dibawah dilampirkan teks ceramah dalam bahasa Indonesia dan ingris. Wassalam


Mawlid an-Nabi (s): A Taste from the Realities of Sayyidina Muhammad (s) / Mawlana Shaykh Hisham Kabbani - Public Speech/Conference

Kalian Harus Mengetahui Kebesaran Nabi Muhammad (saw)!)!

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
31 December 2011 Jakarta Timur, Indonesia
Mawlid an-Nabi (s) with Habib Hasan bin Jafar Assagaf
Suhbah at Velodrome Rawamangun
As-salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh.

A`oodhu billahi min ash-Shaytaani 'r-rajeem. Bismillahi 'r-Rahmaani 'r-Raheem.
Alhamdulillahi Rabbi 'l-`Alameen, wa ’s-salaatu wa ’s-salaamu `ala ashrafa 'l-Mursaleen, Sayyidina wa Nabiyyina Muhammadin wa `alaa aalihi wa sahbihi ajma`een.

Nawaytu 'l-arba`een, nawaytu 'l-`itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu 'l-`uzlah,
Nawaytu 'r-riyaadah, nawaytu 's-sulook, lillahi ta`ala fee haadha 'l-masjid.

Maulid an-Nabi (saw) dengan Habib Hasan bin Jafar Assagaf (Majelis Nurul Mustafa)
Suhbah di Velodrome Rawamangun

As-salaamu `alaykum wa rahmatullahi wa barakaatuh. A `udzu billahi min asy-Shaytaani 'r-rajiim. Bismillahi 'r-Rahmaani' r-Rahiim. Alhamdulillahi Rabi 'l-`Alamin, wa' s-salaatu wa 's-salaamu` ala ashrafa' l-Mursalin, Sayyidina wa Nabiyyina Muhammadin wa alaa aalihi wa sahbihi ajmain.

Nawaytu 'l-Arba `in, nawaytu' l-` itikaaf, nawaytu 'l-khalwah, nawaytu' l-`uzlah, nawaytu 'r-riyaadah, nawaytu' s-suluk, lillahi ta `ala fi haadza 'l-masjid.

أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم

Ati `ullaha wa` ati u 'r-Rasula wa' ulill-amri minkum.

Taatilah Allah, patuhi Nabi (saw), dan mematuhi mereka yang diberikan otoritas di antara kamu. (4:59)

Alhamdulillah, Siapapun yang datang berkumpul dimalam ini demi cintanya kepada Sayyidina Muhammad (saw) dan bersama dengan para Pecinta Al-Mustafa, Nurul-Mustafa (Cahaya Nabi Yang Terpilih), semoga Allah (SWT) mengumpulkan kita semua di surga kelak bersama dengan Sayyidina Muhammad (saw), karena dia (saw) adalah teladan bagi kita dan dia adalah seseorang dimana malaikat diperintahkan oleh Allah untuk bersujud kepada Sayyidina Adam (as) untuk menghormati dia (saw)! Kami berterima kasih kepadaMu Yaa Allah (swt) dan mencari bimbingan-Nya, dan mencari perlindungan kepada-Nya dari kejahatan ego diri kita serta perbuatan kita.

Ini adalah pertemuan dengan bimbinganNya dan ini adalah sebuah karunia yang besar dari Sayyidina Muhammad (saw), karena ketika kita mengingat Nabi Muhammad (saw), maka Nabi saw akan mengingat kita. Ketika kita mengingat Allah (SWT) maka Dia mengingat kita, dan ini adalah berkah dari para Haba'ib, terutama untuk Habib Hasan bin Jafar Assegaf. Semoga Allah (swt) membimbing kita semua.

Seluruh sendi Islam dibangun atas ketaatan dan cinta kepada Nabi Muhammad (saw). Ketaatan kepada Nabi (saw) akan membawa kita untuk mencintai dia, sehingga berdoalah dan berilah salam kepadanya sepanjang waktu! Kami berharap berkah-berkah ini tidak hanya menjangkau umat Muslim saja, tetapi juga umat non-Muslim.

Allah (swt) berkata:

إنا فتحنا لك فتحا مبيناليغفر لك الله ما تقدم من ذنبك وما تأخر ويتم نعمته عليك

innaa fatahnaa laka fathan mubiinaan, liyaghfira laka allaahu maa taqaddama min dzanbika wamaa ta-akhkhara wayutimma ni'matahu 'alayka wayahdiyaka shiraathan mustaqiimaan

Sesungguhnya (Muhammad), Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan ni'mat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus. (Al-Fath, 48:1,2)

Allah (swt) mengatakan, "Kami telah memberikan kepadamu sebuah pembukaan (kemenangan) yang besar dan memaafkan mu atas dosa yang kau lakukan dimasa lalu dan dimasa yang akan datang." Pertanyaannya adalah, apakah Nabi (saw) melakukan dosa dan ia harus diampuni? Tidak mungkin! Nabi (saw) adalah ma `sum, tidak memiliki dosa!

Nabi saw dinaikkan dalam Isra Miraj kemaqom sejarak dua busur panah dari Allah swt atau lebih dekat, Qaaba qawsayni aw adnaa, Nabi saw dibawa masuk kesurga dan keneraka dan melihat seluruh penghuninya, jadi bagaimana bisa bahwa ayat ini merujuk kepadanya?, Tidak mungkin! Oleh karena itu, makna dari ayat ini adalah, "Kau ditinggikan dan Allah (swt) mengampuni mu untuk dosa-dosa umatmu, hamba Allah, apapun dosa masa lalu mereka dan dosa masa depan mereka diampuni demi syafaatnya, Syafaat` dari Sayyidina Muhammad ( saw)! Sayyidina Adam (as) dan seluruh umat manusia berada di bawah Bendera Nabi saw pada Hari Penghakiman nanti! "

Kita semua adalah anak dari Sayyidina Adam (as), dan semua meminta Syafaat (perantaraan dan perlindungan) kepada Nabi (saw), Dan beliau saw akan bersujud dalam hadirat Tuhan-Nya dan membacakan doa untuk umatnya agar diampuni dan Allah akan membuka hatinya dan Allah (swt) kemudian akan mengatakan kepadanya," Angkatlah kepalamu dan mintalah apa saja yang kau minta maka akan Aku berikan. Nabi (saw) akan meminta umatnya untuk diselamatkan dan Allah akan mengabulkannya. Dia (swt) berfirman dalam Al-Qur'an:!

ألم نشرح لك صدرك

alam nasyrah laka shadraka

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (Asy-Syarh, 94:1)

Dan melapangkan yang tidak ada batasnya. Allah (SWT) telah melapangkan dadanya sejauh Qaaba qawsayni aw adnaa! Hingga berjarak hanya dua busur panah. Kemudian kami hapus darimu beban beratmu," yang berarti beban berat umat Nabi saw yang dibawanya. Dan mengacu pada ayat lain, "Kami memaafkan dosa umatmu, dosa sebelumnya dan dosa yang akan datang. Dan kita berdo'a:

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

Rabbana aatinaa fi 'd-dunya hasanatan wa fi' l-akhirati hasanatan wa Qina adzaaban nar.

Wahai Tuhan kami! Beri kami kebaikan dalam hidup ini dan kebaikan dalam Kehidupan Berikutnya, dan lindungi kami dari siksa neraka. (QS. Al-Baqarah, 2:201)

Apakah hasanah itu? Hasanah adalah sesuatu yang baik, keberkahan. Jika Allah (swt) ingin berbuat baik kepada hamba-Nya, maka Dia membuat hambaNya untuk mengetahui Nabi-Nya (saw). Jadi itu berarti, "Ya Allah! Berikan kami untuk dapat melihat Sayyidina Muhammad (saw) dan hasanah terbaik didunia adalah untuk dapat melihat Nabi saw dan hasanah terbaik di akhirat adalah bersama dengan Nabi saw disurga! "

Sesungguhnya Nabi (saw) tidak jauh dari kita, bahkan, dia hadir dan mendengarkan! Dia menyaksikan segala perbuatan umatnya dari kuburnya. Dia berkata, "Aku hidup di dalam kuburanku dan bila seseorang mengirimkan salam padaku, maka Allah akan mengembalikan ruhku, dan dari dalam kuburku aku membalas salaam mereka semua."

Dan setiap detik seluruh manusia didunia mengirimkan salam mereka kepada Nabi (saw) dan karena itulah setiap saat Allah mengirimkan kembali ruh Nabi (saw) untuk dia dalam kuburnya dan ia mengembalikan salam dari mereka dengan mengucapkan pujian dan salam padanya. Imam as-Suyuti (qs) mengatakan, "Berdasarkan ini, maka kita mengetahui bahwa Allah (SWT) telah mengembalikan ruh dan jiwanya secara permanen dalam kuburnya, artinya bahwa Nabi saw senantiasa hidup untuk menyaksikan seluruh umatnya."

Ini berarti, pujilah Nabi (saw)! Dan kita berkata, "Ya Allah! Kami mengirim pujian pada Nabi (saw)! Wahai rahmat bagi semesta alam! Kami menyerukan padamu Yaa Rasulullah saw, dari Indonesia ini Yaa Rasulullah saw! Wahai Nabi! Semoga Allah (swt) mendoakanmu dari pra-keAbadian sampai dengan keAbadian! "

Allah (swt) berfirman dalam Al-Qur'an:

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

inna allaaha wamalaa-ikatahu yushalluuna 'alaa alnnabiyyi yaa ayyuhaa alladziina aamanuu shalluu 'alayhi wasallimuu tasliimaan

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (Al-'Ahzaab, 33:56)

Ini berarti Allah (swt) memberikan salam pada Nabi (saw) dan memerintahkan semua malaikat-Nya - malaikat yang Dia ciptakan sebelumnya, malaikat yang akan Dia ciptakan - semua malaikat diciptakan untuk memuji Nabi Muhammad (saw)! Allah adalah al-Khaliq, "Sang Pencipta," yang berarti Dia terus menciptakan sesuatu yang baru dan juga malaikat baru, dan setiap malaikat baru, diperintahkan untuk memuji Nabi (saw), perintah itu untuk setiap saat! malaikat itu masing-masing memiliki tasbiih yang unik bagi diri mereka sendiri yang berbeda antara satu malaikat dengan yang lain, sehingga tidak ada pengulangan dari pujian-pujian tersebut.

Kalian harus mengetahui kebesaran Nabi Muhammad (saw)! Bagaimana Allah (swt) mengagungkan dia? Sayyidina Musa (as) adalah Kalamullah, "Dia yang berbicara dengan Tuhan-Nya," dan Musa as meminta, "Yaa Rabbii! Dapatkah saya melihat Mu. Nabi Musa as meminta kepada Allah untuk dapat melihatNya! Bagaimana kalian dapat menanyakan hal ini? Pencipta adalah diluar ciptaanNya, diluar batas dunia dan Surga, dan Dia tidak memiliki tempat dan waktu, melampaui semua hal itu! Wahai Musa, kau tidak akan dapat melihat Aku, tetapi Aku akan memberi kau kesempatan. Lihatlah gunung itu dan jika gunung itu tetap berada di tempatnya, maka kau akan dapat melihat Aku. "

Sebuah gunung sangat besar dan masif. Seperti disebutkan dalam tafsir tersebut, "Ketika Allah mengutus tajalli-Nya Nama Indah Nya dan Atribut/Sifat dan kebesaranNya melalui Sayyidina Mustafa (saw) di gunung itu, maka gunung itu hancur lebur. Sayyidina Musa (as) pingsan dan jatuh, karena ia terkejut. "



فلما تجلى ربه للجبل جعله دكا وخر موسى صعقا

falammaa tajallaa rabbuhu liljabali ja'alahu dakkan wakharra muusaa sha'iqan

Tatkala Tuhannya menampakkan diriNya kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh lantak bagai debu dan Musa pun jatuh pingsan. (QS. Al-A'raaf, 7:143)

Allah (swt) mengirimkan tajalli di gunung melalui FirmanNya (kata-kata SuciNya) dan karena itulah Sayyidina Musa (as) terus menerus mencari hikmat, maka Allah mengutus dia untuk bertemu dengan Khidr (as). Ketika tajalli muncul, gunung tersebutpun hancur luluh lantak.

Allah (swt) mengatakan dalam ayat lain:

لو أنزلنا هذا القرآن على جبل لرأيته خاشعا متصدعا من خشية الله

law anzalnaa haadzaa alqur-aana 'alaa jabalin lara-aytahu khaasyi'an mutashaddi'an min khasyyati allaahi

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quraan ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk hancur lebur disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (Al-Hasyr, 59:21)

"Jika Kami mengungkapkan hal ini, Al-Qur'an kepada gunung itu, maka ia akan dihancurkan dan dimusnahkan menjadi debu karena rasa takut kepada Allah." Tetapi Allah mengirimkan Al-Qur'an kedalam hati Sayyidina Muhammad (saw), dan beliau tidak hancur!

Wahai umat-Nabi al-Mustafa! Kalian adalah cahaya dari Nabi al-Mustafa Nabi Pilihan Muhammad (saw). Allah (swt) telah menurunkan Al Qur'an pada Nabi (saw), dan telah diberikan oleh Nabi saw kepada kalian. Apakah kalian menerimanya atau tidak, kalian adalah pembawa Al-Qur'an dan wajib untuk memberikan penghormatan kepada Al Qur'an dan juga kepada keturunan Nabi (saw)!

Muhammad al-Busayri (ra), adalah penulis al-Burda abu-Sharifa dan dia mengetahui Realitas Nabi (saw), beliau mengatakan, "Semua mengambil dari Nabi (saw) dan semua memiliki kekhususan dari dia, bukan hanya hambaNya, tapi bahkan seluruh planet-planet dan bintang-bintang! Sesungguhnya, semua Ciptaan diciptakan dari cahaya Sayyidina Mustafa (saw)! "

Kami akan akhiri dengan kalimat ini sebagai pengingat bagi kita semua

قل لا أسألكم عليه أجرا إلا المودة في القربى

Qul laa as-alukum 'alayhi ajran illaa almawaddata fii alqurbaa

Katakanlah (Wahai Muhammad): "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dan cinta kepada keluargaku". (Asy-Syura, 42:23)

Semua habaa'ib ini adalah keturunan Nabi (saw). Mereka tersebar di setiap wilayah dan disetiap sudut dunia, dan kewajiban kita semua adalah untuk menghormati mereka. Semoga Allah (swt) mendukung mereka karena mereka adalah berkah dan kebaikan bagi seluruh umat manusia.

Asy-hadu alaa ilaaha illAllah wa-asy hadu anna Muhammadan-Rasuulullah! Laa ilaaha illa llah-, laa ilaaha illa llah-, laa ilaaha illa-lLâh! (Dzikir)

Ya Allah! Buatlah bagian pertama malam ini sebagai perbaikan, dan tengahnya sebagai sukacita dan akhirannya' sebagai keselamatan. Ya Allah! Buatlah pertamanya sebagai Rahmat dan tengahnya sebagai Karunia, dan akhiran dengan keberkahan dan pengampunan! Yaa Sayyidii! Yaa RasuluLlah! Lihatlah kepada kami semua dan hubungkan kami denganmu!

Wa min Allahi at-Tawfeeq, bi hurmati' l-Habeeb, bi hurmati 'l-Fatihah.

Versi Bahasa Ingris

أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ
Ati`oollaha wa ati`oo 'r-Rasoola wa ooli 'l-amri minkum.

Obey Allah, obey the Prophet, and obey those in authority among you. (4:59)

Alhamdulillah, Who has allowed us to gather this night in the love of Sayyidina Muhammad (s) with the Lovers of al-Mustafa, Nur al-Mustafa, may Allah (swt) gather them in Paradise with Sayyidina Muhammad (s), as he is our example and he was the one for whom the angels were ordered by Allah to make prostration to Sayyidina Adam (a) to respect him! We thank Allah (swt) and seek His guidance, and seek refuge in Him from the evil of our selves and our deeds.

This is a gathering of guidance and in it is a big gift from Sayyidina Muhammad (s), because as we remember him the Prophet (s) remembers us. We remember Allah (swt) and He recalls us, and this is a blessing for the haba’ib and especially for Habib Hasan. May Allah (swt) guide us. All of Islam is built on obedience and love to the Prophet (s). Obedience to the Prophet (s) will bring us to love him, so pray on him all the time! We hope these blessings reach not only Muslims, but non-Muslims as well.

Allah (swt) said:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًالِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ

Inna fatahnaa laka fathan mubeena li-yaghfira laka Allahu maa taqaddama min dhanbika wa maa ta'akhkhar.

Verily (O Muhammad), We have laid open before you a manifest victory, that Allah may forgive you your faults of the past and those to follow. (al-Fath, 48:1,2)

Allah (swt) is saying, “We have granted you a great opening to forgive you what you did of former and latter sins.” But the question is, did the Prophet (s) commit any sins for which he needs to be forgiven? No! In fact, Prophet (s) is ma`soom, innocent of sins! He was raised to the Station of Two Bow’s-length or nearer, Qaaba qawsayni aw adnaa, he entered Paradise and Hell and beheld their inhabitants, so how could that refer to him, there is no way! Therefore, meaning of this verse is, “You were raised up and Allah (swt) forgave you for the sins of your Ummah, the servants of Allah; whatever past and future sins are forgiven for the shafa`ah, intercession of Sayyidina Muhammad (s)! Sayyidina Adam (a) and everyone else is under My Flag on Judgment Day!”

You are the Children of Sayyidina Adam (a), asking for his shafa`ah. Prophet (s) will make sajda in the Presence of His Lord and will recite du`a that Allah will open to his heart and Allah (swt) will then say to him, “Raise your head and ask (anything), for you will be granted!” Prophet (s) will ask for the Ummah to be saved and Allah will grant it, as He (swt) says in the Holy Qur'an:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

alam nashrah laka sadrak.

Have We not expanded for you your breast? (ash-Sharh, 94:1)

And that expansion has no limit; it may be that Allah (swt) has expanded his chest as far as Qaaba qawsayni aw adnaa! “We then removed from you your heavy burdens,” which means the heavy burden of this ummat that Sayyidina Muhammad (s) is carrying. And referring to the other verse, “We forgave your ummat whatever it sent forth of sins and what it will send forth.” And we make du’a:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbana aatinaa fi 'd-dunya hasanatan wa fi ’l-akhirati hasanatan wa qina `adhaab an-naar.

O our Lord! Give us goodness in this life and goodness in the Next Life, and protect us from the punishment of the Fire. (Surat al-Baqara, 2:201)

What is a hasanah? It is something good, a blessing. If Allah (swt) wants to do good to His servant, He makes him to know His Prophet (s). So it means, “O Allah! Grant us to see Sayyidina Muhammad (s) in this dunya and to see him and be in his company in the Next Life!”

Verily the Prophet (s) is not far from us; n fact, he is present and listening! He is presented with our deeds in his grave. He said, “I am fresh alive in my grave and no one sends salaam on me except that Allah returns my soul to me in my grave and I return their salaam.”

And so all around the world people are sending their salaams on the Prophet (s) and, therefore, every moment Allah is sending back the soul of the Prophet (s) to him in his grave and he is returning the salaams of those reciting praise and greetings on him. Imam as-Suyuti (q) said, “Based on this, we know that Allah (swt) has returned his soul to him permanently in his grave.”

It means, praise the Prophet (s)! We say, “O Allah! We send praisings on your Prophet (s)! O Mercy to All the Worlds! We are calling on you from Indonesia! O Prophet! May Allah (swt) pray on you from pre-Eternity to post-Eternity!”

Allah (swt) said in the Holy Qur'an:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

inna-Llaha wa malaa'ikatahu yusalloona `ala 'n-nabi, yaa ayyuhal-ladheena aamanoo salloo `alayhi was sallimoo tasleema.

Verily, Allah and His angels send praise on the Prophet. O Believers! Pray upon him and greet him. (al-'Ahzaab, 33:56)

This means Allah (swt) is praying on the Prophet (s) and ordered all His angels-- those He created, those He is creating, and those He will create--to praise Prophet Muhammad (s)! Allah is al-Khalaq, “The Creator,” which means He continuously creates new things and new angels, and each new angel is ordered to pray on the Prophet (s), an order they fulfill every moment! They each have their own unique tasbeeh that differs from any other, so there is no repetition.

You must know the greatness of your Prophet (s)! How did Allah (swt) magnify him? Sayyidina Musa (a) was Kaleemullah, “Who Spoke with His Lord,” and he requested, “Yaa Rabbee! Let me see You!” Allah asked, “How can you ask this? The Creator is outside this world and Heavens, and has no place and no time beyond all that! O Musa, you will not see Me, but I will give you a chance. Look at the mountain and if it stays in its place, then you can see Me.”

A mountain is huge and massive. As mentioned in the tafseer, “When Allah sent His tajalli of His Beautiful Names and Attributes and the greatness of Sayyidina Mustafa (s) on that mountain, it came crashing down, shattered. Sayyidina Musa (a) fainted and fell down, as he was shocked.”



فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ موسَى صَعِقًا

Falammaa tajallaa Rabbuhu li 'l-jabali ja`alahu dakkan wa kharra Musa saa'iqaan.

But when His Lord revealed His Glory to the mountain, he made it crumble to dust and Musa fell down. (Surat al-A'raf, 7:143)

Allah (swt) sent that tajalli on the mountain through His Ancient Words and that is because Sayyidina Musa (a) continuously sought wisdom, so Allah sent him to meet with Khidr (a). When the tajalli appeared, the mountain came crashing down.

Allah (swt) said in another verse:

لَوْ أَنزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ

law anzalnaa haadhaa al-Qur’ana `alaa jabalin la-ra'aytahu khaashi`aan mutasaddi`an min khashyatillah.

If We had caused this Qur'an to descend upon a mountain (O Muhammad), verily you would have seen it humbled, rent asunder by the fear of Allah. (Al-Hashr, 59:21)

“If We were to reveal this Holy Qur'an to a mountain, it would be crushed and destroyed, turning to dust out of fear of Allah.” But Allah sent the Holy Qur'an on the heart of Sayyidina Muhammad (s), who did not fall apart!

Yaa ummat an-Nabee al-Mustafa! You are the lights of al-Mustafa and an-Nabee (s). Allah (swt) has sent down the Qur'an on the Prophet (s), who has given it to you. Whether you accept it or not, you are the carriers of the Holy Qur'an and obliged to give respect to Holy Qur'an and to the descendants of the Prophet (s)!

Muhammad al-Busayri (r), author of al-Burda ash-Shareefa and a Knower of the realities of the Prophet (s), said, “All are taking from the Prophet (s) and all have a specialty from him, not just the servants, but even the planets and stars! Verily, all of Creation is created from the Light of Sayyidina Mustafa (s)!”

We will end with this reminder:

قُل لَّا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى

qul laa as’alukum `alayhi ajran illa al-mawaddata fi ’l-qurbah.

Say (O Muhammad), "I do not ask you for a reward except the love of my Family." (ash-Shura, 42:23)

All these habaa’ib are the descendants of the Prophet (s). They are in every part and every corner of the world, and our obligation is to respect them. May Allah (swt) support them as they are a blessing and good for our ummah!

Ash-hadu laa ilaaha illa-Llah wa ash-hadu anna Muhammadan rasoolullah! Laa ilaaha illa-Llah, laa ilaaha illa-Llah, laa ilaaha illa-Llah!

O Allah! Make the first of this night a restoration, and make its’ middle joy, and make its’ ending salvation. O Allah! Make the first of it mercy, the middle of it bounty, and its last part blessings and forgiveness! Yaa Sayyidee! Yaa Rasoolullah! Look to us and reach us!

Wa min Allahi 't-tawfeeq, bi hurmati 'l-habeeb, bi hurmati 'l-Fatihah.

Kunjungan Syeikh Hisyam Kabbani QS Des 2011

Majelis Akbar 31 Des 2011 dengan Majelis Nurul Mustofa di Jakarta

Mahallul Qyam dengan HAbib HAsan Jakfar Assegaf dan para Habaib

Mawlid di Pesantern Darul Islah Kiayi Hamzah di Wr. Buncit Jakarta selatan


Mawlid bersama Habib Syeh Assegaf diMesjid Akbar Surabaya






Maulid dan Majelis Dzikir di Mesjid Baitul Ihsan Bank Indonesia Jakarta


Ceramah di Mesjid Sunda Kelapa Jakarta

Minggu, 26 Juni 2011

Sufi Road : Republika Interview dengan Syeh Hisyam Kabbani

Tasawuf Adalah Zikir

Wawancara


Istilah tasawuf sering kali disalahpahami sebagian orang. Mereka memahami tasawuf hanya sebatas duduk sepanjang hari beribadah di masjid. ulu, para ahli sufi adalah pedagang di siang hari dan zuhud di kala malam,’’ ungkap tokoh sufi terkemuka asal Lebanon, Maulana Syekh Muhammad Hisyam Kabbani.

Menurut tokoh penyebar tasawuf di Benua Amerika itu, tasawuf tidak berangkat dari titik hampa. Dasar tasawuf, kata alumnus universitas Al-Azhar, Damaskus, Suriah, itu, disebutkan dua kali dalam Alquran, yakni surah al-Kahf ayat 28 dan surah al-Jin ayat 16:

Isi amar (perintah) itu menyebutkan agar belajar dari para ahli ibadah yang menghabiskan waktu mereka di malam hari untuk ta’abbuddan mengaryakan hidup mereka di kala siang guna bekerja mencari nafkah,’’ ujar Syekh Kabbani kepada wartawan Republika, Nashih Nasrullah.

Murid dari Syekh Abdullah ad-Daghestani dan Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani itu menegaskan bahwa tasawuf adalah zikir. Sedangkan, zuhud bisa dimaknai dengan menahan diri dari segala bentuk akhlak yang tercela. Menurutnya, tak sedikit orang yang memahami zuhud dengan meninggalkan dunia lalu menyendiri ( uzlah) di tempat sepi.

Berikut petikan wawancara dengan lulusan American University Beirut, Lebanon, di bidang Kimia dan alumnus Fakultas Kedokteran University of Louvain, Belgia, itu tentang makna tasawuf yang sebenarnya:

Apa hakikat tasawuf dan aktualisasinya dalam konteks kehidupan modern?
Kehidupan modern semestinya mengikuti alur agama, bukan sebaliknya. Dan, Islam adalah tujuan utama. Sekalipun pada dasarnya saya tidak menyebut dinamika kehidupan saat ini dengan istilah modern. Tak lain karena kehidupan dari awal penciptaan Adam AS sampai hari kiamat nanti sejatinya tidak berbeda, masih kehidupan yang sama.
Kehidupan yang ada ialah fase peralihan antara dunia dan akhirat. Di fase inilah, kita wajib menaati apa yang diperintahkan oleh Allah. Melaksanakan kelima rukun Islam dan meyakini keenam rukun iman. Tak ketinggalan di aspek ihsan, seyogianya kita jalani langkah-langkah menyucikan jiwa ( tazkiyat an-nafs) dari segala bentuk sifat tercela. Inilah pada dasarnya makna dan inti tasawuf. Hakikat tasawuf bukanlah hal yang baru. Tidak ada yang berubah dari tasawuf sejak masa Rasulullah hingga periode sekarang.

Lantas, apa dasar kemurnian ( ashalat) tasawuf dalam koridor yang Syekh sebutkan?
Tasawuf tidak berangkat dari titik hampa. Dasar tasawuf disebutkan dua kali dalam Alquran. Pertama, saat Allah memerintah Rasulullah untuk memperhatikan para ahlu shufah dalam surah al-Kahfi ayat 28, yang berbunyi: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya”.
Sedang ayat yang kedua terdapat pada surah al-Jin ayat 16: “Dan bahwasanya, jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak). Perintah ini ditujukan secara umum, baik untuk Rasulullah maupun umatnya.” Isi amar(perintah) itu menyebutkan agar belajar dari para ahli ibadah yang menghabiskan waktu mereka di malam hari untuk ta’abbuddan mengaryakan hidup mereka di kala siang guna bekerja mencari nafkah. Tidak sebagaimana yang disalahpahami sebagian orang. Mereka memahami tasawuf sebatas duduk sepanjang hari beribadah di masjid. Dulu, para ahli sufi adalah pedagang di siang hari dan para zuhud di kala malam.


Tasawuf adalah zikir. Hal ihwal zikir banyak disebutkan dalam Alquran. Tidak ada yang baru. Tak seorang pun laik berasumsi tasawuf ialah perkara baru. Apabila mereka benar-benar mengerti Alquran dan hadis ditambah dengan penguasaan pendapat para imam, seperti Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Hanbali, terkait tasawuf, maka asumsi-asumsi miring tentang tasawuf tak akan pernah muncul.

Lalu, mengapa banyak penggunaan simbol-simbol dalam tasawuf?
Kita tidak pernah bersinggungan dengan simbol dan istilah-istilah itu. Tanyakan kepada mereka yang melontarkan. Prinsip kita selaras dengan syariah. Tiap hal yang keluar dari syariah, kita tolak, baik dalam tarekat Naqsyabandiyah maupun mayoritas tarekat yang pernah ada. Perkara yang sesuai syarat sebagaimana berlaku di empat mazhab, maka kita sambut. Jangan berbicara dengan saya tentang wihdat al-wujudIbnu Arabi ataupun teori-teori teosofi lainnya. Kita tidak terima!

Dalam bertasawuf dituntut keberadaan mursyid, menurut Syekh?
Siapa yang bilang ada tuntutan itu. Keberadaan mursyid bukan syarat utama bertasawuf. Sangat mungkin Anda bertasawuf dengan menyucikan dan memperbaiki akhlak Anda tanpa bimbingan syekh. Kecuali, jika kondisi memang mendorong Anda untuk mengikuti seorang syekh, seperti khawatir tergelincir, dalam keadaan seperti ini sebaiknya Anda mengikuti dan bertaklid kepada syekh, baik dalam amalan maupun wirid-wirid.
Jika tidak, tempalah diri Anda sendiri dengan akhlak-akhlak yang mulia. Tetapi, coba Anda renungkan hikmah di balik Allah mengutus Jibril untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah. Mengapa harus melalui Jibril? Apakah Allah tidak mampu, sampai mesti menempatkan Jibril sebagai perantara? Bukankah Allah pernah secara langsung berbicara kepada Musa AS?
Ada satu pelajaran yang hendak Allah sampaikan, jika ingin konsisten dan berkomitmen, laksanakan ajaran agama dan ikutilah sosok yang dapat dijadikan sebagai pembimbing. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah dalam soal wahyu ataupun tatkala hijrah ke Madinah. Beliau meminta Abu Bakar as-Shiddiq untuk mengarahkan jalan. Terlebih dengan masalah penempaan spiritual. Dalam kondisi tertentu sangat memerlukan pembimbing karena dinamikanya sulit dan berliku. Alangkah lebih baik dan berhati-hati jika Anda berguru kepada seorang syekh. Tugas syekh adalah membimbing dan mengarah kan. Tidak lebih dan tidak kurang.

Bagaimana Syekh memaknai zuhud dalam konteks kekinian?
Zuhud saat ini bisa kita maknai dengan menahan diri dari segala bentuk akhlak yang tercela. Zuhud dari segala apa yang dilarang oleh Allah. Berzuhudlah dalam hal itu. Zuhud yang hakiki ialah zuhud dengan pengertian ini. Jangan ikuti perbuatan-perbuatan mungkar. Lakukan amalan-amalan terpuji dan perbuatan yang diperintahkan.
Tak sedikit orang yang memahami zuhud adalah meninggalkan dunia lalu menyendiri ( uzlah) di tempat sepi. Zuhud yang utama justru adalah berinteraksi dengan sesama manusia sembari terus berzikir kepada Allah. Zuhud seperti ini jauh lebih bermanfaat bagi Anda dan mereka. Pemahaman zuhud yang menafikan kehidupan dunia adalah distorsi yang berusaha dimasukkan di luar pegiat tasawuf. Padahal pada intinya, zuhud adalah meninggalkan larangan dan menjalani perintah.

Perbincangan terhenti sejenak. Seorang pengikut tarekat Naqsyabandiyah dari Sukabumi, Jawa Barat, bertandang ke Syekh. Tujuan kedatangannya untuk meminta sanad tarekat yang ia tekuni. Tanpa berpikir panjang, Syekh pun lantas memberikan sanad dan izin untuk menyebarkan tarekat Naqsyabandiyah di wilayahnya. Belum lama tamu tersebut beranjak, sepasang calon suami istri yang berencana melangsungkan pernikahan pada bulan haji mendatang meminta nasihat kepada Syekh. Syekh lalu memberi petuah bijak tentang kunci keluarga sakinah. “Jangan bertengkar,” ujarnya. Perteng karan hanya akan membuahkan kebencian. Dalam keluarga kedua pasangan adalah mitra, tempat saling berbagi. Berbagai masalah diselesaikan dengan arif, tanpa mengedepankan ego dan emosi masing-masing. “Terapkan agama dalam keluarga,” imbuh Syekh.

Suasana hikmat itu berganti ceria dan kebahagian. Sosok alim Syekh menyimpan sisi manusiawi yang humoris. Sutradara dan artis kawakan, Dedy Mizwar, menyusul kemudian untuk menghadap dan berbincang dengan Syekh. Syekh melontarkan humor ringan, tapi memberikan wawasan dan pengetahuan. Syekh menguraikan asal kata Mizwarmenurut etimologi bahasa Arab, berikut kata-kata yang hampir berdekatan dengan kata Mizwar. Mizwarberarti orang yang suka berkunjung atau bepergian. Sedang miswak adalah orang yang suka bersiwak. Adapun Mizwarbermakna orang yang suka kawin. “Manakah nama Anda,” seloroh Syekh yang diikuti tawa para tamu.

Gerakan tasawuf konon hingga sekarang menjadi daya pendorong perubahan, menurut Syekh?
Anda perlu ingat, tasawuf bukan gerakan. Tetapi, tasawuf adalah aktualisasi agama. Selama tidak ada pelaksanaan ihsan dan penempaan akhlak, maka bukan berarti tasawuf. Ihsan yang dimaksud sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadis, yakni menyembah Allah seolah-olah kita melihat-Nya. Jika tidak, bersikaplah seakan Allah melihat tiap gerakan kita. Sekali lagi, tasawuf bukan gerakan, melainkan bagian yang tak terlepas dari agama. Alasan inilah yang mendasari Syekh Al-Azhar, Kairo, Mesir, Prof Ahmed El Thayyib, untuk membentuk Asosiasi Muslim Sufi pertama di dunia.
Asosiasi itu mengumpulkan para sufi di bawah satu komando untuk menunjukkan nilai-nilai tasawuf di tengah-tengah konspirasi kubu yang kontra terhadap tasawuf. Kini posisi tasawuf semakin jelas. Tasawuf kembali seperti posisi semula dalam agama.

Maqamtasawuf paling dasar adalah tobat, bagaimana kriteria tobat yang diterima?
Tobat selalu diterima oleh Allah. Jangan mengira tobat hamba akan ditolak. Selama Anda niat sepenuh hati untuk bertobat atas perbuatan dosa atau khilaf yang Anda lakukan, Allah akan ampuni segenap dosa. Sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS az-Zumar [39]: 53).
Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Teruslah berusaha dan mintalah selalu pengampunan. Para sahabat tiap kali berbuat salah pergi ke Rasulullah dan beristighfar di hadapannya. Kisah ini tertuang apik dalam Alquran. Rasulullah pun memintakan ampun kepada Allah bagi mereka. Kini, para ulama juga menilai memintakan ampun terhadap Rasulullah juga menjadi syarat penting diterimanya tobat.

Apa petuah Syekh untuk umat Islam di Indonesia?
Bersatulah! Taati Allah, Rasul, dan para ulil amri. Perhatikan dan cermati kemelut perpolitikan serta perang saudara yang kini berkecamuk di Dunia Arab, sesama umat Islam saling bunuh. Jangan tiru mereka. Selesaikan segala persoalan dengan arif dan bijaksana. Terlebih sekarang, fitnah kian marak di tengahtengah hidup manusia.
Fitnah yang ada kini tidak memandang usia, tempat, ataupun kondisi. Ini pertanda dekatnya hari akhir. Jangan keluar rumah tanpa keperluan mendesak. Untuk stabilitas ekonomi Indonesia, saya sarankan agar berinvestasi emas. Akan datang masa tatkala mata uang tak lagi bernilai. Kita tidak ingin Indonesia menjadi Zimbabwe berikutnya. Mata uang di sana tak berharga. Nominal triliunan nilainya tak sebanding, uang mereka jatuh. Investasilah pada emas. Insya Allah bangsa Indonesia akan selamat. ed: heri ruslan

WAWANCARA http://koran.republika.co.id


(-)

Jumat, 10 Juni 2011


"datang, datang, datanglah para pencari cinta Ilahi ... menyatulah dalam samudera cintaNya."

InsyaAllah akan hadir yang mulia guru besar sufi, Mawlana Sheikh Hisyam Kabbani di Indonesia. Membentangkan jalan cinta bagi para pencari ‘tuk menggapai ridho Sang Khaliq. Selamat menikmati rahmat cintaNya

Senin, 13 Juni 2011
13.50 – 15.00 WIB | Penyambutan Mawlana di Jl. Limo No. 7 RT 003/05 Permata Hijau, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

19.00 – 22.00 WIB | Dzikir di Masjid Baitul Ihsan, Kompleks Bank Indonesia, Jl. Budi Kemuliaan No. 23 Jakarta Pusat


Selasa, 14 Juni 2011
13.00 – 15.00 WIB | Kuliah Umum di UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta Selatan
18.30 – 22.00 WIB | Tausiah di Masjid Agung Sunda Kelapa. Jakarta Pusat

Rabu, 15 Juni 2011
04.00 – 06.00 WIB | Siaran langsung program Ust. Yusuf Masyur di MNC TV
19.00 – 23.00 WIB | Hadrah di kediaman Keluarga Malik Tarigan, Jl. Cempaka Putih Raya 114, Jakarta Pusat

Kamis, 16 Juni 2011
19.00 – 23.00 WIB | Maulid Nabi (saw) bersama KH Amir Hamzah di Ponpes Darul Islah, Jl. Buncit Raya Kalibata Pulo RT. 05/05 Jakarta Selatan

Jumat, 17 Juni 2011
12.00 – 13.00 WIB | Jumatan di Masjid Bani Umar, sektor 9 Bintaro, Tangerang

Sabtu, 18 Juni 2011
18.00 – 21.00 WIB | Maulid Nabi (s) bersama Habib Syech Assegaf di Pesantren Daarus Syifa al- Fytrat Kadudampit, Sukabumi. Jl. Parungseah No. 43 Km. 5 Desa Cipetir Kec. Kadudampit Sukabumi, Jawa Barat

Minggu, 19 Juni 2011
18.30 – 22.00 WIB | Maulid Nabi (saw) bersama Habib Alwi Ba-Alawy di Masjid Agung Karawang, alun-alun kota kabupaten Kerawang

Senin, 20 Juni 2011
19.00 – 23.00 WIB | Maulid Nabi (s) bersama K.H. Masroni di Pesantren Gunungjati, Ba’alawy, Semarang

Selasa, 21 Juni 2011
19.00 – 23.00 WIB | Maulid Nabi (s) bersama Habib Syech Assegaf di alun-alun kota Wonosobo

Rabu, 22 Juni 2011
19.00 – 23.00 WIB | Hadrah di Jl. Limo No. 7 RT 003/05 Permata Hijau, Kebayoran Lama Jakarta Selatan

Kamis, 23 Juni 2011
13.55 – 16.35 WIB | Mawlana berangkat ke Singapura

Acara sewaktu-waktu dapat berubah. Ikuti terus perkembangannya melalui website, milis, FB dan Twitter Haqqani Indonesia.

Yayasan Haqqani Indonesia
Jl. Teuku Umar 41 Menteng, Jakarta Pusat
http://naqsybandi.org/ | email: alhaqqani@gmail.com | Tlp. + 6221 315 3014 dan +62 812 1105 212

cafeRUMIjakarta
Wisma iskandarsyah blok B4 Jl. Iskandarsyah Raya Kav. 12 – 14, samping toko harley Mabua, Melawai Jakarta Selatan
http://www.caferumijakarta.com/ | email: email@caferumijakarta.com | Tlp. +6221 727 97 568 dan +62815 743 89 393

live streaming @ www.sufilive.com
donasi: Rek BCA No. 336 000 6335 atas nama Melza atau Ibu Utje (0812-104-3096) dan Melly (0816-115-3215)

terbuka untuk UMUM!

Sufi Road : Profile Syeikh Hisyam Kabbani


Syekh Kabbani adalah salah satu dari ulama-ulama dunia ternama dalam sejarah Islam dan ilmu spiritual Sufisme. Sebagai deputi dari mursyid Tarekat Naqsybandi Haqqani, Syekh Kabbani juga merupakan pembimbing dan guru bagi sekitar 2 juta Muslim di seluruh dunia, khususnya di Amerika Serikat, Inggris dan Asia Tenggara.

Pendidikan
Sarjana Kimia dari American University of Beirut, Lebanon.
Studi Kedokteran di Louvain, Belgia.
Gelar dalam Syariah Islam, Damaskus, Suriah.
Ijazah untuk mengajar, membimbing dan memberi nasihat kepada murid-murid dalam spiritualitas Islam dari Syekh Muhammad Nazim Adil yang ternama, pemegang otoritas Mazhab Fiqh Hanafi di Timur Tengah dan pemimpin dunia dari Tarekat Naqsybandi Haqqani.

Posisi Sekarang
Ketua, Islamic Supreme Council of America
Ketua, Naqshbandi Haqqani Sufi Order of America
Ketua, As-Sunnah Foundation of America
Pendiri, Sufi Muslim Council UK dan Center for Spirituality and Cultural Advancement UK

Pencapaian Utama
Mendirikan 23 Zawiyah sebagai pusat kegiatan untuk mempelajari ajaran Sufi di Amerika dan Kanada.
Mendirikan Islamic Supreme Council of America, sebagai organisasi keagamaan yang didedikasikan untuk menyebarluaskan materi yang bersifat informatif mengenai Islam dan mempresentasikan pandangan Islami yang autentik dari para ulama mengenai urusan-urusan duniawi.
Mendirikan As-Sunna Foundation of America untuk mengembangkan, menerbitkan publikasi Islam klasik, dan menyelenggarakan konferensi untuk menyediakan pendidikan Islam klasik.
Bekerja dengan erat bersama pemerintah dan masyarakat di Malaysia, Indonesia, dan Singapura untuk mengembalikan praktik-praktik Sufi tradisional dan mencegah meningkatnya kaum radikal dalam agama di daerah terkait.
Menjadi ketua dalam konferensi International Islamic Unity Conference, konferensi kedua ini berlangsung dengan sangat sukses di Washington, DC antara 7-9 Agustus 1998.

Publikasi
Buku
Classical Islam and the Naqshbandi Sufi Tradition, 840 halaman. Memaparkan secara detail tentang tradisi Tarekat Sufi Naqsybandi dari Islam klasik.
The Approach of Armageddon? An Islamic Perspective, 294 halaman. Memaparkan tentang perspektif Islam mengenai ilmu dan teknologi dan prediksi kenabian mengenai akhir zaman dan Hari Perhitungan.
Encyclopedia of Islamic Doctrine – Merupakan hasil penelitan dan penulisan selama 5 tahun, 1500 halaman, 7-volume, masing-masing mendeskripsikan akidah Islam menurut pendekatan klasik dari mazhab yurisprudensi utama dan akidah Islam.
The Naqshbandi Sufi Way: History and Guidebook of the Saints of the Golden Chain
Encyclopedia of Muhammad's Women Companions.
Angels Unveiled – pandangan modern tentang subjek tradisional.

Artikel
(judul-judul lain juga tersedia di website www.islamicsupremecouncil.org)
Understanding Sharia - Islamic Law from the classical Islamic perspective (Memahami Syariah—Hukum Islam dari perspektif Islam klasik)
Islam & Democracy (Islam dan Demokrasi)
Jihad: A Misunderstood Concept from Islam (Jihad: Konsep Islam yang Salah Dipahami)

Kunjungan ke Indonesia
Seykh Kabbani telah melakukan kunjungan ke Indonesia sejak tahun 1997 dan sejak saat itu, hampir setiap tahun beliau secara reguler berkunjung ke Indonesia.

April 1997:
Bertemu Rais ‘am Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarrah an-Nahdliyyah, K.H. Idham Khalid
Bertemu Ketua MUI, K.H. Dr. Muhammad Ali Yafie dan Dr. Achmad Mubarok

Desember 1997:
Mengunjungi Pesantren Al-Bidayah Cangkorah, Jawa Barat, pimpinan K.H. Yayat Ruchiat Sirodj.
Bertemu dengan tokoh intelektual, termasuk Prof.Dr. Achmad Baiquni, kepala Batan dan Dr. Jalaludin Rakmat, seorang pakar komunikasi dari Unpad yang juga aktif berdakwah di jalur Islam tradisional.

Oktober 2000:
Bertemu Presiden RI, K.H. Abdurrahman Wahid (Gusdur) yang juga ketua The World Conference on Religion and Peace, WCRP)
Bertemu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Dr.Yahya Muhaimin
Melakukan siaran langsung siraman rohani di TV Indosiar yang dipandu oleh Ustadz Wahfiudin
Bertemu K.H.Nur Iskandar SQ, pimpinan Pesantren Ash-Shiddiqiyah
Melakukan kunjungan ke Pesantren At-Taufiqy di Wonopringgo, Pekalongan, pimpinan K.H.Taufiqqurohman
Bertemu dengan beberapa tokoh lintas agama dalam dialog interfaith yang digagas oleh Menteri Sekretaris Negara, Bapak Djohan Effendi.
Melakukan kunjungan ke Pesantren al-Falah Nagreg, Jawa Barat, pimpinan K.H.Qari Ahmad Syahid

April-Mei 2001:
Bersama Syekh Nazim Adil al-Haqqani, mursyid Tarekat Naqsybandi Haqqani melakukan kunjungan ke beberapa daerah di Indonesia, termasuk bertemu dengan K.H. Taufiqqurohman di Pesantran At-Taufiqy, Pekalongan; Habib Lutfhi bin Yahya di Pekalongan; Kyai Thohir bin Abdul Fatah, Pekalongan; Abah Anom, Mursyid Tarekat Qadiriah wa Naqsybandiyyah, di Pesantren Suryalaya; dan K.H. Qari Ahmad Syahid di Pesantren Al-Falah Nagreg, K.H. Abdullah Gymnastiar di Pesantren Daarut Tauhid Bandung, Dr.Tutty Alawiyyah di Pesantren Asy-Syafi’iyah Jakarta, dan juga bertemu dengan Mensetneg, Bapak Djohan Effendi dan Presiden RI, K.H.Abdurrahman Wahid.

Juli 2001:
Menghadiri ulang tahun Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) pimpinan Dr. Tutty Alawiyyah yang diadakan di Stadion Utama Senayan dan dihadiri pula oleh beberapa ulama internasional, seperti: Syekh Abdurrazak al-Halabi (Suriah), Syekh Bakar al-Samarai (Baghdad, Irak), Syekh Mohammed al-Qabbani (Suriah), para tokoh lintas agama dan 120.000 hadirin anggota BKMT dari seluruh Indonesia.

Januari-Februari 2002:
Bertemu dengan Menteri Agama RI, Bapak Said Agil Husin al-Munawar

Juli 2003:
Menjadi Khatib Salat Jumat di Masjid Istiqlal Jakarta
Menghadiri pertemuan para ulama di Pesantren Krapyak, Jogjakarta
Bertemu dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X di Jogjakarta
Bertemu dengan Menko Polkam, Susilo Bambang Yudhoyono

Februari 2004:
Mengikuti Zikir Nasional di Masjid Istiqlal bersama Ustadz Arifin Ilham, AA Gym, Wakil Presiden RI, Hamzah Haz, dan Ketua PBNU, K.H.Hasyim Muzadi.
Mengikuti Konferensi Internasional Ulama Islam (International Conference of Islamic Scholars, ICIS) yang diadakan oleh PBNU dan Kementrian Luar Negri RI.
Bertemu dengan Kepala Otorita Batam, Bapak Ismeth Abdullah di Batam dan mencanangkan pembangunan Zawiyah (Pusat Zikir) Naqsybandi di Batam.

Desember 2004:
Menyelenggarakan konferensi internasional para ulama Islam bertema Islam and Civil Society, yang diadakan di Jakarta 21-24 Desember 2004. Konferensi ini adalah sebagai tindak lanjut dari konferensi ICIS sebelumnya, di mana diadakan pembahasan-pembahasan pada topik tertentu secara lebih mendalam. Untuk konferensi ini Syekh Kabbani, sebagai ketua ISCA menggandeng PBNU, ICIS, UIN Syarif Hidayatullah, UIA Asy-Syafiiyah, dan Worde (World Organization for Resource Development and Education).

Juli 2005:
Mengadakan Istighatsa Kubra bersama Rais Am JATAMAN, Habib Luthfi bin Yahya di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia.
Mengadakan Zikir bersama walikota Padang, Bapak Fauzi Bahar dan masyarakat Padang di Lapangan Imam Bonjol.

Januari 2006:
Bertemu dengan Presiden RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres, Bapak Jusuf Kalla

Agustus 2007:
Mengunjungi Universitas Indonesia dan bertemu dengan Rektor UI, Prof.Dr. Gumilar R. Somantri dan beberapa tokoh Kajian Timur Tengah. Syekh Kabbani memberikan pesan untuk memasukkan pendekatan spiritualitas dalam pengajaran yang diberikan kepada para mahasiswa UI.

Mei-Juni 2009:
Mengadakan serangkaian acara Maulid dan silaturahim dengan para ulama di Jakarta, Pekalongan, Semarang, Solo dan Sukabumi.
Mengadakan Maulid Akbar bertema Indonesia Bersholawat bersama Majelis Nurul Musthofa. Acara ini dihadiri oleh Presiden RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, para menteri kabinet, Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, para ulama dan habaib serta sekitar 250.000 jemaah yang memenuhi Masjid Istiqlal Jakarta.

Mei 2010:
Mengadakan serangkaian acara Maulid dan silaturahim dengan para ulama, termasuk K.H.Amir Hamzah di Pesantren Daarul Ishlah Jakarta, K.H.Q.Ahmad Syahid di Pesantren al-Falah Nagrek, Bandung; dan Habib Syech Assegaf di Jepara.

Alamat Kantor
Fenton, MI
17195 Silver Parkway, #201
Fenton, MI 48430
Tel: (888) 278-66243
Fax: (810) 222-2885
Email: ishaq@sunnah.org
www.sunnah.org
www.islamicsupremecouncil.org
www.naqshbandi.org
Kontak: Ishaq Bohjelian

Jakarta, Indonesia
Yayasan Haqqani Indonesia
Jl. Teuku Umar 41
Menteng, Jakarta Pusat 10350
Tel dan Fax: (021) 315-3014
Email: alhaqqani@gmail.com
Kontak: Ahmad Rizal Tarigan (0816-965-917)

Sufi Road : Syeh Hisyam Kabbani Visit 2011


datang, datang, datanglah para pencari cinta Ilahi ... menyatulah dalam samudera cintaNya."
InsyaAllah akan hadir yang mulia guru besar sufi, Mawlana Sheikh Hisyam Kabbani di Indonesia. Membentangkan jalan cinta bagi para pencari ‘tuk menggapai ridho Sang Khaliq. Selamat menikmati rahmat cintaNya.

http://www.naqsybandi.org

Senin, 03 Januari 2011

Sufi Road : Kunjungan Syeikh Hisyam Kabbani Desember 2010 (2)

Berikut adalah foto kunjungan Syeikh Hisyam Kabbani ke pesantren Darul Inat pimpinan Habib Naqieb bin Syeh Abu Bakar di Mega Mendung Bogor. Semoga Allah merahmati semua jamaah yang hadir.







Sumber : Haqqanisoul.com

Sufi Road : Kunjungan Syeikh Hisyam Kabbani Desember 2010 (1)

Assalamualaikum..
Berikut adalah beberapa foto kunjungan Khalifatul Mursyid Naqsybandi Haqqani. As Syaikh Muhammad Hisyam Al Kabbani
Kunjungan pada tanggal 15 - 24 Desember 2010 dibeberapa acara dijakarta bogor sukabumi dan jogjakarta.
Semoga Kita semua dan indonesia mendapat berkah dari kedatangan beliau Amin

Mawlid di Majelis Rasulullah Habib Mundzir Al Musawa Jakarta




Mawlid dan Ceramah di Pesantren Darul Islah Wr. Buncit bersama Kiayi Amir Hamzah


Mawlid dan Ceramah di BAntul-Jogjakarta bersama Habib Syeh bin Abdul Qodir Assegaf


Sumber : Haqqanisoul.com