Sabtu, 10 Maret 2012

Sholawat Mudhariyah

Sholawat ini adalah salah satu karya agung dari Imam Bushiri selain qashidah Burdah, yang disambut baik oleh para ahli syair ulung dari Ma-syriq sampai Maghrib di seluruh dunia.

Seperti halnya di Hadhramaut, di daerah-daerah lain di Yaman, qashidah Burdah biasa dibaca setiap Jumat subuh atau Senin sore (ashar). Bahkan para ulama Al-Azhar, Mesir, meluangkan waktu khusus pada hari Kamis untuk membaca, mempelajari, dan menerang-kan makna-makna yang terkandung didalamnya. Hingga saat ini pengajian Burdah masih terns dilakukan di masjid-masjid besar di Mesir, seperti Masjid Al-Husain dan Masjid Zainab.

Shalawat Mudhariyah adalah salah satu syair shalawat karya Imam Al-Bu-shiri yang sangat besar keutamaannya. Shalawat ini dibaca secara rutin oleh ulama besar di banyak tempat. Keberkah annya banyak dirasakan para pembaca-nya dari waktu ke waktu.

Disebut Shalawat Mudhariyah karena salah satu datuk Nabi Muhammad, yang bernama Mudhar disebutkan dalam shalawat ini, hingga kemudian menjadi nama populer qashidah ini. Biasa-nya shalawat ini dibaca setelah pembacaan qashidah Burdah, sebelum majelis diakhiri dengan pembacaan qashidah Al-Muhammadiyah yang juga salah satu syair karya beliau.

Shalawat Mudhariyah juga bagus bila dibaca sendiri, dan lebih bagus lagi bila dibaca bersama-sama setelah mendengarkan pengajian rutin mingguan atau bulanan. Baik juga dibaca pada waktu-waktu utama, seperti Jumat sore sesudah ashar atau pada malam Jumat-nya.

Salah satu keistimewaan shalawat ini disebutkan dalam kitab Bughyah Ahl Al-'Ibadah wa Al-Aurad Syarh Ratib Quthb Zamanih Al-Haddad, karya Al-Habib Alwi bin Ahmad Al-Haddad. Dikisahkan, Al-Imam Muhammad Al-Bushiri menyusun shalawat ini di pinggir pantai. la memulai tulisanya dengan kata-kata shalawat seperti yang terdapat mulai pada bait pertama sampai kedua dan seterusnya. Ketika sampai pada syair nomor 34 yang berbunyi "Tsummash-shalatu ‘alal-mukhtari ma tala’at, syamsun-na-hdri wa ma qad syasya’al-qamaru, kemudian sebagai penutup cucurkan shalawat-Mu imtuk Al-Mukhtar (rasul pilihan) selama masih terbit matahari dan selama bulan masih memancarkan cahaya sinarnya", tiba-tiba dari tengah laut datang seorang laki-laki yang ber-lari di atas air menghampirinya sampai berdiri di hadapannya, lalu berkata, "Cukup, akhirilah shalawatmu sampai bait ini, karena kamu telah membuat lelah para malaikat yang mencatat ke-utamaan pahala shalawat ini."
Imam Bushiri pun segera menutup shalawatnya dengan permohonan ridha Allah untuk keluarga Rasulullah dan para sahabatnya.

Al-Imam Al-Bushiri mengembuskan napasnya yang terakhir di kota Iskan-dariyah, Mesir, pada tahun 696 H atau 1296 M. la dimakamkan di samping sebuah masjid besar yang bersambung dengan makamnya, tak jauh dari masjid dan makam sang guru, Syaikh Al-Imam Abu Al-'Abbas Al-Mursi.

Di tembok kubah makamnya terda pat tulisan-tulisan syair qashidah Burdah karya beliau dengan kaligrafi yang indah menawan. Sampai sekarang makam beliau masih ramai diziarahi umat Islam dari berbagai penjuru dunia.

Berikut dibawah adalah sholawat Muhdariyan untuk kita amalkan, Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya untuk Imam Bushiri, guru-gurunya, dan umat Islam pada umumnya. Amin



Jumat, 09 Maret 2012

Rumi: Mengkaji Cahaya di atas Cahaya

Rumi: Matsnavi II 1248 - 1293

Sang Mustapha bertutur tentang permohonan Neraka,
ketika dengan berendah-hati dia bermohon kepada pemilik iman sejati:
"berlalulah dengan cepat, wahai Sang Raja, karena cahayamu telah memadamkan apiku."
Jadi, terang cahaya al-Mukmin berarti padamnya api,
karena tanpa tanpa tampilnya yang berlawanan tak mungkin sesuatu sirna.

Pada Hari Perhitungan, api akan menjadi lawan cahaya,
karena api bersumber dari Murka-Nya,
sementara cahaya dari Rahmat-Nya.


Jika engkau ingin tanggalkan api kejahatan,
tujukan air Rahmat Ilahiah ke jantung api.
Mereka yang bertakwa dengan haqq memancarkan aliran air rahmat itu:
inti jiwa mereka yang bertakwa adalah Air Kehidupan.

Tidak heran engkau yang berjiwa duniawi
lari menjauh dari orang seperti mereka,
karena engkau tersusun dari api,
sementara mereka dari aliran air.

Api melarikan diri dari air,
karena takut nyala dan asapnya
dipadamkan oleh air.
Pikiran dan perasaanmu terbentuk dari api;
pikiran dan perasaan orang suci
tersusun dari cahaya yang indah.
Ketika percikan cahaya orang suci menetes
di atas api, terdengar suara berdesis,
dan lidah api menjilat dengan murka.

Ketika datang saat seperti itu, katakanlah,
“mati dan musnahlah engkau,”
agar padam neraka itu,
yaitu api hawa-nafsumu.

Sehingga ia tak membakar taman mawarmu,
sehingga ia tak membakar keadilan dan hasanah-mu.
Setelah berhasil engkau padamkan,
barulah bibit yang engkau tanam
dapat menghasilkan aneka buah,
atau memekarkan bermacam bunga.

Wahai Guru tuturmu melantur,
mengapa kau tak kembali ke
pokok perbincangan?

Kita sedang memperlihatkan melanturnya
dirimu, wahai pemendam iri-dengki;
tak kau sadari, keledaimu pincang,
sedangkan kota cahaya sangatlah jauh,
alangkah lambat jalanmu.


Telah sekian tahun kita habiskan;
sudah hampir lewat masa tanam;
tak ada hasil panenmu,
kecuali wajahmu yang menghitam,
dan amalmu yang berbau busuk?
Cacing telah bersarang,
di akar pohon dirimu:
galilah dan bakarlah.

Kuperingatkan lagi, wahai pencari,
waktu telah hampir habis,
hari telah senja,
matahari jelang tenggelam.

Hanya tersisa satu dua hari lagi,
ketika masih tersisa kekuatan pada dirimu,
kepakkan sayapmu dengan bersemangat.
Manfaatkanlah baik-baik sisa benihmu,
agar dari bibit-waktu yang sedikit itu
dapat tumbuh pohon abadi.

Sementara lampu hidupmu belum padam,
kecilkanlah sumbunya,
dan jagalah minyaknya.
Jangan lagi engkau berkata, besok, besok;
sudah terlalu banyak besokmu yang terlewat.
Jangan sampai tiada hari tanam tersisa.

Dengarkanlah nasehatku,
jasmanimu itu yang mengikatmu,
tanggalkan jasmanimu rentamu,
jika kau inginkan pembaruan.
Tutup mulutmu, dan bukalah buah berisikan emas:
tanggalkan keakuanmu,
perlihatkan kemurahanmu.

Kemurahan berarti meninggalkan syahwat dan hawa-nafsu;
orang yang tenggelam dalam hawa-nafsunya,
sulit mentas lagi.

Kemurahan adalah salah satu cabang
cemara di al-Jannah:
malang lah orang yang tak berpegangan
pada cabang semacam itu.

Menanggalkan hasratmu adalah pegangan yang paling kuat:
cabang itu menarik jiwamu ke Langit.
Karena itu jadilah pemurah,
wahai penganut ad-Diin,
sehingga terangkat engkau
ke sumber cabang itu.

Jadikan Yusuf yang cantik
sebagai teladan keindahan jiwamu,
perlakukan alam-dunia ini sebagai sumur,
gunakan kemurahan
dan keberserahan kepada karsa Rabb
sebagai tali untuk mentas ke atas.

Wahai peneladan keindahan Yusuf,
tali telah diturunkan,
raihlah dengan ke dua belah tanganmu;
jangan kau lepaskan, karena hari telah larut.
Berpujilah kepada-Nya ketika tali telah terjulur;
itu dari semesta yang sangat nyata,
tapi tak nampak.

Semesta fenomenal ini,
sebenarnya hanya wujud yang mungkin,
tapi telah menjadi sangat nyata bagimu,
sementara semesta yang sejati,
semakin tersembunyi.

Seperti debu bertaburan dipermainkan angin,
bagaikan fatamorgana yang menghijab.
Yang tampak ramai ini sejatinya hampa dan dangkal,
bagai bebauan; yang tersembunyi itulah inti dan sumbernya.
Debu hanya tanda
dari adanya angin:
angin itulah yang bernilai,
dan tinggi derajatnya.

Mata yang tersusun dari tanah-liat,
hanya akan menatap debu;
untuk melihat angin itu
diperlukan penglihatan yang berbeda.
Seekor kuda mengenal kuda yang lain,
karena mereka sejenis:
hanya penunggang kuda dapat mengenali
sesama penunggang.

Yang dimaksud dengan kuda itu
adalah mata syahwatiah,
sedangkah sang penunggang
adalah Cahaya Ilahiah;
tanpa sang penunggang,
kuda itu sendiri tak berguna.
Karena itu latihlah kudamu,
agar dia sembuh dari kebiasaan buruknya;
jika tidak, dia akan tertolak
dari majelis Sang Raja.

Penglihatan si kuda mendapati jalan,
bersumberkan pandangan Sang Raja;
tanpa pandangan Sang Raja
penglihatan si kuda kehilangan panduan.
Penglihatan si kuda akan selalu menolak panduan,
kecuali ke arah makanan dan padang rumput.
Cahaya Ilahiah itu yang seyogyanya jadi penentu arah bagi penglihatan si kuda,
barulah jiwa dapat merindu Rabb.

Tidaklah mungkin kuda tanpa pengendara
dapat membaca tanda-tanda jalan.
Hanya penunggang bermartabat Raja
dapat mengenali jalan Sang Raja.

Tempuhlah arah selaras dengan rasa-jati
yang dikendarai oleh Cahaya,
Cahaya itu pengendara terpercaya.

Cahaya Ilahiah mengendarai cahaya rasa-jati,
ini salah satu makna dari Cahaya di atas cahaya.

Sumber: Rumi: Matsnavi II 1248 - 1293 Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson, ngrumi.blogspot.com

Musawarah Burung (Mantiqu't-Thair) - 10

MUSYAWARAH BURUNG (Faraduddin Attar)

Dalih Burung Ketujuh

Seekor burung lain berkata pada Hudhud, "Aku cinta akan emas; bagiku ia seperti buah badam dalam kulitnya yang keras itu. Bila aku tak punya emas, terikat rasanya tangan dan kakiku. Cinta akan keduniawian dan cinta akan emas telah mengisi diriku dengan keinginan-keinginan tak berarti, yang membutakan diriku akan perkara-perkara keruhanian."

Hudhud menjawab, "O kau yang silau karena bentuk-bentuk lahiriah, yang dalam hatimu tak pernah memancar nilai kebenaran! Kau seperti makhluk yang hanya dapat melihat dalam gelap, kau seperti semut, yang tertarik oleh rupa. Berusahalah memahami makna segala sesuatu. Tanpa warna, emas hanyalah, logam biasa; namun kau terpikat oleh warna, serupa anak kecil.

Cinta akan emas tak layak bagi manusia sejati; kenapa orang menyembunyikan emas dalam faraj bagal?1 Adakah benda-benda berharga disembunyikan orang di tempat demikian? Jika kau tak membiarkan sesamamu mendapat manfaat karena emasmu, kau pun tak akan beroleh manfaat pula.
Tetapi bila kau berikan sekeping obol2 kepada si malang yang miskin, kalian berdua akan mendapat manfaat. Jika kau punya emas, banyaklah yang dapat kauberi manfaat dengan itu; tetapi jika pundakmu bercap,3 itu pun karena emas juga. Untuk sebuah toko, kau harus membayar sewa dan kadang-kadang harganya itu jiwamu sendiri. Demi usahamu, kau korbankan apa saja, juga mereka yang menjadi pautan hatimu, dan pada akhirnya kau tak memiliki apa-apa. Kita hanya berharap agar kemujuran akan menyediakan sebuah tangga di bawah tiang gantungan. Itu tak berarti bahwa kau tak usah menggunakan benda-benda duniawi sama sekali, tetapi hendaknya kaupergunakan apa yang kaumiliki itu secara luas. Nasib baik hanya akan datang padamu apabila kau memberi. Jika kau tak dapat meninggalkan hidup sama sekali, setidak-tidakaya kau dapat membebaskan dirimu dari cin ta akan kekayaan dan kehormatan."

Dalih Burung Kedelapan
Seekor burung lain berkata pada Hudhud, "Hatiku menyala karena gembira, sebab aku tinggal di sebuah tempat yang menawan. Aku punya istana emas teramat indah hingga siapa saja mengaguminya, dan di sana aku hidup dalam kepuasan. Bagaimana mungkin aku diharapkan untuk meninggalkannya? Di istana ini aku seperti raja burung-burung, maka mengapa pula aku bersusah payah di lembah-lembah yang kausebutkan itu? Mestikah aku meninggalkan istanaku dan kedudukanku sebagai raja? Tiada makhluk yang berpikiran sehat akan meninggalkan taman Iram untuk menempuh perjalanan yang begitu berat dan sulit!"

Hudhud menjawab, "O kau yang tanpa cita-cita dan semangat! Adakah kau anjing? Atau inginkah kau menjadi pelayan dalam hammam? Dunia bawah ini hanyalah sebuah bilik panas dan istanamu sebagian daripadanya. Meski istanamu sebuah sorga sekalipun, namun pada suatu hari maut akan mengubahnya menjadi penjara penderitaan. Hanya jikalau maut berhenti menggunakan kekuasaannya atas segala makhluk akan baiklah bagimu untuk tinggal puas di istana emasmu."

Dalih Burung Kesembilan
Seekor burung lain berkata pada Hudhud, "O burung termulia, aku hamba si jelita yang telah menguasai diriku dan membuat aku kehilangan pikiran. Bayangan wajahnya yang manis ialah pencuri di Jalan yang agung itu; dia telah membakar panenan hidupku, dan bila aku terpisah daripadanya, tak sejenak pun aku merasa tenteram. Karena hatiku menyala dengan gairah nafsu, aku pun tak tahu bagaimana aku dapat menempuh perjalanan ini. Aku harus melintasi lembah demi lembah dan menempuh seratus percobaan. Dapatkah aku diharapkan akan meninggalkan si jelita ini untuk pergi menempuh panas yang menghanguskan dan dingin yang pedih? Aku terlalu lemah untuk pergi tanpa dia; dan aku hanya debu di jalannya. Begitulah keadaanku. Apa dayaku?"

Hudhud menjawab, "Kau terikat pada apa yang tampak di mata saja, dan akibatnya, menderita dari kepala hingga kaki. Cinta berahi ialah suatu permainan. Cinta yang ditimbulkan oleh kecantikan yang sepintas dengan sendirinya cepat berlalu pula. Kau senantiasa membandingkan tubuh dari darah dan nafsu dengan keindahan bulan.

Apakah yang lebih buruk dari tubuh yang terjadi dari daging dan tulang-tulang? Keindahan sejati tersembunyi. Maka carilah itu, di dunia yang tak tampak di mata. Jika cadar yang menyembunyikan kerahasiaan ini dari pandangan matamu luruh, maka tak ada lagi yang tinggal di dunia ini. Segala bentuk yang kelihatan akan menjadi tak berarti."

Dalih Burung Kesepuluh
Burung ini berkata pada Hudhud, "Aku takut akan maut. Kini lembah ini luas, dan aku tak punya apa-apa sama sekali untuk perjalanan ini. Aku amat diliputi ketakutan akan maut sehingga aku akan mati di tempat perhentian pertama. Andaikan aku seorang amir yang penuh kuasa sekalipun, pada saat datangnya ajal, akan tak kurang juga ketakutanku. Ia yang dengan pedangnya mencoba menangkis maut, akan mendapatkan pedangnya itu patah bagai sebatang kalam; sebab sayang, kepercayaan akan kekuatan tangan dan pedang hanya akan membawa kekecewaan dan kesedihan."

Hudhud menjawab, "O kau yang lembek dan lemah kemauan, inginkah kau tinggal hanya sebingkai tulang dan sumsum semata? Tidakkah kau tahu bahwa hidup ini, baik panjang atau singkat, tercipta dari sekelumit nafas? Tidakkah kau mengetahui bahwa barangsiapa dilahirkan harus mati pula? Bahwa ia akan masuk tanah dan bahwa angin akan mencerai-beraikan unsur-unsur yang membentuk tubuhnya?

Kau diberikan pada maut sebagai santapannya; dan kau dimasukkan ke dunia untuk disingkirkan dari sana pula! Langit bagai pinggan terbalik, yang setiap senja tercelup dalam darah matahari terbenam. Dapat dikatakan bahwa matahari itu, bersenjatakan pedang bengkok, tengah memenggal kepala demi kepala di pinggan ini. Apakah kau baik atau buruk, kau hanyalah setitik air dicampur dengan tanah. Meskipun sepanjang hidupmu kau mungkin ada dalam kedudukan yang penuh kekuasaan, pada akhirnya kau akan mengalami bencana kematian juga."

Dalih Burung Kesebelas
Seekor burung lain berkata pada Hudhud, "O kau dengan kepercayaanmu yang tulus, tak sedikit pun ada kemauan baik padaku. Aku telah menghabiskan hidupku dalam kekesalan, menginginkan dunia ini. Ada semacam kesedihan dalam hatiku sehingga aku tak henti-hentinya meratap. Aku selalu dalam keadaan bingung dan tak berdaya; dan bila sejenak aku merasa puas, maka aku pun tak percaya. Dengan sendirinya aku pun telah menjadi darwis. Tetapi kini aku ragu-ragu untuk menempuh jalan pengetahuan ruhani. Jika hatiku tak begitu penuh duka, tentulah aku akan tertarik pula dengan perjalanan ini. Tetapi sebagaimana adanya, aku dalam kebingungan. Kini setelah kubeberkan ihwalku di mukamu, katakan padaku apa yang mesti kuperbuat."

Hudhud berkata, "Kau, yang telah menjadi korban kesombongan, yang tenggelam dalam rasa kasihan terhadap diri sendiri, kau memang patut merasa terusik. Mengingat bahwa dunia ini hanya selintas, maka kau sendiri pun hanya akan melintas lalu pula di sana. Tinggalkanlah dia, karena barangsiapa jadi terikat dengan apa yang fana tak mungkin ambil bagian dalam apa yang kekal. Penderitaan-penderitaan yang kauderita dapat menjadi mulia dan tidak menyebabkan hina. Apa yang pada lahirnya merupakan penderitaan dapat menjadi harta kekayaan bagi si arif. Seratus rahmat akan datang padamu bila kau berusaha menempuh Jalan itu. Tetapi sebagaimana keadaanmu kini, kau hanya kulit pembungkus otak yang tumpul."

Syaikh dan Muridnya
Seorang murid yang masih muda, tak diketahui syaikhnya (seperti dikiranya) mempunyai sekedar simpanan emas. Syaikh itu tak berkata apa-apa, dan suatu hari mereka pergi bersama-sama dalam suatu perlawatan. Akhirnya mereka sampai ke sebuah lembah yang gelap; di tempat masuk ke lembah itu terbentang dua jalan. Si murid mulai khawatir, sebab emas (memang) merusak pemiliknya. Gemetar ia pun bertanya pada syaikhnya, "Jalan mana yang mesti kita tempuh?" Syaikh itu menjawab, "Bebaskan dirimu dari apa yang membuatmu khawatir itu, maka jalan mana pun tak menjadi soal. Setan takut akan orang yang tak mempedulikan uang, dan cepat akan menghindar daripadanya. Demi sebutir emas kau membelah sehelai rambut. Secara agama, emas seperti keledai yang lumpuh; tak ada harganya, hanya merupakan beban. Bila kekayaan datang pada seseorang dengan tak disangka-sangka, mula-mula akan membuatnya bingung, kemudian menguasainya. Ia yang terikat dengan cinta akan uang dan harta milik, terikatlah tangan dan kakinya dan dilontarkan ke dalam lubang-penjara. Hindarilah lubang penjara yang dalam ini jika kau bisa; jika tidak, tahan nafasmu, sebab udara didalamnya amat luar biasa pengapnya."

Tuhan Menegur Seorang Darwis
Seorang suci yang telah menemukan ketenteraman dalam Tuhan menyerahkan seluruh dirinya dalam sembah dan puja selama empat puluh tahun. Ia telah melarikan diri dari dunia ini, tetapi karena Tuhan begitu mesra menyatu padanya, orang itu pun merasa puas. Darwis ini telah memagari sebidang tanah di gurun; di tengah-tengahnya ada sebatang pohon, dan di pohon itu seekor burung telah membuat sarangnya. Nyanyian burung itu merdu terdengar, karena setiap nadanya mengandung seratus rahasia. Hamba Tuhan itu terpesona. Tetapi Tuhan menyampaikan pada seorang arif tentang ihwal peristiwa itu dengan kata-kata ini, "Katakan pada sufi itu bahwa aku heran setelah berkhusyuk selama bertahun-tahun, ia telah berhenti dengan menjual aku seharga seekor burung. Memang benar burung itu mengagumkan, tetapi nyanyiannya telah menjerat sufi itu dalam sebuah perangkap. Aku telah membeli dia dan dia telah menjual aku."


... Bersambung

Sufi Road : Hadits Arba'in (15)

Hadits Kalima Belas
Terjemah hadits :
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia
menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya" (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Pelajaran:
1. Iman terkait langsung dengan kehidupan seharihari.
2. Islam menyerukan kepada sesuatu yang dapat menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang
dikalangan individu masyarakat muslim.
3. Termasuk kesempurnaan iman adalah perkataan yang baik dan diam dari selainnya.
4. Berlebih-lebihan dalam pembicaraan dapat menyebabkan kehancuran, sedangkan menjaga
pembicaraan merupakan jalan keselamatan.
5. Islam sangat menjaga agar seorang muslim berbicara apa yang bermanfaat dan mencegah perkataan yang diharamkan dalam setiap kondisi.
6. Tidak memperbanyak pembicaraan yang diperbolehkan, karena hal tersebut dapat menyeret kepada perbuatan yang diharamkan atau yang makruh.
7. Termasuk kesempurnaan iman adalah menghormati tetangga dan memperhatikan serta
tidak menyakitinya.
8. Wajib berbicara saat dibutuhkan, khususnya jika bertujuan menerangkan yang haq dan beramar ma’ruf nahi munkar.
9. Memuliakan tamu termasuk di antara kemuliaan akhlak dan pertanda komitmennya terhadap syariat Islam.
10. Anjuran untuk mempergauli orang lain dengan baik.

Selasa, 06 Maret 2012

Al Hikam : Apabila Cahaya Yakin Telah Bersinar

Sebagaimana dimaklumi, bahwa bersahabat dengan orang-orang baik dalam agama di mana kita dapat menjadi orang baik pula, karena persahabatan itu
berarti pada hakikatnya kita bersahabat dengan Allah s.w.t. Demikian pula melihat Wali Allah, pada hakikatnya kita melihat Allah, sebab Wali-waliNya itu tidak ada sesuatu dalam hati mereka terikat dan bergantung kepada selain Alah. Dengan demikian, maka bercahayalah hati kita dengan cahaya yakin terhadap ajaran agama, dan segala tuntunan-tuntunannya. Dan bagaimanakah akibat daripada cahaya yakin dalam hati apabila telahbersinar cahaya tersebut?

Dalam hal ini, yang Mulia Al-Imam Ibnu Athaillah Askandary telah menerangkan hal keadaan tersebut dalam rumusan Kalam Hikmahnya sebagai berikut:

"Jikalau cahaya yakin telah bersinar buat anda, pastilah anda melihat akhirat lebih dekat kepada anda dari anda berjalan kepada akhirat itu. Dan pastilah (pula) anda melihat kebaikan-kebaikan dunia di mana sungguh telah kelihatan perubahan kehancuran atas kebaikan-kebaikan tersebut."

Kalam Hikmah ini keterangannya sebagai berikut : "Ilmu yang tidak didesak-desak oleh waham tidak dicampuri oleh keraguan dan tidak disertai oleh kehancuran. Jadi arti yakin ialah ilmu (pengetahuan) yang telah mantap sedemikian rupa sehingga kita tidak ragu-ragu lagi dan tiak pula dicampuri oleh hal-hal yang tiak bersifat kepastian.

Ilmu yang tersebut itu ialah ilmu mengenai ketuhanan Allah s.w.t. baik tentang DzatNya maupun tentang sifat-sifatNya. Demikian juga ilmu yang berupa wahyu yang telah disampaikanNya kepada Rasul-rasulNya melalui Malaikat dan kitab-kitab suciNya. Ilmu itu apabila cahaya bathin telah bersinar sedemikian rupa, maka ia akan membawa efek-efek kebajikan lahiriah dan bathiniah.

Efek-efek kebajikan pada lahiriah, maksudnya kelihatan berbekas cahaya itu atas tindak-tanduk anggota-angota tubuhnya yang lain. Pada waktu itu timbullah kegemarannya kepada akhirat dan telah kurang perhatiannya kepada dunia yang sama sekali tak ada hubungannya dengan kerohanian dan keagamaan.

Terdoronglah hatinya kepada Allah dan rindullah perasaanya untuk dapat melihat hakikat jombangnya Allah, disamping hatinya pula tenang dan tenteram dangan merendah di bawah keagungan dan kebesarannya Allah s.w.t. Bersegeralah dia menuntut keridhaanNya dan mencapai segala sesuatu yang dicintaiNya. Lidahnya bergerak menyebut Allah, hatinya penuh dengan berfikir pada kebesaran dan keagunganNya . Demikian juga rohnya haus untuk mendekat dengan Allah, di samping mabuk karena minum 'air cinta kasihNya'. Pada waktu itulah dia tenggelam dalam melihat bagaimana dekatnya dia dengan Allah s.w.t. Inilah tanda-tanda apabila cahaya yakin dalam hati telah bersinar sedemikian rupa, sehingga mengakibatkan negeri akhirat dengan segala
ihwalnya lebih dekat kepada perasaanya, padahal akhirat itu masih jauh sebab
dia dalam perjalanan. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah dengan kitab
suci Al-Quran:

"Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti datang. Dan kamu sekali-kali tidak sanggup menolongnya." (Al_An'am:134)

Dan untuk pengertian itulah penyair ahli Tasawuf telah bersyair sebagai berikut:

"Janganlah anda rela memberikan cinta kepada selain Allah
Tetapi jadilah selamnya dimabuk rindu nestapa
Anda melihat sesuatu yang ghaib terang dan nyata
Anda beruntung sebab berhubung bertemu rasa"

Demikianlah apabila hati dan perasaan telah dipenuhi dengan cahaya yakin, yang berarti itulah cahaya iman.

kalaulah demikian maka kerinduan dan cinta itu mengakibatkan segala sesuatu yang jauh dalam kenyataan adalah dekat dalam perasaaan. Negeri akhirat adalah jauh, sebab harus menempuh sisa hidup, transisi kubur sebagai alam barzakh dan berkumpulnya manusia di hari kiamat. Teatapi hati para Wali
Allah menganggap semuanya itu adalah dekat dan selalu terlihat dalam ruang
matanya.

Demikian juga dunia sebagai ciptaan Allah di mana didalam dunia kita lihat secara lahir adanya keindahan yang bersifat alami atau keindahan yang dibuat oleh tangan manusia. Tetapi terhadap para Auliya' Allah tiada melihat lahiriahnya tetapi melihat hakikatnya. Mereka melihat bahwa dunia tidak akan kekal . Mereka melihat kegelapan dan kekacauan penuh berleluasa di mana-mana. Mereka melihat bahwa semuanya itu hanya membosankan mereka. Itulah yang menyebabkan ghairah hati dalam dada, mundur teratur melihat kerendahan-kerendahannya.

Sabda Rasulullah s.a.w.: " Bahwasanya cahaya iman apabila telah masuk ke dalam hati terbukalah dada seseorang dan lapanglah dadanya itu. Ditanyakan kepada Nabi, Wahai Rasulullah! Adakah sebagian dari tanda-tandanya untuk itu yang dapat dikenal? Nabi menjawab: Ada. (Tandanya ialah); renggang hatinya dari dunia sebagai kampung tempat tipuan, dan kembali hatinya condong kepada negeri yang kekal dan bersiap-siap untuk (bekalan) mati sebelum datangnya."

Kesimpulan :

Yakin apabila telah mantap dalam hati, maka hati akan melihat segala-galanya untuk kepentingan agama dan akhirat, dan segala hijab antara hatinya dan antara kepentingan agama dan akhirat akan hancur berantakan. Pada waktu itu terang benderanglah jalan yang dituju dan sampailah ia kepada tujuan utama yang hakiki. Ke arah itulah tujuan para Nabi dan para Rasul dan sekalian hamba-hamba Allah yang shaleh.

Ya Allah! Engkau kurniakanlah kepada kami hakikat yakin dan kemantapan makrifat kepadaMu. Engkau sinarkanlah yakin itu dalam hati kami sehingga tertunjuklah segala anggota badaniah kami lahir dan bathin menuju kepadaMu, ya Allah!.

Walhamdu lillaahi Rabbil-'alamin.
______________________________________________________________________
Prof. Dr. K.H. Muhibbudin Waly dalam HAKIKAT HIKMAH TAUHID DAN TASAWUF (AL-HIKAM),

Sufi Road : Futuhal Ghaib (5)

Syeikh Abdul Qadir Jilani

Apabila iman kamu masih lemah lalu kamu berjanji, maka hendaklah kamu menepati janji itu. Jika tidak, maka keimananmu itu akan berkurang dan kepercayaanmu semakin hilang. Tetapi, jika iman kamu itu telah kuat dan tertanam kokoh di dalam hati sanubarimu lalu kamu banyak menerima firman Allah di bawah ini:

Dan Raja berkata, "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku." Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata, "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seoarng yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami". (QS, 12:54)
Maka kamupun akan menjadi orang pilihan Tuhan, lalu kehendak, nafsu dan perbuatanmu sendiri akan hilang, kamu terus menjadi dekat dengan Tuhan yang kedekatan-Nya itu tidak terlihat olehmu dan kamu terus tenggelam di hadirat Ilahi.

Maka jadilah kamu seperti bak yang bocor, tidak ada air yang dapat tinggal di dalam bak itu, dan jadilah kamu seperti tong kosong yang berlubang. Dengan demikian, hati kamu hanya dopenuhi oleh Allah, tidak ada yang lain di dalam hatimu itu, kecuali Dia dan kamu bersih dari segala sesuatu selain Allah. Sehingga Allah meridhai kamu, kamu dijanjikan akan mendapatkan rahmat, nikmat dan ampunan-Nya dan kamu merasa senang kepada-Nya.

Kemudian kamu akan diberi suatu janji, dan apabila kamu merasa puas dengan janji itu dan tampak tanda keinginanmu kepadanya, maka janji itu akan ditukar dengan janji yang lebih tinggi lagi, kamu akan diberi perasaan cukup diri (self sufficiency), pintu ilmu akan dibukakan untuk kamu, kamu akan disinari dengan pengetahuan untuk memahami rahasia-rahasianya ke-Tuhan-an dan kamu akan merasakan bertambahnya keadaan kerohanianmu.

Selanjutnya kamu akan menerima pangkat kerohanian yang tinggi, kamu akan diberi rahasia-rahasia ke-Tuhan-an, dadamu menjadi lapang, lidahmu berkata lantang, ilmumu tinggi dan kamu cinta kepada Allah. Kamu akan dikasihi oleh semua orang, semua manusia, jin dan makhluk-makhluk lainnya di dunia ini dan di akhirat. Apabila kamu telah menjadi kekasih Allah, maka semua makhlukpun akan mengasihimu, lantaran semua makhluk itu takluk kepada Allah, kasih mereka masuk ke dalam kasih Allah, sebagaimana halnya benci mereka masuk ke dalam benci Allah.

Kamupun dinaikkan ke pangkat ini, di mana kamu tidak lagi mempunyai kehendak kepada yang lain selain Allah.

Setelah ini kamu akan diberi kehendak kepada sesuatu lalu kehendak itu akan dilepaskan dari kamu dan kamupun terhindar darinya. Kamu tidak akan diberi perkara-perkara yang kamu kehndaki di dunia ini, dan di akhirat kelak kamu akan diberi gantinay, kamu akan lebih didekatkan kepada Allah SWT dan segala sesuatu yang kamu khendaki itu akan menyejukkan matamu di surga.

Jika kamu tidak meminta sesuatu, tidak berharap atau berangan-angan untuk mendapatkannya di masa hidupmu di dunia ini - tempat sementara dan tempat ujian - dan kamu hidup di dunia ini semata-mata hanya ingin mencapai keridhaan Tuhan yang menjadikan langit dan bumi serta semesta alam, maka di dunia ini kamu akan dikarunia apa-apa yang seimbangdengannya dan Allah akan menambahkan karunia-Nya, sedangkan di akhirat nanti Dia akan menambahakan yang lebih banyak lagi. Sesungguhnya di sisi Allah terdapat ganjaran yang besar dan kekal. Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya menurut ketentuan dan ketetapan-Nya.

Senin, 05 Maret 2012

Qasedah Sholatulloh Hi Taqsya



صَـلاَ ةُ اللهِ تـَغْــــشَا كُـــــمْ حــَـــبـِـيـْـبِــي
وَ اَلـِــــكُــمُ وَ يـَغْــــشَا كُـــــمْ سَــــلاَ مُ
Limpahan Shalawat Allah selalu meliputi kalian (Wahai Nabi SAW dan para pencintanya dan pembelanya SAW)
dan atas keluarga kalian dan salam sejahtera selalu melimpah pada kalian.

;عَــلَى قَــدْرِ الْـجَـــمَـالِ مَــعَ الْـــكَــمَـالِ
;وَمـَــا طَـرِ بَ الْــمُـحِــــبُّـوْ نَ وَهَـــامُ

Sebanyak kadar segala keindahan dan kesempurnaan,
dan sebanyak gejolak kerinduan dan kasih para pecinta Nabi SAW.


لـِغـَـيْـرِ جَـــمَـا لـِـكُـــمْ نَــظَـرِ يْ حَـــرَ امُ
وَ غَــيْـرِ كَــلا َ مِــكُـمْ عِــــنـْدِ يْ كَــلا َمِ
Untuk selain memandang keindahan kalian, telah kuharamkan pandanganku,
dan selain pembicaraan kalian dihadapanku umpama lantai tempat pijakan kaki (yaitu sangat hina).

وَ عُــمْرٌ تَـسْـرِ يْ مِـنْـكُــمْ بـَـعْــضَ يـَـــوْ مٍ
وَ سَـــا عَـةُ غَــــيْرِ كُـــمْ عَــامٌ فَــعَـامُ
Dan usiaku terlewatkan bersama kalian seakan beberapa hari (terasa sangat singkat),
dan sesaat tanpa kalian bagaikan bertahun-tahun.

وَصَـبـْرِ يْ عَــنْـكُـــمُ شَـيْءٌ مُـحَــــالٌ
وَ مـَـا لِـيْ قَــاتِـلٌ إِ لاَّ الـْـفِـــطَـامُ
Dan sabar dari merindukan kalian adalah hal yang mustahil,
dan tak ada (yang kutakutkan) sebagai pembunuh, selain perpisahan dengan kalian.

إِ ذَا عَــا يـَـنْـتُـــكُــمْ ذَا لَـتْ هُـمُــوْ مِــيْ
وَ إِ نْ غِــبْـــتُـمْ دَ نَـى مِـنـِّـي الـْحِـــمَـامُ
Apabila aku melihat kalian maka hilanglah kesedihanku,
dan apabila kalian tiada maka telah dekatlah padaku kematian.

اَوَ دُّ بِــأَنْ أَ كُـــوْ نَ لَــــكُــمْ جَـــلِـيـْـــسًا
وَ تـُنْـصَـبُ لـِي بِـرَ بـْعِـــكُــمُ خِــيَـامُ
Aku sangat berhasrat untuk selalu menjadi pendamping kalian, dan dibuatkan kemah di halaman rumah kalian,(ungkapan hati dari besarnya hasrat untuk selalu tidak berpisah, apabila tidak mendapat tempat tinggal di rumah mereka, maka cukuplah di halaman rumah mereka).

بــَدَاهُ بـِالـْـوِ صَــالِ مَــرِ يـْضَ هَجْـــرٍ
يـَـهِــيـْــمُ بِــكُــمْ إِذَا سَــجَـعَ الْـحَـــمَـمُ
Maka mulialah (mendekat padaku) dengan menyambung (pertemuan) setelah pedihnya perpisahan, (denganku)yang selalu mendambakan kalian setiap kali burung-burung merpati saling bersenandung(maksudnya tidak pernah ada berakhir).

حَـــدِ يـْثُ غَــــرَ ا مِـهِ فِـــيْــكُـــمْ قَـــدِ يـْـمٌ
وَ مَـلـْـبَـسُـهُ مِــنَ الْـحُـــبِّ الــسِّــــقَـامُ
Kabar tentang ia (diriku) tergila-gila pada kalian telah lama terdengar,
dan pakaian (yang menutupiku) dari kecintaan adalah kesusahan.

فَـــأَنــْـتُـمْ فِي اْلأُ صُـوْ لِ أَجَــــلُّ أَصْـــلٍ
إِ ذَا شِــئْـتُـمْ تَـحَـــصَّـلَ لِي الْـمَــرَ امُ
Dan kalian dari segala sumber (kemuliaan) adalah sumber yang sangat kuat,
apabila kalian menghendaki, maka akan tercapailah untukku segala keinginan.

بـِكُـــمْ صَـعْبُ اْلـلأُ مُـوْ رِ يـَعـُـوْ دُ سَــــهْـلا ً
فَــبِا ْلإِ حْــــسَـانِ جُــوْ دُو ا يـَا كِــرَ امُ
Sebab kalianlah segala permasalahan berbalik menjadi kemudahan,
maka Demi Yang Maha Memiliki Kebaikan, bermurah hatilah wahai orang-orang yang mulia.

فـَــلَـيْـسَ سِــوَ ا كُـــمُـوْ لـِلْـجُــوْ دِ أَهْـــــلا ً
>فَـكَــيْـفَ نَــذِ يــْدُ صُــوْ حِــيـْكُـــمُ يــُضَـامُ
Maka tiadalah selain kalian orang yang lebih bermurah hati.